Keluarga Dibaca 833 kali

Atasi Alergi Susu Sapi Pada Si Kecil Agar Bisa Tumbuh Optimal

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 05 Juli, 2019 08:07

Atasi Alergi Susu Sapi Pada Si Kecil Agar Bisa Tumbuh Optimal

Alergi susu sapi sering menjadi momok yang membuat orang tua membatasi aktivitas si kecil. Bagaimana tidak, dampak alergi susu sapi yang meliputi gangguan pencernaan, gangguan pernapasan, bahkan masalah kulit memang bisa mengganggu aktivitas dan perkembangan si kecil. Padahal jika ditangani dengan tepat, si kecil bisa beraktivitas dengan normal seperti anak yang tidak mengalami alergi lho.
 
Hal ini terbukti saat Allergy Expert Camp yang diadakan Nutriclub Indonesia bersama Nutrilon Royal Soya di Hotel Majapahit Surabaya. Nutrilon Royal Soya mengajak ibu-ibu yang memiliki anak dengan alergi susu sapi untuk melakukan aktivitas yang dirancang khusus oleh Rumah Dandelion untuk membentuk karakter si kecil.
 

Para orang tua juga diajak untuk mengerti lebih dalam tentang cara menumbuhkan karakter tangguh pada diri si kecil melalui talk show yang dipandu oleh Orissa Anggita, psikolog pendidikan dan Co-Founder Rumah Dandelion. Selain itu, ada dr. Ni Putu Sudewi, MKes, SpA, expert yang membahas tentang cara mengenali dan mengatasi alergi susu sapi pada si kecil. Acara ini juga dihadiri oleh celebrity mama, seperti Cinfung dan Rebecca a Dewi lho.

 
Aktivitas Purposeful Exposure untuk Si Kecil

Untuk mengasah karakter penting si kecil, kita harus memastikan si kecil mendapatkan stimulasi berupa purposeful exposure. Di acara ini, Nutrilon Royal Soya bekerja sama dengan tim expert dari Rumah Dandelion menyiapkan aktivitas-aktivitas bermanfaat di Royal Kiddie Play Park untuk pembentukan karakter si kecil.
 
Ada 3 pos yang tersedia di Royal Kiddie Park. Pertama, ada pos kesabaran di mana si kecil diajak mengumpulkan batu yang tersebar di labirin dan menyusun batu yang sudah terkumpul menjadi sebuah menara. Aktivitas sederhana ini ternyata bisa mengasah kesabaran, karakter gigih dan mandiri pada si kecil.
 

Lalu ada juga pos teka teki, di mana si kecil diajak untuk mengeluarkan dinosaurus yang ‘terperangkap’ di dalam es. Di pos ini, si kecil belajar untuk memecahkan masalah dengan bantuan yang disediakan.

Setelah itu, ada pos ketangkasan untuk membangun karakter berani si kecil. Dalam pos ini, si kecil dilatih untuk mencoba hal baru, seperti merangkak di terowongan, melatih keseimbangan dengan balance bike, dan melompati rintangan. Karakter adaptif si kecil juga diasah melalui kegiatan menggambar dengan cat air menggunakan tangan.
 
Meskipun anak-anak yang hadir mengalami alergi susu sapi, tapi mereka tetap semangat untuk melakukan aktivitas-aktivitas seru tersebut lho, Bu!
 

Pentingnya Resiliensi untuk Masa Depan Anak

Aktivitas purposeful exposure di Royal Kiddie Play Park dirancang tim Rumah Dandelion bukan tanpa alasan. Semua aktivitas tersebut dapat menyiapkan si kecil untuk punya karakter tangguh yang penting buat menghadapi masa depan. Psikolog Orissa Anggita mengingatkan kalau perubahan di dunia ini makin cepat dan sulit diprediksi. Si kecil juga akan menghadapi tantangan-tantangan baru. Nah, untuk menghadapi tantangan tersebut, si kecil harus punya karakter resiliensi.

