Kelahiran

Jenis Masalah Menyusui dan Cara Mengatasinya

Terakhir diperbaharui

Jenis Masalah Menyusui dan Cara Mengatasinya

Menyusui dapat berlangsung secara natural buat beberapa Ibu, tapi tidak demikian  bagi banyak Ibu lain. Untuk beberapa new moms, proses menyusui bisa jadi tantangan yang sangat besar bahkan kadang cukup menyakitkan. Bila Anda mengalami masalah menyusui, Anda tidak sendirian, Ibu.

 

Berikut ini masalah menyusui yang paling umum dan bagaimana mengatasinya:

 

  1. Produksi ASI sedikit

    Banyak Ibu yang merasa kalau  produksi ASInya sedikit, padahal sebenarnya tidak. Bila Anda merasa payudara tidak begitu penuh, atau ASI tidak lagi menetes seperti keran, ini bukan selalu berarti produksi ASI Anda menurun.

     

    Ini mungkin hanya berarti tubuh Anda sudah bisa menyesuaikan dengan kebutuhan ASI bayi. Ini adalah proses suppy dan demand. Bila dokter anak Anda khawatir tentang kenaikan berat badan bayi, maka ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk membantu meningkatkan produksi ASI, seperti lebih sering menyusui dan memompa ASI. Bila Anda khawatir produksi ASI lebih sedikit dibanding kebutuhan bayi, jangan takut untuk bicara pada dokter tentang ini.

     

  2. Pelekatan terasa sakit atau bayi gagal melakukan pelekatan

    Bila menyusui terasa sakit, berarti Anda salah melakukannya. Pasti Ibu pernah mendengar pernyataan ini, bukan? Sebenarnya, ini tidak sepenuhnya benar.

     

    Untuk kebanyakan orang, ada masa adaptasi, terutama bila ini adalah pengalaman pertama Anda menyusui anak. Puting Anda akan butuh sedikit adaptasi, sampai pada akhirnya tidak terasa sakit lagi selama menyusui.

     

    Sebelum adaptasi selesai, Ibu mungkin akan merasakan sakit selama bayi melakukan. Bila rasa sakit ini berlangsung lebih dari satu atau dua menit selama menyusui, Anda kemungkinan memang mengalami masalah pelekatan.

     

    Anda bisa coba kembali memosisikan bayi, pastikan mulutnya menutupi sebagian besar areola di bawah puting dibanding bagian atas. Bila posisi bayi sudah bagus dan Ibu merasa pelekatan sudah tepat, tapi rasa sakit masih ada, Anda mungkin mengalami masalah menyusui lainnya.

     

    Untuk mengubah posisi bayi, Ibu bisa memasukkan sedikit jari telunjuk ke dalam mulut bayi untuk mengeluarkan payudara Anda. Kelitik dagunya atau tunggu hingga ia menguap agar mulutnya terbuka lebar. Bila posisi sudah benar, dagu dan hidung anak akan menyentuh payudara Anda, bibirnya anak juga akan melebar, dan Anda tidak bisa melihat puting atau bagian bawah areola lagi.

     

    Bila posisi bayi sudah benar tapi pelekatan masih terasa sakit, kulit area puting Anda mungkin kering. Untuk mengatasinya, pakai pakaian longgar dan hindari mencuci payudara dengan sabun. Anda bisa menggunakan krim lanolin agar puting lebih lembab dan fleksibel.

     

  3. Puting luka

    Bila proses menyusui menimbulkan rasa sakit, coba perhatikan puting Anda. Apakah  ada area yang pecah atau berdarah? Puting pecah bisa diakibatkan oleh banyak hal, tapi solusinya cukup sederhana.

     

    Gunakan krim payudara berbahan dasar lanolin di sela sesi menyusui. Jangan gunakan sabun, alkohol, atau lotion untuk tubuh atau tangan, dan kenakan bra katun yang longgar.

