Anak Ikut Lomba, Emang Penting? Ternyata Ini Manfaatnya
Ada satu fase yang hampir pasti dialami banyak orang tua, yaitu saat mulai melihat anak menunjukkan ketertarikan yang lebih besar pada sesuatu. Mungkin awalnya sederhana, seperti antusias menjawab pertanyaan di rumah, semangat ikut lomba di sekolah, atau menikmati tantangan saat harus memecahkan teka-teki bersama teman-temannya. Di momen seperti itu, tak sedikit orang tua mulai bertanya-tanya, apakah ini saat yang tepat memberi anak tantangan baru?
Pertanyaan seperti ini wajar banget muncul, apalagi banyak orang tua masih mengaitkan lomba dengan tekanan untuk menang. Padahal, anak ikut lomba tidak selalu harus dilihat sebagai ajang pembuktian. Jika kompetisinya positif, sesuai usia, dan anak didampingi dengan baik, lomba justru bisa menjadi pengalaman belajar yang sangat berharga.
4 Manfaat Anak Ikut Lomba yang Sering Tidak Disadari Orang Tua
Masih banyak orang tua yang melihat lomba anak SD sebagai ajang kompetisi. Menang berarti berhasil, kalah berarti gagal. Padahal, dari sudut pandang tumbuh kembang anak, dampak anak ikut lomba jauh lebih luas daripada itu.
1. Anak belajar membangun mental juara

Saskhya Aulia, M.Psi., Psikolog Klinis Anak dan Keluarga yang ditemui di kompetisi DANCOW Indonesia CERDAS Season 2 di Jakarta Pusat, Senin (18/5), menekankan bahwa kompetisi yang sehat bisa menjadi salah satu bentuk stimulasi kecerdasan anak yang sangat efektif, selama dilakukan sesuai usia dan dengan pendampingan yang tepat.
Menurut Saskhya, saat anak memasuki usia sekolah dasar, mereka sedang berada di fase penting untuk membangun karakter, mental, sekaligus berbagai keterampilan sosial dan emosional. Karena itu, kompetisi bukan hanya tentang menguji kemampuan akademik, tetapi juga melatih anak menghadapi berbagai situasi kehidupan nyata.
“Membangun mental juara bukan berarti harus menang,” jelas Saskhya dalam sesi talkshow acara tersebut. Kalimat ini mungkin sederhana, tetapi sangat relevan untuk banyak orang tua. Sebab kadang, tanpa sadar, tekanan justru datang dari ekspektasi orang dewasa yang terlalu fokus pada hasil akhir. Padahal, manfaat anak ikut lomba justru sering kali lahir dari prosesnya.
2. Anak belajar berpikir kritis, kreatif, dan problem solving

Dalam kompetisi seperti DANCOW Indonesia Cerdas, anak-anak tidak hanya diminta menjawab pertanyaan. Mereka juga belajar berpikir kritis, mengasah kreativitas, bekerja sama dalam tim, dan memecahkan masalah di bawah tekanan waktu. Ini adalah keterampilan yang tidak selalu terbangun maksimal lewat pembelajaran konvensional di kelas.
Hal serupa juga disampaikan Johanlie Aliffin, Category Marketing Manager DANCOW, yang menjelaskan bahwa kompetisi ini memang dirancang untuk memberikan stimulasi pembelajaran yang lebih interaktif dan menyenangkan. “Stimulasinya bukan hanya berbasis pelajaran di kelas, tapi juga logika, pengetahuan umum, kerja sama tim, pemecahan masalah, kreativitas, yang semuanya membantu mengasah kecerdasan intelektual, emosional, dan sosial anak,” jelasnya.
3. Anak belajar mengelola emosi
Menariknya lagi, manfaat kompetisi tidak berhenti di aspek akademik. Dari sisi emosional, anak juga belajar mengenali perasaannya sendiri. Gugup sebelum tampil, takut menjawab salah, kecewa ketika hasil belum sesuai harapan, semuanya adalah pengalaman nyata yang justru membantu anak membangun kemampuan emotional regulation.
4. Anak belajar kerja sama dan kemampuan sosial
Sementara dari sisi sosial, kompetisi berbasis tim seperti ini mengajarkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan kemampuan individu. Anak belajar mendengarkan, berkomunikasi, bernegosiasi, memahami perspektif orang lain, dan bekerja menuju tujuan bersama.

