Keluarga Dibaca 765 kali

8 Tips Memiliki Kehidupan Pernikahan Bahagia

Share info ini yuk ke teman-teman
Hadassah

Terakhir diperbaharui 30 Juni, 2019 12:06

8 Tips Memiliki Kehidupan Pernikahan Bahagia

When you say “I do..”, living as two different personality in one roof has begun! Melakukan rutinitas setiap harinya sudah tidak lagi sendiri, tetapi dalam beberapa hal juga akan melibatkan pasangan kita. Hal yang dibahas pun tidak hanya sekadar aktivitas sehari-hari, melainkan urusan printilan rumah tangga pun juga akan menjadi topik bahasan setiap pasangan.

Sejatinya, pasangan yang menikah pasti akan memiliki kehidupan pernikahan bahagia. Alasannya, karena mereka sudah saling memiliki komitmen untuk dapat menjalani kehidupan bersama sampai maut memisahkan. Tak jarang beberapa pasangan muda yang menikah merasa bahwa kehidupan mereka setelah tinggal bersama menjadi kehidupan pernikahan bahagia atau happily efer efter.

Suzanne Degges-White, Ph.D., konselor dan professor di Northern Illinois University, mengatakan bahwa kehidupan pernikahan bahagia bukan diukur dari peseta pernikahan yang mewah serta memiliki bridesmaids dan groomsmen yang banyak saja. Hal-hal tersebut bukan jaminan bahwa setelah pasangan menikah, mereka akan memiliki pernikahan bahagia.

Kehidupan pernikahan bahagia membutuhkan komitmen yang tinggi dan jangka panjang dalam menjalaninya bersama supaya mencapai keberhasilan dalam mengelolanya. Pernikahan bahagia pun sebenarnya bukan menjadi tujuan utama dari menjalani kehidupan pernikahan, melainkan dampak yang akan dihasilkan dari kehidupan pernikahan yang berhasil dijalani oleh kedua pasangan.

Dewasa ini, tak sedikit kasus perceraian terjadi. Laman kumparan.com mengutip ucapan Menteri Agama Indonesia kalau angka perceraian di Indonesia semakin meningkat. Kasus perceraian tersebut biasanya terjadi karena salah satu pasangan tidak puas dengan pasangan yang lainnya, karena sering melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang.

Maka dari itu, kita perlu mengetahui rahasia di balik pernikahan yang sukses sehingga menjadi pernikahan bahagia. Simak beberapa tips yang bisa diterapkan bersama suami di bawah ini yuk, Bu.

8 Tips agar Memiliki Pernikahan Bahagia dengan Pasangan

Kebahagiaan bukan menjadi tolak ukur berhasilnya suatu pernikahan, karena itu hanya merupakan dampak dari memiliki kehidupan pernikahan yang berhasil dan sukses. Jika Ibu melihat pasangan yang hingga usia lanjut masih terlihat harmonis, hal tersebut tidak lepas dari bagaimana membangun fondasi yang kuat dan kerjasama antar pasangan.

Psikolog klinis Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi, menjelaskan bahwa tiga sampai lima tahun pertama merupakan waktu membangun fondasi pernikahan, tentunya pernikahan bahagia. Pada waktu ini, perlu disadari memang akan sangat mungkin sering terjadi pertengkaran. Alasannya, karena masih terus mencari pola untuk bisa saling sinkronisasi. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan oleh kedua pasangan.

1. Komunikasi merupakan kunci dasar

Pernah dengar nggak, Bu, kalau suami berkata “Kamu kok diemin aku? Ngomong dong kamu kenapa, aku kan bukan peramal..”? Mungkin sebagian Ibu pernah ya mendengar kalimat ini. Salah satu dasar dari membangun fondasi yang kuat dalam pernikahan adalah komunikasi. Membangun komunikasi tidak selalu membahas hal yang serius. Sekadar menanyakan kegiatan sehari-hari dari pasangan kita juga merupakan salah satu hal terjalinnya sebuah komunikasi. Tentunya tidak hanya dilakukan sekali, tetapi usahakan untuk lebih konsisten dalam melakukannya, seperti pepatah yang berbunyi “a la bisa karena biasa.”, begitulah kita dalam membangun komunikasi dengan pasangan.

