AI untuk Anak, Usia Berapa Idealnya Boleh Mulai Kenal?
Anak minta bantuan mengerjakan soal matematika, tapi kita sendiri sudah lupa rumusnya. Beberapa menit kemudian, ia malah bilang, “Aku tanya AI aja, ya.” Atau mungkin Parents pernah melihat anak mencari tahu soal game, olahraga, sampai tugas sekolah dengan bantuan AI tanpa perlu diajari lebih dulu.
Situasi seperti ini makin mungkin ditemui di rumah. Anak-anak tumbuh ketika teknologi sudah menjadi bagian dari keseharian mereka, sementara banyak orang tua justru baru berkenalan dengan berbagai fitur AI saat sudah dewasa. Wajar kalau kemunculan AI untuk anak akhirnya membawa dua perasaan sekaligus. Di satu sisi sangat membantu, tapi di sisi lain juga bikin bertanya-tanya apakah anak akan menjadi terlalu bergantung.

Dalam gathering OpenAI bersama kreator dan komunitas parenting (6/8/2026), Cipluk Carlita, Indonesia Communications Lead OpenAI yang juga memiliki dua anak usia 12 dan 13 tahun, mengaku mengalami hal serupa. Ada teknologi yang lebih dulu dipahami anak-anaknya, bahkan aplikasi yang belum ia kuasai saat mereka sudah lancar menggunakannya. Dari pengalaman tersebut, ia merasa orang tua tidak harus mengetahui semua teknologi lebih dulu, tetapi tetap perlu punya rasa ingin tahu agar bisa membersamai anak.
Anak Sudah Pakai AI untuk Belajar, Perlu Dilarang atau Didampingi?
Ketika mendengar anak menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, mungkin bayangan yang muncul pertama kali adalah soal tinggal dimasukkan, jawaban keluar, lalu anak menyalinnya. Kemungkinan penyalahgunaan seperti ini memang ada. Namun, penggunaan AI untuk belajar ternyata jauh lebih luas daripada sekadar mencari jawaban PR.

Dalam acara yang sama, Sandy Kunvatanagarn yang adalah perwakilan OpenAI, menyebut 9 dari 10 remaja menggunakan ChatGPT untuk belajar dan mengeksplorasi ide baru. Untuk Indonesia, OpenAI juga mengamati ada 460 juta pesan terkait pendidikan dan pembelajaran yang dikirim selama bulan Juni. Angka tersebut mencakup penggunaan oleh anak muda maupun orang dewasa.
Salah satu orang tua yang hadir dalam acara tersebut juga bercerita bahwa anaknya menggunakan AI untuk mencari informasi tentang hobi, mulai dari bola, sepeda, harga dan spesifikasinya, bahkan budaya bersepeda di negara lain. Cipluk juga pernah menemui pengguna yang memanfaatkan ChatGPT untuk belajar bahasa dan mengubah materi panjang menjadi infografis karena lebih nyaman belajar secara visual.
Ia sendiri pernah menggunakan AI ketika membantu anaknya belajar IPA. Karena tahu anaknya menyukai basket dan gaming, Cipluk meminta materi pelajaran dibuat menjadi infografis yang lebih menarik sesuai minat anak. Dalam satu minggu, ia sampai membuat sekitar 80 infografis untuk membantu proses belajar.
AI juga bisa menjadi aktivitas bersama keluarga. Sandy pernah menggunakannya bersama sang keponakan menjelang perjalanan ke Acropolis di Yunani. Mereka membuat website sederhana berisi agenda perjalanan sekaligus informasi tentang mitologi Yunani yang memang disukai keponakannya.
Artinya, persoalannya tidak sesederhana menentukan AI boleh atau tidak boleh digunakan untuk belajar. Cara anak menggunakannya, tujuan penggunaannya, dan kemampuan yang sudah ia miliki untuk menilai hasil dari AI justru menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Lantas, kapan anak sebenarnya cukup siap untuk mulai mengenalnya?
