Anak Neurodivergen Sulit Berteman? Ini yang Perlu Dipahami Orang Tua

Anak Neurodivergen Sulit Berteman? Ini yang Perlu Dipahami Orang Tua
Anak Neurodivergen Sulit Berteman? Ini yang Perlu Dipahami Orang Tua

Ketika melihat anak-anak lain asyik bermain bersama, sebagian anak neurodivergen mungkin justru memilih diam, menjauh, atau tetap berada di dekat orang tuanya. Bahkan saat ada teman yang mengajak bermain, anak bisa terlihat kebingungan, tidak merespons, atau memilih meninggalkan situasi tersebut.

Bagi orang tua, kondisi ini tentu bisa menimbulkan kekhawatiran. Apakah anak memang tidak tertarik berteman? Atau sebenarnya ingin bergaul, tetapi belum tahu bagaimana cara memulai interaksi?

Pada anak neurodivergen, membangun pertemanan bisa melibatkan berbagai tantangan yang tidak selalu terlihat oleh orang-orang di sekitarnya. Mulai dari kemampuan memahami bahasa, memproses rangsangan sensorik, hingga mengenali isyarat sosial saat berinteraksi dengan teman sebaya.

Hal inilah yang dibahas oleh Andini Iskayanti Putri, M.Psi., Psikolog, dalam seminar From Social Learning Opportunities to Friendship Skills pada SPEKIX (Neurodiversity Expo) 2026.

Menurut Andini, kemampuan membangun relasi sosial melibatkan banyak aspek perkembangan. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami kesulitan yang dialami anak sebelum menyimpulkan bahwa anak memang tidak mau bergaul.

Kenapa Anak Neurodivergen Bisa Kesulitan Berinteraksi dengan Teman?

Setiap anak neurodivergen memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Ada yang cukup nyaman berinteraksi dengan teman, tetapi ada pula yang membutuhkan dukungan lebih untuk memahami percakapan atau mengikuti aktivitas sosial.

Salah satu faktor yang dapat memengaruhi interaksi tersebut adalah kemampuan memahami dan merespons bahasa. Andini memberikan contoh ketika seorang anak diajak berbicara oleh temannya, tetapi belum memahami pertanyaan yang diberikan.

Anak yang mampu mengomunikasikan kebingungannya mungkin bisa meminta teman mengulang pertanyaan. Namun, bagi anak yang masih memiliki kesulitan dalam memahami atau menggunakan bahasa, situasi tersebut bisa membuatnya tidak tahu harus merespons seperti apa. Akibatnya, anak mungkin hanya diam atau memilih menjauh dari percakapan.

Selain komunikasi, perbedaan pemrosesan sensorik juga dapat memengaruhi kenyamanan anak neurodivergen ketika berada dalam lingkungan sosial. Misalnya, saat bermain bersama anak-anak seusianya yang sedang aktif bergerak, berbicara keras, atau berteriak. Bagi sebagian anak yang sensitif terhadap suara, keramaian tersebut bisa terasa sangat mengganggu.

Anak akhirnya harus menghadapi beberapa tantangan sekaligus, mulai dari menyesuaikan diri dengan kebisingan, memahami ucapan teman, hingga menentukan respons yang sesuai. Dalam kondisi seperti ini, menjauh dari kelompok bisa menjadi cara anak mengurangi ketidaknyamanan yang sedang dialaminya.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan situasi yang membuat anak kesulitan berinteraksi, termasuk apakah hambatannya berkaitan dengan komunikasi, kondisi lingkungan, atau kebutuhan perkembangan lainnya.

Anak Neurodivergen Menarik Diri Belum Tentu Tidak Ingin Berteman

Ketika anak berkali-kali mengalami kesulitan berkomunikasi atau mengikuti permainan bersama, pengalaman tersebut bisa memengaruhi keinginannya untuk mencoba berinteraksi kembali.

Bayangkan jika setiap kali diajak berbicara, anak tidak memahami apa yang dimaksud temannya. Ia juga belum mampu meminta penjelasan atau menyampaikan respons yang bisa dipahami orang lain. Lama-kelamaan, anak mungkin memilih mengurangi interaksi karena situasinya terasa terlalu sulit atau tidak nyaman.

Dari luar, perilaku tersebut bisa terlihat seperti anak yang tidak tertarik memiliki teman. “Ketika mereka withdraw, bukan berarti mereka tidak punya willingness untuk berelasi dengan teman-temannya atau mungkin dengan lingkungan sekitarnya,” jelas Andini. Menurut Andini, penting untuk memahami bahwa kesulitan berinteraksi tidak selalu mencerminkan keinginan anak untuk menjalin hubungan sosial.

Dalam pemaparannya, Andini juga memperkenalkan pendekatan neurodiversity-affirming, yaitu cara pandang yang menghargai perbedaan karakteristik neurologis dan cara individu berkomunikasi.

