Kelahiran

Tips Agar ASI Keluar Lancar Setelah Ibu Melahirkan

Terakhir diperbaharui

Tips Agar ASI Keluar Lancar Setelah Ibu Melahirkan

Setelah melahirkan si kecil, keluarnya plasenta memicu produksi ASI secara otomatis dan kegagalan laktasi biasanya sangat jarang terjadi. Tingkat volume ASI yang keluar akan bergantung pada seringnya menyusui dan memulainya sejak dini.

 

Kapan ASI keluar setelah melahirkan?

Ibu biasanya merasakan ASI keluar dalam dua hingga tiga hari setelah bayi lahir. Sekitar waktu ini payudara yang penuh atau bengkak menggantikan volume kolostrum yang sudah keluar lebih dulu. Produksi ASI terus meningkat selama bayi menyusu atau Anda memerah dengan tangan maupun pompa ASI dan mengosongkan payudara.

 

Tapi bila peningkatan ASI tidak terjadi, produksi ASI akan mulai terhenti. Apapun yang mempengaruhi hormon yang terlibat dalam proses menyusui punya potensi menyebabkan penundaan pengeluaran ASI atau persediaan ASI rendah.

 

Kenapa ASI tidak cepat keluar setelah ibu melahirkan?

Kita semua tahu kalau ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Tapi tak sedikit ibu yang kesulitan untuk menyusui.

 

Ada banyak sebab kenapa ASI ibu tidak keluar atau bisa keluar tapi jumlahnya sangat sedikit. Topik ini selalu menjadi perdebatan. Beberapa ibu merasa butuh waktu agar ASI keluar dan tidak ingin menyerah. Tapi sebagian ibu berpendapat ibu tidak berusaha cukup keras untuk menyusui bayinya. Tak ada yang bisa mengontrol apa yang tubuh lakukan atau tidak lakukan. Produksi ASI yang rendah, biasanya bukan kesalahan ibu.

 

Berikut ini penyebab produksi ASI rendah, atau pada beberapa kasus, ASI tidak ada sama sekali:

 

  1. Stres

    Mulai dari kecemasan hingga serangan jantung, stres bisa memicu semua jenis masalah kesehatan, bahkan memicu produksi ASI yang rendah atau tidak ada sama sekali. Stres bisa jadi alasan utama dalam produksi ASI. Ketika berada di bawah stres berat, tubuh kita tidak berfungsi sebaik ketika normal. Stres bisa menyebabkan tubuh bereaksi dengan cara aneh dan tidak sehat ketika berusaha mengatasinya.

     

    Mudah saja untuk mengatakan ke para ibu untuk “Jangan banyak stres,” tapi ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Dan meski kehamilan dan kelahiran seharusnya jadi waktu yang membahagiakan, tak ada hidup yang sempurna dan banyak dari kita mengalami lebih banyak stres selama kehamilan.

     

  2. Hormon

    Hormon menjadi faktor utama dalam produksi ASI. Estrogen dan progesteron adalah hormon yang menstimulasi perkembangan payudara selama pubertas dan kehamilan.

     

    Prolaktin berkontribusi selama kehamilan dan lalu mengarahkan produksi ASI bersama insulin dan kortisol. Lalu oksitosin mendorong ASI melalui kelenjar. Ketika ini tidak terjadi, produksi ASI juga tidak terjadi. Produksi ASI yang rendah atau tidak memproduksi ASI dalam jumlah yang cukup menjadi indikator hormon tidak seimbang dan kemungkinan ada yang salah terjadi.

     

    Tiroid adalah kelenjar kecil di leher. Meski tiroid berukuran kecil, fungsinya mengatur hormon. Bila tiroid tidak berfungsi sebagaimana mestinya, ketidak-seimbangan hormon akan terjadi dan lalu memicu produksi ASI yang rendah atau tidak ada sama sekali. Di kasus ini, sebaiknya temui dokter dan ikuti tes untuk mencari tahu apa penyebab masalah Anda.

     

  3. Deficient glandular tissue

    Mammary hypoplasia atau deficient glandular tissue bisa jadi penyebab persediaan ASI sedikit. Wanita dengan insufficient glandular tissue tidak banyak mengalami perubahan pada payudara selama pubertas dan atau kehamilan, tidak bengkak, dan persediaan ASI rendah. Sayangnya, tidak diketahui pasti penyebab mammary hypoplasia, meski beberapa dokter meyakini kondisi ini ada hubungannya dengan genetik.