Usia Berapa Idealnya Anak Boleh Mulai Kenal AI?
Dalam pemaparan Sandy, ChatGPT ditujukan untuk pengguna usia 13 tahun ke atas. Namun, mengenalkan AI kepada anak tidak selalu berarti memberikan akses pribadi agar ia langsung menggunakannya sendirian.

Pritta Tyas Mangestuti, Psikolog Klinis dan Keluarga & Pendiri Good Enough Parents, melihat pengenalan AI bisa dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan anak. Sebelum usia remaja, anak bahkan bisa belajar banyak hanya dengan melihat bagaimana orang tuanya menggunakan teknologi tersebut.
A. Usia 9 sampai 12 tahun
Di usia preteen, Pritta menyarankan anak lebih dulu melihat penggunaan AI yang dilakukan orang tua. Misalnya, keluarga ingin merencanakan liburan. Parents bisa membuka ChatGPT bersama anak, menentukan apa yang ingin dicari, menyusun pertanyaan, membaca jawabannya, lalu mendiskusikan apakah rekomendasi tersebut cocok untuk keluarga.
Dengan cara ini, yang dipelajari anak bukan hanya bagaimana mengetik pertanyaan ke AI. Ia juga melihat proses sebelum dan setelahnya, mulai dari menentukan tujuan, memberi konteks, sampai mempertimbangkan jawabannya.
“Pemaparan pertama mereka melihat kita menggunakan AI, katakanlah ChatGPT untuk merencanakan sesuatu terkait family. Saya yang menggunakan, mereka melihat bagaimana saya prompt ke AI. Di situ fondasinya, Mama menggunakan AI sebagai alat bantu yang membantu kita berpikir komprehensif,” jelas Pritta. Dalam pendekatan yang ia terapkan di keluarganya, anak pada fase ini belum diberikan akses mandiri hingga usia 12 tahun.
B. Usia SMP
Memasuki SMP, penggunaan AI bisa mulai dilakukan dengan pengawasan dan batas yang lebih jelas. Orang tua dapat mendampingi cara anak memakai AI untuk mengerjakan tugas, membantu mengatur fitur yang sesuai, sekaligus mengenalkan mode belajar yang mendorong anak memahami proses, bukan hanya menerima jawaban akhir.
Bagi Pritta, kontrol masih dibutuhkan karena kemampuan anak untuk mengatur dirinya juga masih berkembang. Namun, pendampingan bukan berarti Parents harus berdiri di belakang anak setiap kali ia membuka AI. Yang lebih penting adalah ada batas yang dipahami bersama dan komunikasi tetap terbuka.
Damar Wijayanti, Edukator Parenting & Pendiri Good Enough Parents, juga mengingatkan bahwa usia remaja merupakan fase ketika keinginan mencoba sesuatu yang menantang atau berisiko bisa semakin besar. Karena itu, anak membutuhkan ruang yang cukup aman untuk bereksplorasi dan bercerita bersama orang tua, supaya rasa ingin tahunya tidak selalu dijalani diam-diam.
C. Usia SMA
Saat anak bertambah besar, kontrol dapat dikurangi secara bertahap. Di tahap ini, pendampingan mulai bergeser dari sekadar mengawasi penggunaan menjadi lebih banyak berdiskusi tentang bagaimana anak mengambil keputusan dan menilai informasi.
Pritta menilai tuntutan sekolah pada masa SMA juga semakin kompleks. AI dapat menjadi alat bantu, tetapi anak diharapkan mulai mampu menentukan sendiri kapan teknologi tersebut memang dibutuhkan dan bagaimana menggunakannya tanpa menyerahkan seluruh proses berpikir.
D. Usia 17 sampai 18 tahun
Memasuki akhir masa remaja dan bersiap ke jenjang pendidikan berikutnya, harapannya anak sudah semakin mandiri menggunakan AI secara tepat. Fondasi yang dibangun sejak sebelumnya menjadi bekal agar teknologi bisa dipakai sebagai pendamping belajar, bukan pengganti kemampuannya sendiri.
