Anak Rewel, GTM, dan Susah Tidur? Bisa Jadi karena Pencernaannya!
Sebagai orang tua, kita biasanya langsung waspada saat anak demam atau batuk pilek. Namun, ada satu hal yang sering luput diperhatikan karena tandanya tidak selalu terlihat jelas, yaitu saat anak mengalami masalah kesehatan pencernaan.
Sayangnya, pencernaan anak yang kurang nyaman tidak selalu ditandai dengan diare atau sembelit. Dalam keseharian, kondisi ini bisa muncul dalam bentuk yang lebih tidak terlihat. Anak menjadi lebih rewel, maunya digendong terus, sulit makan, mudah menangis, atau sering terbangun di malam hari.
Tantangannya, anak usia dini sering kali belum mampu menjelaskan apa yang mereka rasakan. Alhasil, orang tua pun harus lebih peka membaca berbagai sinyal yang muncul dalam perilaku sehari-hari.
Ternyata Pencernaan dan Otak Anak Saling Terhubung

Dalam sesi diskusi di peluncuran LACTOGROW Digestion Expert Lab, dr. Miza Afrizal Azwir, Sp.A., BMedSci., MKes, menjelaskan bahwa pencernaan memiliki hubungan yang sangat erat dengan berbagai aspek keseharian anak.
Menurut dr. Miza, saluran pencernaan merupakan salah satu organ yang memiliki komunikasi langsung dengan otak. Karena itu, ketika terjadi gangguan pada pencernaan, dampaknya bisa dirasakan ke berbagai aspek lain dalam tubuh.
"Saluran pencernaan memiliki komunikasi langsung dengan otak. Ketika terjadi gangguan pada pencernaan, efeknya bisa memengaruhi mood anak, membuat anak lebih rewel, lebih clingy atau nempel terus, nafsu makan menurun, hingga kualitas tidurnya terganggu," jelas dr. Miza.
Tidak sedikit orang tua yang mengira anak sedang memasuki fase tertentu ketika menjadi lebih sensitif atau mudah marah. Padahal, bisa jadi ada rasa tidak nyaman pada saluran cernanya yang belum disadari.
Dr. Miza menjelaskan bahwa ketika perut terasa kembung atau tidak nyaman, anak cenderung kehilangan nafsu makan. Kondisi tersebut juga dapat membuat tidur menjadi tidak berkualitas karena anak lebih sering terbangun di malam hari. Padahal, tidur memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan fisik maupun perkembangan otak anak.
Satu dari Lima Anak Balita Mengalami Masalah Pencernaan