Pandangan ini juga diperkuat oleh Kemendikdasmen. Minhajul Ngabidin, Widyaprada Pembina Tim Kerja Peserta Didik dan Penguatan Karakter Direktorat SD Kemendikdasmen, menegaskan bahwa pendidikan hari ini tidak cukup hanya membuat anak pintar secara akademik. “Yang dibutuhkan anak bukan cuma pengetahuan. Mereka juga perlu membangun keberanian, karakter, kemampuan bekerja sama, dan kebiasaan baik,” ujarnya.
Tips Mendampingi Anak Ikut Lomba Menurut Psikolog
Kalau manfaatnya sebesar itu, peran orang tua tentu tidak bisa hanya berhenti sebagai pengantar anak ke lokasi lomba. Justru, pendampingan orang tua sebelum, selama, dan setelah lomba sangat menentukan bagaimana anak memaknai pengalaman lomba tersebut.
1. Gunakan framework 3D saat mendampingi anak lomba

Menurut Saskhya, salah satu cara sederhana yang bisa digunakan orang tua adalah framework 3D, yaitu didampingi, didengarkan, dan didefinisikan ulang. Tiga hal ini terdengar sederhana, tapi sebenarnya sangat membantu anak merasa aman saat menghadapi tantangan.
A. Didampingi. Ini artinya orang tua hadir dalam prosesnya, bukan hanya ketika hasil lomba diumumkan. Kehadiran orang tua tidak selalu harus dalam bentuk menemani anak latihan intensif atau melakukan persiapan yang penuh target. Kadang, mendampingi anak bisa sesederhana menemani anak mengulang materi, menyiapkan kebutuhan lomba bersama, memastikan anak cukup istirahat, atau bertanya ke anak, “Besok ada yang bikin kamu deg-degan nggak?”
Pendampingan seperti ini membuat anak merasa bahwa ia tidak sedang menghadapi tantangan sendirian. Ia tahu ada orang dewasa yang mendukungnya, bukan hanya menuntutnya.
B. Didengarkan. Ini bagian yang sering terlihat mudah, tapi dalam praktiknya tidak selalu sederhana. Saat anak bilang takut kalah, orang tua mungkin refleks menjawab, “Nggak usah takut.” Saat anak bilang deg-degan, kita mungkin langsung bilang, “Santai aja.” Padahal, bagi anak, rasa takut dan gugup itu nyata.
Mendengarkan berarti memberi ruang untuk anak menyebutkan apa yang ia rasakan tanpa langsung diperbaiki. Anak boleh bilang kesal, takut, minder, atau bingung. Dari situlah orang tua bisa memahami kebutuhan anak dengan lebih jelas.
C. Didefinisikan ulang. Ini penting karena anak masih belajar memahami pengalaman dan emosinya. Misalnya, ketika anak berkata, “Aku deg-degan banget,” orang tua bisa membantu memberi makna baru dengan mengatakan, “Deg-degan itu tanda tubuh kamu lagi siap menghadapi tantangan.” Dengan begitu, anak tidak melihat rasa gugup sebagai sesuatu yang salah, melainkan sebagai sinyal bahwa tubuh dan pikirannya sedang bersiap menghadapi lomba.
Pendekatan seperti ini juga membantu anak membangun hubungan yang lebih sehat dengan kompetisi. Lomba tidak lagi dipahami sebagai hal yang menakutkan, tetapi sebagai ruang untuk mencoba, belajar, dan bertumbuh.
2. Rayakan proses, bukan cuma kemenangan

Salah satu bagian paling penting dalam mendampingi anak ikut lomba adalah bagaimana orang tua merespons hasilnya. Saat anak menang, tentu mudah bagi kita untuk ikut bahagia. Kita spontan memeluk, memuji, mengambil foto anak, mengabarkan ke keluarga, atau mungkin merayakannya dengan makan makanan favorit anak.
Tapi tantangan sebenarnya muncul saat anak belum menang. Di momen seperti itu, anak sedang membaca sesuatu yang sangat penting dari respons orang tuanya. Apakah aku tetap membanggakan walau belum juara? Apakah usahaku tetap dilihat walau namaku tidak dipanggil? Apakah Ibu dan Ayah tetap senang denganku meski hasilnya belum sesuai harapan? Di sinilah effort validation menjadi sangat penting. Anak perlu tahu bahwa usaha, keberanian, dan proses belajarnya juga layak dihargai, bukan hanya hasil akhirnya.
Saskhya mengingatkan, “Jangan merayakan menangnya aja, tapi rayakan juga ketika kamu belum menang.” Kalimat ini bisa menjadi pegangan penting bagi orang tua. Sebab ketika anak merasa prosesnya dihargai, ia akan lebih mudah membangun emotional security. Ia belajar bahwa kasih sayang orang tua tidak bergantung pada performa. Ia juga belajar bahwa dirinya tetap berharga meski belum menjadi juara.
Dalam praktik sehari-hari, bentuk apresiasi ini bisa sangat sederhana. Setelah lomba, orang tua bisa berkata, “Ibu lihat tadi kamu tetap maju walau kelihatan deg-degan, itu keren banget.” Atau, “Tadi kamu sempat bingung, tapi kamu tetap coba jawab. Ibu bangga kamu nggak menyerah.”
Kalimat seperti ini mungkin terdengar remeh, tetapi bagi anak bisa terasa menyentuh. Ia merasa usahanya dilihat serta dihargai, dan dari situlah growth mindset mulai tumbuh. Anak pelan-pelan memahami bahwa kemampuannya bisa berkembang, strategi yang ia susun bisa diperbaiki, dan pengalaman kalah hari ini bisa menjadi bekal untuk kesempatan lomba berikutnya.
3. Ajarkan anak menghadapi kekalahan dengan sehat

