Balita Dibaca 10,440 kali

Perawatan Ibu di Masa Nifas

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 29 Juli, 2018 08:07

Ibu mengalami pendarahan setelah melahirkan itu adalah hal yang normal. Semua wanita akan kehilangan sejumlah darah selama dan setelah proses persalinan. Tapi karena jumlah darah di dalam tubuh Anda meningkat hingga 50 persen selama kehamilan, tubuh Anda sudah siap untuk kehilangan darah yang wajar terjadi ini. Yang terjadi adalah, ketika plasenta terpisah dari uterus, ada pembuluh darah yang terbuka di area tempat plasenta melekat, dan area tersebut mulai mengalami pendarahan ke uterus.

Setelah plasenta dikeluarkan, uterus terus berkerut, yang melekatkan kembali pembuluh-pembuluh darah yang terbuka, dan secara dramatis akan mengurangi pendarahan. Anda juga bisa mengalami pendarahan akibat prosedur episiotomi atau sobekan selama proses melahirkan hingga menerima jahitan.

Episiotomi merupakan pemotongan atau irisan pada proses pembedahan di area otot antara vagina dan anus yang disebut perineum yang dilakukan tepat sebelum proses kelahiran untuk memperluas jalan pembuka di vagina. Dokter kandungan biasanya melakukan episiotomi secara rutin untuk mempercepat proses melahirkan dan mencegah sobekan pada vagina, khususnya selama proses melahirkan vaginal yang pertama kali, dengan keyakinan bahwa irisan yang lebih “bersih” dari prosedur episiotomi akan lebih mudah sembuh dibanding sobekan yang terjadi secara spontan.

Banyak ahli yang juga meyakini episiotomi bisa membantu mencegah terjadinya komplikasi lanjutan. Tapi banyak penelitian selama 20 tahun terakhir telah menunjukkan bahwa bukan ini yang menjadi persoalan. Faktanya, tidak ada bukti bahwa episiotomi memberikan perlindungan pada lapisan vagina dan otot bawah panggul, dan prosedur ini bisa menyebabkan masalah lain. Karena alasan ini, banyak yang berpendapat prosedur ini tidak boleh dilakukan secara rutin. Kini prosedur episiotomi tidak lagi dilakukan sesering dulu, jumlahnya semakin menurun, yang awalnya sebanyak 2 dari 3 kelahiran vaginal di tahun 1979 menjadi kurang dari 1 dari 5 kelahiran di tahun 2004.

Dokter bisa melakukan pijatan pada uterus dan memberi Anda oksitosin sintetis (Pitocin) untuk membantu uterus mengkerut. Menyusui akan membuat tubuh Anda mengeluarkan oksitosin secara alami, dan membantu uterus berkerut. Itulah sebabnya Anda bisa merasakan kram atau rasa nyeri ketika Anda menyusui. Adakalanya, uterus tidak berkerut dengan baik setelah melahirkan sehingga menghasilkan kehilangan darah yang sangat banyak.

 

Darah saat masa nifas (lochia)

Lochia diartikan sebagai darah nifas atau ekskresi yang terjadi selama periode pasca persalinan. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti “berhubungan dengan kelahiran.” Lochia terdiri dari darah, jaringan yang terkelupas dari lapisan uterus, dan bakteri. Selama beberapa hari pertama setelah melahirkan, lochia terdiri dari darah dalam jumlah yang wajar, jadi warnanya merah cerah dan terlihat seperti periode menstruasi yang berat.

Lochia bisa keluar berupa pancaran darah. Bila Anda berbaring untuk sementara waktu dan darah telah berkumpul di vagina, Anda akan melihat beberapa gumpalan darah kecil ketika Anda bangkit dari posisi berbaring.

Jika semua berjalan lancar, jumlah ekskresi yang keluar akan semakin sedikit setiap hari, dan dalam 2 hingga 4 hari setelah melahirkan, lochia akan menjadi lebih berair dan berubah warna menjadi merah muda. Setelah 10 hari pasca melahirkan, Anda akan mengeluarkan ekskresi dengan warna campuran kuning-putih dalam jumlah yang sedikit dan kebanyakan terdiri dari sel darah putih dan sel dari lapisan uterus.