Masalah pencernaan ternyata bukan kondisi yang jarang terjadi. Berdasarkan tinjauan ilmiah internasional, sekitar satu dari lima anak usia di bawah empat tahun di seluruh dunia mengalami tantangan pencernaan fungsional.
Dalam sesi diskusi, dr. Miza juga menyampaikan bahwa gangguan pencernaan pada anak dapat berdampak pada proses penyerapan gizi. Menurutnya, tantangan orang tua sebenarnya tidak berhenti saat anak berhasil makan. Setelah makanan masuk ke tubuh, masih ada proses panjang yang menentukan apakah nutrisi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh tubuh atau tidak.
"Kadang orang tua merasa anaknya sudah makan banyak dan makannya terlihat baik, tetapi pertumbuhannya belum optimal. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah apakah gizinya terserap dengan baik. Jika saluran pencernaan bermasalah, proses penyerapan nutrisi bisa menjadi tidak maksimal," ujarnya.
Akibatnya, meskipun asupan makanan sudah cukup, tubuh anak mungkin belum mendapatkan manfaat optimal dari gizi yang dikonsumsinya.
Keseimbangan Bakteri Baik Jadi Kunci Pencernaan Sehat
Jika masalah pencernaan cukup umum terjadi pada anak, lalu apa sebenarnya yang menjadi penyebabnya? Menurut dr. Miza, salah satu faktor penting yang memengaruhi kesehatan pencernaan adalah keseimbangan mikrobiota atau bakteri baik yang ada di dalam tubuh.
Menariknya, jumlah mikrobiota dalam tubuh manusia bahkan lebih banyak dibandingkan jumlah sel tubuh itu sendiri. Meski sering dianggap negatif, tidak semua bakteri bersifat merugikan. Justru banyak bakteri baik yang membantu berbagai fungsi tubuh agar berjalan dengan optimal.
"Sebagian besar mikrobiota berada di saluran cerna. Ketika keseimbangan antara bakteri baik dan bakteri yang tidak baik terganggu, maka berbagai gangguan pencernaan dapat muncul," jelas dr. Miza. Karena itu, menjaga keseimbangan mikrobiota menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung kesehatan pencernaan anak.
Memahami Peran Prebiotik dan Probiotik
Saat membahas kesehatan pencernaan, istilah prebiotik dan probiotik sering kali muncul bersamaan. Namun menurut dr. Miza, masih banyak orang tua yang menganggap keduanya sama, padahal memiliki fungsi yang berbeda.
Prebiotik merupakan makanan bagi probiotik. Salah satu sumber prebiotik yang paling mudah ditemukan adalah serat. Prebiotik akan menjadi sumber nutrisi bagi bakteri baik sehingga dapat berkembang dengan optimal di dalam saluran pencernaan. Sementara itu, probiotik merupakan mikroorganisme hidup atau bakteri baik yang membantu menjaga keseimbangan mikrobiota di dalam tubuh.
Menurut dr. Miza, setiap probiotik memiliki fungsi yang berbeda-beda. Karena itu, manfaat probiotik sangat bergantung pada jenis atau strain yang digunakan. "Probiotik bersifat strain spesifik. Tidak semua probiotik memiliki fungsi yang sama. Karena itu penting memilih probiotik yang memang didukung bukti ilmiah yang kuat," jelasnya.
Mengenal L. reuteri yang Banyak Diteliti untuk Kesehatan Pencernaan Anak

Salah satu jenis probiotik yang banyak dibahas dalam acara ini adalah Lactobacillus reuteri atau L. reuteri. Menurut dr. Miza, L. reuteri merupakan salah satu probiotik yang paling banyak diteliti secara klinis untuk kesehatan pencernaan anak.
Menariknya, L. reuteri bukanlah bakteri yang asing bagi tubuh manusia. Probiotik ini sudah dikenalkan sejak awal kehidupan melalui air ketuban dan juga ditemukan dalam ASI. "L. reuteri merupakan salah satu probiotik pertama yang terekspos pada manusia sejak awal kehidupan. Karena itu, L. reuteri menjadi salah satu jenis probiotik yang paling banyak diteliti," paparnya.
Berbeda dengan beberapa jenis bakteri baik lainnya yang hanya bekerja pada area tertentu, L. reuteri dapat ditemukan di berbagai bagian saluran pencernaan, mulai dari mulut, kerongkongan, lambung, hingga usus. Hal inilah yang membuat manfaatnya banyak diteliti untuk berbagai kondisi yang berkaitan dengan kesehatan pencernaan.
Menurut data yang dipaparkan dr. Miza, L. reuteri telah diteliti melalui lebih dari 290 publikasi klinis yang melibatkan sekitar 25.000 individu dari berbagai kelompok usia. Berbagai penelitian tersebut menunjukkan bahwa L. reuteri dapat membantu menjaga keseimbangan mikrobiota dan mendukung kenyamanan pencernaan sehingga penyerapan gizi dapat berlangsung lebih optimal.
Dr. Miza juga menjelaskan bahwa berbagai penelitian menunjukkan anak yang memiliki jumlah L. reuteri yang baik di saluran pencernaannya cenderung memiliki mood yang lebih baik, gangguan pencernaan yang lebih rendah, serta nafsu makan yang lebih baik.
Kebiasaan Makan yang Membantu Anak Lebih Nyaman Saat Makan