Keterbukaan masing-masing pasangan juga termasuk dalam hasil dari sebuah cara untuk membangun komunikasi. Marshall B. Rosenberg, penulis buku Nonviolent Communication – A Language of Life (2003) mengatakan bahwa komunikasi yang sehat yaitu komunikasi yang terjadi secara dua arah, dan tidak cepat memberikan penilaian subjektif terhadap lawan bicara. Permasalahan utama dari membangun komunikasi adalah miskomunikasi. Bisa karena nada bicara yang disangka marah, cerita yang terlalu belibet atau ruwet sehingga susah untuk dipahami, dan masih banyak lagi.

Kembali lagi, ketika kedua pasangan terus menjalin komunikasi dengan konsisten. Tujuan utama dari menjalin komunikasi adalah saling mengungkapkan masing-masing persepsi, perasaan, ide-ide dan pemikiran yang dimiliki terhadap suatu hal yang sedang dibahas secara bersama.

2. Memberikan apresiasi

“Aku suka deh gaya kamu hari ini, terlihat trendy..” atau “Ayah hari ini ganteng deh, Ibu jadi makin cinta..”, ungkapan-ungkapan yang terkesan sederhana ini pun bisa menjadi “lem” untuk kembali melekatnya hubungan kedua pasangan dalam kehidupan pernikahan bahagia.

Laman familycircle.com menulis bahwa memuji dan memberikan apresiasi atas hal kecil yang dilakukan akan membuat masing-masing pasangan semakin merasa dihargai, dan terutama dicintai. Memberikan apresiasi tak hanya ketika hal yang menyenangkan atau menggembirakan terjadi, tetapi juga saat salah satu pasangan feeling down terhadap masalah yang sedang dihadapinya.

Pemberian apresiasi yang konsisten diterapkan dalam kehidupan pernikahan, akan mengurangi risiko retaknya hubungan suami dan istri, dan menambah “bumbu” untuk pernikahan bahagia.

3. Saling memaafkan

Manusia tidak pernah luput dari kesalahan, bahkan ketika sudah direncanakan dengan baik, tetap saja ada hal yang tidak bisa kita ukur untuk terhindar dari masalah. Seperti tidak menepati janji, mengucapkan kata yang secara tidak sengaja membuat pasangan kita sedih, ayah lupa hari penting, dan masih banyak hal lainnya. Ibu boleh merasa kesal jika ayah melakukan hal yang tidak disenangi, itu merupakan hak Ibu. Tapi, ayah pun memiliki hak yang sama untuk marah ketika Ibu melakukan kesalahan.

Maka dari itu, segeralah untuk memaafkan atau meminta maaf kepada pasangan kita. Jangan biarkan diri kita diliputi ego yang berlebihan, karena hal itu hanya akan membuat kita “lupa” akan perwujudan pernikahan bahagia bersama dengan pasangan. Memaafkan bukan berarti kita lemah, itu pertanda bahwa kita kuat.

Tindakan memaafkan, apalagi pasangan kita, Bu, banyak sekali memberikan beberapa manfaat positif, di antaranya, kedamaian hati, melepas stress dan rasa cemas, serta membuat kita “move on” dalam menjalani kehidupan, artinya tidak selalu mengingat hal yang sudah lewat atau terjadi. Beberapa hal tersebut, turut menyumbang perwujudan kehidupan pernikahan bahagia seperti yang kita inginkan.

4. Memberikan “me time” pada pasangan

Hidup bersama bukan berarti selalu melakukan setiap kegiatan secara bersama-sama. Tetap berikan waktu “me time” bagi masing-masing pasangan untuk dapat mengeksplor dirinya atau mungkin melakukan hal yang menjadi kesenangan serta hobinya.

Memberikan ruang sendiri tersebut memiliki efek yang positif tak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi kehidupan pernikahan ke depan. Selain itu, masing-masing pasangan juga dapat saling membagikan (sharing) hal-hal yang menjadi kesukaannya saat sedang bersama.