Meski begitu, Damar menekankan bahwa angka usia bukan satu-satunya patokan. Kesiapan anak juga perlu dilihat dari skill yang selama ini dibangun, seberapa bertanggung jawab ia saat menggunakan teknologi, dan apakah ia mampu menilai sesuatu sebelum bertindak.
3 Kekhawatiran Orang Tua Saat Anak Mulai Pakai AI

Di balik berbagai manfaatnya, penggunaan AI oleh anak tetap bikin banyak orang tua waswas. Dari obrolannya bersama para orang tua di komunitas Good Enough Parents, Damar menemukan ada tiga kekhawatiran yang cukup sering muncul saat anak mulai menggunakan AI.
1. Takut anak jadi malas berpikir
Kekhawatiran yang paling sering muncul adalah anak terbiasa mengambil jalan pintas. Begitu mendapat PR, pertanyaannya langsung dimasukkan ke ChatGPT dan hasilnya disalin tanpa berusaha memahami prosesnya. Jika kebiasaan ini terus dilakukan, orang tua khawatir AI yang seharusnya membantu belajar justru membuat anak semakin jarang melatih kemampuan berpikirnya sendiri.
2. Anak langsung menerima jawaban AI
Masalah berikutnya adalah kecenderungan menganggap apa pun yang diberikan AI sebagai jawaban final. Anak mungkin belum terbiasa bertanya apakah informasinya benar, apakah jawabannya benar-benar sesuai dengan pertanyaan, atau masih perlu dibandingkan dengan sumber lain. Padahal, kemampuan memeriksa informasi tetap diperlukan saat menggunakan AI.
3. Anak merasa kemampuannya kalah dari AI
Ada pula kekhawatiran yang mungkin tidak langsung terlihat. Pada anak yang rasa percaya dirinya belum kuat, melihat AI mampu menghasilkan jawaban dengan cepat bisa menimbulkan perasaan inferior.
Anak bisa saja membandingkan kecepatannya sendiri dengan teknologi, lalu merasa tidak cukup mampu ketika harus mengerjakan sesuatu tanpa bantuan AI. Karena itu, mendampingi anak menggunakan AI bukan hanya soal membuat aturan pemakaian, tetapi juga menyiapkan kemampuan dasar yang tetap menjadi milik anak sendiri.
Sebelum Anak Pakai AI, Pastikan Punya 5 Skill Ini Dulu
Supaya AI benar-benar jadi alat bantu, anak tetap perlu punya kemampuan dasar yang membuatnya bisa berpikir, menilai informasi, dan mengambil keputusan sendiri. Menurut Pritta, kemampuan-kemampuan inilah yang sebaiknya terus dibangun sejak sebelum anak menggunakan AI secara lebih mandiri.
Pritta mengibaratkannya seperti naik sepeda listrik. Sepeda listrik memang bisa membuat perjalanan jadi lebih cepat dan ringan, tapi pengendaranya tetap harus tahu mau ke mana, membaca arah, memperhatikan orang di sekitarnya, dan mencari solusi kalau menemui hambatan. Begitu juga dengan AI. Teknologinya boleh membantu mempercepat proses, tetapi anak tetap perlu punya kemampuan yang menjadi “kemudinya”.

Ada lima kemampuan yang menurut Pritta penting terus dibangun pada anak.
1. Critical thinking
Berpikir kritis membantu anak menentukan apa yang perlu dicari, faktor apa saja yang perlu dipertimbangkan, serta apakah jawaban yang didapat masuk akal.
Pritta pernah mempraktikkannya ketika anaknya terus meminta memelihara berbagai jenis hewan. Alih-alih langsung menjawab boleh atau tidak, ia mengajak anak melakukan riset. Anak diminta memikirkan biaya bulanan, makanan, perawatan, kebutuhan hewan, serta masalah yang mungkin muncul dalam satu, tiga, hingga enam bulan berikutnya. AI boleh membantu mencari informasi, tetapi keputusan tetap dibicarakan kembali bersama.