     

    Oleskan juga sedikit ASI di puting setelah sesi menyusui untuk membantu mempercepat proses penyembuhan. Selain itu, coba menyusui lebih sering di interval lebih pendek, sehingga hisapan bayi pada payudara bisa lebih lembut. Bila bayi tidak terlalu lapar, hisapannya akan lebih lembut.

     

    Lalu, cukup gunakan air bersih untuk mencuci payudara. Coba minum pereda rasa sakit ringan seperti acetaminophen atau Ibuprofen 30 menit sebelum menyusui bila rasa sakit tidak tertahankan.

     

  4. Kelenjar ASI tersumbat

    Bila tubuh Anda memproduksi ASI lebih cepat dibandingkan ASI yang dikeluarkan, ASI bisa kembali ke atas saat Anda tidak mengosongkan payudara dengan maksimal. Ketika ini terjadi, jaringan di sekitar kelenjar payudara bisa menjadi bengkak dan meradang. Tekanan pada kelenjar menyebabkan penyumbatan. Bila Anda mulai merasa demam dan sakit, ini tanda infeksi atau mastitis dan Anda perlu temui dokter.

     

    Untuk mengatasi penyumbatan saluran ASI ini, para ahli menyarankan untuk memijat area payudara yang terasa sakit, dan gunakan kompres hangat sebelum menyusui untuk membantu membuka kelenjar dan meredakan rasa sakit serta bengkak.

     

    Beberapa Ibu juga menggunakan kompres dingin setelah sesi menyusui yang bisa meredakan rasa sakit. Biarpun rasanya sakit sekali, Anda tidak boleh berhenti menyusui, bahkan pada payudara yang sakit. Faktanya, saat Anda lebih sering menyusui, ini bisa membantu melancarkan kelenjar yang tersumbat.

     

    Cobalah menyusui di payudara yang saluran ASInya tersumbat lebih dulu saat memulai sesi menyusui, karena hisapan bayi di awal sesi menyusu sangatkuat dan ini membantu mengatasi sumbatan. Setelah sumbatan terbuka, payudara bisa terasa lebih empuk selama sekitar seminggu, tapi bagian yang keras akan hilang dan tidak begitu sakit untuk menyusui. Untuk mencegah kelenjar tersumbat terjadi lagi, jangan sampai Anda tidak menyusui atau tidak pumping selama berjam-jam, dan pastikan ukuran bra menyusui pas digunakan. Hindari bra dengan kawat  yang bisa menekan saluran ASI.

     

    Usahakan Anda mendapat istirahat yang cukup. Anda bisa gunakan kompres hangat pada payudara dan pijat untuk menstimulasi gerakan ASI. Kelenjar tersumbat tidak berbahaya bagi bayi karena ASI punya antibiotik alami. Dengan begitu, tidak ada alasan untuk berhenti menyusui. Tapi, proses menyusui tentunya harus menyenangkan untuk Ibu dan bayi, jadi kalau masalah ini terjadi, segeralah diselesaikan.

     

  5. Payudara bengkak dan sakit

    Bila payudara terasa bengkak, penuh, dan tidak nyaman, itu tandanya produksi ASi Anda sedang banyak-banyaknya. Bengkak bisa menjalar ke ketiak dan Anda mungin bisa mengalami demam ringan.

     

    Bila produksi ASI berlimpah (hiperlaktasi) yang menyebabkan payudara jadi bengkak, hal pertama yang mungkin Anda lakukan adalah segera memompa ASI untuk disimpan. Tapi ingatlah prinsip ASI, semakin banyak dikeluarkan, makan semakin banyak ASI yang akan diproduksi oleh tubuh. Tubuh Anda akan terus memproduksi ASI lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan bayi, ini tidak menyelesaikan masalah pembengkakkan payudara yang Anda alami, justru akan menambah masalah.

