Anak Susah Diajak Cerita Sepulang Sekolah? Ternyata Ini Alasannya!

Anak Susah Diajak Cerita Sepulang Sekolah? Ternyata Ini Alasannya!
Anak Susah Diajak Cerita Sepulang Sekolah? Ternyata Ini Alasannya!

Baru saja dijemput dari sekolah, Parents mungkin langsung penasaran dengan kegiatan si Kecil seharian. Mulai dari apa yang dipelajari di kelas, bermain dengan siapa, sampai kejadian menarik yang dialaminya.

Tapi begitu ditanya, "Tadi di sekolah ngapain aja?" jawabannya cuma, "Nggak tahu." Ditanya lagi main sama siapa, jawabannya tetap singkat.

Padahal, saat sore hari sedang bersantai atau menjelang tidur, anak justru bisa tiba-tiba bercerita panjang lebar tentang pengalamannya di sekolah. Pernah mengalami hal serupa, Parents?

Ternyata, respons anak yang berbeda ini bisa berkaitan dengan kondisi emosional dan kebutuhannya setelah seharian beraktivitas, lho!

Dalam acara peluncuran biskuit Lexus kemasan spesial hasil kolaborasi dengan Mofusand, Anastasia Satriyo, Psikolog Anak dan Certified Play Therapist, menjelaskan bahwa anak juga bisa mengalami kelelahan mental akibat berbagai aktivitas dan tuntutan yang dihadapinya sepanjang hari.

Karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami kapan anak membutuhkan waktu tenang dan kapan mereka sudah lebih siap diajak berkomunikasi.

Kenapa Anak Susah Diajak Cerita Sepulang Sekolah?

Bagi orang dewasa, sekolah mungkin terlihat sebagai rutinitas biasa. Anak berangkat pagi, mengikuti pelajaran, bermain bersama teman, lalu pulang ke rumah.

Namun, bagi anak, ada banyak hal yang harus dihadapi sepanjang hari. Selain mengikuti pelajaran dan mengerjakan tugas, mereka juga perlu berinteraksi dengan guru, teman sekelas, hingga menghadapi berbagai situasi sosial.

Belum lagi jika anak sedang mengalami kesulitan dengan teman atau harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah yang baru.

Anastasia menjelaskan bahwa berbagai aktivitas tersebut dapat membuat anak mengalami kondisi overwhelmed, yaitu ketika mereka merasa kewalahan menghadapi banyaknya tuntutan atau pengalaman sekaligus.

Ia mengibaratkan kondisi tersebut dengan orang dewasa yang baru saja menyelesaikan rapat intens, tetapi langsung dibanjiri pertanyaan.

Bayangkan, Parents baru selesai menghadapi pekerjaan yang melelahkan. Belum sempat beristirahat, seseorang langsung datang dan bertanya panjang lebar tentang kegiatan yang baru saja dilakukan. Rasanya mungkin ingin menjawab, "Sebentar, aku mau istirahat dulu." Nah, anak juga bisa merasakan hal serupa setelah pulang sekolah. "Anak-anak juga sama, otak mereka juga butuh waktu downtime, tenang," jelas Anastasia.

Itulah mengapa, ketika langsung ditanya tentang pengalaman di sekolah, sebagian anak mungkin belum siap memberikan jawaban panjang. Bukan karena mereka sengaja menyembunyikan sesuatu dari orang tua. Bisa jadi, mereka sedang membutuhkan waktu untuk beristirahat sebelum kembali berinteraksi.

Anak Butuh Downtime agar Lebih Rileks Setelah Sekolah

Kalau anak terlihat lelah atau kurang tertarik diajak mengobrol sepulang sekolah, Parents bisa memberikannya kesempatan untuk beristirahat terlebih dahulu. Anastasia menjelaskan bahwa downtime merupakan waktu ketika anak bisa menikmati suasana santai tanpa terus-menerus menghadapi tuntutan.

Misalnya, setelah sampai di rumah, anak diberi kesempatan untuk duduk santai, menikmati makanan, atau melakukan aktivitas ringan yang disukainya. Di waktu tersebut, orang tua juga bisa mengurangi kebiasaan terburu-buru mengingatkan anak tentang berbagai hal yang harus segera dilakukan.