2. Curiosity
Rasa ingin tahu membuat anak tidak berhenti hanya karena sudah mendapatkan satu jawaban. Ia terdorong untuk bertanya lagi, melihat kemungkinan lain, dan mengeksplorasi topik lebih dalam.
Kemampuan ini juga dibutuhkan oleh orang tua. Ketika anak memperkenalkan teknologi yang belum kita pahami, respons tidak selalu harus “jangan”. Parents bisa terlebih dahulu mencari tahu apa yang menarik bagi anak dan bagaimana ia menggunakannya.
3. Problem solving
Anak juga perlu terbiasa memikirkan kemungkinan masalah dan cara menghadapinya.
Pritta pernah meminta anaknya membuat semacam mini proposal ketika ingin menonton final pertandingan sepak bola pada dini hari, sementara esok paginya merupakan hari pertama sekolah. Anak diminta menjelaskan kenapa pertandingan itu penting baginya, memperhitungkan kebutuhan tidur, serta membuat rencana untuk mengganti waktu istirahat yang berkurang.
Latihan sederhana seperti ini membiasakan anak menyusun pemikirannya sebelum meminta orang lain, termasuk AI, membantu mengambil keputusan.
4. Empathy
TAnak juga perlu tetap belajar mempertimbangkan dampak dari apa yang ia lakukan, bukan hanya pada dirinya sendiri tetapi juga pada orang lain. Menurut Pritta, empati menjadi salah satu kemampuan penting agar anak tidak sekadar mengikuti apa yang paling mudah dilakukan dengan bantuan teknologi, tetapi tetap bisa menimbang apakah pilihan tersebut bisa merugikan atau membuat orang lain tidak nyaman.
5. Regulasi emosi
Kemampuan terakhir menjadi semakin penting ketika AI mulai terasa seperti teman yang selalu tersedia untuk diajak bicara. Anak perlu belajar mengenali apa yang sedang dirasakannya saat marah, takut, frustrasi, sakit hati, atau mendapat perlakuan yang membuatnya tidak nyaman.
Harapannya, anak juga memiliki setidaknya satu orang yang ia percaya untuk membicarakan perasaan tersebut. “AI ini memang berfungsi sebagai teman, partner kognitifnya dia. Tapi secara curhat, secara emosi, harapannya tetap ada attachment dengan orang tuanya,” tutur Pritta.
Jadi, AI bisa ikut membantu anak mencari informasi dan mempertimbangkan sebuah masalah, tetapi hubungan dengan orang tua dan orang-orang di dunia nyata tetap mempunyai peran yang berbeda.
Jangan Langsung Percaya AI, Biasakan Anak Lakukan Ini
AI memang bisa memberikan jawaban dalam hitungan detik, tapi bukan berarti setiap informasi yang muncul perlu langsung dipercaya atau dijadikan satu-satunya pegangan. Anak tetap perlu dibiasakan mencari, membandingkan, dan menilai informasi sebelum menggunakannya.

1. Jangan jadikan AI satu-satunya tempat mencari jawaban
Damar pernah mengajarkan hal ini ketika anaknya ingin mengetahui lebih banyak tentang anjing Husky. Selain mencari informasi lewat teknologi, ia juga menghubungkan anaknya dengan seseorang yang memang memelihara Husky agar bisa bertanya langsung berdasarkan pengalaman nyata.
Dari situ, anak belajar bahwa jawaban bisa datang dari banyak tempat. Bisa dari buku, penelitian, sumber resmi, orang yang memahami suatu bidang, maupun orang yang punya pengalaman langsung. AI menjadi salah satu alat untuk mencari informasi, bukan satu-satunya sumber.
