Keluarga Dibaca 498 kali

5 Tips Menjaga Pernikahan Jarak Jauh Tetap Romantis

Share info ini yuk ke teman-teman
Asni

Terakhir diperbaharui 25 Mei, 2019 12:05

5 Tips Menjaga Pernikahan Jarak Jauh Tetap Romantis

MENJALANI pernikahan jarak jauh (long distance marriage alias LDM) bukan perkara mudah bagi pasangan manapun, bukan hanya untuk para pengantin baru, namun juga bagi pasangan yang sudah memiliki anak bahkan cucu. Namun, tantangan yang dihadapi pasangan LDM bisa sedikit berkurang jika suami dan istri mengetahui tips pernikahan jarak jauh ini.

Pernikahan digolongkan kepada long distance marriage ketika suami dan istri memutuskan untuk tidak tinggal dalam satu atap untuk jangka waktu yang panjang, minimal satu minggu, karena banyak alasan. Bisa karena suami dan istri tengah mengenyam pendidikan di dua kota yang berbeda, bisa juga karena mereka tidak punya pilihan karena istri sakit dan suami harus menetap di negara lain, atau dalam kebanyakan kasus LDM terjadi karena faktor ekonomi misalnya suami memilih untuk bekerja di Jakarta, sedangkan sang isteri menetap di Solo. Mereka baru bertemu satu bulan sekali, itupun hanya dalam durasi singkat, misalnya pada akhir pekan saja.

Meski terasa sulit bagi sebagian pasangan yang menjalani pernikahan ‘normal’ pada umumnya, pernikahan jarak jauh ini ternyata menjadi tren para pasangan muda belakangan ini. Berdasarkan studi yang dipublikasikan di The Wall Street Journal, tren LDM meningkat 44% pada pada 2018 dibanding survei yang sama pada 2000 silam. Pasangan yang memilih long distance marriage biasanya berusia antara 20 hingga 30 tahun alias sedang berada pada puncak karier.

 

Masalah dalam Pernikahan Jarak Jauh

Setiap rumah tangga memiliki masalahnya sendiri-sendiri, tidak terkecuali bagi pasangan yang memilih hubungan pernikahan jarak jauh. Sebelum meminta tips pernikahan agar long distance marriage berjalan baik, setiap pasangan wajib mengidenfitikasi masalahnya.

Berikut 6 masalah yang biasanya dihadapi pasangan dengan long distance marriage:

 

1. Miskomunikasi

Ini adalah masalah klasik dan paling umum yang bisa dialami oleh pasangan manapun di dunia, apalagi dengan pasangan long distance marriage. Dalam LDM, suami dan istri mungkin menjalin komunikasi yang kurang banyak sehingga percikan dalam hubungan kurang romantis, tapi bisa juga salah satu dari ibu atau ayah terlalu sering menghubungi pasangannya sehingga terasa mengekang dan menyebalkan.

Jika frekuensi komunikasi tidak sesuai dengan ekspektasi ibu, sebaiknya ibu langsung membicarakannya dengan suami. Jangan takut untuk mengekspresikan perasaan ibu, sekalipun hal itu tampaknya bisa membuka pertengkaran. Emosi yang dipendam terus lama-kelamaan bisa meledak dan mengakibatkan masalah yang lebih pelik lagi.

Sekalipun ibu sedang tidak ingin berkomunikasi dengan suami, misalnya menolak video call di waktu rutin karena ibu sangat lelah, bicarakan hal ini dengan suami. Jangan biarkan suami ibu berasumsi bahwa ibu tengah bosan atau memiliki pria idaman lain hanya karena kesalahpahaman akibat miskomunikasi.

 

2. Cemburu

Jangankan pasangan long distance marriage, suami – istri pada umumnya pun tidak terlepas dari perasaan cemburu. Bahkan ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘cemburu tanda cinta’, tidak ada cemburu berarti tidak ada lagi rasa sayang terhadap orang tersebut.

