Last update on .

Masalah Kesehatan Bayi Prematur dan Cara Merawatnya Di Rumah

Tahukah Bunda? Banyak komplikasi kesehatan lebih umum dialami bayi prematur dibanding bayi yang lahir cukup umur. Tapi semakin lama bayi berkembang di dalam rahim, semakin berkurang tingkat keparahan komplikasinya. Bayi late preterm (lahir pada usia kehamilan 32 sampai kurang dari 37 minggu) biasanya mengalami masalah kesehatan yang lebih ringan atau lebih sedikit.

 

Masalah Medis Pada Bayi Prematur

Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 32 sampai 34 minggu bisa mengalami sejumlah komplikasi, dari ringan hingga berat. Berikut ini beberapa yang paling umum:

 

  1. Apnea

    Bayi prematur kadang berhenti bernafas selama 15 detik atau lebih. Interupsi pada pernafasan ini disebut apnea, dan bisa disertai detak jantung yang lambat.

     

    Apnea pada bayi prematur secara konstan akan diawasi. Bila bayi berhenti bernafas, perawat akan menstimulasi bayi untuk mulai bernafas kembali dengan menepuk-nepuk tubuhnya atau menyentuh bagian tumit kakinya.

     

  2. Penyakit paru-paru kronis

    Penyaki paru-paru kronis, juga disebut bronchopulmonary dysplasia atau BPD, paling umum terjadi pada bayi prematur yang membutuhkan penanganan berlanjut berupa suplemen oksigen. Bayi yang berisiko BPD termasuk bayi yang mengalami respiratory distress syndrome (RDS) berat dan membutuhkan penanganan lama dengan peralatan nafas dan oksigen.

     

    Bayi dengan masalah kesehatan seperti ini memiliki cairan pada paru-paru, luka, atau kerusakan paru-paru, yang bisa terlihat pada saat penyinaran dengan sinar X. Bayi di kondisi ini ditangani dengan ventilator dan obat yang membuat bernafas jadi lebih mudah.

     

    Paru-paru bayi biasanya membaik dalam dua tahun pertama usianya. Tapi banyak anak mengalami penyakit paru-paru kronis mirip asma.

     

  3. Anemia

    Bayi prematur biasanya mengalami anemia, yang berarti mereka tidak memiliki sel darah merah yang cukup. Umumnya bayi menyimpan zat besi selama bulan-bulan akhir kehamilan dan menggunakannya nanti setelah lahir untuk membentuk sel darah merah. Bayi yang lahir terlalu awal tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengumpulkan zat besi.

     

    Bayi dengan anemia cenderung mengalami masalah makan dan tumbuh lebih lambat. Anemia juga bisa memperburuk masalah jantung atau pernafasan. Bayi anemia bisa ditangani dengan suplemen zat besi, obat yang meningkatkan produksi sel darah merah, atau pada kasus yang berat, transfusi darah.

     

  4. Respiratory distress syndrome (RDS)

    Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 34 minggu  sering mengalami masalah pernafasan serius ini. Bayi dengan RDS kekurangan protein bernama surfaktan yang menjaga kantung udara kecil di paru-paru agar tidak rusak.

     

    Penanganan dengan surfaktan membantu bayi bernafas dengan lebih mudah. Karena penanganan dengan surfaktan diperkenalkan di tahun 1990, jumlah kematian akibat RDS telah berkurang menjadi setengahnya.

     

    Dokter bisa mencurigai bayi mengalami RDS bila ia kesulitan bernafas. Penyinaran paru-paru dengan sinar X dan tes darah biasanya mengonfirmasi diagnosa RDS. Bersama dengan penanganan surfaktan, bayi dengan RDS membutuhkan oksigen tambahan dan bantuan pernafasan mekanik.

     

    Bayi bisa menerima penanganan yang disebut continuous positive airway pressure (C-PAP), yang mengantarkan udara ke paru-paru bayi. Udara disalurkan melalui selang yang dimasukkan ke hidung atau saluran nafas. C-PAP membantu bayi bernafas. Bayi yang sangat sakit bisa sementara waktu membutuhkan alat bantu nafas hingga paru-paru matang.

     

  5. Infeksi

    Bayi prematur memiliki sistem kekebalan yang belum matang sehingga tidak bisa melawan bakteri, virus, dan organisme lain yang bisa menyebabkan infeksi.