Menurut Anastasia, kehidupan sehari-hari, terutama bagi keluarga yang tinggal di kota besar, sering kali membuat orang tua tanpa sadar terus memburu anak dengan jadwal. Mulai dari harus cepat bersiap, segera berangkat sekolah, menyelesaikan PR, hingga mengikuti kegiatan tambahan. Padahal, anak juga memerlukan kesempatan untuk menikmati waktu yang lebih tenang.

Namun, memberikan downtime bukan berarti membiarkan anak beraktivitas tanpa batas. Orang tua tetap bisa membuat kesepakatan mengenai durasi istirahatnya. Misalnya, dengan memberi tahu bahwa waktu santai akan selesai ketika jarum jam menunjukkan angka tertentu. Untuk anak yang sudah bisa memahami pilihan waktu, Parents juga bisa mengajaknya menentukan kapan aktivitas tersebut akan berakhir.

Dengan begitu, anak tetap memiliki kesempatan beristirahat sambil belajar mengikuti rutinitas yang sudah disepakati.

Anastasia juga mengingatkan bahwa tujuannya bukan membuat anak sama sekali tidak mengalami stres. Yang perlu diperhatikan adalah adanya kesempatan untuk kembali rileks setelah menghadapi aktivitas yang melelahkan.

Kesempatan seperti ini sebaiknya menjadi bagian dari keseharian anak, bukan hanya diberikan ketika mereka sudah terlihat sangat kewalahan.

Cara Mengajak Anak Bercerita Tanpa Membuatnya Merasa Tertekan

Setelah anak memiliki kesempatan untuk beristirahat, orang tua bisa mulai membuka percakapan dengan cara yang lebih santai. Anastasia menjelaskan bahwa situasi ketika anak tidak sedang menghadapi tuntutan dapat membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman untuk berinteraksi.

Hal ini juga terlihat dari pengalaman seorang ibu yang memiliki anak hampir berusia enam tahun. Ia bercerita bahwa anaknya sering menjawab singkat ketika ditanya tentang kegiatan sekolah saat dijemput. Namun, ketika mereka sedang bercanda atau menikmati waktu santai pada sore hari, anak justru bisa bercerita banyak hal. Bahkan, pertanyaan yang sebelumnya tidak dijawab akhirnya bisa dijelaskan dengan lebih antusias.

Dari pengalaman tersebut, ada beberapa cara yang bisa Parents coba agar percakapan dengan anak terasa lebih natural:

1. Beri jeda sebelum mengajukan pertanyaan. Kalau anak terlihat lelah setelah sekolah, biarkan ia beristirahat terlebih dahulu.

2. Mulai dari obrolan ringan. Parents bisa mengomentari aktivitas yang sedang dilakukan bersama tanpa langsung meminta anak menceritakan seluruh kegiatannya.

3. Pilih waktu ketika anak lebih santai. Misalnya, saat sedang makan bersama, menikmati waktu sore, atau menjelang tidur.

4. Dengarkan ketika anak mulai bercerita. Tidak perlu terburu-buru menyela atau mengarahkan percakapan ke hal lain.

Meski begitu, setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada yang senang langsung bercerita sepulang sekolah, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Parents bisa mengamati kapan si Kecil terlihat paling nyaman untuk membuka percakapan.

Hindari Kebiasaan Mengoreksi Anak Saat Sedang Bersantai

Ada satu kebiasaan yang juga disoroti Anastasia, yaitu kecenderungan orang tua menggunakan waktu santai untuk membicarakan kesalahan anak. Misalnya, ketika sedang menikmati waktu bersama, orang tua tiba-tiba mengungkit kejadian saat anak bertengkar dengan adiknya atau menegur perilaku yang dilakukan sebelumnya.

Anastasia memahami bahwa hal ini bisa terjadi karena orang tua memiliki banyak kesibukan. Ketika akhirnya punya kesempatan mengobrol, ada keinginan untuk langsung menyampaikan semua hal yang perlu dibicarakan. "Memang sih, sebagai ibu-ibu bawaannya pengen mengoreksi, ya," ungkapnya.

Namun, menurut Anastasia, orang tua perlu belajar menahan diri dan memilih waktu yang lebih tepat untuk membahas persoalan tersebut.

Jika anak sedang menikmati waktu santai, berikan kesempatan agar ia benar-benar merasakan suasana yang menyenangkan terlebih dahulu. Pembicaraan mengenai kesalahan atau hal yang perlu diperbaiki tetap bisa dilakukan setelahnya, ketika anak sudah lebih siap.