Sama seperti istilah ‘cinta itu buta’, cemburu juga bisa buta. Namun, jangan biarkan rasa cemburu yang tanpa alasan ini menguasai perasaan ibu sehingga justru membuat suami tidak nyaman, bahkan sampai membahayakan pernikahan. Jika ibu tidak ingin suami bergaul dengan si A atau B, ada baiknya ibu langsung membicarakannya dengan suami disertai dengan alasan yang jelas.

Cemburu buta juga bisa melukai kepercayaan suami terhadap ibu, lho. Ia bisa berpikir seperti “saya di sini mencari nafkah untuk keluarga, kamu tidak percaya terhadap saya?”

 

3. Kesepian

Satu lagi perasaan yang tak bisa dihindari para pelaku long distance marriage ialah timbulnya rasa kesepian. Sebagai sisi positifnya, kesepian bisa berarti ibu menyukai saat-saat bersama dengan suami ketika sedang bertemu secara fisik, misalnya seminggu sekali, sehingga ibu merasa kehilangan ketika harus kembali berpisah dan menjalani long distance marriage.

Kesepian bisa terjadi karena banyak faktor. Pertama, ibu dan ayah mungkin tinggal di zona waktu yang berbeda sehingga sulit untuk menemukan waktu tatap muka, sekalipun itu lewat video call. Kedua, ibu dan ayah sama-sama tengah dirundung banyak kesibukan sehingga sulit untuk membicarakan hal-hal pribadi dengan santai seperti biasanya.

Ketiga, ibu kangen ayah. Sesederhana itu. Sekalipun pada pagi hari ibu sudah melakukan video call dengan ayah, bahkan seolah-olah makan satu meja bersama, tetap saja setelah sesi mengobrol lewat video berakhir, ibu tetap kangen ayah. Mungkin rasa kesepian yang ibu rasakan juga secara paralel dirasakan oleh ayah.

 

4. Hubungan pernikahan menjadi renggang

Ketika pondasi pernikahan suami istri tidak kuat, maka jangan heran bila mereka merasa menjauh justru setelah menikah, apalagi ketika harus menjalani long distance marriage. Sikap menjauh ini dimulai dari hal-hal sepele seperti tidak langsung membalas pesan meski sudah membacanya dengan berbagai alasan, misalnya menganggap pesan itu tidak penting untuk dibicarakan karena tidak menyangkut urusan rumah tangga.

Pengabaian pesan ini berlanjut menjadi tidak membalas pesan sama sekali, tidak mengangkat telepon meski sedang senggang, hingga sesekali membatalkan sesi komunikasi rutin. Lama-kelamaan, hubungan suami istri akan renggang karena tidak lagi merasakan berbagai persamaan, justru banyak menemukan perbedaan karena memang hidup di dua tempat yang berbeda.

Untuk menghindari hubungan pernikahan yang semakin renggang, tidak ada jalan lain selain melakukan berbagai langkah untuk membangkitkan kembali romantisme pasangan. Rencanakan liburan bersama selama beberapa hari serta yang paling penting tidak lagi menganggap sepele hal-hal kecil yang berhubungan dengan komunikasi. Walaupun suami menelepon hanya untuk membicarakan film yang baru saja ia tonton, ibu tetap harus menyambutnya dengan hangat ya.

 

5. Masalah waktu

Kadang kala, pasangan yang hidup dalam long distance marriage terlalu sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing sehingga tidak lagi memiliki waktu untuk sekedar ngobrol berdua lewat video call atau chat yang intens.

Masalah waktu ini bahkan bisa lebih kompleks jika ibu dan ayah menjalani LDM dari dua zona waktu yang berbeda. Ketika ibu sedang butuh teman untuk mengobrol atau bahkan berkeluh-kesah mengenai kegiatan hari ini, ayah malah sudah tidur di belahan bumi yang lain sana.

Untuk mengatasi ini, ibu sebaiknya menjadwalkan secara rutin komunikasi dengan suami ya. Kesibukan maupun perbedaan zona waktu bisa mengakibatkan kurangnya komunikasi sehingga menimbulkan miskomunikasi seperti ketidakpercayaan dan cemburu buta. Jika berkomunikasi rutin via alat elektronik juga tidak memungkinkan, setidaknya jadwalkan pertemuan di akhir pekan atau akhir bulan secara rutin ya.