5. Lakukan kegiatan bersama or try new things together!

Di tengah kesibukan yang mungkin dijalani setiap hari oleh kedua pasangan, sisihkan sedikit waktu luang untuk bisa melakukan kegiatan bersama, seperti travelling. Hal tersebut akan berkontribusi dalam menumbuhkan kembali rasa cinta serta kasih sayang yang mungkin sempat hilang karena kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya. Usahakan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama tidak hanya sekali, melainkan beberapa kali kegiatan sehingga kedekatan antar pasangan bisa terus terjalin semakin kuat.

Mencoba kegiatan-kegiatan baru juga bisa dilakukan bersama pasangan lho! Laman psychologytoday.com menuliskan bahwa melakukan kegiatan bersama dapat menciptakan memori baru dan terasa seperti tim kembali karena mencoba hal baru.

Peneliti menemukan bahwa mencoba hal baru dengan pasangan akan mencegah rasa bosan, semakin dekat dengan pasangan, hubungan yang semakin membawa pada kebahagiaan, dan perasaan puas terhadap kehidupan pernikahan yang dimilikinya. Ayo, Bu, colek ayah untuk cobain hal baru bersama.

6. Beda pendapat bukan akhir dari segalanya

“Hidup itu seperti roda, kadang di atas kadang di bawah.”, sering dengar kalimat ini kan, Bu? Semua aspek kehidupan memang tak selalu indah, tetapi bukan akhir dari segalanya.

Kembali pada poin paling pertama, yaitu komunikasi. Ajak pasangan kita untuk ngobrol hal yang mungkin membuat kesal atau kurang setuju dengan keputusan yang diberikan untuk keluarga. Usahakan untuk berbicara dengan “kepala dingin” supaya bisa saling menyampaikan pendapatnya dengan jelas.

Konflik dalam kehidupan pernikahan bisa jadi merupakan awal baru. Penyelesaian masalah atau konflik yang dilakukan bersama dengan pasangan, akan lebih memperkuat bonding dalam kehidupan pernikahan.

7. Memberi dukungan tanpa batas

Salah satu elemen yang juga penting untuk bisa memiliki pernikahan bahagia dengan pasangan adalah memberi dukungan. Dukungan tidak hanya diberikan saat hal buruk terjadi, tetapi setiap hari, setiap saat. Christina Steinorth-Powell, MFT, psikoterapis dan relationship expert di Santa Barbara, Calif, mengatakan jika salah satu pasangan tidak mendukung pasangan yang lainnya, ia akan merasa tidak dipedulikan.

Memberi dukungan kepada pasangan kita akan menanamkan hubungan yang lebih dalam. Beberapa contoh momen penting dalam kehidupan pernikahan yang membutuhkan dukungan, yaitu ketika ayah atau Ibu mendapatkan pekerjaan baru, kelahiran anak, keluarga yang meninggal, dan lain sebagainya. Jadi, kapan saja kita harus memberi dukungan kepada pasangan? Jawabannya adalah setiap saat ya, Bu.

8. Happiness is one of the desserts, not the main course!

Menikah dengan pasangan yang dicintai pasti membuat kita berharap bahwa ke depannya kehidupan pernikahan bahagia selalu berjalan setiap hari. Tetapi kita harus selalu ingat kembali bahwa bahagia bukan tujuan utama dari berhasilnya suatu pernikahan, karena kebahagiaan akan datang dan pergi.

Membangun sebuah pernikahan bahagia memang butuh komitmen yang tinggi dengan jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Bukan berarti hal ini tidak bisa dilakukan secara bersama. Pernikahan bahagia tidak selalu berjalan bahagia saja, pasti ada saja “kerikil” yang menghalangi mulusnya sebuah kehidupan pernikahan bahagia. Hal tersebut juga bukan merupakan akhir dari segalanya, tetapi dapat menjadi pelengkap kehidupan pernikahan bahagia. Yuk, ajak pasangan Ibu untuk terus bekerjasama membangun fondasi pernikahan bahagia yang lebih kuat!

(Hadassah / Dok.Freepik)