Anak Aktif Seharian? Ini Cara Penuhi Energi dan Gizinya

Anak Aktif Seharian? Ini Cara Penuhi Energi dan Gizinya
Anak Aktif Seharian? Ini Cara Penuhi Energi dan Gizinya

Pernah nggak, Bu, merasa anak sekarang aktivitasnya jauh lebih padat dibandingkan saat kita masih kecil dulu?

Pagi sekolah, sore les, malam masih mengerjakan tugas. Belum lagi aktivitas olahraga seperti renang, basket, tenis, sepak bola, senam, atau sekadar bermain aktif bersama teman-temannya. Rasanya energi anak seperti nggak ada habisnya.

Melihat kegiatan harian yang begitu banyak, nggak heran kalau banyak orang tua mulai lebih memperhatikan asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi anak setiap hari. Namun ternyata, memenuhi kebutuhan energi anak bukan hanya soal memastikan mereka makan banyak atau merasa kenyang. Yang tak kalah penting, kita juga perlu memperhatikan kualitas energi yang masuk ke tubuh anak.

Energi yang berkualitas mendukung anak tetap aktif bergerak, fokus saat belajar, serta mendukung tumbuh kembangnya secara optimal. Inilah yang menjadi salah satu pembahasan utama dalam acara "MILO Tiga Keunggulan Moms Community & Media Gathering" yang diselenggarakan di PT Nestlé Indonesia Pabrik Karawang pada 8 Juni 2026.

Anak Aktif Membutuhkan Energi yang Berbeda Sesuai Usianya

Ketika berbicara tentang kebutuhan energi anak, ternyata tidak ada satu angka yang bisa disamaratakan untuk semua usia. Ahli Gizi dan Founder Gizi Nusantara, Esti Nurwanti, S.Gz., RD., MPH., Ph.D, menjelaskan bahwa kebutuhan energi anak dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, serta tingkat aktivitas fisik yang dijalani sehari-hari.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG), anak usia 6–9 tahun membutuhkan sekitar 1.400–1.650 kkal per hari. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 2.000–2.400 kkal per hari pada anak usia 10–15 tahun.

Menurut Esti, porsi makan anak sekolah dasar tentu tidak bisa disamakan dengan anak yang sudah memasuki masa remaja. "Jadi harusnya porsi antara anak SD sama SMP beda. Jangan sama. Nanti kalau anak SMP porsinya anak SD, kan kurang gizi," jelasnya.

Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan energi anak akan terus berkembang seiring pertumbuhan mereka. Semakin besar usia anak dan semakin padat kegiatannya, semakin besar pula energi yang dibutuhkan tubuh untuk menunjang berbagai kegiatan sehari-hari.

Banyak Anak Indonesia Masih Kekurangan Gizi Berkualitas Saat Sarapan

Meski sering disebut sebagai waktu makan terpenting dalam sehari, kualitas sarapan anak Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian.

Esti menyoroti bahwa pola makan masyarakat Indonesia masih banyak didominasi sumber karbohidrat. Akibatnya, asupan protein maupun zat gizi penting lainnya kerap belum terpenuhi secara optimal. "Orang Indonesia cenderung banyak karbonya. Nasi uduk pun isinya nasi, bihun, dan teman-teman karbo lainnya. Jadi kurang protein," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa sekitar 40 persen anak Indonesia belum memenuhi standar kebutuhan energi saat sarapan. Bukan hanya jumlah energinya yang kurang, kualitas gizinya pun masih tergolong rendah.

Padahal, sarapan berperan sebagai "bahan bakar pertama" yang menunjang anak menjalani berbagai kegiatan sejak pagi. Bekal energi yang tepat dapat membantu mereka belajar, bermain, hingga berolahraga dengan lebih optimal.

Jadi yang perlu diperhatikan bukan sekadar apakah anak sudah sarapan atau belum, melainkan juga apakah menu yang disajikan sudah mengandung kombinasi gizi yang beragam dan seimbang.

Jangan Asal Kenyang, Anak Juga Butuh Protein, Vitamin, dan Mineral

Tak sedikit orang tua yang merasa tenang ketika anak sudah makan banyak. Padahal, tubuh anak tidak hanya membutuhkan kalori, tetapi juga berbagai zat gizi yang memiliki peran berbeda-beda dalam mendukung pertumbuhan dan aktivitasnya.

Esti menjelaskan bahwa pola makan bergizi seimbang idealnya mencakup karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Di antara berbagai zat gizi tersebut, protein menjadi salah satu komponen penting yang berperan dalam mendukung pertumbuhan anak.