Pada intinya, pasangan yang harmonis pasti akan selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan kekasih hatinya. Dalam cinta, tidak ada yang namanya ‘tidak punya waktu’ ya, Bu.

 

6. Tidak percaya kepada pasangan

Berada jauh dari pasangan kadang kala menimbulkan ketakutan dalam diri ibu bahwa suami akan berbuat yang macam-macam, termasuk berselingkuh. Pikiran-pikiran negatif ini sebetulnya wajar saja terjadi dalam LDM, namun sebaiknya tidak dibiarkan terus-menerus berada dalam benak ibu ya.

Berikan kepercayaan kepada suami bahwa ia juga memegang teguh janji suci yang telah dibuatnya di hari pernikahan lalu. Sebaliknya, ibu juga harus terus menjaga kepercayaan suami ya.

 

Tips Pernikahan Jarak Jauh yang Awet

Salah satu tantangan terbesar bagi pasangan long distance marriage ialah komunikasi. Oleh karena itu, para konselor pernikahan biasanya meminta ibu dan ayah untuk segera memperbaiki komunikasi sebagai tips pernikahan LDM pertama yang mereka sarankan jika ibu dan ayah merasa ada masalah dalam menjalin LDM. Namun bukan hanya konselor, para orang tua bahkan teman dekat para pasangan juga biasanya menyarankan tips pernikahan yang sama ini.

Ketika suami istri tinggal dalam satu atap setiap hari, keduanya bisa saling mengenal dan mengerti watak satu sama lain dan bagaimana gaya komunikasi mereka. Istri mengerti bahwa teriakan suami bukan berarti ia tengah marah, sebaliknya suami mengerti bahwa diamnya istri adalah tanda ia sedang lelah dan tak ingin diganggu.

Pun ketika terjadi keributan antar suami dan istri di dalam rumah tangga, keduanya bisa langsung berkomunikasi satu sama lain sehingga masalahnya cepat selesai. Atau ketika suami sedang mengalami hari yang buruk di kantor, ia bisa pulang dan memeluk istri untuk meredakan stres.

Sebaliknya, pasangan yang menjalani long distance marriage seringkali mengalami miskomunikasi yang berujung pada kecemburuan dan rasa tidak percaya kepada pasangan. Oleh karena itu, dibutuhkan kedewasaan dalam menjalin hubungan pernikahan jarak jauh agar pertengkaran relatif jarang terjadi.

Jika memang LDM sudah tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan berumah tangga, ada baiknya ibu dan ayah banyak mencari tahu mengenai gambaran LDM dan tips pernikahan dalam menghadapi berbagai masalah yang muncul. Ibu dan ayah juga bisa mengikuti tips pernikahan berikut yang dirangkum dari berbagai konselor pernikahan maupun para psikolog pernikahan agar pernikahan jarak jauh ibu tetap awet meski banyak kerikil bertebaran di sepanjang jalan.

 

1. Memajang foto pernikahan

Tips pernikahan jarak jauh ini mungkin terdengar konyol, tapi justru menjadi yang paling banyak direkomendasikan oleh para psikolog. Ibu hanya harus memajang foto pernikahan (atau foto keluarga bersama anak jika sudah ada) di tempat yang mudah terlihat atau sering ibu lintasi, misalnya di ruang tamu, ruang makan, di media sosial, atau di semua tempat tersebut.

Dengan demikian, ibu akan merasakan pepatah 'jauh di mata, namun dekat di hati' terhadap suami. Dengan sering melihat wajah suami, sekalipun hanya lewat bingkai foto, ibu akan selalu mengingat suami di setiap kegiatan sehari-hari, mengingat nasehatnya, bahkan wangi parfum yang biasanya ia gunakan sebelum berangkat kerja.

