Kelahiran

Waspada, Rubella Saat Hamil Berbahaya Untuk Janin!

Terakhir diperbaharui

Waspada, Rubella Saat Hamil Berbahaya Untuk Janin!
Di negara seperti Indonesia, kemungkinan untuk terpapar rubella (campak Jerman) masih tinggi, Bunda perlu tahu apakah Anda sudah kebal terhadap virus ini atau tidak jika sedang merencanakan kehamilan. Akan sangat berbahaya bagi janin jika Anda ternyata tidak kebal dan terjangkit penyakit ini selama awal kehamilan. Anda bisa mengalami keguguran atau nantinya melahirkan bayi yang mengalami berbagai cacat lahir serta masalah perkembangan.
Sindrom rubella kongenital merupakan masalah kesehatan yang muncul ketika bayi terlahir dengan virus ini. Jadi jika Anda belum dites untuk mengetahui kekebalan terhadap rubella sebelum hamil, Anda sebaiknya meminta rujukan kepada dokter kandungan untuk melakukan tes TORCH ketika tahu Anda sedang hamil.

Keberadaan Virus Rubella di Dunia

Campak Jerman tidak sama dengan jenis campak yang biasa. Meski Anda sudah kebal terhadap campak biasa, bukan berarti Anda juga akan kebal terhadap campak Jerman.
Kita ambil contoh kasus Rubella di Amerika. Wabah penyakit ini bisa berkurang drastis berkat berhasilnya program vaksinasi. Sebelum vaksin rubella dikembangkan pada tahun 1969, wabah rubella di tahun 1964 dan 1965 menyebabkan 12,5 juta kasus penyakit dan 20.000 kasus sindrom rubella kongenital di Amerika. Sebaliknya, antara tahun 2001 dan 2005, ada total 68 kasus rubella dan 5 kasus sindrom rubella kongenital yang dilaporkan. Di tahun 2006, hanya ada 11 kasus rubella dan satu kasus sindrom rubella kongenital.
Penurunan angka kasus rubella benar-benar menurun selama 10 tahun ini menjadi indikasi pentingnya vaksinasi MMR bagi anak dan juga bagi Anda sendiri. Sekitar sepertiga dari negara-negara di dunia masih belum menjalankan program vaksinasi rubella, jadi penyakit ini masih tetap umum terjadi di banyak negera berkembang, seperti Indonesia. WHO memperkirakan ada 110.000 kasus sindrom rubella kongenital setiap harinya.
Bisa saja Anda telah divaksin rubella saat kecil tapi saat dites, hasilnya menunjukkan kalau Anda tidak kebal dengan virus ini. Meski hal ini jarang terjadi, ada sebagian kecil orang yang telah divaksin tapi tidak mendapat respon antibodi yang cukup besar untuk dideteksi saat tes. Juga mungkin ini terjadi karena efek vaksin yang berkurang seiring waktu.

Apa Itu Rubella alias Campak Jerman?

Rubella merupakan penyakit akibat virus yang akut, tapi gejalanya kadang tidak spesifik, sehingga sulit untuk membedakannya dengan penyakit lain. Hampir setengah dari jumlah kasus, gejalanya tidak terlihat atau ringan-ringan saja, dan ini terkadang membuat Anda tidak menyadari jika telah terinfeksi. Jika ada gejala, biasanya ini muncul pada hari ke 12 hingga 23 setelah terpapar penyakit. Anda kemungkinan akan mengalami demam, sakit kepala, sakit dan bengkak pada persendian, mata merah, dan hidung mampet atau berair pada hari ke 1 hingga 5 sebelum ruam muncul.
Ruam berlangsung hingga beberapa hari, biasanya muncul pertama kali pada wajah dan kemudian menyebar ke bagian tubuh lain. Kelenjar getah bening yang bengkak dan persendian yang sakit bisa terjadi selama beberapa minggu. Anda bisa menularkan penyakit ini satu minggu sebelum ruam pertama muncul dan beberapa minggu setelahnya.
Segera hubungi dokter dan beritahukan kalau Anda telah terpapar penyakit ini. Tapi jangan datang langsung ke tempat praktek dokter kandungan karena beresiko menginfeksi ibu hamil lain. Buatlah janji khusus agar Anda tidak perlu duduk lama di ruangan yang banyak orang.