     

    Sebaiknya coba susui bayi sebelum ia sangat lapar. Saat belum lapar, hisapan bayi akan lebih lembut. Hisapan tersebut tidak akan terlalu menstimulasi payudara untuk memproduksi ASI lebih banyak. Sehingga, lama-lama tubuh bisa mulai menurunkan produksi ASI untuk menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.

     

  6. Mastitis

    Mastitis adalah infeksi bakteri di payudara yang biasanya hanya terjadi satu kali. Biasanya mastitis disertai gejala yang mirip flu, seperti demam dan rasa sakit pada payudara. Umumnya mastitis disebabkan oleh kelenjar ASI yang tersumbat dan tidak ditangani, bengkak, atau puting pecah yang menimbulkan infeksi.

     

    Sangatlah penting untuk mengatasi infeksi mastitis dengan antibiotik, dan pastikan juga Anda sering mengosongkan payudara yang terkena mastitis. Kompres hangat juga bisa digunakan untuk meringankan rasa sakit dan bengkak.

     

  7. Thrush 

    Thrush adalah infeksi jamur yang biasanya muncul di mulut bayi, yang juga bisa menyebar ka puting selama menyusui. Bila bayi mengalami thrush, ia akan menularkannya pada puting Anda. Jadi kalau ini terjadi, pastikan Ibu dan si kecil diobati dengan anti jamur pada waktu yang bersamaan. Ini akan mencegah Anda tertular infeksi thrush berulang kali.

     

    Ibu bisa mengenali tanda thrush di payudara, seperti rasa gatal pada puting yang konstan, timbul warna kemerahan, rasa sakit di payudara selama atau setelah menyusui, dan kadang juga muncul ruam.

     

  8. Bayi tertidur ketika menyusu

    Baik bayi atau Ibu pasti akan sering mengantuk selama menyusui di beberapa bulan pertama setelah kelahiran. Jadi wajar sekali jika bayi sering tertidur ketika menyusu. Tapi bila bayi terus tertidur sebelum perutnya penuh dengan ASI, ini bisa membuat bayi lebih sering menyusu, merasa frustrasi saat menyusu karena kelaparan terus, dan Anda jadi lebih kurang tidur.

     

    Kalau usia bayi masih kuran dari 1 bulan, sebaiknya Ibu tetap membangunkan anak saat itu tidak sengaja ketiduran di tengah sesi menyusu. Ketika Anda merasa hisapan bayi melambat dan matanya menutup, Anda bisa memberi stimulasi dengan menyendawakan, menggelitik kakinya, meniup lembut wajahnya, atau bicara padanya sambil mengusap punggungnya.

     

    Aliran ASI biasanya lebih cepat di awal sesi menyusu. Jadi bila Anda ingin bayi tetap terjaga dengan memanfaatkan aliran ASI yang deras, mulailah menyusui dari payudara yang terasa lebih penuh, saat sudah kosong baru ganti ke payudara lainnya.

     

  9. Bayi mengalami tongue tie

    Tongue tie adalah kondisi di mana jaringan yang menghubungkan lidah dan dasar mulut terlalu pendek atau melebar terlalu jauh ke depan lidah bayi. Tongue tie dapat menyebabkan masalah pelekatan, nyeri puting, bayi rewel dan lapar.

     

    Kabar baiknya, tongue tie bisa mudah diatasi dengan bedah kecil. Dokter atau konselor laktasi bisa memeriksa mulut bayi untuk menentukan apakah ini yang jadi penyebab masalah menyusui. Jadi jika Anda mengalami masalah menyusui, baik yang menimbulkan rasa sakit atau tidak, jangan tunda konsultasikan pada dokter anak atau konselor laktasi.

     

  10. Puting rata

    Anda bisa tahu apakah mengalami puting rata atau tidak dengan melakukan tes sederhana. Caranya, tekan lembut areola dengan jempol dan jari telunjuk. Bila puting tenggelam, bukan menonjol, berarti Anda mengalami masalah puting rata.

