Aplikasi Kesehatan Halodoc Sudah 10 Tahun, Kini Makin Lengkap

Aplikasi Kesehatan Halodoc Sudah 10 Tahun, Kini Makin Lengkap
Aplikasi Kesehatan Halodoc Sudah 10 Tahun, Kini Makin Lengkap

Pernah nggak sih Bu, anak tiba-tiba demam tengah malam sementara stok obat di rumah habis? Atau orang tua mendadak bilang obat rutinnya tinggal sedikit saat kita lagi sibuk meeting dan ngurus banyak hal sekaligus?

Dulu situasi seperti itu sering bikin panik. Mau cari dokter bingung, mau ke rumah sakit rasanya repot harus menembus macet, belum lagi kalau harus antre panjang atau keliling apotek cari obat yang belum tentu tersedia. Namun, setelah pandemi banyak keluarga Indonesia mulai terbiasa mencari bantuan medis lewat layanan digital. Tanpa terasa, salah satu aplikasi kesehatan yang cukup sering jadi andalan masyarakat Indonesia ternyata sudah menemani selama satu dekade.

Tahun ini Halodoc resmi merayakan ulang tahun ke-10. Dalam perjalanan tersebut, Halodoc bukan cuma berkembang sebagai layanan konsultasi dokter online, tapi juga membangun ekosistem layanan kesehatan digital yang makin luas untuk pasien, tenaga kesehatan, hingga keluarga Indonesia.

Perjalanan ini juga bukan sesuatu yang instan. Di balik berbagai fitur yang sekarang terasa praktis, ada cerita panjang tentang bagaimana teknologi perlahan mengubah cara masyarakat Indonesia mengakses layanan kesehatan.

Dari Sulit Cari Dokter Sampai Lahirnya Halodoc

Halodoc sendiri berdiri pada tahun 2016 dengan misi sederhana, yaitu menyederhanakan akses kesehatan di Indonesia. Saat itu, tantangan akses layanan kesehatan memang masih besar. Jumlah dokter terbatas, distribusinya belum merata, dan akses obat juga tidak selalu mudah.

Alfonsius Timboel, Chief Operating Officer Halodoc, mengatakan bahwa sejak awal Halodoc memang hadir untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. “Sepuluh tahun lalu, kami memulai Halodoc dari pertanyaan sederhana, mengapa akses layanan kesehatan belum merata bagi banyak orang Indonesia? Hari ini, kami bersyukur dapat melayani jutaan masyarakat Indonesia, mulai dari konsultasi dokter, pembelian obat, layanan laboratorium, hingga pemantauan kesehatan keluarga. Milestone terbesar kami bukanlah peluncuran produk, melainkan momen-momen ketika teknologi benar-benar membantu kehidupan masyarakat,” jelas Alfonsius.

Ia juga menceritakan bahwa di masa awal berdiri, mencari dokter untuk bergabung ke layanan telemedicine bukan hal mudah. Konsep konsultasi digital masih terasa asing. Bahkan banyak tenaga kesehatan yang masih bertanya-tanya apakah masyarakat benar-benar akan mau berkonsultasi lewat chat atau video call.

Di sisi lain, masyarakat juga masih skeptis. Banyak yang mempertanyakan apakah konsultasi dokter online benar-benar efektif untuk membantu pasien. Namun perlahan, kebutuhan masyarakat mulai berubah. Halodoc terus berkembang dengan mendengarkan masukan pengguna, pasien, dokter, hingga tenaga kesehatan lainnya.

Awalnya, layanan utama Halodoc memang fokus pada telekonsultasi dan pembelian obat online. Bahkan pada masa awal, sistem konsultasinya masih dihitung per menit. Tapi seiring waktu, layanan kesehatan digital mulai semakin relevan dengan gaya hidup masyarakat modern yang membutuhkan akses cepat dan praktis.

Pandemi Jadi Titik Balik Layanan Kesehatan Digital

Pandemi COVID-19 kemudian menjadi salah satu momen yang paling membekas dalam perjalanan Halodoc. Saat kasus pertama COVID-19 mulai muncul di Indonesia pada 2020, lonjakan kebutuhan konsultasi dokter online langsung meningkat drastis. Halodoc pun harus bergerak cepat menyesuaikan infrastruktur dan layanan mereka.