Orang tua juga dapat memberikan pemberitahuan sebelumnya jika ada hal yang ingin didiskusikan. Dengan begitu, anak tidak selalu mengasosiasikan setiap kesempatan bersama orang tua dengan pertanyaan, koreksi, atau tuntutan.

Saat Anak Tantrum atau Mudah Emosional, Apa yang Perlu Diperhatikan?

Selain sulit diajak bercerita, sebagian orang tua mungkin juga menghadapi anak yang mudah marah, menangis, atau sulit diajak bekerja sama. Lalu, bagaimana cara menjaga interaksi tetap positif ketika kondisi emosi anak sedang tidak stabil?

Anastasia menjelaskan bahwa orang tua perlu memahami kebutuhan anak sesuai dengan tahapan usianya. Pada anak usia dua hingga tiga tahun, misalnya, kemampuan komunikasi mereka masih berkembang. Anak mungkin belum mampu menjelaskan dengan jelas apa yang sedang dirasakan atau dibutuhkannya.

Sementara itu, anak usia lima, tujuh, atau delapan tahun umumnya sudah memiliki kemampuan komunikasi yang lebih berkembang, sehingga orang tua bisa mulai membangun kebiasaan berinteraksi dan membuat kesepakatan dalam rutinitas sehari-hari.

Menurut Anastasia, orang tua juga perlu meningkatkan kepekaan terhadap perubahan emosi anak. Jangan selalu menunggu sampai anak benar-benar kewalahan atau emosinya sudah memuncak sebelum memberikan kesempatan untuk beristirahat.

Ketika orang tua terbiasa mendampingi keseharian anak, mereka bisa lebih mengenali situasi yang membuat anak mulai lelah, membutuhkan jeda, atau ingin ditemani. Anastasia juga mengingatkan agar orang tua tidak berharap anak selalu mudah diatur.

Setiap anak memiliki kebutuhan dan cara menikmati aktivitas yang berbeda. Sesuatu yang menurut orang tua menyenangkan belum tentu dirasakan sama oleh anak. Karena itu, orang tua perlu memberi ruang untuk memahami apa yang sebenarnya membuat anak merasa nyaman.

Emosi Orang Tua Juga Bisa Memengaruhi Suasana di Rumah

Saat membicarakan emosi anak, Anastasia turut menyoroti kondisi emosional orang tua. Menurutnya, anak juga dapat merasakan perubahan suasana hati orang dewasa di sekitarnya.

Misalnya, suasana rumah ketika orang tua sedang terburu-buru dan menghadapi banyak pekerjaan tentu dapat terasa berbeda dibandingkan ketika seluruh anggota keluarga sedang menikmati akhir pekan dengan lebih santai. Anastasia bahkan menggunakan pengalamannya sendiri untuk menggambarkan bagaimana suasana emosional anggota keluarga dapat memengaruhi atmosfer di rumah.

Hal ini perlu menjadi perhatian karena orang tua juga sering menghadapi berbagai tekanan sepanjang hari. Ada kalanya ibu merasa lelah, mudah tersinggung, atau kesulitan memberikan respons yang tenang ketika anak sedang membutuhkan perhatian.

Anastasia mengingatkan bahwa orang tua perlu memiliki kesadaran untuk mengatur waktu dan energinya sendiri. Ketika sedang lelah, Parents bisa mempertimbangkan kapan perlu beristirahat dan bagaimana mengatur kegiatan agar tetap memiliki kesempatan berinteraksi dengan anak. Dengan begitu, menjaga kedekatan dengan anak tidak selalu dilakukan dengan memaksakan diri ketika kondisi fisik dan emosional sudah terlalu terkuras.

Orang Tua Juga Bisa Kelelahan, Bagaimana Tetap Punya Waktu untuk Anak?

Tantangan lain muncul ketika orang tua sebenarnya ingin menghabiskan waktu bersama anak, tetapi energinya sudah habis untuk menyelesaikan rutinitas sehari-hari.

Kondisi ini juga dialami seorang ibu yang memiliki dua anak laki-laki berusia 7 dan 10 tahun. Ia bercerita bahwa sejak kecil, kedua anaknya sudah terbiasa melakukan berbagai aktivitas bersama keluarga, mulai dari bermain hingga merawat hewan peliharaan.