     

    Infeksi serius yang umumnya terjadi pada bayi prematur antara lain pneumonia (infeksi paru-paru), sepsis (infeksi darah), dan meningitis (infeksi membran di sekitar otak dan sumsum tulang belakang).

     

    Bayi bisa terkena infeksi ini saat lahir dari ibu, atau menjadi terinfeksi setelah lahir. Infeksi ditangani dengan antibiotik atau obat anti virus.

     

  6. Penyakit kuning

    Bayi prematur lebih berisiko mengalami penyakit kuning dibanding bayi cukup umur karena liver mereka belum matang untuk mengangkat produk buangan yang disebut bilirubin dari darah.

     

    Selain itu, bayi prematur bisa lebih sensitif pada efek dari bilirubin berlebihan. Bayi dengan penyakit kuning mengalami warna kekuningan pada kulit dan mata. Penyakit kuning bersifat ringan dan biasanya tidak berbahaya. Tapi bila tingkat bilirubin terlalu tinggi, bisa menyebabkan kerusakan otak.

     

    Ini umumnya bisa dicegah karena tes darah bisa menunjukkan tingkat bilirubin yang terlalu tinggi, jadi bayi bisa ditangani dengan sinar khusus yang membantu tubuh mengatasi bilirubin. Kadang bayi membutuhkan transfusi darah.

     

  7. Necrotizing enterocolitis (NEC)

    Beberapa bayi prematur mengalami masalah usus yang berpotensi berbahaya 2 hingga 3 minggu setelah lahir. Usus menjadi bermasalah ketika persediaan darah berkurang. Bakteri yang biasanya ada di usus menyerang area yang rusak, menyebabkan kerusakan lebih parah. Necrotizing enterocolitis (NEC) bisa memicu kesulitan menyusu, bengkak di perut, dan komplikasi lainnya.

     

    Necrotizing enterocolitis (NEC) bisa terdiagnosa melalui tes pencitraan seperti sinar X dan tes darah. Bayi yang terkena NEC ditangani dengan antibiotik melalui infus. Pada beberapa kasus, pembedahan dibutuhkan untuk mengangkat bagian usus yang rusak.

     

  8. Patent ductus arteriosus (PDA)

    Merupakan masalah jantung yang umum terjadi pada bayi prematur. Sebelum lahir, arteri besar yang disebut ductus arteriosus membiarkan darah melewati paru-paru karena janin mendapat oksigen melalui plasenta.

     

    Ductus biasanya menutup segera setelah lahir jadi darah bisa mengalir ke paru-paru dan mendapat oksigen. Ketika ductus tidak menutup dengan baik, bisa memicu gagal jantung.

    PDA bisa terdiagnosa melalui USG khusus (echocardiography) atau tes pencitraan lainnya. Bayi dengan PDA ditangani dengan obat untuk membantu ductus menutup, meski pembedahan bisa dibutuhkan bila obat tidak bekerja.

     

  9. Intraventricular hemorrhage (IVH)

    Intraventricular hemorrhage (IVH) atau pendarahan pada otak, terjadi pada beberapa bayi prematur. Bayi paling kecil (yang berat badannya sekitar 1,3 kg atau kurang) paling berisiko mengalami masalah kesehatan ini. Pendarahan biasanya terjadi pada 3 hari pertama setelah lahir dan umumnya terdiagnosa melalui pemeriksaan USG.

     

    Kebanyakan pendarahan otak bersifat ringan dan membaik dengan sendirinya dengan tanpa atau beberapa masalah berarti. Semakin parah pendarahan bisa membuat ventrikel di otak melebar dengan cepat, menyebabkan tekanan pada otak yang bisa memicu cerebral palsy serta masalah belajar dan perilaku.

     

    Pada kasus tersebut, ahli bedah bisa memasukkan selang ke otak untuk mengeringkan cairan dan mengurangi risiko kerusakan otak. Di kasus yang lebih ringan, obat kadang bisa menurunkan kumpulan cairan.

     

  10. Retinopathy of prematurity (ROP)

    Retinopathy of prematurity (ROP) merupakan pertumbuhan abnormal dari pembuluh darah di mata yang bisa memicu kehilangan penglihatan. ROP terutama terjadi pada bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 30 minggu. ROP terdiagnosa selama pemeriksaan oleh dokter mata.