Alfonsius mengaku masa itu menjadi salah satu periode paling intens selama ia bekerja di Halodoc. “Saya ingat sekali waktu awal pandemi, kami sampai meeting crisis management jam dua atau tiga pagi untuk memikirkan bagaimana caranya meningkatkan kapasitas dokter, memastikan ketersediaan obat, sampai menjaga harga masker tetap stabil. Banyak hal kecil yang mungkin tidak terlihat dari luar, tapi saat itu benar-benar terasa bahwa teknologi kesehatan bisa membantu masyarakat dalam situasi darurat,” paparnya.

Di masa pandemi, Halodoc juga menghadirkan berbagai inovasi seperti layanan drive thru vaksin COVID-19 dan tes COVID-19 untuk membantu masyarakat mendapatkan akses kesehatan yang lebih aman dan praktis.

Menariknya, perubahan perilaku masyarakat ternyata tidak berhenti setelah pandemi selesai. Banyak orang yang akhirnya sadar bahwa layanan kesehatan digital memang memudahkan kehidupan sehari-hari.

Fibriyani Elastria, Chief Marketing Officer Halodoc, menjelaskan bahwa pandemi menjadi titik penting yang membuat masyarakat semakin terbuka terhadap telemedicine. “Awalnya banyak yang skeptis. Orang bertanya, memang bisa hanya lewat chat lalu sembuh? Tapi pandemi membuat masyarakat mencoba, dan ternyata mereka merasa terbantu. Bahkan setelah pandemi selesai, sebagian besar pengguna tetap melanjutkan konsultasi dan membeli obat melalui Halodoc,” ujar Fibriyani. Menurut data internal Halodoc, sebanyak 76% pengguna tetap menggunakan layanan mereka setelah pandemi berakhir.

Halodoc Kini Bermanfaat Bukan Cuma Saat Sakit, Tapi Juga Untuk Hidup Lebih Sehat

Dari sini, Halodoc juga melihat bahwa kebutuhan masyarakat mulai berkembang. Tidak lagi hanya soal berobat saat sakit, tapi juga bagaimana menjaga kesehatan secara preventif.

Karena itu, Halodoc mulai menghadirkan layanan yang mendukung gaya hidup sehat seperti Haloskin dan Halofit. Perubahan ini sejalan dengan kebiasaan masyarakat pascapandemi yang semakin sadar pentingnya olahraga, medical check up, pola makan sehat, hingga pemantauan kesehatan secara rutin.

Menurut Alfonsius, Halodoc ingin membangun pola pikir baru bahwa aplikasi kesehatan bukan hanya dibuka saat seseorang sakit, tetapi juga saat ingin hidup lebih sehat. Hal ini juga terlihat dari semakin kompleksnya kebutuhan pengguna. Banyak masyarakat kini lebih aktif mencari informasi kesehatan sehari-hari, mulai dari pola makan, olahraga, hingga kesehatan mental dan kualitas hidup secara keseluruhan.

HILDA, Asisten Digital Kesehatan yang Sudah Dipakai Jutaan Orang

Kini, Halodoc juga mulai memperkuat penggunaan teknologi AI dalam layanan kesehatan mereka melalui HILDA, asisten digital kesehatan milik Halodoc yang diluncurkan pada Desember 2025. Dalam waktu kurang dari enam bulan sejak diluncurkan, HILDA sudah mencatat lebih dari 2 juta sesi interaksi pengguna. Mayoritas pengguna memanfaatkan HILDA untuk mencari dokter yang tepat, bertanya soal gejala kesehatan sehari-hari, informasi obat, hingga self medication.

Berbeda dengan AI biasa yang hanya memberikan informasi umum, HILDA dirancang untuk membantu pengguna mengambil tindakan yang tepat sesuai kebutuhan layanan kesehatan di Indonesia. Misalnya ketika pengguna bingung harus berkonsultasi ke dokter spesialis apa, mencari informasi interaksi obat, atau ingin membeli obat tertentu, HILDA dapat langsung membantu mengarahkan ke solusi yang tersedia di ekosistem Halodoc.

Alfonsius menjelaskan bahwa pengembangan AI kesehatan seperti HILDA tetap dilakukan dengan pengawasan ketat agar sesuai dengan konteks medis di Indonesia. “Kami mengembangkan AI berdasarkan kebutuhan masyarakat Indonesia, termasuk literatur kesehatan, regulasi, hingga referensi obat yang beredar di Indonesia. Jadi bukan sekadar memberikan informasi, tapi juga membantu masyarakat mendapatkan solusi yang tepat,” jelasnya.

