Dari IMD sampai Menyapih, Ini Panduan Menyusui untuk Ibu

Dari IMD sampai Menyapih, Ini Panduan Menyusui untuk Ibu
Dari IMD sampai Menyapih, Ini Panduan Menyusui untuk Ibu

Menyusui sering kali dianggap sebagai proses alami yang akan berjalan dengan sendirinya setelah bayi lahir. Padahal, kenyataannya nggak selalu semudah itu, lho, Parents! Ada ibu yang mengalami puting lecet, kesulitan pelekatan, hingga khawatir karena berat badan bayinya belum naik sesuai harapan.

Tantangan tersebut bahkan pernah dialami Jamilatus Sadiyah atau akrab disapa Mbak Mila, seorang bidan, konselor menyusui, sekaligus Founder Bumil Pamil Community. Meski memiliki pengetahuan seputar menyusui, ia mengaku tetap menghadapi berbagai kesulitan ketika menyusui anaknya.

Mulai dari kurang tidur, puting lecet, hingga masalah pelekatan yang membuat berat badan anaknya tidak naik secara optimal. Meski begitu, Mbak Mila berhasil memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan melanjutkan menyusui hingga anaknya berusia tiga tahun.

Pengalaman tersebut turut ia bagikan dalam diskusi bertajuk "Pumping & Me Time: Mama Tak Harus Memilih" yang berlangsung di Jakarta, pada 30 Oktober 2026. Mbak Mila juga memberikan berbagai edukasi seputar menyusui, mulai dari hari pertama bayi lahir, cara mengelola ASI perah (ASIP), hingga proses menyapih.

Nah, supaya ibu lebih siap menjalani setiap tahapannya, yuk, kenali beberapa hal penting yang perlu diperhatikan selama perjalanan menyusui!

Pentingnya Inisiasi Menyusu Dini (IMD) Setelah Bayi Lahir

Perjalanan menyusui sebenarnya sudah dimulai sejak bayi baru saja dilahirkan. Salah satu langkah awal yang dianjurkan adalah Inisiasi Menyusu Dini atau IMD. Menurut Mbak Mila, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar proses menyusui dimulai dalam satu jam pertama setelah kelahiran, selama kondisi ibu dan bayi memungkinkan.

IMD dilakukan melalui kontak kulit ke kulit atau skin-to-skin, yaitu dengan meletakkan bayi di dada ibu segera setelah lahir, ketika kondisi keduanya stabil. Mbak Mila menjelaskan bahwa kontak kulit tersebut sebaiknya berlangsung setidaknya selama satu jam.

Tujuannya untuk memberikan kesempatan kepada bayi beradaptasi dan secara alami mulai mencari payudara ibu. Menariknya, bayi ternyata nggak langsung menyusu begitu diletakkan di dada ibu. Ada beberapa tahapan yang biasanya dilalui terlebih dahulu.

Awalnya, bayi mungkin akan beristirahat atau memejamkan mata setelah melalui proses persalinan. Kemudian, bayi mulai menjilat tangannya, melakukan kontak dengan kulit ibu, hingga perlahan bergerak mencari payudara.

Proses tersebut turut dibantu oleh aroma alami di sekitar payudara, termasuk dari kelenjar Montgomery yang berada di area areola. "Nggak harus dapat puting langsung, yang penting skin-to-skin-nya ya," jelas Mbak Mila.

Karena itu, ibu hamil juga disarankan mencari informasi terlebih dahulu mengenai prosedur IMD di rumah sakit atau fasilitas kesehatan tempatnya berencana melahirkan. Setelah proses menyusui dimulai, tahapan berikutnya adalah memastikan kebutuhan nutrisi bayi terpenuhi melalui pemberian ASI sesuai usianya.

Berapa Lama Bayi Perlu Mendapatkan ASI Eksklusif?

WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Artinya, selama periode tersebut bayi mendapatkan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman lainnya, kecuali jika ada indikasi medis tertentu.

Setelah memasuki usia enam bulan, bayi mulai membutuhkan makanan pendamping ASI atau MPASI untuk melengkapi kebutuhan nutrisinya. Namun, dimulainya MPASI bukan berarti pemberian ASI harus langsung dihentikan. Menurut Mbak Mila, proses menyusui tetap dapat dilanjutkan bersamaan dengan pemberian makanan hingga anak berusia dua tahun atau lebih.

Bahkan, ibu tidak harus langsung menyapih anak begitu usianya genap dua tahun. Selama ibu dan anak masih ingin melanjutkan proses menyusui, keduanya dapat menjalani masa transisi secara bertahap.

Seiring bertambahnya usia bayi, pola menyusui tentu akan mengalami perubahan. Bagi ibu yang harus kembali bekerja atau sesekali meninggalkan bayi bersama anggota keluarga, ASI perah dapat membantu memastikan pemberian ASI tetap berlangsung.

Lalu, kapan sebaiknya ibu mulai memerah dan menyiapkan stok ASIP?

Kapan Ibu Bisa Mulai Memerah dan Menyiapkan Stok ASI?

Sebagian ibu mungkin mengira bahwa memerah ASI baru diperlukan ketika akan kembali bekerja. Padahal, menurut Mbak Mila, ibu sudah boleh mulai memerah ASI sejak awal setelah melahirkan jika memang dibutuhkan.

ASI yang diperah dapat disimpan untuk diberikan kepada bayi ketika ibu sedang tidak bisa menyusui secara langsung. Misalnya, saat ibu harus bekerja, memiliki keperluan di luar rumah, atau membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Mbak Mila juga menjelaskan bahwa memerah ASI bisa dilakukan menggunakan tangan, terutama pada masa awal setelah melahirkan. Pada kondisi tertentu, bayi mungkin belum bisa langsung bersama ibu karena masih menjalani observasi. Selama masa tersebut, ibu dapat dibantu untuk mulai belajar memerah ASI.

Salah satu teknik yang diceritakan Mbak Mila adalah memerah menggunakan tangan dengan gerakan spiral pada payudara. Teknik ini dapat dicoba untuk membantu pengeluaran ASI ketika alirannya mulai berkurang. Bagi ibu yang berencana kembali bekerja setelah cuti melahirkan, belajar memerah ASI sejak awal juga dapat membantu ibu lebih terbiasa dengan prosesnya.

Namun, selain mengetahui cara memerah, ibu juga perlu memahami bagaimana mengelola ASIP agar tetap bisa diberikan kepada bayi dengan baik.

Cara Menyimpan, Menggabungkan, dan Menghangatkan ASIP

Saat mulai rutin pumping, jumlah ASI yang diperoleh setiap sesi mungkin berbeda-beda. Ada kalanya ibu mendapatkan ASI cukup banyak, tetapi pada sesi lainnya jumlahnya lebih sedikit. Karena itu, ibu perlu mengetahui cara menyimpan dan mengelola ASIP, termasuk jika ingin menggabungkan hasil pumping dari beberapa sesi.

Berikut beberapa hal yang dijelaskan Mbak Mila:

1. Perhatikan ASIP yang akan diberikan kepada bayi

Menurut Mbak Mila, komposisi ASI dapat berubah mengikuti kebutuhan bayi seiring waktu. Karena itu, ia menyebut ASIP yang lebih baru sebagai salah satu pilihan untuk diberikan kepada bayi.

Meski demikian, ASIP yang sudah disimpan sebelumnya tetap bisa digunakan selama dikelola dan disimpan dengan benar. Hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi ASIP serta proses penyimpanannya sebelum diberikan kepada bayi.