     

    Kondisi puting rata membuat proses menyusui akan sedikit lebih sulit. Tapi ini bisa diatasi dengan menggunakan pompa ASI untuk membuat aliran ASI lebih lancar sebelum bayi mulai menyusu. Penggunaan pompa ASI juga bisa membuat puting lebih menonjol. Ibu juga bisa gunakan breast shell di sela menyusui. Selain itu, coba gunakan nipple shield bila bayi masih sulit melakukan pelekatan.

     

  11. ASI berlimpah atau hiperlaktasi

    Bila ASI menyemprot ketika bayi mulai menyusu, atau bila anak selalu rewel di awal-awal menyusu, Anda mungkin mengalami hiperlaktasi, yang menyebabkan ASI keluar terlalu deras. Beberapa Ibu memang ada yang memproduksi ASI terlalu banyak, dan ini juga bisa menjadi masalah.

     

    Biasanya ini terjadi pada Ibu yang punya banyak alveoli (kelenjar produksi ASI) di payudara. Rata-rata jumlah alveoli Ibu adalah 100.000 hingga 300.000 pada tiap payudara, dan Ibu dengan laktasi hiperaktif memiliki lebih dari jumlah ini.

     

    Selain terjadi secara natural, ada juga hiperlaktasi yang disebabkan karena ketidaktahuan Ibu. Kadang Ibu memproduksi terlalu banyak ASI karena ia secara tidak sengaja memberi sinyal ke tubuh untuk memproduksi banyak ASI. Misalnya, dengan memompa ASI lebih banyak dari jumlah kebutuhan bayi.

     

    Ketidak-seimbangan hormonal tertentu dan pengaruh obat juga bisa membuat produksi ASI lebih tinggi. Bicaralah pada konselor laktasi untuk menurunkan persediaan ASI. Ia bisa menyarankan Anda mencoba hal berikut:

     
    • Sebelum tiap kali menyusui, Ibu bisa memompa ASI lebih dulu untuk memperlambat aliran ASI. Anda bisa menampung ASI di botol untuk disimpan dan digunakan nanti. Tapi jangan pompa terlalu banyak karena produksi ASI justru akan makin bertambah. Gunakan setting daya hisap paling rendah ketika menggunakan pompa ASI. Semakin kuat Anda menstimulasi payudara, semakin banyak ASI yang Anda keluarkan.
    •  
    • Coba susui bayi sebelum ia merasa sangat lapar atau ketika ia pertama kali bangun. Ini adalah kondisi di mana hisapan bayi akan lebih lembut. Hisapan yang lembut tidak akan terlalu menstimulasi payudara dan bisa memperlambat aliran ASI.
    •  
    • Posisi menyusui tertentu bisa membantu bayi mengatasi aliran ASI yang deras. Coba posisikan bayi duduk menghadap Anda untuk menyusu. Anda perlu sedikit mendorong kepalanya ke belakang. Agar gravitasi memperlambat aliran ASI, bersandarlah ke belakang dengan bayi menghadap langsung ke payudara, perutnya bertemu perut Anda. Atau susui bayi sambil berbaring miring dan alasi bagian bawah payudara dnegan kain atau handuk. Posisi ini membuat ASI yang berlebih bisa menetes ke
    •  
    • Lepaskan bayi dari payudara bila ia terlihat menelan ASI terlalu cepat atau kesulitan mengatasi aliran ASI. Sendawakan bayi lalu susui lagi ke payudara.
    •  
    • Beberapa Ibu menggunakan nipple shield untuk membantu bayi mengatasi aliran ASI. Konselor laktasi bisa menunjukkan bagaimana cara menggunakannya dan memonitor situasi Anda.

     

  12. Bayi lebih suka menyusu hanya pada satu payudara

    Wajar bila bayi mengalami breast preference. Bayi bisa lebih memilih salah satu payudara bila ia merasa lebih mudah melekat di payudara tersebut atau payudara itu punya persediaan ASI lebih banyak.