Namun, setelah anak-anak memasuki usia sekolah, rutinitas keluarga semakin padat. Jadwal antar-jemput sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler membuatnya harus bolak-balik sepanjang hari. Ketika sore tiba, ia sudah merasa kelelahan, sementara anak-anak masih bersemangat mengajaknya bermain. Bahkan, anaknya pernah mengeluh karena sang ibu kini lebih sering mengatakan capek dibandingkan dulu.

Menanggapi kondisi tersebut, Anastasia menjelaskan bahwa setiap keluarga mempunyai situasi dan keterbatasan yang berbeda. Karena persoalan utamanya adalah energi orang tua yang sudah terkuras, solusi yang diperlukan juga berkaitan dengan cara mengatur energi.

"Jadi kan kondisi setiap keluarga, setiap ibu, beda-beda. Tadi tahu bahwa isunya adalah energi kita nggak cukup nih," jelas Anastasia.

Salah satu strategi yang disarankannya adalah memanfaatkan support system atau bantuan dari orang-orang yang dipercaya. Misalnya, orang tua bisa bergantian mengantar atau menjemput anak dengan anggota keluarga maupun orang terdekat.

Pekerjaan rumah tangga juga bisa disederhanakan ketika memungkinkan. Sebagai contoh, menyiapkan makanan yang tinggal dihangatkan atau meminta bantuan untuk membersihkan rumah.

Tujuannya agar orang tua tidak menghabiskan seluruh energinya untuk menyelesaikan pekerjaan harian, sehingga masih memiliki kesempatan menikmati kebersamaan dengan anak.

Anastasia menekankan bahwa pekerjaan tertentu mungkin dapat dibantu oleh orang lain, tetapi pengalaman kebersamaan anak dengan orang tuanya tetap perlu diusahakan. Tentu saja, setiap keluarga perlu menyesuaikannya dengan kondisi, kemampuan, dan bantuan yang tersedia.

Kalau Sedang Capek, Bolehkah Orang Tua Mengatakannya kepada Anak?

Parents mungkin pernah merasa bersalah karena terlalu sering menjawab, "Mama capek," ketika anak mengajak bermain. Menurut Anastasia, orang tua boleh menjelaskan dengan jujur ketika sedang kelelahan.

Namun, jika anak terus-menerus menerima jawaban yang sama tanpa ada usaha mencari waktu bersama, lama-kelamaan ia mungkin menjadi enggan menyampaikan keinginannya.

Karena itu, orang tua bisa mencoba memberikan penjelasan sekaligus menunjukkan bahwa kebutuhan anak tetap diperhatikan. Misalnya, "Mama hari ini capek karena harus bolak-balik jemput sekolah. Mama mau atur jadwal dulu, ya, supaya nanti kita bisa main bersama."

Jika belum memungkinkan melakukannya dalam waktu dekat, orang tua bisa merencanakan aktivitas bersama untuk minggu atau bulan berikutnya. Dengan begitu, anak tetap mendapatkan pesan bahwa keinginannya didengar dan orang tua sedang berusaha menyediakan waktu untuknya.

Hal ini juga berkaitan dengan konsep good enough parent yang dijelaskan Anastasia. Orang tua tidak harus mampu melakukan semuanya dengan sempurna. Yang lebih realistis adalah memahami keterbatasan diri sambil tetap mengusahakan hubungan yang hangat dengan anak.

Anastasia juga menyarankan agar orang tua yang memiliki lebih dari satu anak mempertimbangkan waktu khusus secara bergantian atau one-on-one time. Pasalnya, meskipun memiliki usia berdekatan atau jenis kelamin yang sama, setiap anak bisa mempunyai minat yang berbeda.

Ada anak yang senang duduk santai, sementara saudaranya lebih suka berkeliling atau melakukan aktivitas fisik. Menghabiskan waktu secara bergantian bisa membantu orang tua menyesuaikan aktivitas dengan minat dan kebutuhan masing-masing anak.

Kebiasaan membangun komunikasi ini juga tetap relevan ketika anak mulai beranjak remaja. Anastasia mengingatkan bahwa meskipun remaja semakin senang menghabiskan waktu bersama teman, mereka masih membutuhkan interaksi dengan orang tua.

Jadi, Parents nggak harus selalu siap mengajak anak ngobrol atau bermain setiap saat. Mulailah dengan memahami kapan anak membutuhkan perhatian dan kapan diri sendiri perlu beristirahat. Ketika keduanya punya ruang untuk merasa lebih nyaman, percakapan dan kebersamaan pun bisa berlangsung dengan lebih natural.

Follow Ibupedia Instagram