Menurutnya, susu sapi asli mengandung asam amino lengkap yang dibutuhkan tubuh untuk mendorong proses pertumbuhan secara optimal. "Susu sapi asli mengandung asam amino yang lengkap untuk pertumbuhan dan mengoptimalkan pertumbuhan anak," paparnya.

Esti juga mengingatkan bahwa peningkatan kebutuhan energi anak tidak selalu harus diikuti dengan menambah porsi makan secara berlebihan. Saat anak memiliki jadwal yang lebih padat, orang tua bisa lebih fokus menambah sumber protein dalam menu hariannya. "Kalau anaknya banyak banget kegiatannya hari ini, proteinnya bisa ditambah. Yang tadinya telur saja bisa ditambah ayam. Susu juga bisa membantu melengkapi kebutuhan tersebut," jelas Esti.

Menurutnya, banyak keluarga cenderung langsung menambah porsi karbohidrat ketika anak merasa lapar. Padahal yang tidak kalah penting adalah memastikan kecukupan protein, vitamin, mineral, buah, dan sayur agar kebutuhan gizinya tetap seimbang.

Di sisi lain, tubuh juga memerlukan vitamin B untuk membantu mengubah makanan yang dikonsumsi menjadi energi yang dapat digunakan untuk beraktivitas. Tanpa proses tersebut, energi dari makanan tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh tubuh.

Tak kalah penting, zat besi juga memiliki fungsi besar dalam mendukung aktivitas yang dijalani anak. Zat besi membantu mengantarkan oksigen dan berbagai zat gizi ke seluruh tubuh, termasuk ke otak. Dengan pasokan oksigen yang cukup, anak dapat lebih fokus saat belajar maupun menjalani aktivitas lainnya.

Esti menilai kombinasi berbagai nutrisi tersebut dapat saling melengkapi dalam mendukung kebutuhan anak sehari-hari. "Dengan adanya kombinasi ini sangat mendukung untuk tumbuh, aktif, dan juga lebih fokus dalam belajar," tambahnya.

Namun, pemenuhan gizi yang baik hanyalah salah satu bagian dari tumbuh kembang anak. Agar manfaatnya bisa dirasakan secara optimal, anak juga perlu memiliki kesempatan untuk aktif bergerak dan berolahraga secara rutin. Hal inilah yang menjadi perhatian Tasya Kamila dalam mendampingi putranya, Arrasya.

Cara Tasya Kamila Menjaga Arrasya Tetap Aktif

Kini Arrasya telah memasuki usia sekolah dan mulai aktif mencoba berbagai kegiatan, mulai dari bermain di playground, mencoba monkey bar, hingga olahraga seperti tenis. Di tengah aktivitasnya yang semakin beragam, Tasya semakin memahami bahwa banyak bergerak ternyata memiliki manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar membantu anak menghabiskan energi. "Kadang kita mikir anak-anak itu yang penting bisa calistung. Ternyata kalau kurang aktivitas fisik, motorik halusnya pun jadi susah untuk menulis dan fokus," ungkap Tasya.

Ia bahkan mengaku sempat berkonsultasi mengenai cara mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Dari situ, Tasya memahami bahwa selain nutrisi dan waktu tidur yang cukup, anak juga perlu memiliki kesempatan untuk banyak bergerak dan bereksplorasi setiap hari. "Kalau mau anak tumbuh tinggi dan aktif, ternyata nggak cuma nutrisi dan tidur yang cukup saja, tapi aktivitas fisik juga sangat diperlukan," tambahnya.

Kesadaran inilah yang membuat Tasya berusaha memberikan lebih banyak kesempatan bagi anak-anaknya untuk bergerak aktif setiap hari. Namun, Tasya tidak pernah memaksakan Arrasya untuk menekuni satu jenis aktivitas tertentu.

Menurutnya, setiap anak memiliki minat dan potensi yang berbeda-beda. Karena itu, ia memilih memberikan kesempatan bagi Arrasya untuk mencoba berbagai kegiatan terlebih dahulu, mulai dari tenis, berenang, hingga sepak bola, sebelum menentukan aktivitas yang benar-benar disukainya. "Yang penting sebagai orang tua, aku memberikan kesempatan untuk anak-anak aku supaya bisa menggali potensinya dan punya kesempatan untuk tahu dia bakatnya di mana, sukanya di mana," ujarnya.

Bagi Tasya, prestasi anak tidak selalu harus datang dari jalur akademik. Ada anak yang menonjol di bidang olahraga, seni, maupun bidang lainnya. Karena itu, orang tua perlu membuka ruang eksplorasi agar anak memiliki kesempatan mengenali kekuatan dan minatnya sendiri sejak dini.

