Anak Jago Internetan, Orang Tua Perlu Tahu 3 Hal Ini!

Anak Jago Internetan, Orang Tua Perlu Tahu 3 Hal Ini!
Anak Jago Internetan, Orang Tua Perlu Tahu 3 Hal Ini!

Anak-anak sekarang memang luar biasa ya, Bu. Kadang kita baru selesai mengajari satu hal, mereka sudah bisa menemukan hal baru sendiri lewat internet. Ada anak yang belajar lagu favoritnya dari YouTube, ada yang menemukan ide kerajinan tangan, ada juga yang tiba-tiba hafal fakta-fakta unik tentang dinosaurus, luar angkasa, atau matematika setelah menonton video edukasi.

Dunia digital memang sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak masa kini. Bahkan bagi sebagian keluarga, internet bukan lagi sekadar sarana hiburan, tetapi juga menjadi tempat belajar, berkreasi, dan mengeksplorasi berbagai hal baru.

Namun di balik semua manfaat itu, banyak orang tua yang masih menyimpan pertanyaan yang sama. Seberapa banyak anak boleh menggunakan internet? Bagaimana cara melindungi mereka dari konten yang tidak sesuai usia? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana cara mendampingi anak agar bisa tumbuh menjadi pengguna internet yang cerdas, aman, dan bertanggung jawab?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi fokus dalam acara Playdate Ibupedia bersama Google dan YouTube #AKSIDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia pada hari Kamis, 4 Juni 2026 lalu.

Dalam acara yang dihadiri para orang tua dan anak ini, peserta diajak memahami bagaimana membangun kebiasaan digital yang sehat di rumah melalui diskusi bersama Dora Songco, Product Marketing Manager, Brand & Reputation, Google Indonesia, Nanda Yurani, Educator & Content Creator (Educreator), serta Marsha Tengker, B.A., M.Sc., M.Psi., Psychologist, and Mother of Two.

Diskusi yang berlangsung hangat tersebut membahas berbagai topik penting, mulai dari keamanan anak di internet, pentingnya literasi digital keluarga, peran orang tua sebagai pendamping, hingga berbagai fitur Google dan YouTube yang dapat membantu orang tua mengawasi aktivitas digital anak sesuai usianya.

Dunia Digital Bukan Musuh Anak

Banyak orang tua masih menganggap bahwa solusi terbaik untuk melindungi anak adalah menjauhkan mereka dari dunia digital. Padahal, menurut Google dan YouTube, tantangan yang dihadapi keluarga saat ini bukan lagi soal bagaimana menjauhkan anak dari internet, melainkan bagaimana mendampingi mereka saat berada di dalamnya.

Dora Songco menjelaskan bahwa Google dan YouTube memiliki komitmen untuk terus mendukung keluarga Indonesia dalam membangun pengalaman digital yang lebih aman. "Prinsip kami adalah melindungi anak dan remaja di dunia digital, bukan membatasi mereka dari dunia digital. Karena kita tidak bisa memungkiri bahwa semua orang sekarang menggunakan gadget dan perkembangan teknologi bergerak sangat cepat. Yang perlu kita lakukan adalah memastikan anak tetap terlindungi ketika berada di dalam dunia digital tersebut," jelas Dora.

Komitmen tersebut juga didukung oleh berbagai data yang menunjukkan bahwa platform digital kini telah menjadi salah satu sumber belajar yang penting bagi anak-anak.

Berdasarkan survei yang dilakukan Google dan YouTube pada Agustus 2025 terhadap ribuan orang tua dan anak di Indonesia, sebanyak 90 persen responden menyatakan bahwa YouTube membantu proses pembelajaran menjadi lebih mudah. Selain itu, 81 persen menganggap YouTube sebagai sumber penting untuk pendidikan anak, sementara 92 persen menyebut YouTube sebagai platform yang memberikan akses terhadap informasi, edukasi, dan hiburan.

Bagi Dora sendiri, manfaat tersebut juga ia rasakan di rumah. Ia bercerita bahwa putranya yang kini berusia 11 tahun sangat menyukai tayangan edukasi Numberblocks sejak kecil. Tanpa disadari, tontonan tersebut membantu mengembangkan kemampuan berpikir analitis dan kecintaan terhadap matematika.

Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa ketika anak mendapatkan akses ke konten yang tepat dan didampingi dengan baik, teknologi dapat menjadi sarana belajar yang sangat bermanfaat.

Hubungan Sehat dengan Teknologi Ternyata Dimulai dari Rumah

Meski teknologi memiliki banyak manfaat, para narasumber sepakat bahwa peran orang tua tetap tidak bisa digantikan. Menurut Marsha Tengker, tujuan utama orang tua bukan sekadar membatasi penggunaan gadget, tetapi membantu anak membangun hubungan yang sehat dengan teknologi.