Melalui pendekatan ini, cara berkomunikasi anak neurodivergen tidak langsung dinilai sebagai kekurangan hanya karena berbeda dari kebiasaan orang pada umumnya. Misalnya, ada anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merespons, menggunakan gerakan tubuh untuk berkomunikasi, atau merasa lebih nyaman berinteraksi dalam kelompok kecil. Cara-cara tersebut perlu dipahami agar orang di sekitarnya dapat memberikan respons dan dukungan yang sesuai.

Andini turut menyinggung konsep double empathy, yang menekankan pentingnya pemahaman dari kedua pihak dalam sebuah interaksi. Artinya, saat anak neurodivergen mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang lain, upaya membangun hubungan sosial sebaiknya tidak hanya berfokus pada kemampuan anak untuk menyesuaikan diri.

“Harapannya yang dibantu bukan anaknya aja, tapi lingkungan di sekitarnya,” ungkap Andini. Orang tua, guru, dan teman sebaya juga memiliki peran untuk memahami kebutuhan anak serta menciptakan situasi interaksi yang lebih nyaman.

Dengan begitu, anak memiliki kesempatan membangun hubungan sosial tanpa terus-menerus dituntut mengikuti satu cara berkomunikasi yang sama.

Anak Neurodivergen Tidak Selalu Bisa Belajar Bersosialisasi Hanya dengan Meniru

Setelah memahami berbagai tantangan tersebut, orang tua mungkin bertanya bagaimana cara membantu anak mengembangkan keterampilan sosialnya. Salah satu proses yang dibahas Andini adalah social learning, yaitu pembelajaran sosial melalui pengamatan dan peniruan perilaku orang lain.

“Anak dapat mempelajari keterampilan sosial itu dengan mengamati dan juga meniru orang-orang di sekitarnya,” jelasnya. Misalnya, anak melihat orang lain mengantre, lalu belajar bahwa ia perlu menunggu giliran. Begitu pula ketika melihat temannya bergantian menggunakan mainan atau saling merespons saat berbicara.

Namun, tidak semua anak neurodivergen dapat memahami aturan sosial hanya dengan melihat apa yang dilakukan orang lain. Sebagian anak mungkin sudah mengamati suatu perilaku berkali-kali, tetapi belum memahami mengapa perilaku tersebut perlu dilakukan atau bagaimana menerapkannya dalam situasi lain.

Andini menjelaskan bahwa ada anak yang membutuhkan pembelajaran sosial secara lebih eksplisit, yakni melalui penjelasan dan contoh yang disampaikan dengan jelas. Sebagai contoh, ketika mengajarkan anak mengantre, orang tua bisa menjelaskan bahwa setiap orang perlu menunggu giliran agar mendapatkan kesempatan yang sama.

Bagi anak yang kemampuan pemahaman bahasanya masih terbatas, instruksi tersebut bisa disederhanakan menjadi, “Antre, ya. Ayo, ikuti,” sambil memperagakan apa yang perlu dilakukan. Bantuan juga bisa disesuaikan dengan kemampuan anak. Ada yang cukup diberi arahan singkat, sementara anak lain mungkin membutuhkan contoh berulang atau dukungan visual untuk memahami situasi.

Dengan memberikan penjelasan yang sesuai, orang tua dapat membantu anak memahami keterampilan sosial yang sebelumnya terasa membingungkan. Kemampuan tersebut kemudian dapat dipraktikkan melalui interaksi langsung bersama teman sebaya.

Teman Sebaya Bisa Membantu Anak Neurodivergen Belajar Membangun Relasi Sosial

Selain belajar dari orang tua dan pendamping, anak neurodivergen juga membutuhkan kesempatan untuk mengalami interaksi sosial secara langsung. Melalui hubungan dengan teman sebaya, anak dapat menghadapi berbagai situasi sosial yang berbeda dari interaksinya bersama orang dewasa.

Misalnya, ketika anak perlu merespons ajakan bermain, menyampaikan pilihan permainan, menunggu giliran, atau bekerja sama untuk menyelesaikan suatu aktivitas. Pengalaman tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial, terutama ketika anak mendapatkan dukungan yang sesuai.

Dalam pemaparannya, Andini menjelaskan beberapa pendekatan yang digunakan dalam program pengembangan keterampilan sosial, termasuk peer pairing dan friendship group.

Peer pairing merupakan pendekatan yang melibatkan interaksi dengan teman sebaya untuk memberikan kesempatan belajar sosial melalui pengalaman bersama.

Sementara itu, dalam friendship group, latihan keterampilan sosial dilakukan melalui aktivitas kelompok yang dirancang sesuai kebutuhan pesertanya.

Misalnya, ketika seorang anak belum memahami bagaimana merespons pertanyaan, ia dapat mengamati cara teman lain menjawab dalam suatu aktivitas kelompok. Melalui proses tersebut, anak memperoleh kesempatan untuk melihat contoh interaksi dari anak seusianya, bukan hanya dari orang dewasa.