     

    Diyakini mammary hypoplasia tidak menyebabkan masalah kecuali dari sisi kecantikan. Kedua payudara bisa jauh terpisah, tidak simetris, atau berbentuk tabung. Payudara bahkan bisa terlihat cukup penuh tapi jaringan produksi ASI tidak ada. Payudara penuh dengan jaringan lemak. Bicaralah pada dokter atau konsultan laktasi yang dapat membantu Anda mencari tahu apakah ini yang jadi masalahnya.

     

  4. PCOS

    Polycystic ovary syndrome adalah kondisi yang menyebabkan banyak jenis penyakit. PCOS bisa memicu masalah kesuburan, pertumbuhan rambut di wajah dan tubuh yang berlebihan, menstruasi tidak teratur, rambut kepala rontok, berat badan bertambah, dan jerawat.

     

    Bila ibu dengan PCOS hamil, ia akan tetap bisa mengalami masalah lain seperti persediaan ASI rendah atau tidak keluar sama sekali. Meski tidak ada obat untuk PCOS, ada variasi penanganannya. Wanita dengan PCOS biasanya memiliki estrogen dominan, dan ini bisa mengganggu produksi ASI. Tingkat estrogen seharusnya turun setelah melahirkan. Resistensi insulin bisa jadi efek samping lain yang disebabkan oleh PCOS. Wanita dengan PCOS punya tingkat hormon androgen lebih tinggi yang bisa menghambat prolaktin mencapai reseptornya.

     

  5. Penggunaan alat kontrasepsi

    Kebanyakan wanita pernah menggunakan alat kontrasepsi. Ada banyak efek negatif yang disebabkan oleh alat kontrasepsi, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Banyak alat kontrasepsi yang dijual di pasaran mengandung tingkat estrogen yang tinggi, yang bisa berdampak pada kemampuan produksi ASI. Beberapa wanita mulai menggunakan alat kontrasepsi setelah bayi lahir, yang tidak bijak karena bisa berdampak negatif. Alat kontrasepsi berperan dalam hormon seseorang, yang tidak sehat untuk tubuh dan bisa menyebabkan ketidak-seimbangan hormonal jangka panjang. Kondisi ini bisa menyebabkan ibu tidak bisa memproduksi ASI. Jadi ketika Anda berusaha menyusui, sebaiknya hindari  alat kontrasepsi.

     

  6. Konsumsi obat atau herbal tertentu

    Seperti halnya alat kontrasepsi yang bisa mempengaruhi produksi ASI, obat, vitamin atau herbal tertentu juga demikian. Obat seperti pseudoephedrine, bisa menyebabkan produksi ASI turun. Peppermint, methergine, bromocriptine, dan oregano juga bisa berpengaruh negatif pada persediaan ASI.

     

    Bila Anda sakit atau mengalami alergi, tanyakan ke dokter tentang penanganan alternatif. Beberapa resep obat bisa membuat ASI menurun atau berhenti sepenuhnya.   Yang paling baik tanyakan ke dokter bila Anda minum obat dan merasa khawatir bisa menyebabkan persediaan ASI menurun atau tidak ada sama sekali. Beberapa pihak menganggap alkohol bisa membantu wanita rileks dan ASI keluar. Ini salah, alkohol akan menghalangi Anda memproduksi ASI. Dan sangat jelas, obat keras sangat dilarang ketika menyusui.

     

  7. Persalinan yang sulit

    Melahirkan tidak selalu seperti yang direncanakan dan bisa membuat ibu dan bayi stres atau bahkan trauma. Banyak hal bisa terjadi, mulai dari pendarahan hingga dokter atau bidan melakukan tindakan yang keliru. Ada banyak ceria tentang ibu yang tidak bisa menyusui setelah kelahiran yang sulit.

     

    Tiap orang berbeda, tapi ada efek saat impian tentang persalinan normal kandas, yakni persediaan ASI rendah atau tidak ada sama sekali. Sepertiga wanita mengatakan mengalami trauma atau kesulitan persalinan. Memisahkan ibu dan bayi segera setelah persalinan, untuk pembedahan atau hal lain, jadi situasi yang umum terjadi. Ini bisa menyebabkan trauma dan stres dan memicu kurangnya produksi ASI. Yang terbaik adalah mencoba untuk tidak stres dan cari orang untuk diajak bicara tentang masalah ini.