Ia mengibaratkan hubungan anak dengan internet seperti hubungan anak dengan makanan. Ketika orang tua ingin anak memiliki pola makan yang sehat, mereka tidak hanya melarang atau membatasi makanan tertentu. Anak juga perlu belajar mengenali rasa lapar, rasa kenyang, dan memahami apa yang dibutuhkan tubuhnya.

Hal yang sama berlaku dalam dunia digital. "Kita ingin anak punya hubungan yang sehat dengan internet. Mereka tahu apa yang mereka butuhkan, apa yang perlu mereka lihat, dan apa yang tidak perlu mereka konsumsi. Tapi itu tidak terjadi begitu saja. Orang tua tetap perlu memberi contoh dan mendampingi prosesnya," paparnya.

Marsha meyakini bahwa kebutuhan emosional anak seharusnya dipenuhi terlebih dahulu di dunia nyata. Dengan begitu, internet tidak menjadi tempat pelarian untuk mencari koneksi yang sebenarnya mereka butuhkan dari keluarga.

"Kalau kebutuhan kehangatannya sudah didapat dari orang tua, dia tidak akan mencarinya di internet. Internet bisa menjadi tempat belajar dan berkreasi, tetapi kebutuhan akan hubungan dengan orang lain tetap harus dipenuhi di dunia nyata," tambahnya. Karena itu, kehadiran orang tua secara emosional menjadi sangat penting.

Jangan sampai teknologi justru terasa lebih menyenangkan daripada interaksi dengan keluarga di rumah. Orang tua tetap perlu menjadi sumber informasi pertama bagi anak, sementara teknologi berperan sebagai alat pendukung untuk membantu mereka belajar dan berkembang.

Tantangan Terbesar: Kesiapan Anak Menggunakan Teknologi

Meski peran orang tua sangat penting, ada satu hal yang perlu dipahami terlebih dahulu. Tantangan di era digital ternyata bukan lagi soal apakah anak mampu menggunakan teknologi atau tidak, justru ada hal lain yang perlu lebih mendapat perhatian.

Dalam diskusi tersebut, Nanda Yurani mengajak para orang tua melihat persoalan ini dari sudut pandang yang berbeda. Menurutnya, banyak orang tua masih khawatir anak tidak mampu beradaptasi dengan teknologi. Padahal kenyataannya justru sebaliknya.

Anak-anak saat ini lahir dan tumbuh di era digital. Mereka adalah generasi digital native yang sejak kecil sudah akrab dengan layar, internet, dan berbagai perangkat teknologi. Karena itu, Nanda mengingatkan orang tua agar tidak terlalu khawatir anak akan kesulitan beradaptasi dengan teknologi.

Menurutnya, anak-anak saat ini justru tumbuh berdampingan dengan dunia digital sejak usia sangat dini. "Jangan khawatir anak tidak bisa beradaptasi dengan teknologi. Mereka adalah digital native yang sejak kecil sudah hidup berdampingan dengan teknologi," ujarnya.

Di lingkungan sekolah, ia sering melihat anak-anak mengikuti berbagai tren yang sedang viral tanpa benar-benar memahami dampaknya. Mereka melihat sesuatu yang dianggap menarik, lalu langsung menirunya tanpa sempat berpikir apakah tren tersebut aman, bermanfaat, atau justru berisiko.

Hal ini terjadi karena kemampuan berpikir kritis dan mengendalikan diri pada anak memang masih dalam tahap berkembang. Karena itulah pendampingan dari orang tua tetap menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan. Bukan untuk mengontrol setiap langkah anak, tetapi untuk membantu mereka belajar mengambil keputusan yang lebih bijak.

Framework THINK: Melatih Anak Berpikir Kritis Saat Berinternet

Untuk membantu anak membangun kemampuan berpikir kritis di dunia digital, Marsha membagikan sebuah pendekatan sederhana yang bisa diterapkan orang tua di rumah, yaitu framework THINK.

Framework ini dapat digunakan ketika anak melihat, membaca, membagikan, atau mengonsumsi informasi di internet.

1. T = True

Ajarkan anak untuk bertanya pada dirinya sendiri saat sedang menemukan sesuatu di internet. Apakah informasi ini benar?

Di era internet, informasi dapat menyebar dengan sangat cepat. Tidak semua yang muncul di layar merupakan fakta yang akurat. Dengan membiasakan anak mempertanyakan kebenaran sebuah informasi, mereka akan belajar melakukan verifikasi sebelum percaya atau menyebarkannya.