2. Biasakan mengecek sumber dan membandingkan jawaban
Pritta juga membiasakan anak mengenali bahwa tidak semua informasi memiliki tingkat keandalan yang sama. Ada informasi berdasarkan penelitian, ada sumber resmi, ada tulisan berisi pengalaman pribadi, dan ada pula opini seseorang.
Hal yang sama berlaku ketika anak mendapatkan jawaban dari AI. Biasakan anak mengecek kembali informasi penting, membandingkannya dengan sumber lain, dan memastikan jawabannya memang sesuai dengan pertanyaan yang sedang ia cari.
3. Berikan konteks yang cukup saat bertanya ke AI
Sandy menjelaskan bahwa respons ChatGPT sangat dipengaruhi oleh pertanyaan dan informasi yang diberikan pengguna. Fitur seperti Custom Instructions juga memungkinkan pengguna memberikan konteks tertentu agar respons yang diberikan lebih sesuai dengan kebutuhannya.
Namun, ChatGPT tidak otomatis mengetahui budaya, bahasa, maupun preferensi seseorang hanya berdasarkan lokasinya. Jadi, anak perlu belajar memberikan konteks yang relevan sekaligus tetap menilai apakah jawaban yang diterima memang cocok dengan kondisi dirinya atau keluarganya.
Damar menggambarkan posisi AI dengan cukup sederhana. “AI ini lebih kayak tim, asisten, teman berpikir, tapi bukan the master-nya. Master-nya tetap harus si anak, planner-nya harus tetap si anak. Kamu bisa gunakan dia untuk bekerja lebih efektif, berpikir lebih dalam, tapi syaratnya kamu harus punya critical thinking dan kemampuan menanyakan pertanyaan yang tepat ke AI,” ungkapnya.
4. Cari tahu bagaimana anak menggunakan AI, bukan cuma apakah ia memakainya
Parents mungkin penasaran apakah sebuah tugas sekolah dibuat menggunakan AI. Namun, dalam sesi tanya jawab, Sandy menjelaskan bahwa ChatGPT tidak memiliki fitur yang bisa menerima sebuah esai lalu menentukan secara pasti berapa persen tulisan tersebut dibuat oleh AI.
Penggunaan AI juga tidak selalu berarti anak menyerahkan seluruh tugasnya. Ia bisa menggunakannya untuk brainstorming, memperbaiki kalimat, merapikan tulisan, atau membantu memperkuat ide yang sebelumnya sudah dibuat sendiri.
Karena itu, daripada hanya bertanya, “Kamu pakai AI atau nggak?”, Parents bisa menggali prosesnya. Coba tanyakan bagian mana yang dibantu AI, ide awalnya berasal dari mana, apa yang anak ubah setelah mendapat respons, dan bagaimana ia memastikan informasi yang digunakan benar.
Fitur ChatGPT yang Bisa Membantu Remaja Pakai AI Lebih Aman
Kemampuan anak dan pendampingan keluarga tetap menjadi fondasi. Dari sisi teknologi, OpenAI juga mengembangkan sejumlah fitur dan perlindungan yang ditujukan untuk mendukung pengalaman belajar serta penggunaan ChatGPT yang lebih sesuai bagi remaja.

Berikut beberapa fitur yang dijelaskan Sandy dalam acara tersebut.
1. Study Mode membantu anak belajar lewat proses
Salah satu kekhawatiran terbesar Parents adalah AI langsung memberikan jawaban tanpa membuat anak berpikir. Study Mode dikembangkan untuk pendekatan yang berbeda.
Saat digunakan untuk soal matematika misalnya, ChatGPT dapat membantu pengguna mengerjakan masalah secara bertahap, bukan hanya menyodorkan hasil akhirnya. Ketika mempelajari sebuah konsep sejarah, materi juga bisa dipecah menjadi bagian yang lebih mudah dipahami dan pengguna dapat diberikan pertanyaan untuk mengecek pemahamannya.