Namun, pendekatan ini tetap perlu mempertimbangkan karakteristik, kemampuan, dan kenyamanan masing-masing anak. Tujuannya adalah memberikan kesempatan untuk belajar membangun hubungan sosial yang bermakna, bukan memaksakan semua anak agar menunjukkan cara berinteraksi yang sama.

Cara Orang Tua Bisa Membantu Anak Neurodivergen Belajar Berteman

Membangun kemampuan sosial anak neurodivergen tidak selalu harus dilakukan melalui program latihan khusus. Orang tua juga dapat memanfaatkan kesempatan interaksi yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, dukungan yang diberikan perlu disesuaikan dengan kemampuan komunikasi, kebutuhan sensorik, dan kesiapan anak.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan Parents untuk membantu anak mengembangkan kemampuan berinteraksi dengan teman sebaya.

1. Kenali situasi yang membuat anak kesulitan berinteraksi

Perhatikan apakah anak mulai menarik diri ketika lingkungan terlalu ramai, tidak memahami percakapan, atau kesulitan mengikuti aturan permainan. Dengan mengetahui situasi yang menjadi tantangan, orang tua dapat membantu menyesuaikan lingkungan dan bentuk dukungan yang diberikan.

2. Bantu anak memahami maksud komunikasi dari orang lain

Ketika anak terlihat kebingungan saat diajak berbicara, orang tua dapat membantu menjelaskan pertanyaan atau maksud temannya menggunakan bahasa yang lebih sederhana. Jika diperlukan, beri anak waktu tambahan untuk memproses informasi dan merespons sesuai kemampuannya.

3. Berikan kesempatan anak mencoba berinteraksi

Orang tua mungkin terbiasa langsung menjawab pertanyaan atau menyampaikan keinginan atas nama anak karena ingin membantu. Namun, ketika memungkinkan, berikan kesempatan bagi anak untuk mencoba merespons terlebih dahulu. Respons tersebut tidak harus selalu berupa ucapan. Anak juga bisa menggunakan gestur, menunjuk, atau bentuk komunikasi lain sesuai kemampuannya.

4. Mulai dari lingkungan sosial yang nyaman

Jika anak sensitif terhadap keramaian, kesempatan berinteraksi bisa dimulai dari situasi yang lebih tenang atau kelompok kecil. Misalnya, bermain bersama satu teman terlebih dahulu sebelum mencoba mengikuti aktivitas yang melibatkan lebih banyak anak. Orang tua dapat memperhatikan respons dan kenyamanan anak selama proses tersebut.

5. Libatkan guru dan orang-orang di sekitar anak

Dukungan sosial akan lebih membantu jika lingkungan juga memahami kebutuhan anak. Orang tua bisa berdiskusi dengan guru mengenai cara anak berkomunikasi, situasi yang membuatnya kewalahan, atau bantuan yang diperlukan ketika mengikuti aktivitas bersama teman.

Dengan demikian, orang dewasa di sekitar anak dapat membantu menciptakan lebih banyak kesempatan interaksi yang sesuai, tanpa membuat anak merasa terus-menerus tertekan untuk bersosialisasi.

Pertemanan Anak Neurodivergen Tidak Harus Terlihat Sama dengan Anak Lain

Ketika membicarakan perkembangan sosial, orang tua mungkin berharap anak bisa dengan mudah menyapa orang lain, memiliki banyak teman, atau aktif mengikuti permainan kelompok. Namun, kebutuhan dan cara membangun hubungan sosial setiap anak neurodivergen bisa berbeda.

Ada anak yang nyaman berinteraksi dalam kelompok besar. Ada pula yang lebih mudah menjalin hubungan melalui percakapan satu lawan satu atau aktivitas yang sesuai dengan minatnya. Andini menekankan pentingnya memperhatikan kualitas koneksi dalam sebuah hubungan sosial, bukan sekadar seberapa banyak anak berbicara.

Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk merasa dipahami, berpartisipasi, dan membangun pengalaman bersama orang lain. Karena itu, perkembangan keterampilan sosial anak sebaiknya tidak hanya dinilai dari seberapa banyak teman yang dimiliki atau seberapa lancar ia berbicara.

Orang tua juga dapat memperhatikan apakah anak semakin mampu menyampaikan kebutuhannya, memahami interaksi yang sedang terjadi, dan merasa nyaman menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.

Jika kesulitan sosial yang dialami anak terus menghambat aktivitas atau menimbulkan tekanan baginya, Parents dapat berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional yang memahami kebutuhan perkembangan anak.

Yang terpenting, berikan anak kesempatan membangun pertemanan dengan cara yang sesuai dengan kebutuhannya, sekaligus bantu lingkungan belajar memahami perbedaan tersebut.

Follow Ibupedia Instagram