Namun, memberi ruang anak untuk aktif bergerak tentu perlu diimbangi dengan dukungan nutrisi yang tepat. Di tengah banyaknya pilihan makanan dan minuman yang tersedia saat ini, orang tua juga perlu lebih cermat dalam memilih produk yang diberikan kepada anak. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah membiasakan diri membaca informasi yang tertera pada kemasan produk.

Sebelum Memilih Produk untuk Anak, Biasakan Cek Label Kemasannya

Membaca label kemasan membantu orang tua memahami kualitas bahan yang terkandung dalam produk yang dikonsumsi keluarga sehari-hari. Semangat inilah yang juga menjadi bagian dari kampanye Check The Label yang dihadirkan Nestlé MILO untuk mendorong masyarakat lebih cermat dalam memilih sumber energi bagi anak.

Menurut Alaa Shaaban, Marketing Manager Beverages & Confectionery Business Unit PT Nestlé Indonesia, membiasakan diri membaca label kemasan dapat membantu orang tua membuat keputusan yang lebih tepat sesuai kebutuhan keluarga. "Saran saya untuk para orang tua, sebelum memberikan suatu produk kepada anak dan keluarga, biasakan untuk membaca label kemasannya terlebih dahulu agar tahu apa saja yang terkandung di dalam produk tersebut," ujarnya.

Dalam acara tersebut, Alaa menjelaskan bahwa salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah memperhatikan daftar komposisi. Tidak sedikit orang tua yang belum mengetahui bahwa bahan yang tercantum paling awal dalam daftar komposisi menunjukkan jumlah yang paling dominan di dalam produk tersebut.

Artinya, jika bahan pertama yang tercantum adalah gula, maka gula merupakan komponen terbesar dalam produk tersebut. Begitu pula jika bahan pertama yang tercantum adalah malt atau bahan lainnya.

Menurut Alaa, memahami informasi ini dapat membantu orang tua lebih mengenal kualitas bahan yang terkandung dalam produk yang dikonsumsi keluarga setiap hari. "Yang terpenting bukan hanya jumlahnya, tetapi juga kualitasnya," tegas Alaa.

Pesan inilah yang kemudian mendorong Nestlé MILO menghadirkan kampanye Check The Label untuk mengajak masyarakat lebih aktif membaca dan memahami informasi pada kemasan pangan.

Menariknya, tujuan kampanye ini bukan untuk menentukan produk mana yang harus dipilih oleh konsumen. Sebaliknya, kampanye ini bertujuan membantu orang tua membuat keputusan berdasarkan informasi yang jelas dan dapat dipahami. "Melalui kampanye ini, kami ingin membantu para orang tua memahami informasi yang ada pada kemasan sehingga mereka bisa membuat pilihan yang lebih tepat. Pada akhirnya, keputusan tetap ada di tangan masing-masing keluarga dan kami menghormati pilihan tersebut," jelas Alaa.

Dengan memahami komposisi dan informasi nilai gizi pada kemasan, orang tua dapat lebih mudah menyesuaikan pilihan makanan maupun minuman dengan kebutuhan anak yang berbeda-beda sesuai usia dan aktivitasnya.

Nestlé MILO Hadir dengan Tiga Keunggulan untuk Dukung Anak Tumbuh, Aktif, dan Fokus

Sejalan dengan semangat kampanye Check The Label, tahun ini Nestlé MILO memperkenalkan Tiga Keunggulan yang mengandung Susu Sapi Asli, Vitamin B dan Malt, serta Zat Besi untuk membantu mendukung anak tumbuh, aktif, dan fokus.

Alaa Shaaban, Marketing Manager Beverages & Confectionery Business Unit PT Nestlé Indonesia, menjelaskan bahwa Susu Sapi Asli berperan dalam mendukung pertumbuhan anak. Sementara Vitamin B dan Malt membantu proses pembentukan energi agar anak tetap aktif menjalani berbagai kegiatan sehari-hari. Di sisi lain, Zat Besi membantu mendukung fokus dengan berperan dalam proses penyaluran oksigen ke seluruh tubuh, termasuk ke otak.