     

    Bayi baru lahir bisa menolak salah satu payudara saat ia merasa lebih sulit melakukan pelekatan. Payudara yang anak tolak mungkin akan terasa lebih bengkak.

     

    Bayi yang lebih besar bisa menolak salah satu payudara jika payudara tersebut punya aliran ASI yang lebih lambat dibanding payudara lainnya. Bayi yang memilih salah satu payudara bisa membuat produksi ASI di payudara yang ia tolak menjadi menurun.

     

    Kadang bayi juga lebih nyaman digendong di satu sisi dibanding  sisi lain dan membuat ia lebih suka menyusu di payudara tertentu saja. Tapi jika bayi tiba-tiba lebih memilih menyusu di salah satu sisi, oadahal sebelumnya tidak seperti itu, ini bisa jadi karena ada sesuatu yang membuatnya sakit. Ia mungkin mengalami infeksi telinga atau salah satu sisi lengan atau pahanya baru saja di imunisasi.

     

    Bila Anda menjalani pembedahan, implan payudara, atau ada perbedaan fisik di salah satu payudara, bayi bisa memilih untuk menyusu di salah satu payudara saja. Mengidap kanker di salah satu payudara juga bisa menyebabkan aliran ASI rendah. Bila Anda mengira salah satu payudara tidak memproduksi ASI sebanyak payudara lain, bicarakan hal ini pada dokter.

     

    Coba terus bujuk bayi untuk menyusu di payudara yang kurang ia sukai dengan selalu menawarkannya lebih dulu ketika ia mau menyusu. Anda juga bisa coba menawarkan payudara yang ia tolak ketika anak baru saja terbangun dan masih mengantuk. Jangan lupa untuk bereksperimen dengan menyusui dalam berbagai posisi berbeda dan coba ayun tubuhnya ketika ia menyusu.

     

    Bila Anda terus-menerus menyusu dari satu payudara, Anda mungkin perlu memompa ASI dari payudara lain untuk menjaga produksi ASI. Anda bisa gunakan ASI perah untuk melengkapi kebutuhan bayi. Memompa ASI juga bisa membantu bila Anda terganggu dengan ukuran payudara yang tidak seimbang karena bayi hanya mau di salah satu payudara tertentu saja.

     

    Bila bayi mendapat cukup ASI dan kecenderungan memilih salah satu payudara tidak menyulitkan Anda, tidak ada bahayanya membiarkan bayi meneruskan pilihannya. Ada banyak Ibu yang berhasil menyusui dari satu payudara saja.

     

  13. Bayi menolak menyusu

    Bayi bisa menolak menyusu (nursing strike) karena berbagai sebab, seperti tumbuh gigi, hidung tersumbat, atau karena rutinitasnya terganggu.

     

    Hal paling penting yang perlu diingat ketika Anda menghadapi bayi yang mengalami nursing strike adalah tetap tenang dan sabar. Kebanyakan nursing strike hanya berlangsung sementara dan akan membaik dengan sendirinya.

     

    Berikut ini beberapa tips untuk menghadapi bayi yang menolak menyusu:

     
    • Membujuk bayi menyusu di payudara dengan mencoba berbagai posisi berbeda selain yang telah Anda lakukan sebelumnya.
    •  
    • Bila bayi berulang kali melepas dan menerima payudara selama menyusu, coba cari lingkungan yang lebih tenang untuk menyusui. Ini bisa membantu menurunkan gangguan dan membantu bayi kembali menyusu.
    •  
    • Lanjutkan memompa ASI sesuai jadwal menyusu bayi yang biasanya, karena ini akan membantu menghindari bengkak atau mastitis dan menjaga persediaan ASI.
    •  
    • Coba tawarkan payudara, dan bila bayi menolak, cukup alihkan sesi menyusu menjadi sesi skin to skin.

     

    Bila nursing strike berlangsung lebih dari beberapa hari, hubungi konselor laktasi yang bisa memberi Anda saran untuk mencari solusi agar bayi bisa kembali menyusu.

(Ismawati)