Selain memperhatikan asupan yang mendukung kesehatan pencernaan, dr. Miza juga mengingatkan bahwa kebiasaan makan sehari-hari di rumah memiliki peran penting dalam membentuk hubungan anak dengan makanan.
Menurutnya, anak belajar terutama melalui proses mencontoh. Karena itu, makan bersama keluarga dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk melihat langsung kebiasaan makan orang-orang di sekitarnya.
"Anak belajar dari melihat. Ketika mereka melihat anggota keluarga mencoba berbagai makanan, anak juga akan lebih mudah meniru kebiasaan tersebut," jelasnya. Karena itu, jika memungkinkan, orang tua dianjurkan meluangkan setidaknya satu waktu makan bersama keluarga setiap hari.
Di sisi lain, dr. Miza mengingatkan agar anak tidak dijadikan pusat perhatian saat makan. Situasi ketika anak duduk sendiri lalu disuapi sambil diperhatikan banyak orang justru bisa membuat waktu makan terasa menegangkan bagi anak.
Saat GTM, Memaksa Anak Makan Bukan Jawabannya

Saat anak mengalami GTM atau Gerakan Tutup Mulut, tidak sedikit orang tua yang merasa khawatir hingga akhirnya memaksa anak untuk makan. Padahal menurut dr. Miza, pendekatan ini justru dapat memperburuk kondisi.
Ia menjelaskan bahwa pengalaman tidak menyenangkan yang terjadi berulang kali saat makan dapat memicu peningkatan hormon stres atau kortisol. "Ketika pengalaman makan selalu menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tubuh akan memproduksi hormon stres atau kortisol. Dalam kondisi ini, anak justru semakin sulit menikmati makanan," jelas dr. Miza.
Tingginya hormon kortisol tidak hanya memengaruhi nafsu makan, tetapi juga dapat berdampak pada sistem kekebalan tubuh dan berbagai fungsi lain, termasuk kesehatan pencernaan. Dibandingkan memaksa anak makan, orang tua perlu mencari tahu penyebab GTM yang dialami anak, termasuk kemungkinan adanya ketidaknyamanan pada saluran pencernaan.
Pengalaman Anggi Marito Menghadapi Anak yang Sering Kembung

Dalam kesempatan yang sama, penyanyi sekaligus ibu dari satu anak, Anggi Marito, turut berbagi pengalamannya sebagai orang tua. Ia mengaku pernah menghadapi fase ketika anaknya sering mengalami perut kembung, sulit makan, dan kerap terbangun di malam hari.
"Anak saya dulu sering kembung. Malam bisa bangun tiga sampai empat kali. Awalnya saya juga tidak langsung mengaitkan GTM atau rewel dengan pencernaan. Tapi setelah banyak mencari informasi dan berdiskusi dengan dokter, saya jadi tahu bahwa ternyata kondisi tersebut memang bisa berhubungan dengan kesehatan pencernaan," cerita Anggi.
Sejak saat itu, Anggi mengaku menjadi lebih aktif mencari informasi mengenai kesehatan pencernaan anak, termasuk memahami peran probiotik dalam mendukung keseimbangan saluran cerna. Ia mengatakan bahwa salah satu jenis probiotik yang cukup sering ia dengar, baik dari dokter anak maupun sesama orang tua, adalah L. reuteri.
"Saya sering mencari informasi dan berdiskusi dengan dokter maupun sesama moms. Dari situ saya jadi cukup familiar dengan L. reuteri. Ketika tahu LACTOGROW mengandung L. reuteri dari BioGaia dan tanpa tambahan sukrosa, saya merasa lebih tenang karena ini sesuai dengan yang saya cari untuk mendukung kebutuhan harian anak," ujar Anggi.
Menurutnya, sebagai orang tua, rasa tenang sering kali datang ketika kita memahami alasan di balik pilihan yang diberikan kepada anak. Karena itu, selain memperhatikan variasi makanan sehari-hari, Anggi juga berupaya memilih asupan yang dapat mendukung kesehatan pencernaan sebagai bagian dari tumbuh kembang anak secara keseluruhan.
Pengalaman inilah yang membuat Anggi semakin menyadari bahwa menjaga pencernaan sehat bukan hanya tentang mengatasi keluhan saat muncul, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kenyamanan dan kualitas hidup anak setiap hari.
Komitmen LACTOGROW Mendukung Pencernaan Sehat Anak