     

    Kebanyakan kasus ROP bersifat ringan dan sembuh dengan sendirinya dengan sedikit atau tanpa masalah penglihatan. Pada kasus yang lebih parah, dokter mata bisa menangani pembuluh abnormal dengan laser atau dengan membekukannya (cryotherapy) untuk melindungi retina dan penglihatan.

     

Merawat Bayi Prematur Di Rumah

Bunda, sejak hari pertama bayi masuk NICU, Anda mungkin mulai menghitung hari hingga ia bisa pulang. Anda sudah tidak sabar menunggu si kecil keluar dari rumah sakit. Tapi ketika hari yang dinanti semakin dekat, Anda juga merasa gelisah. Anda mengalami perasaan tidak enak berupa rasa cemas dan takut. Anda tidak yakin apakah bisa merawat buah hati yang prematur di rumah sendirian.

 

Bukan Anda seorang yang mengalami perasaan ini.

 

Ada sejumlah hal yang bisa Anda lakukan sebelum bayi keluar dari rumah sakit untuk memastikan transisi dari rumah sakit ke rumah jadi lebih mudah.

 

  1. Rencanakan konsultasi

    Jadwalkan pertemuan dengan tim dokter yang merawat bayi sebelum bayi pulang. Pastikan Anda memiliki pemahaman yang jelas tentang diagnosa yang lalu dan sekarang serta obat yang harus digunakan bayi. Bahas spesialis mana yang perlu didatangi setelah keluar dari rumah sakit dan rencanakan dengan jelas jadwal pemeriksaan berikutnya. Bila perlu, minta rencana ini dalam bentuk tertulis dari tim medis bayi Anda.

     

    Dokter akan berbicara pada Anda sebelum bayi meninggalkan rumah sakit. Pastikan dokter menjelaskan hal berikut:

    • Bagaimana merawat bayi di rumah
    • Kapan Anda perlu menghubungi dokter atau menuju rumah sakit
    • Bagaimana cara tahu bayi menyusu dengan baik, cukup tidur, dan menambah berat yang cukup
    • Obat apa yang harus diberikan
    • Seberapa sering Anda perlu membawa bayi untuk pemeriksaan.

     

    Kontak teratur dengan dokter anak sangat penting bagi kesehatan bayi Anda. Pastikan membahas kecemasan yang Anda alami tentang bayi.

     

  2. Mencari dokter anak terbaik untuk bayi

    Tidak semua dokter anak punya pengalaman menangani bayi prematur. Cari tahu dokter anak di area Anda untuk menemukan siapa yang berpengalaman dalam menangani pasien seperti bayi Anda.

     

    Ketahui berapa banyak pasien dengan komplikasi medis seperti bayi Anda yang ia tangani tiap tahunnya. Juga cari tahu bila ada referensi untuk spesialis yang bayi butuhkan. Yang paling penting, pastikan dokter bersikap suportif dan Anda merasa nyaman.

     

  3. Siapkan teman dan keluarga

    Setelah menunggu berhari-hari, minggu, atau bulan untuk membawa bayi pulang, teman dan keluarga tentu juga ikut merasa senang. Tapi kepulangan bayi prematur membutuhkan beberapa pertimbangan. Yang utama, bayi prematur, terutama dengan penyakit paru-paru kronis, memiliki paru-paru lebih lemah dibanding bayi tidak prematur.

     

    Karenanya, mereka tidak boleh kontak dengan orang sakit, perokok, semprot aerosol, dan asap cat. Juga, bayi prematur bisa terstimulasi berlebihan dengan lebih cepat dibanding bayi cukup umur, jadi Anda sebaiknya hindari pesta penyambutan dan batasi kunjungan untuk tamu yang sehat saja.

     

  4. Bangun rasa percaya diri Anda

    Di akhir penanganan di NICU, tanyakan ke perawat apakah Anda bisa melakukan semua perawatan termasuk memberikan obat, mengganti popok, menyusui, dan mengatur peralatan kesehatan yang perlu dibawa pulang.

     

    Anda juga perlu mengikuti kelas CPR selama beberapa hari sebelum bayi pulang. Ini akan membantu membangun rasa percaya diri kalau Anda bisa mengatasi kondisi darurat di rumah.