2. H = Helpful

Apakah informasi ini bermanfaat?

Anak dapat diajak berpikir apakah konten yang mereka tonton atau bagikan memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Kebiasaan sederhana ini membantu menumbuhkan empati sekaligus tanggung jawab dalam menggunakan internet.

3. I = Inspiring

Apakah konten ini memberikan inspirasi?

Dalam pandangan Marsha, internet seharusnya tidak hanya menjadi tempat hiburan, tetapi juga ruang untuk belajar dan berkembang. Konten yang baik adalah konten yang mendorong anak untuk mencoba hal baru, belajar keterampilan baru, atau memunculkan ide-ide positif.

4. N = Necessary

Apakah ini benar-benar perlu?

Kemampuan menyaring informasi juga penting dimiliki anak. Tidak semua hal perlu ditonton, dikomentari, atau dibagikan. Dengan membiasakan anak bertanya apakah sesuatu benar-benar penting bagi dirinya, mereka akan lebih selektif dalam menggunakan internet.

5. K = Kind

Apakah ini baik?

Poin terakhir mengajarkan anak untuk mempertimbangkan dampak dari apa yang mereka konsumsi maupun bagikan. Apakah konten tersebut menunjukkan kebaikan? Apakah komentar yang ditulis akan menyakiti orang lain? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini membantu anak membangun empati sekaligus karakter yang baik di dunia digital.

Psikolog yang juga ibu dua anak tersebut menjelaskan bahwa tujuan dari framework THINK bukan membuat anak selalu benar, melainkan membantu mereka membangun kemampuan self regulation secara bertahap. "Harapannya, lama-lama mereka bisa menuntun dirinya sendiri dan memiliki kemampuan membuat keputusan yang lebih bijak," jelasnya.

Fitur Google dan YouTube yang Bisa Membantu Orang Tua Lebih Tenang

Membangun kemampuan berpikir kritis pada anak saat berinternet tentu saja tidak bisa dilakukan sendirian. Orang tua juga membutuhkan dukungan berupa alat dan fitur yang membantu proses pendampingan tersebut. Karena itulah Google dan YouTube menghadirkan berbagai fitur yang dirancang sesuai usia anak.

Dora menjelaskan bahwa fitur-fitur ini bukan dibuat untuk memata-matai anak, melainkan membantu orang tua menciptakan pengalaman digital yang lebih aman.

1. YouTube Kids

Untuk anak-anak yang masih berusia di bawah 13 tahun, YouTube menyediakan aplikasi khusus bernama YouTube Kids. Konten yang tersedia di dalamnya telah melalui proses penyaringan sehingga lebih sesuai dengan usia anak. Dengan begitu, risiko anak menemukan konten yang tidak sesuai dapat dikurangi sejak awal.

2. Supervised Experience

Ketika anak mulai bertambah besar dan ingin mengeksplorasi lebih banyak hal, orang tua dapat menggunakan fitur Supervised Experience. Fitur ini memungkinkan orang tua memilih kategori pengalaman yang sesuai dengan usia anak sekaligus tetap memberikan ruang bagi mereka untuk belajar dan bereksplorasi.

3. Family Center

Untuk remaja usia 13 hingga 17 tahun, YouTube menyediakan Family Center. Fitur ini membantu orang tua tetap terlibat dalam aktivitas digital anak melalui pendekatan yang lebih mengedepankan komunikasi dan kepercayaan. Orang tua dapat melihat aktivitas tertentu sekaligus mendiskusikannya bersama anak.

4. Time for Break dan Bedtime Reminder

Salah satu tantangan terbesar penggunaan gadget, khususnya anak dan remaja, adalah mengatur waktu. Karena itu, YouTube menyediakan fitur Time for Break yang dapat mengingatkan anak untuk beristirahat setelah menonton dalam durasi tertentu. Ada juga fitur Bedtime Reminder yang memberikan pengingat ketika waktu tidur sudah mendekat.

Menurut Dora, fitur-fitur sederhana seperti ini sering kali membantu membangun kebiasaan digital yang lebih sehat di rumah. Ia bahkan bercerita bahwa putranya sering dijuluki "anak alarm" karena banyak aktivitas digitalnya dibantu oleh pengingat otomatis, mulai dari waktu istirahat hingga waktu tidur. Dengan adanya alarm dan pengingat yang konsisten, anak belajar memahami kapan waktunya menonton, beristirahat, hingga berhenti menggunakan gadget.