Dalam kesempatan tersebut, Vera Gozali, Category Marketing Manager PT Nestlé Indonesia, menjelaskan bahwa orang tua saat ini semakin teliti dan kritis dalam memilih asupan gizi untuk anak. Karena itu, Nestlé terus melakukan inovasi berbasis sains untuk menghadirkan dukungan nutrisi yang relevan dengan kebutuhan anak.
"Orang tua saat ini semakin teliti dan kritis dalam mencari yang terbaik untuk anaknya. Kami percaya bahwa tumbuh kembang optimal dimulai dari pencernaan yang sehat. Karena itu LACTOGROW terus berkomitmen menghadirkan inovasi berbasis sains untuk mendukung pencernaan sehat si kecil," ujar Vera.
LACTOGROW sendiri merupakan satu-satunya susu pertumbuhan di Indonesia yang mengandung L. reuteri DSM 17938 di bawah lisensi BioGaia AB dan diformulasikan dengan 0 gram sukrosa. Menurut Vera, formulasi tersebut menjadi bagian dari komitmen LACTOGROW untuk mendukung pencernaan sehat anak sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Sementara itu, Direktur PT Nestlé Indonesia, Mrinalini Mankotia, menegaskan bahwa Nestlé memiliki tujuan untuk membantu menghadirkan generasi Indonesia yang lebih sehat dan bahagia melalui kekuatan ilmu pengetahuan dan riset di bidang pangan dan gizi.
Ia juga menyampaikan bahwa pencernaan merupakan salah satu perhatian utama orang tua Indonesia, sehingga edukasi mengenai kesehatan pencernaan menjadi semakin penting.
Serunya Menjelajahi Dunia Pencernaan di LACTOGROW Digestion Expert Lab

Sebagai bagian dari peringatan Hari Kesehatan Pencernaan Sedunia, LACTOGROW menghadirkan LACTOGROW Digestion Expert Lab, pengalaman edukatif imersif pertama di Indonesia yang dirancang khusus untuk membantu orang tua dan anak memahami dunia pencernaan dengan cara yang menyenangkan.
Melalui teknologi imersif, zona edukasi interaktif, stimulasi bermain, serta diskusi bersama dokter spesialis anak, pengunjung diajak melihat lebih dekat bagaimana pencernaan bekerja dan mengapa perannya sangat penting bagi tumbuh kembang anak.
Menurut Vera, ada tiga manfaat utama yang bisa diperoleh keluarga saat berkunjung ke Digestion Expert Lab. Pertama, orang tua bisa mendapatkan edukasi mengenai kesehatan pencernaan anak dengan cara yang mudah dipahami. Kedua, anak-anak dapat menikmati berbagai aktivitas yang menyenangkan sekaligus mendapatkan stimulasi sesuai usia mereka. Ketiga, tersedia berbagai penawaran dan keuntungan menarik bagi pengunjung yang ingin mengenal lebih jauh produk LACTOGROW.
Selain itu, LACTOGROW juga memperkenalkan fitur digital terbaru bernama Digestion Poop Check, sebuah alat edukatif yang membantu orang tua memahami pola BAB anak sebagai salah satu indikator kesehatan pencernaan sehari-hari. Fitur ini dapat diakses melalui Lactoclub.co.id, termasuk oleh orang tua yang tidak berada di Jakarta maupun Makassar.
Bagi Parents yang ingin mengajak si kecil belajar tentang pencernaan dengan cara yang seru, LACTOGROW Digestion Expert Lab hadir di Kota Kasablanka Jakarta pada 5–7 Juni 2026 dan akan hadir di Transmart Makassar pada 26–28 Juni 2026.
Melalui edukasi yang lebih dekat dengan keseharian keluarga, diharapkan semakin banyak orang tua yang memahami bahwa pencernaan sehat bukan hanya soal BAB yang lancar, tetapi juga berkaitan dengan nafsu makan, kualitas tidur, suasana hati, hingga penyerapan gizi yang mendukung tumbuh kembang optimal anak.