     

  5. Buat catatan

    Janji konsultasi dengan dokter, jadwal terapi, dan jadwal minum obat, semua ini akan membuat kepala Anda pening. Hindari ini dengan menggunakan catatan untuk menulis hal penting setelah setiap pertemuan dengan dokter, pemberian obat, atau tawaran penanganan.

     

  6. Kenali tanda PTSD

    Bagi banyak orangtua, mengalami kelahiran prematur dan memiliki bayi yang dirawat di NICU bisa menyebabkan stres dan memunculkan gejala post-traumatic stress disorder (PTSD). Menghindari orang atau hal yang mengingatkan pada waktu menakutkan itu atau terbangun di tengah malam karena mimpi buruk jadi pengalaman umum yang terjadi pada kebanyakan orangtua dari bayi prematur.

     

    Bila gejala ini mempengaruhi keseharian Anda, mengganggu kemampuan Anda untuk tidur, atau berdampak pada mood, Anda kemungkinan mengalami PTSD. Bila mengira ini terjadi, segera cari bantuan profesional.

     

  7. Anda akan merindukan NICU

    Memang benar, meski ketika berada di NICU, Anda membayangkan hari bersama bayi di rumah. Tapi Anda tidak membayangkan tanggung jawab besar dan stres yang ada ketika merawat bayi dengan kebutuhan medis berlanjut di rumah.

     

    Anda rindu mendapat informasi dari tim medis atau merasa lega mengetahui profesional medis mengawasi bayi Anda sepanjang waktu. Selain itu, Anda juga merindukan aspek sosial dari NICU seperti berbicara dengan perawat, dokter, serta orangtua dari bayi prematur lainnya. Merindukan NICU dan berharap Anda mendapat kembali dukungan yang pernah Anda peroleh selama di sana adalah hal yang sangat wajar.

     

  8. Jangan lupakan diri sendiri

    Setelah menghabiskan waktu di NICU, membawa bayi kecil ke rumah dengan komplikasi kesehatan akan terasa sangat melelahkan. Dengan banyaknya hal yang harus dilakukan, orangtua dengan bayi prematur bisa merasa lelah dengan sangat cepat.

     

    Coba bergantian dengan pasangan dalam merawat bayi agar Anda bisa beristirahat, ya Bun. Hirup udara segar, berendam di bak mandi, atau bertemu dengan teman. Anda bukan bersikap egois, tapi Anda menjadi orangtua yang baik dengan mengisi kembali energi untuk merawat si bayi.

     

  9. Percaya insting Anda

    Selain semua tenaga medis yang terlibat dalam kehidupan bayi hingga saat ini, Anda yang selalu berada di sisi bayi sejak hari ia dilahirkan. Anda mengenal si kecil lebih baik dibanding orang lain, jadi percaya pada diri sendiri kalau Anda bisa mengenali petunjuk dari bayi dan Anda akan tahu apa yang harus dilakukan bila sesuatu terjadi. Lagi pula, rumah sakit tidak akan membolehkan bayi pulang hingga mereka merasa bayi siap untuk pulang ke rumah dan orangtua siap merawatnya.

     

Biarkan diri Anda merasakan apa yang ingin Anda rasakan

Tak apa bila kepulangan bayi bukan jadi momen yang penuh kebahagiaan. Setelah tiba dirumah dan melanjutkan hidup, wajar bila Anda merasakan berbagai bentuk emosi yang mungkin tidak Anda rasakan ketika berada di NICU. Emosi seperti rasa bersalah, sedih, marah, frustasi, takut, dan berduka jadi perasaan yang sangat wajar bagi orangtua yang memiliki bayi prematur. Temui dokter atau orangtua lain dengan kondisi serupa untuk membantu Anda mengatasi emosi campur-aduk ini.

 

Hari kepulangan si kecil adalah hari besar untuk Anda dan keluarga. Meluangkan waktu untuk mempersiapkan fase baru dari menjadi orangtua di rumah bisa meringankan masa transisi pada Anda, bayi, dan anggota keluarga lain. Ingat, berikan waktu bagi siapa saja di rumah untuk menyesuaikan diri dengan keberadaan bayi.

 

Yakinkan diri kalau Anda dan keluarga membangun tim dukungan medis baru untuk si bayi dan ada banyak cara untuk terhubung dengan orangtua dari bayi prematur lain atau tenaga profesional yang dapat membantu ketika Anda menjalani kehidupan sebagai keluarga di rumah.

(Ismawati)