Kelahiran Dibaca 239 kali

Serba Serbi Water Birth Yang Harus Ibu Hamil Tahu

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 01 Oktober, 2017 14:10

Serba Serbi Water Birth Yang Harus Ibu Hamil Tahu
Kebanyakan orang merasa nyaman berada di air. Mungkin ini karena manusia memulai kehidupan dengan dikelilingi oleh cairan ketika berada di dalam rahim. Sebagian besar tubuh manusia juga terdiri dari air, dan banyak karakter istimewa yang kita punya menghubungkan kita dengan mamalia air. Janin yang berusia 3 hari berupa 97 persen air, dan janin berumur 8 bulan 81 persennya berupa air. Di saat manusia tumbuh menjadi dewasa, 50 hingga 70 persen isi tubuhnya berupa air, ini tergantung pada jumlah lapisan lemak yang dimiliki.
Sekutu alami manusia dengan air paling baik terlihat pada bayi manusia yang bisa berenang secara alami dan mudah jatuh sebelum mereka bisa duduk atau merangkak. Selama tahun pertama, bayi bisa dengan tenang dan gembira berada di dalam air. Ketika mereka perlu bernafas, secara alami bayi bergerak ke permukaan air sebelum mengambil nafas. Bayi dengan instingnya tahu untuk tidak bernafas ketika kepala mereka masih berada di bawah air. Mereka menunggu hingga mencapai permukaan air sebelum bernafas. Tapi kemudian sayangnya manusia kehilangan insting ini dan dapat dengan mudah untuk tenggelam ketika di dalam air.
Selama ribuan tahun ibu hamil menggunakan air untuk memudahkan persalinan. Berendam di air untuk memudahkan persalinan kedengarannya menarik bagi kebanyakan ibu hamil. Jika air menjadi pilihan ibu hamil untuk melakukan persalinan dan tidak ada komplikasi yang terjadi, maka pilihan ini bisa sangat nyaman untuk dilakukan. Ketika waktunya tiba untuk melahirkan, tidak ada alasan untuk meminta si ibu keluar dari air.
Ketika ibu hamil sedang dalam proses persalinan water birth, ia akan merasa rileks berada di air hangat, bebas dari dorongan gravitasi pada tubuh, dengan stimulasi panca indera yang berkurang, dan tubuh kurang mensekresi hormon yang berhubungan dengan stres. Ini membuat tubuh memproduksi penghambat rasa sakit ‘endorphin’ yang melengkapi persalinan. Noradrenaline dan catecholamines, hormon yang dilepaskan selama stres, sebenarnya meningkatkan tekanan darah dan bisa menghalangi atau melambatkan persalinan.

Proses Waterbirth

Tindakan melahirkan di dalam air alias waterbirth sangat sederhana. Bunda bisa memulainya dengan merendam diri di air hangat selama persalinan. Jika ia merasa akan melahirkan di dalam bak mandi, tidak ada alasan untuk memintanya keluar. Bayi tumbuh dalam lingkungan cair selama sekitar 9 bulan. Bayi menyesuaikan diri dengan baik untuk dilahirkan di kolam berisi air. Biasanya bayi dibawa keluar dari air dalam 10 detik pertama setelah lahir. Tidak ada alasan psikologis untuk meninggalkan bayi di bawah air untuk jangka waktu tertentu. Ada beberapa video tentang melahirkan di dalam air yang menggambarkan bayi dibiarkan berada di bawah air selama beberapa saat setelah lahir dan bayi baik-baik saja.
Secara psikologis, plasenta mendorong bayi dengan oksigen selama waktu ini meski tidak pernah bisa diprediksi kapan plasenta akan mulai terpisah yang menyebabkan aliran oksigen ke bayi menjadi terhenti. Tali pusar yang berdenyut tidak menjamin bayi menerima oksigen yang cukup. Pendekatan yang aman adalah dengan mengangkat bayi, tanpa terburu-buru, dan perlahan menempatkannya ke pelukan ibu.
Air harus dimonitor pada suhu yang nyaman untuk ibu, biasanya antara 95 hingga 100 derajat Fahrenheit (35-37,7 derajat Celsius). Suhu air tidak boleh lebih dari 101 derajat Fahrenheit (38 derajat Celsius) karena bisa meningkatkan suhu tubuh ibu yang dapat mengakibatkan detak jantung bayi menjadi meningkat. Sebaiknya sediakan juga banyak air minum dan kain dingin untuk mengelap wajah dan leher ibu.