Kekalahan sering terasa berat, bukan hanya untuk anak, tapi juga untuk orang tua. Kadang justru orang tua yang lebih kecewa, lebih malu, atau lebih ingin mencari penjelasan kenapa anak belum menang. Padahal, cara orang tua merespons kekalahan bisa sangat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.
Saat anak kalah, langkah pertama bukan buru-buru menghibur dengan kalimat, “Nggak apa-apa, yang penting ikut.” Meskipun maksudnya baik, kalimat ini kadang terdengar seperti menutup perasaan anak terlalu cepat. Anak mungkin memang sedang kecewa. Anak mungkin merasa sudah berusaha. Anak mungkin butuh waktu untuk sedih.
Saskhya menyarankan orang tua untuk memulai dari mendengarkan, lalu membantu anak mendefinisikan ulang pengalaman tersebut. Salah satu pertanyaan yang bisa diajukan adalah, “Apa yang kamu temui dari kekalahan ini?”
Pertanyaan ini menggeser fokus anak dari “Aku gagal” menjadi “Aku belajar sesuatu.” Dari yang tadinya hanya melihat hasil akhir, anak diajak melihat pengalaman secara lebih luas. Mungkin ia menemukan bahwa ia perlu lebih banyak latihan membaca soal. Mungkin ia belajar bahwa diskusi tim perlu lebih kompak. Mungkin ia menyadari bahwa rasa gugup membuatnya terburu-buru. Semua itu bukan kegagalan, melainkan feedback.
Minhajul juga sempat mencontohkan kisah Thomas Alva Edison yang berkali-kali mengalami percobaan belum berhasil, tetapi tidak memaknainya sebagai kegagalan. Ia melihatnya sebagai ribuan pengalaman berbeda yang belum berhasil. Analogi ini bisa menjadi cara sederhana untuk menjelaskan pada anak bahwa belum berhasil bukan berarti berhenti.
Dengan cara pandang seperti ini, anak belajar bahwa kalah tidak perlu ditakuti. Kalah bisa menjadi tempat belajar, asal ada orang dewasa yang membantu anak membacanya dengan lebih bijak.
4. Orang tua harus jadi role model sportivitas

Selain belajar menghadapi kalah, anak juga perlu belajar menang dengan rendah hati dan bersaing dengan jujur. Di sinilah sportivitas menjadi bagian penting dari pengalaman lomba.
Namun, sportivitas tidak bisa hanya diajarkan lewat nasihat. Anak belajar terutama dari contoh. Mereka memperhatikan bagaimana orang tua berbicara tentang lawan, juri, guru, dan hasil lomba. Mereka juga mengamati bagaimana orang dewasa merespons ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan.
Saskhya menjelaskan bahwa anak-anak melihat bagaimana guru, orang tua, dan figur dewasa di sekitar mereka menghadapi kegagalan atau kekurangan. Dari sanalah anak mendapatkan contoh konkret tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Artinya, kalau orang tua ingin anak tidak curang, maka nilai kejujuran harus hidup dulu di rumah. Kalau orang tua ingin anak sportif, maka orang tua juga perlu menunjukkan cara menerima hasil dengan lapang. Jangan sampai, tanpa sadar, anak justru mendapat pesan bahwa yang penting menang, apa pun caranya.
Misalnya, ketika anak kalah, hindari langsung menyalahkan juri, merendahkan pemenang, atau berkata, “Harusnya kamu yang menang.” Kalimat seperti itu bisa membuat anak belajar bahwa hasil yang tidak sesuai harapan selalu perlu dicari kambing hitamnya. Sebaliknya, orang tua bisa membantu anak melihat situasi dengan perspektif yang lebih konstruktif, “Hari ini belum menang, tapi kita bisa lihat bagian mana yang bisa dilatih lagi.”
Sportivitas juga bisa dibangun lewat hal-hal sederhana di rumah. Saat bermain board game bersama anak, orang tua bisa menunjukkan cara kalah tanpa marah. Saat anak menang, orang tua bisa mengajarkan cara merayakan tanpa mengejek. Saat anak melakukan kesalahan, orang tua bisa mencontohkan bahwa meminta maaf bukan tanda kalah, melainkan tanda berani bertanggung jawab. Dengan begitu, sportivitas tidak hanya menjadi nilai saat lomba, tetapi menjadi bagian dari karakter anak sehari-hari.
5. Ingat, yang datang ke lomba sebenarnya sudah menang