5. Daily Shorts Limit

Fitur yang cukup menarik perhatian peserta adalah Daily Shorts Limit. Melalui fitur ini, orang tua dapat membatasi durasi menonton YouTube Shorts setiap hari, bahkan hingga nol menit jika diperlukan. Artinya, anak tidak dapat terus-menerus mengakses video pendek tanpa batas waktu.

6. Google Family Link

Google juga menyediakan Family Link yang memungkinkan orang tua mengelola berbagai aktivitas digital anak. Melalui aplikasi ini, orang tua dapat mengatur aplikasi apa yang boleh diunduh, memantau penggunaan perangkat, hingga mengelola berbagai pengaturan keamanan lainnya. Dora mengaku telah menggunakan Family Link untuk putranya sejak usia enam tahun. Dengan fitur tersebut, setiap kali anak ingin mengunduh aplikasi baru, persetujuan tetap harus datang dari orang tua.

7. Safe Search

Fitur Safe Search membantu menyaring hasil pencarian agar anak tidak menemukan gambar, video, maupun konten eksplisit yang tidak sesuai usia. Bagi akun pengguna di bawah umur, fitur ini bahkan dapat aktif secara otomatis sebagai bentuk perlindungan tambahan.

Menurut Dora, semua fitur tersebut sebenarnya sudah tersedia dan mudah digunakan. Tantangan terbesarnya justru sering kali bukan pada teknologinya, melainkan apakah orang tua mau memanfaatkannya atau tidak. "Semua fiturnya sudah ada. Kuncinya satu, dipakai. Kalau cuma ada tapi tidak digunakan, anak akhirnya tidak mendapatkan pengawasan yang sebenarnya sudah bisa kita lakukan," ujarnya.

Menyeimbangkan Perlindungan dan Kepercayaan Pada Anak di Era Digital

Meski berbagai fitur tersebut dapat membantu orang tua melakukan pengawasan, muncul satu pertanyaan yang cukup sering dirasakan banyak keluarga. Sampai sejauh mana anak perlu diawasi, dan kapan mereka mulai perlu diberikan kepercayaan?

Menanggapi hal tersebut, Marsha Tengker menjelaskan bahwa perlindungan dan kepercayaan sebenarnya bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru perlu berjalan beriringan.

Ia melihat bahwa kepercayaan yang diberikan orang tua akan membantu anak membangun rasa percaya diri. Pada awalnya, anak meminjam rasa percaya dari orang tuanya. Seiring waktu, rasa percaya itu akan berkembang menjadi kepercayaan terhadap dirinya sendiri.

Namun, kepercayaan tetap perlu disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak. Saat anak masih kecil, porsi perlindungan tentu lebih besar. Seiring bertambahnya usia, perlindungan tersebut perlahan dapat dikurangi dan digantikan dengan kepercayaan yang lebih besar.

"Proteksi tanpa kepercayaan menghasilkan ketakutan. Sedangkan kepercayaan tanpa perlindungan menghasilkan kerentanan. Karena itu, keduanya perlu diseimbangkan sesuai usia anak," jelas Marsha. Ia juga mengingatkan bahwa anak akan lebih mudah menerima aturan ketika mereka memiliki hubungan yang kuat dengan orang tuanya.

Ketika hubungan tersebut dibangun di atas rasa aman dan saling percaya, aturan mengenai penggunaan internet tidak lagi terasa sebagai larangan yang mengekang, melainkan bentuk kepedulian dan perlindungan. Karena itu, sebelum berbicara soal kontrol, orang tua perlu membangun koneksi terlebih dahulu dengan anak.

Internet Juga Bisa Menjadi Ruang Belajar yang Menyenangkan

Pembicaraan dalam acara tersebut tidak hanya berfokus pada risiko. Para pembicara juga mengingatkan bahwa internet memiliki potensi besar untuk mendukung proses belajar anak.

Sebagai seorang guru sekolah dasar, Nanda Yurani mengaku cukup sering memanfaatkan teknologi dalam proses belajar mengajar. Dalam pengalamannya, internet memungkinkan anak mendapatkan informasi yang lebih luas dan mendalam dibandingkan yang tersedia di buku pelajaran.

Di kelasnya, Nanda sesekali memperbolehkan siswa menggunakan perangkat digital untuk mencari informasi tambahan saat belajar. Namun penggunaannya tetap didampingi dan dilakukan berdasarkan aturan yang telah disepakati bersama.

Sebelum memberikan akses tersebut, ia terlebih dahulu membangun hubungan saling percaya dengan murid-muridnya. Anak-anak didiknya diberikan pemahaman bahwa mereka boleh bercerita jika menemukan sesuatu yang membuat tidak nyaman saat menggunakan internet. Dengan cara itu, anak memiliki tempat yang aman untuk bertanya ketika menghadapi situasi yang membingungkan di dunia digital.