Lochia akan berangsur berkurang sebelum berhenti sepenuhnya. Proses ini umumnya berlangsung dalam 2 hingga 4 minggu, meski sejumlah wanita ada yang terus mengeluarkan lochia dalam jumlah yang sedikit atau berupa bercak yang tidak merata selama beberapa minggu ke depannya. Jika Anda mulai mengonsumsi pil KB atau menerima suntikan Depo-Provera, kemungkinan bercak akan terus keluar selama lebih dari 1 bulan, dan itu normal terjadi.

 

Jenis-jenis lochia

Lochia terjadi selama 4 hingga 6 minggu setelah kelahiran dan pendarahan bisa berlangsung selama periode ini. Tapi, pendarahan menurun dari hari ke hari dan menjadi lebih cerah warnanya.

Pendarahan jadi lebih berat setelah menyusui karena hisapan bayi mendorong lochia keluar. Selain itu, tugas berat dan banyak bergerak juga bisa memaksa lochia keluar.

 

1. Lochia alba

Lochia alba adalah pendarahan dalam jumlah kecil yang kekuningan warnanya. Lochia alba berlangsung dari sekitar minggu ketiga hingga keenam setelah melahirkan, dan mengandung lendir, leukosit, sel epitel dan sel desidual.

 

2. Lochia serosa

Lochia serosa berwarna merah muda atau coklat. Lochia serosa lebih encer dan bisa terus terjadi hingga sekitar 10 hari setelah melahirkan. Kandungannya lebih sedikit sel darah merah dan lebih banyak leukosit dan lendir.

 

3. Lochia rubra

Lochia rubra berwarna merah cerah. Terjadi hingga sekitar 3 sampai 5 hari setelah melahirkan. Utamanya terdiri dari darah, membran kecil, kotoran serviks, dan mekonium.

 

Komplikasi lochia

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan Anda mengalami komplikasi. Bau lochia sama seperti darah menstruasi Anda, jadi bila Anda merasakan perbedaan bau maka segera informasikan ke dokter.

Juga, perhatikan baik-baik warna lochia Anda. Bila warnanya berubah jadi kehijauan, laporkan segera ke dokter. Ini bisa karena keberadaan mikro organisme di dalamnya.

 

Lochia yang abnormal

Lochia bisa abnormal bila infeksi terjadi di masa nifas. Infeksi bisa dicurigai terjadi ketika:

  • Lochia tetap berwarna merah cerah meski setelah minggu pertama masa nifas
  • Warna lochia menjadi merah cerah lagi setelah menjadi lebih pucat selama beberapa hari
  • Pendarahan berat yang abnormal dan terserap di pembalut dalam 1 jam atau kurang, atau terjadi pembekuan darah yang ukurannya lebih besar dari bola golf. Ini tanda pendarahan sekunder pasca melahirkan dan perlu penanganan darurat.
  • Memiliki bau yang tidak sedap
  • Demam disertai menggigil
  • Rasa sakit pada perut bagian bawah yang meningkat seiring hari.

 

Lochia setelah operasi caesar

Banyak wanita meyakini kalau aliran lochia jadi berkurang setelah operasi caesar karena rongga rahim dibersihkan setelah bayi lahir. Ini tidak benar. Aliran lochia tidak bergantung pada jenis kelahiran, baik kelahiran normal atau caesar. Jumlah dan durasinya sama pada kedua kasus.

 

Lochia yang normal

Lochia yang merupakan pendarahan di masa nifas, jadi cara tubuh untuk mengeluarkan darah dan jaringan berlebih di rahim yang membantu janin tumbuh.

Pendarahan paling berat terjadi di beberapa hari pertama setelah bayi lahir. Tapi bila pendarahan berat terus berlanjut setelah itu, Anda perlu hubungi dokter.

Normalnya, darah Anda akan berwarna cerah, dan Anda mengeluarkan gumpalan darah selama beberapa hari pertama masa nifas. Ukurannya tidak lebih besar dari uang logam. Anda masih harus mengenakan pembalut ukuran besar lalu menggunakan ukuran biasa nantinya.

Anda mengeluarkan darah sedikit lebih banyak ketika pulang ke rumah. Ini bisa karena Anda banyak bergerak. Bila ini terjadi, coba angkat kaki dan istirahatkan.