     

  8. Lingkungan

    Lingkungan sangat berpengaruh ketika kita sakit, mengalami alergi, dan bahkan menyusui. Di udara yang kita hirup dan di makanan yang kita makan, kita dihadapkan pada  bahan kimia, polusi, dan banyak lagi. Kanker meningkat, bersama dengan penyakit lain, serta produksi ASI rendah hingga tidak keluar sama sekali. Dan ini bukan kebetulan. Ilmuan telah mempelajari selama bertahun-tahun tentang penyebab di balik ketidakmampuan ibu untuk menyusui. Menghindari bahan kimia jadi cara yang perlu dilakukan semua wanita hamil agar ASI keluar.

     

  9. Masalah kesuburan yang tidak terdeteksi

    Kadang, masalah kesuburan baik yang tidak terdeteksi atau diketahui bisa jadi pemicu produksi ASI rendah. Beberapa wanita harus menjalani perawatan kesuburan untuk bisa hamil. Dan bila terjadi kehamilan, ini tidak berarti masalah kesuburan akan hilang. Masalah kesuburan ini bisa punya efek negatif pada produksi ASI.

     

    Masalah kesuburan sangat umum terjadi setelah kehamilan, bila Anda curiga masalah kesuburan menjadi akar masalah menyusui Anda, yang terbaik adalah berkonsultasi pada dokter. Beberapa tes darah bisa menentukan apakah penyebab produksi ASI yang rendah adalah masalah kesuburan. Masalah kesuburan bisa terjadi setelah kehamilan dan berapa lama berlangsungnya bergantung pada usia wanita.

     

  10. Kapasitas penyimpanan payudara

    Beberapa wanita tidak punya kapasitas penyimpanan ASI yang besar dan karenanya tidak punya cukup ASI. Dan ini bukan tentang ukuran payudara, ya Bun, ini tentang jumlah jaringan pembuat ASI di dalam payudara. Beberapa payudara besar punya kapasitas penyimpanan sedikit dan beberapa payudara berukuran kecil punya kapasitas penyimpanan yang lebih besar.

     

    Satu payudara biasanya akan menghasilkan lebih banyak ASI dibanding yang lain. Bila wanita punya payudara berukuran kecil, tapi kapasitas penyimpanannya lebih besar, ia harus menyusui atau memompa ASI lebih sering. Ketika tidak ada cukup ruang untuk penyimpanan ASI, maka ini bisa menyebabkan masalah. Normal bila payudara wanita menyimpan sekitar  6 ounce ASI, kurang dari jumlah ini menjadi tanda masalah produksi.

     

  11. Gaya hidup

    Gaya hidup ibu akan sangat mempengaruhi persediaan ASI-nya. Saran yang biasanya diberikan untuk ibu hamil adalah menghindari obat-obatan, alkohol, kafein, stres, dan bahan kimia berbahaya. Beberapa wanita tidak mendengarkan saran ini dan sayangnya ini bisa menyebabkan kerusakan pada janin atau masalah pada kemampuan untuk memproduksi ASI untuk bayi.

     

    Menerapkan gaya hidup tidak sehat atau menjalani pekerjaan yang menimbulkan stres juga berhubungan dengan produksi ASI. Stres dikenal menghalangi produksi ASI, jadi coba hindari untuk membantu persediaan ASI menjadi lebih baik.

     

    Memang, tak ada orang yang bisa selalu menghindari stres. Merawat diri selama kehamilan sama pentingnya seperti merawat bayi. Coba lakukan perawatan tubuh seminggu sekali seperti pedicure, manicure, atau meditasi, dan hindari obat-obatan terlarang.

     

  12. Pengosongan payudara tidak memadai

    Beberapa bayi tidak bisa melakukan pelekatan dengan benar atau mengeringkan ASI dari payudara. Bayi mungkin mengalami tongue tie. Bila bayi tidak bisa minum dengan benar dari payudara, persediaan ASI menjadi tidak maksimal.

     

    Semakin sering Anda menyusui, semakin banyak tubuh memproduksi ASI. Untuk memastikan pengosongan payudara, pijat dan remas payudara untuk membantu aliran ASI. Bila bayi tidak memosisikan mulutnya dengan benar pada payudara, atau puting tidak berada cukup dalam di mulutnya, ia tidak akan bisa menghisap dengan benar. Menghisap yang salah tidak akan membuat bayi minum cukup ASI dan ASI yang tersisa akan tetap berada di payudara, yang bisa menyebabkan produksi ASI menurun. Bicara pada konsultan laktasi untuk mengatasi masalah ini.