Nanda juga mengajak orang tua mengubah cara pandang terhadap internet. Baginya, internet pada dasarnya hanyalah sebuah alat. Dampaknya akan sangat bergantung pada bagaimana alat tersebut digunakan. "Internet harusnya membuat anak menjadi lebih berdaya, lebih berdampak, dan lebih kreatif. Jangan sampai internet justru membuat anak menjadi pasif," ujarnya.

Ia juga bercerita bahwa banyak muridnya yang belajar berbagai keterampilan baru dari internet. Mulai dari membuat kerajinan tangan, mencoba eksperimen sederhana, hingga belajar membuat produk yang kemudian dijual bersama teman-temannya di sekolah. Ia menemukan bahwa, pengalaman seperti itu menunjukkan bahwa internet dapat menjadi sarana belajar yang sangat kaya jika digunakan secara tepat.

Marsha pun memiliki pengalaman serupa di rumah. Ia bercerita bahwa salah satu anaknya belajar banyak kosakata bahasa Mandarin melalui video yang direkomendasikan sekolah. Meski tidak langsung membuat anak menjadi fasih berbahasa Mandarin, konten tersebut membantu memperkuat proses belajar yang mereka jalani di sekolah.

Pengalaman-pengalaman sederhana seperti ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan yang mendukung proses belajar anak sehari-hari.

Tiga Prinsip Digital Parenting yang Bisa Dicoba di Rumah

Menjelang akhir sesi, Marsha membagikan tiga prinsip yang menurutnya dapat membantu keluarga membangun kebiasaan digital yang lebih sehat di rumah.

1. Connection Before Correction

Prinsip pertama adalah membangun koneksi sebelum melakukan koreksi. Sebelum menegur, melarang, atau mengoreksi perilaku anak, orang tua perlu memastikan bahwa hubungan dengan anak sudah terbangun dengan baik. Ketika anak merasa didengar dan dipahami, mereka akan lebih terbuka untuk menerima arahan dari orang tua.

2. Curiosity Over Control

Prinsip kedua adalah mengedepankan rasa ingin tahu dibandingkan kontrol. Alih-alih langsung melarang suatu tontonan atau aktivitas digital, orang tua dapat mencoba memahami terlebih dahulu apa yang membuat anak tertarik pada hal tersebut. Dengan memahami alasan di balik perilaku anak, orang tua akan lebih mudah memberikan batasan yang tepat dan relevan.

3. Consistency Over Perfection

Prinsip terakhir adalah mengutamakan konsistensi dibandingkan kesempurnaan. Bagi Marsha, tidak ada keluarga yang langsung berhasil menerapkan kebiasaan digital yang ideal dalam semalam.

Yang terpenting adalah membangun kebiasaan kecil secara konsisten dari hari ke hari. Mulai dari membuat aturan sederhana, membangun komunikasi terbuka, hingga membiasakan anak berdiskusi tentang apa yang mereka lihat di internet. Lambat laun, kebiasaan tersebut akan membantu anak mengembangkan kemampuan mengatur dirinya sendiri.

Orang Tua Tetap Menjadi Pengaruh Terbesar bagi Anak

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, ada satu hal yang tidak berubah, yaitu anak-anak tetap belajar paling banyak dari orang tua mereka. Karena itu, seluruh narasumber sepakat bahwa fitur keamanan, aturan penggunaan gadget, maupun berbagai teknologi pendukung tidak akan berjalan optimal tanpa keterlibatan orang tua.

Dora Songco mengingatkan bahwa anak adalah peniru yang sangat baik. Apa yang dilakukan orang tua sehari-hari sering kali memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan nasihat yang diberikan berulang kali.

"Anak adalah peniru ulung. Mau ngomong sampai berbusa, kalau kitanya tidak berubah, anak juga tidak akan berubah," ujarnya. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa digital parenting bukan hanya soal mengatur waktu layar, memasang fitur keamanan, atau mengawasi aktivitas anak di internet.

Lebih dari itu, digital parenting adalah tentang bagaimana orang tua hadir, membangun hubungan yang hangat, menjadi tempat bertanya yang aman, sekaligus memberi contoh penggunaan teknologi yang sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Karena pada akhirnya, tantangan terbesar bukanlah bagaimana menjauhkan anak dari internet. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana memastikan mereka tetap memiliki tempat pulang ketika menemukan sesuatu yang membingungkan di dunia digital. Dan tempat itu, seperti yang berkali-kali diingatkan para pembicara dalam acara ini, tetaplah rumah dan orang tua mereka.

Follow Ibupedia Instagram