Meski begitu, Halodoc menegaskan bahwa teknologi AI tidak dibuat untuk menggantikan dokter atau tenaga kesehatan. dr. Irwan Heriyanto, MARS, Chief Medical Officer Halodoc, mengatakan bahwa HILDA tetap berfungsi sebagai support system dan seluruh pengembangannya diawasi oleh tenaga medis. “Tidak ada bagian dari inovasi kami yang dirancang untuk menggantikan peran tenaga kesehatan. Teknologi ini hadir untuk memperkuat layanan yang mereka berikan dan membantu perjalanan medis pasien menjadi lebih mudah,” jelas dr. Irwan.

Ia juga menambahkan bahwa pengembangan HILDA dilakukan dengan berbagai simulasi dan pengawasan agar informasi medis yang diberikan tetap akurat dan sesuai regulasi di Indonesia.

Sekarang Halodoc Bisa Diakses Lewat WhatsApp

Menariknya lagi, sekarang HILDA juga sudah hadir melalui WhatsApp lewat layanan Halodoc on WhatsApp. Langkah ini dilakukan karena Halodoc melihat bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang sebenarnya membutuhkan layanan kesehatan digital, tetapi memiliki keterbatasan tertentu. Ada yang tidak ingin memenuhi memori ponsel dengan terlalu banyak aplikasi, ada juga yang lebih nyaman menggunakan WhatsApp dibanding aplikasi baru.

Menurut data We Are Social 2025, sekitar 91% pengguna internet Indonesia menggunakan WhatsApp dalam kehidupan sehari-hari. Melihat kebiasaan tersebut, Halodoc akhirnya membawa layanan kesehatan mereka lebih dekat ke platform yang sudah akrab digunakan masyarakat.

Melalui Halodoc on WhatsApp, pengguna bisa bertanya seputar kesehatan, membeli obat, hingga mendapatkan rekomendasi layanan medis tanpa perlu download aplikasi atau login terlebih dahulu. Selain itu, layanan ini juga menawarkan beberapa kemudahan seperti pembayaran lewat QRIS, jaminan produk asli, hingga pengiriman obat dalam waktu satu jam.

Fibriyani mengatakan bahwa fitur ini diharapkan bisa membantu lebih banyak caregiver keluarga, terutama para ibu yang sehari-hari harus mengurus banyak kebutuhan kesehatan anggota keluarga sekaligus. “Misi Halodoc adalah menyederhanakan akses kesehatan untuk semua orang. Kami ingin layanan kesehatan bisa hadir di titik di mana masyarakat memang sudah berada, termasuk lewat WhatsApp yang sudah menjadi bagian dari keseharian mereka,” ujarnya.

Ia juga memberikan contoh situasi yang sangat relate dengan keseharian ibu-ibu, misalnya saat sedang meeting lalu tiba-tiba diminta orang tua membeli obat rutin mereka. Dalam kondisi multitasking seperti itu, layanan yang cepat dan praktis tentu terasa sangat membantu.

Family Care, Fitur Baru yang Akan Sangat Membantu Ibu

Halodoc juga menemukan fakta menarik tentang perilaku penggunanya. Sebanyak 65% pengguna Halodoc ternyata merupakan caregiver yang mayoritas adalah perempuan atau ibu. Bahkan berdasarkan Indonesia Health Insights Report 2025, sebanyak 74% ibu di Indonesia mengelola kesehatan tiga anggota keluarga atau lebih, sementara hanya 17% waktu mereka yang dipakai untuk mengurus kesehatan diri sendiri. Karena itulah, Halodoc juga meluncurkan fitur baru bernama Family Care.

Lewat fitur ini, pengguna bisa membuat profil terpisah untuk setiap anggota keluarga dalam satu akun. Jadi riwayat kesehatan anak, pasangan, orang tua, hingga anggota keluarga lainnya bisa tercatat lebih rapi dan terorganisir.

Fitur Family Care memungkinkan pengguna melihat riwayat konsultasi, hasil laboratorium, jadwal vaksinasi, medicine reminder, hingga rekomendasi kesehatan yang lebih personal untuk masing-masing anggota keluarga.

Buat ibu yang sehari-hari harus juggling banyak hal sekaligus, fitur seperti ini tentu terasa membantu. Apalagi sering kali urusan kesehatan keluarga memang bercampur jadi satu dan akhirnya membuat riwayat medis sulit dilacak.