"Dengan memanfaatkan keahlian riset dan pengembangan Nestlé, kami ingin membantu para orang tua memahami bahwa anak tidak hanya membutuhkan energi, tetapi juga keseimbangan energi dan gizi yang tepat untuk mendukung pertumbuhan optimal. Tahun ini, Nestlé MILO menghadirkan energi bergizi melalui Tiga Keunggulan yang mengandung Susu Sapi Asli, Vitamin B, Malt, dan Zat Besi untuk membantu mendukung anak tumbuh, aktif, dan fokus sehingga memiliki Energi Tanpa Batas untuk meraih potensi terbaiknya," ujar Alaa Shaaban.

Pesan tersebut juga sejalan dengan pengalaman Tasya Kamila sebagai ibu yang mendampingi anak aktif bersekolah sekaligus berolahraga. Menurutnya, memenuhi kebutuhan energi anak menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar mereka dapat menjalani berbagai aktivitas dengan nyaman sepanjang hari. "Aku memberikan MILO ke Arrasya dari mulai pagi hari. Kemudian juga ada yang UHT jadi bisa dibawa ketika dia sekolah, latihan tenis, atau saat beraktivitas lainnya," tutur Tasya.

Selain tersedia dalam berbagai varian kemasan yang praktis, Nestlé MILO juga menghadirkan beragam pilihan produk yang mudah diakses keluarga Indonesia, mulai dari sachet hingga ready-to-drink (RTD).

Lebih dari 50 Tahun Mendampingi Anak Indonesia Tetap Aktif

Bagi banyak keluarga Indonesia, MILO mungkin sudah menjadi bagian dari keseharian sejak puluhan tahun lalu. Selama lebih dari lima dekade, Nestlé MILO tidak hanya menghadirkan produk, tetapi juga berbagai program edukasi dan aktivitas yang mendorong anak-anak untuk lebih aktif bergerak sejak usia dini.

Menurut Alaa Shaaban, Nestlé MILO telah hadir di Indonesia selama 52 tahun dan terus berupaya memberikan dampak positif bagi keluarga Indonesia melalui produk bergizi serta akses terhadap berbagai kegiatan olahraga. "Kami tidak hanya menghadirkan produk, tetapi juga memiliki tujuan untuk mendukung generasi Indonesia yang lebih sehat melalui nutrisi yang baik dan gaya hidup aktif sejak usia dini," ujarnya.

Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Nestlé MILO telah mendistribusikan lebih dari 59 juta cup MILO kepada siswa sekolah dasar di berbagai daerah Indonesia selama satu dekade terakhir.

Program yang dijalankan pun tidak hanya berfokus pada pemberian produk. Melalui berbagai kegiatan di sekolah, anak-anak juga diajak untuk lebih aktif bergerak, belajar membangun karakter, mengembangkan semangat juang, serta memahami pentingnya kerja sama tim sejak usia dini.

Hingga saat ini, Nestlé MILO telah menjangkau lebih dari 50 juta anak Indonesia di lebih dari 300 kota dan kabupaten, mulai dari Medan hingga Papua. Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif seperti School Development Program, Tantangan Juara, MILO National Championship, MILO ACTIV Academy, MILO ACTIV Indonesia Race, Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS), hingga LIMA Basketball.

Mulai tahun 2026, Nestlé MILO juga berkolaborasi dengan FIBA melalui program Basketball For Good yang bertujuan memperluas akses anak-anak Indonesia terhadap aktivitas olahraga basket.

Selain mendorong aktivitas fisik, Nestlé MILO juga aktif mengedukasi orang tua melalui program MILO Nutrition Class dan MILO Hari Berenergi. Kedua program tersebut telah menjangkau lebih dari 81.000 orang tua, 200 sekolah, serta ribuan anak di Pulau Jawa dan Sumatra.

Tak hanya itu, sejak tahun 2010, program lari Nestlé MILO telah melibatkan lebih dari 420.000 masyarakat Indonesia untuk ikut membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat dan aktif.

Seluruh produk Nestlé MILO yang dipasarkan di Indonesia diproduksi di pabrik Nestlé Indonesia yang berlokasi di Karawang, Kejayan, dan Bandaraya oleh tenaga kerja Indonesia untuk memenuhi kebutuhan keluarga Indonesia, sekaligus diekspor ke berbagai negara lainnya. Seluruh produknya juga telah bersertifikat 100 persen halal.

Di tengah aktivitas anak yang semakin beragam, mulai dari sekolah, les, hingga berbagai kegiatan olahraga, kebutuhan energi dan nutrisi menjadi fondasi penting yang tidak boleh terlewatkan. Ketika pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup sehat berjalan beriringan, anak memiliki kesempatan yang lebih besar untuk tumbuh, aktif, fokus, dan mengembangkan potensi terbaiknya.

Follow Ibupedia Instagram