     

Cara menstimulasi keluarnya ASI setelah melahirkan

ASI menjadi sumber nutrisi utama untuk bayi kecil. Untuk punya persediaan ASI yang cukup, stimulasi selama kehamilan dan setelah kelahiran perlu dilakukan. Persediaan ASI tidak akan bergantung pada ukuran payudara Anda, jadi tiap wanita punya kesempatan yang sama memberikan ASI eksklusif ke bayinya.

 

Meski tubuh telah mulai memproduksi ASI selama kehamilan, tetap mungkin ASI tidak keluar di beberapa hari setelah melahirkan. Karena hanya beberapa wanita yang secara alami tidak bisa menyusui, Anda harus menstimulasi payudara agar ASI keluar. stimulasi ASI setelah melahirkan jauh lebih mudah daripada selama kehamilan. Anda bisa lakukan hal berikut agar ASI keluar:

 

  • Usahakan Anda tetap rileks. Melahirkan bayi menimbulkan stres dan melelahkan dan karenanya mempengaruhi proses produksi ASI. Anda harus rileks untuk membiarkan tubuh melepas hormon oksitosin yang dibutuhkan agar payudara memproduksi ASI dan ASI keluar.
  •  
  • Lakukan skin to skin dengan bayi. Bidan selalu menyarankan ibu baru menempatkan bayinya yang telanjang di atas dadanya atau inisiasi menyusu dini (IMD). Ini untuk membantu bayi menemukan puting dengan instinknya. Ketika bayi mencoba menghisap puting, tubuh ibu menerima pesan untuk mulai melepas oksitosin dan menghasilkan ASI yang dibutuhkan bayi.
  •  
  • Susui bayi secara teratur dan sering. Ini akan menstimulasi tubuh untuk menjaga produksi ASI di payudara. Bayi bisa disusui tiap satu atau dua jam untuk menghindari kelaparan dan minum terlalu cepat yang bisa memicu gumoh.
  •  
  • Sering kosongkan payudara. Di sela interval ketika Anda tidak menyusui bayi, Anda bisa mengosongkan payudara dengan memompa. Mirip dengan menyusui, memompa juga menyampaikan pesan ke otak untuk terus melepas prolaktin dan memproduksi lebih banyak ASI.
  •  
  • Jaga payudara tetap hangat. Gunakan lap dengan air hangat dan letakkan di payudara. Ini akan membuat payudara rileks dan meningkatkan produksi oksitosin agar ASI keluar.
  •  
  • Stimulasi puting. Anda bisa memelintir-melintir puting untuk memberi stimulasi serupa dengan hisapan bayi. Pastikan melakukannya dengan lembut dan perlahan karena puting Anda sangat sensitif ini. Gerakan ini akan menstimulasi prolaktin untuk bekerja dan memproduksi lebih banyak ASI. Anda bisa coba cara ini meski pada puting yang masuk ke dalam.

 

Tepat setelah lahir, bayi bisa disusui kolostrum yang diproduksi oleh payudara, jadi Anda punya waktu untuk mempersiapkan persediaan ASI.

 

Apa yang harus dilakukan saat ASI tidak keluar?

Pemberian jumlah kolostrum yang sedikit tapi teratur di dua hingga tiga hari pertama setelah ibu melahirkan biasanya cukup untuk bayi baru lahir yang selalu dekat dengan ibu, lagi pula bila ASI tidak keluar di 2-3 hari pertama itu sangat normal.

 

Sambil menunggu ASI keluar, bayi perlu sering melakukan pelekatan atau ibu memompa dengan tangan dan dekap bayi untuk kontak kulit untuk meningkatkan hormon yang terlibat dalam produksi ASI (oksitosin dan prolaktin) dan letakkan bayi di posisi yang tepat agar sering menyusu.

 

Bila ASI tidak keluar hingga hari ketiga atau lebih setelah ibu melahirkan, berat badan bayi bisa mulai menurun, atau ia mengalami dehidrasi dan penyakit kuning. Mekonium di popok bayi juga tidak berubah warna. Pada situasi ini, penting untuk mendapat bantuan menyusui dengan cepat dan memastikan bayi menyusu dengan baik.

 

 

Memerah dengan tangan tiap beberapa jam bisa membantu menstimulasi persediaan ASI dan ASI perah bisa diberikan ke bayi. Dokter akan memberi saran tentang suplemen dari donor ASI atau susu formula jika memang dibutuhkan. Penting untuk membuat bayi menyusu dengan baik. Suplemen untuk bayi tidak berarti Anda menyerah untuk menyusui selama Anda punya dukungan yang tepat.

(Ismawati)