Setiap kali ibu merasa lelah dengan hubungan pernikahan jarak jauh ini, praktekkan tips pernikahan ini dengan memandangi foto itu dan pikirkan kembali alasan ibu pertama kali memutuskan untuk menikah dengan suami. Tips pernikahan ini juga bertujuan menghadirkan kembali rasa sayang dan cinta yang dulu pernah ada di hati ibu sebagai penyemangat bahwa ibu dan ayah bisa menjalani gaya berumah tangga jarak jauh ini dengan baik.

 

2. Jangan cepat curiga 

Pasangan yang setiap saat bisa berkomunikasi melalui kata-kata plus bahasa tubuh dan mimik wajah pun bisa mengalami miskomunikasi, apalagi pasangan yang LDM dan hanya mengandalkan teks atau video sebagai sarana komunikasi. Akan sangat mudah muncul rasa curiga jika suami sedang tidak tertarik untuk berkomunikasi dengan istri atau sebaliknya.

Terlebih ketika salah satu, baik istri maupun suami, sedang lelah sehingga jalan pikiran menjadi cenderung tidak logis.

Tips pernikahan untuk menghindari hal ini ialah ada baiknya ibu dan ayah bersikap terbuka satu sama lain. Buat aturan, misalnya ibu dan ayah harus video call di jam-jam tertentu dan wajib memberi tahu pasangannya jika memang tidak bisa melakukan video call dengan alasan yang jelas dan masuk akal. Jangan biarkan prasangka berkembang di antara ibu dan ayah untuk menjaga pernikahan jarak jauh tetap awet sampai kakek dan nenek.

 

3. Manfaatkan teknologi

Tips pernikahan berikutnya ialah memanfaatkan teknologi dengan semaksimal mungkin. Bagi pasangan suami istri, memiliki waktu berdua tanpa diganggu kehadiran telepon genggam harus dilakukan supaya komunikasi antar suami istri bisa lebih intim. Namun, hal demikian tidak bisa terjadi pada pasangan yang menjalankan long distance marriage. Bagi mereka, telepon genggam dan alat teknologi lain justru harus sering dimanfaatkan agar tercipta komunikasi yang baik.

Gunakan video call sambil melakukan kegiatan bersama-sama seolah-olah ibu dan ayah tengah bertatap muka, misalnya makan malam bersama atau melakukan pekerjaan domestik yang sama. Tips pernikahan seperti ini dimaksudkan agar suami dan istri tidak terlalu merasa kesepian sekaligus menjaga agar pernikahan tetap romantis. 

"Menjalani pernikahan dalam dua atap berbeda dan terpisah jarak yang jauh otomatis menciptakan dua kehidupan yang berbeda sehingga berpotensi menciptakan kesenjangan yang bisa berujung pada keretakan rumah tangga hingga perceraian. Berperilaku seolah-olah suami istri hidup dalam satu atap bisa meminimalisir terjadinya kesenjangan dalam rumah tangga ini," kata konselor pernikahan asal Amerika Serikat, Kurt Smith.

Caranya menjalankan tips pernikahan ini? Tergantung kebiasaan dan kesepakatan antara ibu dan suami, salah satu contohnya ialah selalu menceritakan kegiatan yang ibu lakukan seharian kepada suami beserta keluhan atau hal-hal menyenangkan yang ibu alami. Ajak suami untuk bertukar pikiran mengenai hal-hal kecil, misalnya perasaan ibu yang jadi kangen ayah setelah mendengarkan lagu nostalgia saat pacaran atau semacamnya. Jika ibu dan ayah menjalankan tips pernikahan ini, maka jarak cenderung tidak menjadi soal dalam long distance marriage

 

4. Jaga rahasia

Tips pernikahan yang tak kalah penting ialah niat pasangan untuk selalu menjaga rahasia rumah tangga mereka. Ketika pasangan LDM mengalami masalah atau pertengkaran, atau ibu - ayah merasa kesepian, mungkin akan timbul keinginan untuk curhat kepada teman atau kerabat yang dekat secara geografis. Namun, ada baiknya ibu dan ayah menahan diri agar tidak menceritakan masalah rumah tangga kepada orang lain, sekalipun itu adalah orang tua sendiri. 