2. ASIP dari sesi pumping berbeda boleh digabungkan

Pernah mendapatkan ASI hanya 100 ml, tetapi kantong ASIP yang tersedia berkapasitas jauh lebih besar? Kondisi ini mungkin membuat ibu ingin menggabungkan hasil pumping dari beberapa sesi.

Menurut Mbak Mila, ASIP boleh digabungkan dengan memperhatikan waktu pemerahan dan suhunya. "Campur boleh dengan catatan ASI perah-nya di 24 jam pertama," jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa ASIP yang akan digabungkan harus berada pada suhu yang sama terlebih dahulu. Jadi, ibu perlu memperhatikan proses pendinginan sebelum mencampurkan hasil pumping dari waktu berbeda.

3. Cairkan dan hangatkan ASIP secara bertahap

Selain penyimpanan, cara mencairkan ASIP juga perlu diperhatikan, terutama jika ASI sebelumnya disimpan dalam freezer. Mbak Mila menyarankan agar ASIP beku dipindahkan terlebih dahulu ke chiller untuk dicairkan secara perlahan sebelum dihangatkan.

Proses perubahan suhu juga perlu dilakukan secara bertahap ketika ibu ingin menyimpan ASIP ke freezer. Hal lain yang ditekankan Mbak Mila adalah menghindari memasak ASI secara langsung, karena suhu yang terlalu tinggi dapat merusak komponen penting di dalamnya, termasuk antibodi.

Dengan pengelolaan yang tepat, stok ASIP bisa membantu ibu tetap memberikan ASI kepada bayi meskipun keduanya sedang tidak bersama.

Bagi ibu bekerja, tantangannya tentu nggak berhenti pada urusan penyimpanan. Menjaga rutinitas memerah ASI di tengah aktivitas kerja juga membutuhkan perhatian tersendiri.

Tips Menjaga Rutinitas Pumping bagi Ibu Bekerja

Kembali bekerja setelah melahirkan bisa menjadi masa penyesuaian bagi ibu menyusui. Selain harus mengatur waktu bersama bayi, ibu juga perlu menyediakan kesempatan untuk memerah ASI selama berada di luar rumah.

Mbak Mila sendiri pernah mengalami kondisi tersebut ketika harus kembali bekerja saat anaknya masih berusia sekitar tiga bulan. Menurutnya, mempertahankan rutinitas pumping penting dilakukan untuk menjaga proses pengeluaran ASI tetap berjalan.

Ketika sesi pumping terlalu sering terlewat, ASI bisa menumpuk dan membuat payudara terasa penuh atau bengkak. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan berpotensi berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

Mbak Mila menjelaskan bahwa bendungan ASI perlu ditangani dengan tepat karena dapat berkaitan dengan risiko mastitis, yaitu peradangan pada jaringan payudara. Jika kondisi tersebut semakin berat dan tidak mendapatkan penanganan yang sesuai, mastitis juga dapat menimbulkan komplikasi berupa abses payudara. Karena itu, ibu bekerja perlu memperhatikan rutinitas pumping sekaligus mengenali perubahan atau keluhan pada payudaranya.

Selain mengatur waktu, ketersediaan tempat pumping yang layak juga menjadi hal penting. Mbak Mila mengungkapkan bahwa masih ada ibu yang kesulitan menemukan tempat memerah ASI ketika berada di luar rumah, bahkan sampai harus melakukan pumping di kamar mandi.

Padahal, ibu membutuhkan tempat yang bersih, nyaman, dan memberikan privasi agar dapat memerah ASI dengan lebih tenang. Dukungan lingkungan kerja maupun keluarga tentu ikut membantu ibu menjalani rutinitas tersebut.

Setelah bayi semakin besar dan mulai terbiasa dengan MPASI, jadwal pumping serta menyusui juga dapat disesuaikan dengan pola makan hariannya.

Bagaimana Mengatur Jadwal Menyusui Setelah Bayi Mulai MPASI?