Tujuannya membuat AI menjadi pendamping proses belajar. Anak tidak sekadar menyelesaikan sesuatu, tetapi tetap diajak memahami apa yang sedang dipelajari.
2. Parental Controls membantu orang tua mengatur fitur tertentu
Akun remaja dapat dihubungkan dengan akun orang tua melalui Parental Controls. Dari sana, Parents bisa mengatur sejumlah fitur yang dapat digunakan anak.
Dalam pemaparannya, Sandy memberi contoh orang tua dapat menonaktifkan kemampuan menggunakan voice atau menghasilkan gambar. Namun, ia menekankan bahwa kontrol tersebut sebaiknya tidak hanya berhenti pada tombol yang dinyalakan atau dimatikan.
Keputusan membatasi fitur bisa menjadi pintu masuk percakapan. Parents dapat menjelaskan kenapa sebuah fitur belum diperbolehkan atau alasan keluarga membuat batas tertentu. Dengan begitu, aturan teknologi juga membantu anak belajar memahami pertimbangan di balik sebuah keputusan.
3. Age Prediction membantu memberikan pengalaman sesuai usia
Selain usia yang diberikan saat pengguna membuat akun, ChatGPT memiliki sistem age prediction untuk memperkirakan apakah sebuah akun kemungkinan digunakan oleh seseorang yang berusia di bawah 18 tahun.
Jika terdapat sinyal bahwa pengguna kemungkinan masih di bawah 18 tahun, sistem dapat menerapkan pengalaman yang lebih aman untuk remaja. Sandy menjelaskan bahwa ketika sistem ragu mengenai usia pengguna, pendekatannya adalah memilih pengalaman yang lebih aman.
Bila pengguna sebenarnya sudah berusia di atas 18 tahun, tersedia proses verifikasi usia untuk keluar dari pengalaman khusus pengguna di bawah 18 tahun.
4. Pengguna di bawah 18 tahun mendapat perlindungan tambahan
Pengalaman untuk pengguna remaja memiliki safeguards yang lebih ketat terhadap beberapa jenis konten sensitif. Dalam pemaparannya, Sandy menyebut antara lain pembatasan untuk konten kekerasan tertentu, gore atau gambaran kekerasan berdarah, materi seksual, serta beberapa jenis konten terkait body image yang dinilai berisiko bagi remaja.
Perlindungan ini tidak berarti orang tua bisa sepenuhnya menyerahkan urusan keamanan kepada teknologi. Justru, adanya fitur tersebut dapat berjalan bersama kebiasaan berdiskusi tentang apa yang anak temui ketika menggunakan AI.
5. Break Reminder mengingatkan pengguna untuk mengambil jeda
Keamanan menggunakan teknologi juga tidak selalu berkaitan dengan isi kontennya. Durasi penggunaan perlu ikut diperhatikan. Sandy menjelaskan ChatGPT memiliki break reminder yang dapat mendorong pengguna mengambil jeda setelah menggunakan layanan terlalu lama. Pengingat tersebut bisa menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak, melakukan kegiatan lain, bermain di luar, atau berinteraksi dengan keluarga.
Untuk Parents, bagian ini juga bisa menjadi pembuka obrolan tentang kebiasaan anak. Bukan hanya berapa lama ia menggunakan AI, tetapi juga apa yang sedang dikerjakan dan apakah sudah waktunya beralih ke aktivitas lain.
6. Orang tua dapat menerima notifikasi dalam kondisi tertentu
Sandy juga menjelaskan adanya perlindungan ketika sistem mendeteksi pola penggunaan tertentu pada akun remaja yang memerlukan tindakan. Bila akun anak sudah terhubung dengan akun orang tua, dalam kondisi tertentu orang tua dapat menerima pemberitahuan.