Para konselor pernikahan percaya bahwa hal ini lebih sering tidak menyelesaikan masalah. Justru terkadang curhat kepada orang lain, apalagi yang belum pernah menjalani long distance marriage hanya akan memperburuk perasaan ibu atau ayah, menambah pelik masalah yang terjadi, bahkan mungkin menciptakan masalah baru.

Yakinlah bahwa tidak ada yang mengetahui duduk persoalan yang terjadi dalam rumah tangga, selain suami istri itu sendiri. Masalah dalam rumah tangga itu biasa, yang luar biasa adalah ketika suami istri itu bisa tetap saling mendukung dan percaya satu sama lain ketika mengalaminya.

Tips pernikahan ini bisa diterapkan pada pernikahan yang bukan long distance marriage juga lho, Bu.

 

5. Mengeset akhir dari periode LDM

Ibu dan ayah sudah menjalankan hubungan jarak jauh ketika berpacaran, kemudian melanjutkannya menjadi pernikahan jarak jauh. Seharusnya, hal ini sudah tidak menjadi masalah karena keduanya sudah terbiasa hidup tidak berdekatan, bukan?

Well, ternyata tidak juga.

Sekalipun suami istri bisa menjalankan long distance marriage dengan baik hingga bertahun-tahun, ada baiknya ibu dan ayah tetap menentukan kapan LDM ini akan berakhir. Tips pernikahan ini bertujuan untuk memberi harapan pada pasangan bahwa mereka akan bisa menjalani pola pernikahan dengan kedekatan fisik yang lebih banyak sehingga meminimalisir terjadinya miskomunikasi dalam pernikahan itu sendiri.

Pasangan yang LDM karena pekerjaan bisa menjalani rumah tangga dalam satu atap kembali setelah pekerjaan selesai. Atau pasangan yang terpisah jarak karena tengah mengenyam pendidikan di dua tempat yang berjauhan bisa kembali bersatu setelah sekolahnya selesai, dan sebagainya.

Mengetahui akhir dari LDM bisa menjadi penyemangat suami istri dalam mengarungi rumah tangga. Biar bagaimanapun, setiap pasangan ingin menghabiskan waktu bersama setiap hari dan berbagi pengalaman yang sama dalam merawat keluarga.

 

Tanda Pernikahan Jarak Jauh Berjalan Sehat

Setelah menjalankan tips pernikahan jarak jauh di atas, suami istri bisa merasakan apakah long distance marriage yang mereka jalani berhasil atau tidak. Berikut tanda-tanda yang memperlihatkan bahwa pasangan tertentu berhasil menjalankan long distance marriage:

  • Ibu dan ayah tetap saling mempercayai sekalipun mendengar gosip mengenai pasangan masing-masing. Ibu dan ayah akan mengonfirmasi mengenai informasi yang didengar kepada pasangan terlebih dahulu dibanding mempercayai gosip dari orang luar
  • Fondasi rumah tangga makin kuat, terlihat dari rasa percaya yang ditunjukkan oleh satu sama lain
  • Ibu dan ayah tidak merasa masalah untuk berkomunikasi tanpa bersentuhan fisik, misalnya hanya mengobrol lewat video call maupun bertukar pesan lewat aplikasi WhatsApp, bertukar komentar di media sosial, bahkan surat elektronik
  • Ketika sudah berjanji untuk bertemu, ibu dan ayah selalu berkomitmen untuk menepatinya apapun yang terjadi
  • Ketika bertemu tatap muka, ibu dan ayah tidak membicarakan urusan pekerjaan, melainkan berbicara soal kehidupan rumah tangga, termasuk merencanakan masa depan
  • Ibu dan ayah masih merasakan ada percikan ketika bertemu tatap muka dan melakukan hubungan seksual
  • Ibu dan ayah masih membuat rencana ke depan mengenai hal-hal yang ingin dicapai, misalnya membicarakan untuk memiliki rumah di daerah tertentu, memiliki anak, hingga rencana finansial ke depan.

 

(Asni / Dok. Freepik)