Ketika bayi mulai mengenal MPASI, ibu perlu membantu anak membangun kebiasaan makan secara bertahap. Mbak Mila menjelaskan bahwa memasuki usia sekitar 10 bulan, bayi sudah memiliki pola makan yang berbeda dibandingkan ketika masih sepenuhnya mengandalkan ASI.

Pada usia tersebut, jadwal makan utama dan camilan perlu mulai diperhatikan agar anak terbiasa mendapatkan asupan makanan secara teratur. Ia mencontohkan jadwal makan yang dimulai dengan sarapan sekitar pukul 08.00, dilanjutkan camilan pukul 10.00, kemudian makan siang sekitar pukul 12.00. Jadwal tersebut tentu dapat disesuaikan dengan usia dan kebutuhan masing-masing anak.

Menurut Mbak Mila, pengaturan jadwal makan membantu anak mengenali waktu makan dan menyusu. Jika pola makan tidak teratur, anak mungkin lebih sering meminta ASI sehingga kesempatan untuk mengonsumsi makanan utama menjadi berkurang. Kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan tantangan gerakan tutup mulut (GTM), terutama ketika anak lebih memilih menyusu dibandingkan makan. Karena itu, orang tua perlu mulai membangun rutinitas makan yang konsisten sambil tetap memberikan ASI sesuai kebutuhan bayi.

Seiring waktu, makanan akan mengambil porsi yang semakin besar dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Proses inilah yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan menuju penyapihan. Namun, kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk mulai menyapih anak?

Menyapih Anak Nggak Harus Terburu-buru, Kenali Weaning with Love

Banyak orang tua menganggap bahwa anak harus langsung berhenti menyusu begitu usianya mencapai dua tahun. Padahal, menurut Mbak Mila, proses menyapih dapat dilakukan secara bertahap dan tidak perlu terburu-buru. Ia menjelaskan bahwa masa ketika anak mulai mendapatkan MPASI sejak usia enam bulan dapat dipandang sebagai awal proses penyesuaian menuju penyapihan.

Pada tahap tersebut, anak mulai mengenal sumber makanan lain selain ASI, sementara frekuensi dan pola menyusunya perlahan dapat berubah mengikuti kebutuhan. Ketika anak semakin besar, ibu bisa mulai mempersiapkan proses penyapihan dengan cara yang lebih lembut.

Salah satu pendekatan yang disarankan Mbak Mila adalah weaning with love atau menyapih dengan cinta. Dalam pendekatan ini, ibu diajak membangun komunikasi dengan anak mengenai proses berhenti menyusu, alih-alih menggunakan cara-cara yang membuat anak takut atau tidak nyaman.

Misalnya, dengan menjelaskan secara perlahan bahwa anak sudah semakin besar dan mulai bisa mendapatkan kebutuhan nutrisinya dari makanan maupun minuman lain. Ibu juga dapat memberikan pengertian bahwa meskipun proses menyusui nantinya berhenti, kasih sayang dan kedekatan dengan orang tua tetap ada.

Mbak Mila menyarankan agar orang tua tidak perlu mengoleskan bahan tertentu pada payudara untuk membuat rasanya pahit atau tampilannya menakutkan bagi anak. Menurutnya, komunikasi yang jujur dan penuh kasih sayang lebih baik untuk membantu anak memahami perubahan tersebut.

"Jadi, dua tahun tuh nggak harus segera," jelas Mbak Mila ketika membahas waktu penyapihan. Dengan begitu, ibu dan anak dapat menjalani proses menyapih secara perlahan, sesuai kesiapan masing-masing.

Setiap ibu tentu memiliki pengalaman menyusui yang berbeda. Kalau dalam perjalanannya ibu mengalami kesulitan, mulai dari pelekatan, memerah ASI, hingga menyapih, nggak ada salahnya berkonsultasi dengan konselor menyusui atau tenaga kesehatan agar mendapatkan pendampingan yang sesuai kebutuhan.

Follow Ibupedia Instagram