Ia membedakan mekanisme ini dengan fitur yang dibahas untuk pengguna dewasa. Pada pengguna dewasa, Sandy menjelaskan adanya upaya agar teknologi tetap mendorong hubungan dengan orang lain ketika sistem menemukan penggunaan terkait situasi yang berpotensi membahayakan diri atau menimbulkan masalah serius dalam kehidupan pengguna. Untuk remaja, peran akun orang tua yang terhubung menjadi salah satu bagian dari sistem perlindungan tersebut.
Meski ada berbagai fitur pengaman, teknologi tetap bukan pengganti keterlibatan keluarga. Anak bisa mendapat pengalaman penggunaan yang lebih sesuai usia, tetapi Parents tetap menjadi orang yang membantu memberi konteks, membuat batas, dan membicarakan apa yang terjadi di balik layar.
3 Cara Memulai Obrolan Soal AI dengan Anak
Masalahnya, bagaimana kalau Parents sendiri masih bingung soal AI? Nggak harus menunggu sampai hafal semua fiturnya. Obrolannya bahkan bisa dimulai dari apa yang sudah dilakukan anak sehari-hari.

1. Tanya anak pakai AI untuk apa
Sandy menyarankan orang tua memulainya dari rasa ingin tahu yang tulus. Coba tanyakan apa yang anak lakukan dengan AI dan kenapa ia tertarik menggunakannya. Pertanyaannya bisa sederhana seperti “Biasanya kamu pakai AI buat apa?” atau “Ada hal seru apa yang pernah kamu bikin pakai AI?”
Dari sana, Parents mungkin justru menemukan penggunaan yang tidak pernah terpikir sebelumnya. Percakapan juga terasa berbeda ketika anak merasa orang tua ingin memahami dunianya, bukan langsung mencari kesalahan.
2. Ajak anak deep dive bersama
Pritta menyarankan orang tua memperbanyak diskusi dan menggali sebuah topik lebih dalam bersama anak. Jika anak menemukan informasi dari AI, obrolannya tidak perlu berhenti pada jawaban tersebut.
Parents bisa lanjut bertanya kenapa jawabannya seperti itu, apakah ada pilihan lain, apa dampaknya, atau bagian mana yang masih ingin diketahui. Saat orang tua ikut menunjukkan bagaimana menyusun pertanyaan yang lengkap dan mengecek hasilnya, anak sekaligus mendapat contoh penggunaan AI yang lebih kritis.
“Iya, memperbanyak waktu untuk discuss dan deep dive. Curiosity ditambah deep dive. Saya jadi role model dia untuk memberikan prompt yang komprehensif sehingga dia bisa belajar critical thinking dari saya dalam menggunakan AI ini,” papar Pritta.
3. Jangan tunggu anak mengenal AI dari teman
Bagi Damar, percakapan pertama tentang AI idealnya dimulai dari keluarga. Anak memang mungkin mendengar berbagai kegunaan AI dari teman, sekolah, maupun internet, tetapi orang tua tetap bisa menjadi tempat ia mendapat perspektif lain tentang bagaimana teknologi tersebut sebaiknya digunakan. “Menurutku obrolan tentang AI ini pertama kali harus tahunya dari orang tua, bukan tahunya dari teman-temannya. Harusnya dari kita, dari keluarga, dari orang tuanya,” tuturnya.
Parents juga nggak harus selalu punya jawaban. Ketika anak menunjukkan sesuatu yang belum kita pahami, mengatakan “Mama juga belum tahu, coba kita cari tahu bareng” bisa menjadi awal percakapan yang jauh lebih berguna daripada berpura-pura mengerti.
Anak-anak kita mungkin akan tumbuh bersama teknologi yang terus berubah, bahkan dengan berbagai hal yang hari ini belum kita kenal. Rasanya sulit kalau kesiapan orang tua diukur dari seberapa cepat kita bisa menguasai semuanya.
Yang bisa terus dijaga adalah ruang untuk ngobrol. Supaya saat suatu hari anak menemukan sesuatu yang baru, membingungkan, atau membuatnya ragu, Parents tetap menjadi salah satu orang yang ingin ia datangi.