Wajar bila kadang Anda merasakan semburan darah ketika Anda berdiri. Ini karena bentuk vagina Anda. Darah berkumpul di area seperti cangkir ketika Anda duduk dan berbaring. Ketika Anda berdiri, kumpulan darah seperti tumpah.

Setelah 10 hari, pendarahan Anda jadi berkurang. Anda mengalami pendarahan ringan atau bercak hingga 6 minggu setelah melahirkan. Anda hanya bisa gunakan pembalut, tampon bisa memicu infeksi.

 

Perawatan selama masa nifas

Di beberapa hari pertama, gunakan pembalut bersalin yang diberikan rumah sakit, jika Anda belum menyediakannya di rumah, belilah lebih banyak ketika tiba di rumah. Setelah lochia mulai berkurang, Anda bisa mengganti pembalut bersalin dengan ukuran yang biasa. Jangan gunakan tampon selama setidaknya 6 minggu, karena penggunaannya bisa menimbulkan risiko infeksi pada vagina dan uterus Anda yang sedang dalam masa pemulihan.

Sering-seringlah buang air kecil, meski jika Anda tidak merasa ingin pipis. Di beberapa hari pertama setelah melahirkan, kandung kemih akan menjadi kurang sensitif dari biasanya, jadi Anda mungkin tidak merasa ingin pipis meski kandung kemih Anda sudah penuh. Selain masalah untuk bisa pipis, kandung kemih yang penuh membuat uterus lebih sulit berkerut, sehingga menimbulkan lebih banyak rasa nyeri dan pendarahan. Coba istirahat sebanyak yang Anda bisa. Jika terlalu berlebihan, Anda bisa mengalami pendarahan lebih lama atau mulai mengalami pendarahan kembali setelah lochia sudah berwarna cerah atau hilang.

Jika bercak warna merah cerah kembali muncul setelah lochia menjadi cerah, ini bisa menjadi tanda bahwa Anda perlu berhati-hati. Tapi jika Anda terus mengalami bercak setelah terhenti selama beberapa hari, periksakan diri Anda ke dokter atau bidan. Jangan tunda untuk menghubungi dokter jika pendarahan Anda semakin berat, atau jika:

  • Lochia Anda masih berwarna merah cerah 4 hari setelah melahirkan bayi.
  • Lochia Anda memiliki bau yang tidak sedap atau disertai demam atau kedinginan.
  • Anda mengalami pendarahan berat yang tidak normal (memenuhi pembalut dalam 1 jam) atau mengeluarkan gumpalan darah yang lebih besar dari ukuran bola golf. Ini bisa menjadi tanda pendarahan sekunder pasca persalinan (late postpartum hemorrage) dan dibutuhkan perhatian segera.

Juga hubungi rumah sakit jika Anda mengalami pendarahan sangat banyak atau jatuh pingsan. Pendarahan bisa mengancam keselamatan, jadi Anda perlu dirawat di rumah sakit hingga pendarahan berhenti. Dokter akan memeriksa dan mulai memasang infus untuk memberi Anda cairan, obat untuk membantu uterus mengerut, dan mungkin juga antibiotik. USG (ultrasonografi) akan dilakukan untuk melihat apakah lapisan plasenta masih tetap berada di uterus Anda. Jika masih ada, dokter perlu menjalankan prosedur pembedahan yang disebut kuret atau dilation and curettage (D&C) untuk mengangkatnya. Pada kasus yang ekstrem, jika semua usaha untuk mengatasi pendarahan gagal, Anda perlu menjalani hysterectomy.

Ketika pendarahan berhenti, Anda masih perlu terus menerima obat melalui infus, biasanya untuk 24 jam berikutnya, untuk menjaga uterus mengerut dengan baik. Anda juga akan terus menerima antibiotik. Tim medis akan mengawasi Anda dengan seksama untuk memonitor pendarahan yang mungkin terjadi kembali, kemunculan tanda infeksi, dan untuk melihat proses pemulihan Anda. Anda akan merasa lemah, dan tidak dibolehkan bangun dari tempat tidur sendiri.

Istirahat, cairan, makanan bernutrisi, dan vitamin setelah melahirkan dengan kandungan asam folat juga suplemen zat besi tambahan sangat dibutuhkan. Pada kebanyakan kasus, Anda akan berurusan dengan anemia yang disebabkan oleh banyak kehilangan darah. Pada beberapa kasus, tranfusi darah perlu dilakukan.