Ada satu kalimat dari Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag., Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen, yang rasanya perlu didengar banyak orang tua, “Yang datang ke tempat ini, semuanya adalah the champion,” ungkapnya.
Kalimat ini terasa kuat karena mengingatkan bahwa keberanian anak untuk hadir dan mencoba saja sudah merupakan pencapaian. Sebelum sampai di hari lomba, anak sudah melewati banyak hal. Mereka belajar, berlatih, mengatasi rasa takut, bekerja sama dengan teman, dan mencoba tampil sebaik mungkin di hadapan orang lain.
Sering kali orang dewasa terlalu fokus pada podium, sampai lupa melihat perjalanan yang sudah dilalui anak. Padahal, untuk anak usia sekolah dasar, berdiri di arena lomba, menjawab pertanyaan, atau berdiskusi dalam tim di bawah tekanan sudah membutuhkan keberanian besar.
Kalau orang tua bisa melihat ini, anak juga akan belajar memandang dirinya dengan lebih positif. Ia tidak hanya merasa berharga saat menang. Ia juga merasa bangga karena sudah berani mencoba.
DANCOW Indonesia Cerdas Season 2 Hadir Dengan Skala Lebih Luas

Kalau kompetisi yang sehat memang bisa menjadi ruang belajar yang begitu bermakna untuk anak, maka yang tak kalah penting adalah memastikan anak mendapat wadah yang tepat untuk bertumbuh. Inilah yang coba dihadirkan melalui DANCOW Indonesia Cerdas Season 2, sebuah kompetisi edukatif anak berskala nasional yang kembali digelar tahun ini dengan jangkauan yang jauh lebih besar.
Setelah mendapat respons positif dari orang tua, guru, dan komunitas pada penyelenggaraan perdananya tahun lalu, DANCOW Indonesia Cerdas kembali hadir dengan skala yang diperluas. Jika pada season pertama kompetisi ini melibatkan sekitar 1.000 sekolah dari 8 provinsi, tahun ini cakupannya meningkat signifikan menjadi 2.168 sekolah dari 15 provinsi, dengan partisipasi sekitar 192.000 siswa dari 40 kota di Indonesia.
Menurut Johanlie Aliffin, Category Marketing Manager DANCOW, antusiasme besar inilah yang mendorong DANCOW untuk menghadirkan season kedua dengan pengalaman yang lebih besar dan lebih baik. Kompetisi ini pun dirancang bukan sekadar sebagai ajang cerdas cermat, tetapi sebagai pengalaman belajar yang membuat anak aktif berpikir, berkolaborasi, dan menikmati proses., di mana anak-anak bisa mengasah kemampuan literasi, numerasi, logika, kerja sama tim, hingga pemecahan masalah secara kreatif.
Salah satu rangkaian kompetisi yang berlangsung baru-baru ini adalah seleksi tingkat provinsi untuk wilayah DKI Jakarta dan Banten, yang digelar pada 18 Mei 2026 di Artotel Gelora Senayan, Jakarta. Pada tahap ini, delapan sekolah dasar terpilih yang sebelumnya telah melalui seleksi awal di tingkat daerah bertanding menunjukkan kemampuan terbaik mereka.
Dari DKI Jakarta, sekolah yang berhasil melaju ke tahap ini adalah SDN Sukabumi Selatan 05 Pagi, SDN Cipinang Cempedak 01 Pagi, SDN Pela Mampang 03 Pagi, dan SDN Rorotan 03 Pagi. Sementara dari Banten, kompetisi diikuti oleh SDN Kunciran 7 Tangerang, SDS Mutiara Bangsa 1, SD Poris Indah, serta SDN Kampung Bambu 3.
Persaingan berlangsung seru hingga akhirnya SDN Cipinang Cempedak 01 Pagi keluar sebagai juara pertama untuk wilayah DKI Jakarta, disusul SDN Rorotan 03 Pagi di posisi kedua, SDN Sukabumi Selatan 05 Pagi di posisi ketiga, dan SDN Pela Mampang 03 Pagi di posisi keempat. Sementara untuk wilayah Banten, SDN Kunciran 7 Tangerang berhasil meraih posisi juara pertama, diikuti SD Poris Indah sebagai juara kedua, SDS Mutiara Bangsa 1 sebagai juara ketiga, dan SDN Kampung Bambu 3 sebagai juara keempat.
Perjalanan mereka belum berhenti sampai di sini. Para juara pertama dari masing-masing provinsi nantinya akan melaju ke babak final nasional yang akan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026. Di tahap ini, 15 sekolah terbaik dari seluruh provinsi peserta akan bertanding memperebutkan gelar juara nasional dalam tayangan yang bisa disaksikan melalui Indosiar, Vidio, serta berbagai platform media digital lainnya.
Prestasi Anak di DANCOW Indonesia Cerdas Bisa Menjadi Rekam Jejak Pendidikan