Fibriyani menyebut para ibu sebagai wellness warrior karena sebagian besar waktunya digunakan untuk menjaga kesehatan orang lain. “Para caregiver ini sebenarnya sudah multitasking sekali dalam kehidupan sehari-hari. Jadi ketika ada aplikasi kesehatan yang bisa membantu menghubungkan semuanya dalam satu tempat, kami berharap itu bisa sedikit meringankan beban mereka,” tambahnya.

Selain untuk pasangan dan anak, fitur ini juga bisa dipakai untuk mengelola kesehatan orang tua, ART, bahkan supir keluarga. Nantinya seluruh histori kesehatan bisa terdokumentasi dalam satu tampilan yang lebih praktis.

Halodoc Juga Fokus Membantu Tenaga Kesehatan

Tidak hanya fokus pada pasien, Halodoc juga terus memperkuat ekosistem tenaga kesehatan. Dr. Irwan bercerita bahwa di awal perjalanan Halodoc, banyak dokter yang masih ragu dengan konsep layanan kesehatan digital. Namun pengalaman pribadinya saat bertugas di daerah terpencil membuatnya percaya bahwa teknologi bisa membantu memperluas akses layanan medis di Indonesia.

“Saya pernah bertugas di daerah yang pasiennya sedikit sekali dan akses kesehatannya terbatas. Dari situ saya melihat bahwa sebenarnya banyak tenaga kesehatan yang ingin membantu masyarakat lebih luas, dan teknologi bisa menjadi jembatan untuk itu,” ujarnya. Untuk menjaga kualitas layanan, seluruh inovasi Halodoc juga diawasi oleh Board of Medical Excellence atau BoME yang memastikan standar kualitas medis dan regulasi tetap terjaga.

Selain itu, Halodoc juga memiliki Halodoc Academy, platform pembelajaran untuk tenaga kesehatan yang menyediakan berbagai pelatihan dan program peningkatan kompetensi terakreditasi Kementerian Kesehatan. Hingga saat ini, Halodoc Academy telah diikuti lebih dari 123 ribu peserta dan menyelenggarakan lebih dari 180 pelatihan untuk dokter, perawat, bidan, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya.

Halodoc juga menghadirkan fitur Learn di platform Halodoc Doctors agar tenaga kesehatan lebih mudah mengakses pembelajaran dan pengembangan kompetensi secara berkelanjutan.

Perjalanan 10 Tahun yang Tumbuh Bersama Masyarakat Indonesia

Bagi Halodoc, perjalanan 10 tahun ini juga tidak mungkin berjalan sendiri. Alfonsius menegaskan bahwa ekosistem kesehatan digital hanya bisa berkembang jika semua pihak bergerak bersama, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah, apotek, hingga masyarakat yang terus memberikan kepercayaan. “Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Kami tidak akan sampai di titik ini tanpa kepercayaan masyarakat dan seluruh ekosistem kesehatan yang tumbuh bersama Halodoc,” katanya.

Hal senada juga disampaikan dr. Irwan yang menyebut bahwa setiap pengguna yang mempercayakan layanan kesehatan mereka kepada Halodoc menjadi bagian penting dari perjalanan inovasi tersebut. “Saat masyarakat mulai menggunakan Halodoc, itu menjadi pondasi bagi kami untuk terus menghadirkan inovasi terbaik bagi layanan kesehatan di Indonesia,” tuturnya.

Sementara itu, Fibriyani juga menyampaikan apresiasi kepada para pengguna setia Halodoc, khususnya para wellness warrior yang selama ini menjadi sosok utama di balik kesehatan keluarga. “Mudah-mudahan kami bisa terus memberikan yang lebih baik lagi, karena pengguna dan para caregiver inilah yang menjadi alasan kenapa Halodoc masih terus berkembang sampai hari ini,” ujarnya.

Mungkin dulu banyak dari kita yang masih panik saat anak sakit tengah malam dan bingung harus mencari bantuan ke mana. Tapi hari ini, akses layanan kesehatan bisa hadir hanya lewat genggaman tangan. Dan di balik semua kemudahan itu, ada perjalanan panjang selama satu dekade yang terus berkembang mengikuti kebutuhan keluarga Indonesia.

Dari konsultasi dokter online, pembelian obat, layanan berbasis AI, hingga fitur untuk mengelola kesehatan seluruh anggota keluarga, Halodoc kini bukan sekadar aplikasi kesehatan, tapi sudah menjadi bagian dari keseharian banyak masyarakat Indonesia.

Follow Ibupedia Instagram