Tes Yang Mengidentifikasi Rubella Pada Ibu Hamil

Jika Anda sebelumnya tidak kebal terhadap rubella atau belum menjalani tes, dokter akan segera melakukan tes darah untuk memeriksa antibodi rubella pada tubuh Anda. Tes darah selanjutnya akan dilakukan setelah dua minggu dari tes darah yang pertama dan mungkin Bunda juga akan melakukan tes darah sekali lagi di minggu ke empat setelah yang pertama dilakukan.
Jika Anda sudah kebal terhadap rubella ketika terpapar penyakit ini, masih ada kemungkinan kecil untuk Anda kembali terinfeksi. Tapi Bunda tenang saja, karena bayi yang Anda kandung akan baik-baik saja. Tes lebih lanjut mungkin tidak diperlukan, tapi Anda masih perlu berkonsultasi dengan dokter untuk membahas kondisi diri Anda.

Terjangkit Rubella Saat Hamil: Dilanjutkan atau Digugurkan?

Jika Anda terjangkit rubella di awal kehamilan, Anda perlu bertemu spesialis kandungan untuk mengetahui resiko yang mungkin terjadi pada bayi, serta memutuskan untuk melanjutkan atau mengakhiri kehamilan. Tidak ada pengobatan yang efektif atau cara untuk mencegah infeksi jika Bunda sudah terpapar penyakit ini.
Jika Anda memilih untuk melanjutkan kehamilan, dokter akan memberi suntikan kekebalan globulin sesegera mungkin setelah Anda terinfeksi rubella untuk mengurangi resiko cacat pada bayi, tapi suntikan ini tidak bisa mencegah bayi untuk tidak terinfeksi.
Sayangnya, Anda tidak bisa menerima vaksin rubella di saat sedang hamil. Jika Anda tidak kebal, Anda harus berhati-hati dan menghindari siapa saja yang memiliki ruam atau terjangkit virus, juga orang yang baru saja terpapar terhadap rubella.

Cara Mencegah Agar Tidak Terinfeksi Rubella

Berikut ini beberapa langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan:
  • Pastikan anak-anak Anda menerima semua vaksinasi yang direkomendasikan dokter, juga semua orang yang tinggal bersama Anda yang tidak kebal terhadap rubella. Anda tidak akan terkena rubella dari orang yang baru saja divaksinasi.
  • Hindari kontak dengan orang lain jika ada kasus rubella di lingkungan Anda. Tetap berada di rumah selama wabah terjadi hingga bahaya infeksi mereda.
  • Tunda perjalanan jauh ke bagian dunia manapun di mana rubella masih umum terjadi.

Vaksin Rubella Dilakukan Sebelum atau Saat Hamil?

Setelah melahirkan, pastikan Anda segera mendapat vaksin agar rubella tidak lagi menjadi masalah untuk kehamilan yang berikutnya. Anda bisa menerima vaksin saat menyusui, tapi Anda perlu menunggu setidaknya 28 hari setelah menerima suntikan sebelum berencana untuk hamil kembali, jadi pastikan Anda menjalani KB selama waktu ini. Jika Anda hamil dalam 28 hari setelah disuntik, memang kemungkinan adanya resiko infeksi pada janin sangat rendah, tapi ada baiknya untuk tetap berhati-hati.

Dampak Infeksi Virus Rubella Pada Ibu Hamil

Infeksi rubella bisa menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, lahir mati, serta berbagai cacat lahir, tapi semua ini tergantung berapa lama Anda terkena virus. Resiko paling tinggi terjadi selama tahap awal perkembangan bayi dan mulai menurun ketika kehamilan bertambah besar. Jika Anda terkena rubella selama 12 minggu pertama kehamilan, ada kemungkinan besar (hingga 85 persen) bayi Anda mengalami sindrom rubella kongenital. Tingkat sindrom rubella kongenital pada bayi yang ibunya terinfeksi pada kehamilan antara 13 hingga 16 minggu sekitar 54 persen, dan terus menurun tajam. Jika Bunda terpapar rubella di umur kehamilan yang sudah lebih dari 20 minggu, akan hanya ada resiko kecil infeksi yang menyebabkan cacat lahir pada janin.
Ada banyak masalah serius yang berhubungan dengan sindrom rubella kongenital, yang paling umum adalah ketulian, cacat mata yang bisa memicu kebutaan, cacat pada jantung, dan masalah neurologis seperti keterbelakangan mental. Cacat lainnya bisa muncul saat lahir atau terlihat nanti pada masa kanak-kanak. Konsekuensi yang berat ini kembali menekankan pentingnya untuk menjalani tes, mengetahui apa yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi resiko bagi Anda dan bayi jika tidak kebal, dan bagaimana melindungi diri dari penyakit ini di masa yang akan datang.
(Ismawati)