Memonitor Detak Jantung Janin Saat Melakukan Waterbirth

Dengan penggunaan monitor janin elektronik selama persalinan, salah satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana Anda mendapat monitoring yang akurat untuk detak jantung janin ketika ibu masih berada di dalam air. Satu dari beberapa perusahaan pertama yang menghadirkan peralatan monitoring waterproof adalah Huntleigh Healthcare dari Inggris. Teknologi ini telah membantu banyak proses waterbirth selama lebih dari 1 dekade dan terus meningkat selama periode tersebut. Kini semua pabrik monitor memproduksi alat yang waterproof, termasuk Doppler tangan serta peralatan sejenisnya. Waterbirth International telah menyediakan Doppler tahan air untuk banyak rumah sakit sejak tahun 1996. Detak jantung bayi didengarkan setiap 30 menit pada awal persalinan dan setiap 10 menit selama fase mendorong.
Sampai saat ini, masih ada rumah sakit yang menolak melakukan persalinan di dalam air jika selaput wanita telah pecah. Ini masih menjadi hal yang absurd. Tidak ada bukti peningkatan infeksi dengan atau tanpa membran yang pecah pada wanita yang melahirkan di dalam air. Salah satu eksperimen di tahun 1960 menyebutkan, seorang peneliti menempatkan tampon kapas steril pada 30 wanita lalu meminta mereka berendam di air yang telah diberi iodine selama  kira-kira 15 menit. Ketika semua tampon diangkat, tidak ada iodine yang terdeteksi. Si peneliti berkesimpulan kini kita tidak perlu melarang ibu hamil untuk berendam di dalam air pada tahap kehamilan dan persalinan.

Mempertanyakan Higienitas Waterbirth

Ibu hamil yang sedang menjalani persalinan waterbirth mendapat keuntungan ketika bayi bergerak turun dan keluar. Tidak ada yang bergerak ke atas dan naik. Benda-benda yang kita letakkan pada vagina bisa menyebabkan peningkatan infeksi, seperti jari, amnihooks (alat untuk memecahkan ketuban), dan sebagainya. Pengawasan, terutama pada ruang di rumah sakit, membutuhkan peraturan ketat antara dan selama proses kelahiran. Menjaga kebersihan semua peralatan yang digunakan untuk kelahiran di air bisa mencegah tersebarnya infeksi.
Beberapa orang tua ada yang merasa khawatir tentang penularan virus seperti HIV atau Hepatitis. Tidak ada alasan untuk membatasi ibu yang positif HIV untuk melahirkan di dalam air. Semua bukti mengindikasikan virus HIV tidak bisa hidup di lingkungan air yang hangat. Tapi pencegahan masih perlu dilakukan dan pembersihan yang semestinya pada semua peralatan setelah kelahiran perlu dilakukan.
Banyak rumah sakit yang menerapkan aturan 5 cm, hanya membolehkan ibu untuk masuk ke dalam air ketika mereka berada pada persalinan aktif dan berendam sedalam lebih dari 5 cm. Ada data psikologis yang mendukung aturan ini, tapi setiap situasi harus dievaluasi dan dinilai. Beberapa ibu merasa berendam di awal persalinan berguna untuk efek menenangkan dan untuk menentukan kalau persalinan telah dimulai. Air kadang memiliki efek untuk memperlambat atau menghentikan persalinan jika digunakan terlalu dini. Sebaliknya, jika kontraksi kuat dan teratur, berendam bisa membantu ibu untuk rileks.
Air menciptakan penghalang yang baik pada dunia luar. Air menjadi rahim tersendiri yang bisa dilihat. Jika kolam berukuran cukup besar untuk menyertakan pasangan atau suami, ini bisa menjadi tempat yang intim bagi keduanya untuk menjalani persalinan bersama. Jika bidan atau dokter ingin melakukan pemeriksaan vaginal ketika ibu berada di dalam air, ibu akan lebih mudah untuk menolaknya. Berada di dalam air  membuat ia bisa bergerak cepat ke sisi lain kolam. Pemeriksaan vaginal bisa dengan mudah dilakukan di air, tapi sebaiknya gunakan sarung tangan panjang.

Keuntungan Waterbirth

Kontrol yang wanita dapat dengan mampu bergerak bebas di air sering kali membantu mereka menilai kemajuan gerakan bayi yang lebih intensif. Wanita merasa air mengintensifkan hubungan dengan bayi sekaligus mengurangi rasa sakit. Mereka bisa merasakan bayi bergerak, turun, dan mendorong di jalan lahir. Trauma perineal dilaporkan umumnya terjadi pada tingkat ringan saja. Salah satu keuntungan terbaik dari melahirkan di air adalah tingkat nol untuk episiotomy. Ibu yang memiliki kondisi psikologis yang baik untuk melahirkan bayi memberinya kebebasan untuk mengontrol dan tidak memberitahunya untuk mendorong ketika tubuhnya tidak menginginkannya, semua berkontribusi pada kondisi perineum.
(Ismawati)