 

Pendarahan berat setelah melahirkan

Pendarahan berat setelah melahirkan disebut postpartum hemorrhage. Ini bisa terjadi pada hingga 50 persen wanita yang melahirkan. Pendarahan berat paling mungkin terjadi di 24 jam pertama setelah melahirkan, tapi bisa juga terjadi kapan saja dalam 12 minggu pertama setelah bayi lahir.

Pendarahan berat pasca melahirkan bersifat serius dan bisa menyebabkan penurunan tekanan darah yang signifikan. Bila tekanan darah jadi terlalu lambat, organ tidak akan mendapat darah yang cukup. Ini bisa menyebabkan kematian. Itu sebabnya pendarahan berat harus segera mendapat bantuan medis.

Beritahu dokter atau hubungi rumah sakit bila Anda mengalami gejala berikut:

  • Pendarahan berwarna merah cerah setelah hari ketiga masa nifas
  • Darah beku berukuran lebih besar dari buah plum
  • Pendarahan terserap di lebih dari satu pembalut dalam waktu satu jam dan tidak menurun atau berhenti
  • Penglihatan kabur
  • Dingin
  • Kulit berkeringat
  • Detak jantung cepat
  • Pusing
  • Lemah
  • Mual

 

Penyebab pendarahan berat setelah melahirkan

Hal tertentu bisa meningkatkan kemungkinan pendarahan berat setelah melahirkan. Anda berisiko lebih tinggi bila Anda pernah mengalami sebelumnya. Karena alasan yang tidak diketahui, wanita Asia dan Hispanik lebih mungkin mengalaminya.

Penyebab paling umum pendarahan berat setelah melahirkan adalah yang disebut uterine atony. Normalnya, rahim mengerut setelah bayi lahir untuk menghentikan pendarahan di tempat plasenta sebelumnya berada. Plasenta adalah organ yang tumbuh di rahim selama kehamilan dan menutrisi janin. Ketika terjadi uterine atony, rahim tidak berkontraksi seperti yang seharusnya. Ini bisa memicu pendarahan berat setelah melahirkan.

Anda lebih mungkin mengalami pendarahan berat bila:

  • Melahirkan lebih dari satu bayi (misalnya melahirkan anak kembar)
  • Melahirkan bayi dengan berat lebih dari 8 pound 13 ounce
  • Menjalani persalinan yang lama
  • Telah melahirkan beberapa kali sebelumnya.

 

Kondisi lain bisa meningkatkan risiko pendarahan berat pasca melahirkan, ini termasuk:

  • Uterine rupture, terjadi ketika rahim sobek selama persalinan
  • Operasi caesar, risiko pendarahan berat pasca melahirkan lebih tinggi dibanding ketika melahirkan normal
  • Sobekan di vagina atau serviks selama melahirkan
  • Anestesi umum, ini bisa digunakan bila Anda menjalani bedah caesar
  • Oksitosin (pitocin), obat yang membuat Anda menjalani persalinan
  • Preeklampsia, tekanan darah tinggi dan protein di urin bisa berkembang selama kehamilan
  • Obesitas
  • Masalah yang mempengaruhi plasenta.

 

Penanganan untuk pendarahan berat pasca melahirkan

Ada banyak penanganan untuk pendarahan berat pasca melahirkan. Penyebab pendarahan akan membantu dokter memutuskan penanganan apa yang paling baik untuk Anda.

Dokter bisa:

  • Memberi obat untuk membantu rahim berkontraksi
  • Memijat rahim Anda
  • Mengangkat sisa plasenta yang masih ada di rahim
  • Melakukan laparotomy, yakni pembedahan untuk membuka perut dan menemukan penyebab pendarahan dan menghentikannya
  • Melakukan transfusi darah, darah diberikan ke Anda melalui selang yang masuk ke pembuluh darah untuk membantu menggantikan darah yang hilang
  • Melakukan hysterectomy, pembedahan pada rahim
  • Memberi suntikan obat khusus untuk menghentikan pendarahan
  • Melakukan uterine artery embolization, yang membatasi aliran darah ke rahim
  • Menggunakan balon yang dipompa di dalam rahim dan menambah tekanan untuk membantu memperlambat pendarahan.

 

(Ismawati)