Salah satu hal menarik yang juga disampaikan dalam acara ini adalah bahwa kompetisi seperti DANCOW Indonesia Cerdas tidak hanya menjadi pengalaman satu hari bagi anak, tetapi juga dapat menjadi bagian dari rekam jejak prestasi mereka.
Menurut Minhajul, piagam kejuaraan dari kompetisi ini akan dikurasi oleh Kemendikdasmen dan disahkan oleh Pusat Prestasi Nasional atau Puspresnas. Dengan begitu, prestasi anak dalam kompetisi ini dapat menjadi nilai positif, termasuk saat anak memasuki jenjang pendidikan berikutnya melalui jalur prestasi sekolah.
Bagi orang tua, informasi ini tentu menjadi catatan penting. Namun, tetap perlu diingat bahwa nilai terbesar dari kompetisi bukan hanya pada piagamnya. Rekam jejak prestasi memang bisa membantu anak secara akademik, tetapi proses anak membangun keberanian, daya juang, dan kemampuan belajar dari pengalaman tetap menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Sejalan dengan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Dukungan Kemendikdasmen terhadap kompetisi ini juga tidak lepas dari keselarasan dengan program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, terutama pilar gemar belajar. Program tersebut mencakup kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan beristirahat cukup.
Prof. Biyanto menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat hari ini, tetapi dampaknya dapat terasa besar dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. “Pendidikan bergerak lambat, tapi punya daya gerak yang luar biasa,” ujarnya.

Pandangan ini sejalan dengan komitmen Nestlé DANCOW. Fajar Dewantara, Direktur Corporate Affairs PT Nestlé Indonesia, menyampaikan bahwa selama lebih dari 100 tahun, Nestlé DANCOW secara konsisten mendukung tumbuh kembang anak Indonesia melalui pemenuhan gizi dan stimulasi belajar yang tepat. “Pemenuhan gizi yang tepat dan diimbangi oleh stimulasi akan mendorong anak-anak Indonesia untuk tumbuh dan belajar menjadi individu yang tangguh, yang siap menghadapi tantangan masa depan,” jelas Fajar.
Komitmen ini juga sejalan dengan berbagai program yang telah dijalankan Nestlé DANCOW bersama Kemendikdasmen sejak 2008, mulai dari Dokter Kecil Mahir Gizi, DANCOW Kreasi Anak Indonesia, DANCOW FortiGro Festival Menggambar Nasional, Gerakan Kemitraan Sekolah Sehat, hingga DANCOW Indonesia Cerdas. Hingga saat ini, keseluruhan program tersebut telah menjangkau lebih dari 392 ribu anak di 40 kota dan kabupaten di berbagai wilayah Indonesia.
Pada akhirnya, anak ikut lomba memang bukan hanya soal menang atau kalah. Kompetisi yang positif bisa menjadi ruang untuk anak mengenal dirinya, menguji keberanian, belajar bekerja sama, menerima hasil, dan memahami bahwa proses juga layak dirayakan.
Karena bisa jadi, yang paling berharga dari sebuah lomba bukan piala yang dibawa pulang, melainkan karakter yang tumbuh diam-diam sepanjang perjalanan.