Resiliensi merupakan karakter untuk menghadapi tantangan dan bangkit kembali setelah mengalami kegagalan alias tangguh. Karakter ini bukan bawaan dari lahir lho, Bu. Itu artinya, orang tua perlu memberikan stimulasi yang tepat agar si kecil menjadi resilien. Cara mengembangkan karakter ini bisa dilakukan melalui beberapa cara, seperti:
 

  1. Membangun kedekatan dengan anak, di mana orang tua harus bonding dengan si kecil lewat berbagai aktivitas sehari-hari yang bisa dilakukan bersama.
  2. Berfokus pada proses daripada hasil. Daripada memuji si kecil karena ia sudah berhasil melakukan sesuatu, lebih baik puji prosesnya, seperti “Adek hebat yaa walaupun tadi kamu salah mengerjakannya, tapi kamu mau tetap menyelesaikan pekerjaan ini.” 
  3. Jangan terlalu over protective. Menurut penelitian, di era digital saat ini semakin sedikit lho anak-anak yang main di luar ruangan. Padahal ada banyak banget manfaat main di luar. Jadi, coba yuk untuk lebih membebaskan si kecil mengeksplor hal-hal di alam terbuka.
  4. Bantu si kecil mengenali dirinya. Misalnya, jika si kecil tidak suka beraktivitas di luar ruangan, bantu dia untuk melakukan aktivitas fisik dengan cara lain, seperti mengajaknya menari mengikuti musik.
  5. Berikan si kecil kepercayaan untuk memilih dan membuat keputusan agar ia terbiasa berpikir. Ini bisa diaplikasikan dalam keseharian lho, Bu. Misalnya, minta ia memilih mau makan apa atau mau pakai baju apa hari ini. Jika orang tua selalu membuat keputusan untuk si kecil, ia akan bingung saat berhadapan dengan masalah karena ia menunggu orang tua untuk menyelesaikan masalah tersebut.
  6. Beri ruang untuk kesalahan dan biarkan si kecil belajar dari kesalahannya. Agar anak menjadi resilien, anak perlu gagal dan bangkit dari kegagalan tersebut. Jika si kecil selalu diberi kemudahan, ia akan sulit untuk bangkit dari kesalahan saat menghadapi tantangan baru.

Pentingnya Nutrisi yang Tepat untuk Pertumbuhan Si Kecil

Nah, untuk menyiapkan si kecil menghadapi masa depan yang penuh tantangan, kita tidak hanya perlu mempersiapkan karakternya. Asupan nutrisi juga penting lho untuk tumbuh kembang si kecil. Namun, sayangnya masih banyak orang tua yang memiliki kekhawatiran berlebihan dan membatasi asupan makanan untuk si kecil sehingga ia tidak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan. Padahal, saat si kecil mengalami alergi susu sapi, kita hanya perlu membatasi makanan yang memicu alerginya saja, bukan menghindari semua makanan yang dipercaya menyebabkan alergi secara terus menerus.


 

Sangatlah penting bagi orang tua mengenali gejala alergi susu sapi agar dampaknya bisa diminimalisir. Gejala alergi susu sapi bisa meliputi dermatitis atopik, kulitnya kemerahan, nafas mengi, kolik, hidung berair dan tersumbat bukan karena flu, dan berat badan sulit bertambah.
 
Jika alergi susu sapi tidak ditangani, ada beberapa dampak negatif yang bisa terjadi, seperti perkembangannya terhambat, orang tua jadi tidak bisa kerja dengan efektif karena harus konsultasi ke dokter terus menerus, dan juga berdampak pada kualitas kehidupan keluarga karena orang tua dan si kecil jadi stress. Oleh karena itu, jika si kecil menunjukkan gejala alergi, orang tua harus cermat menangani alerginya.
 
Sayangnya, menurut dr. Ni Putu Sudewi, ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan orang tua dalam menangani alergi susu sapi pada si kecil, antara lain:
 

  1. Menghentikan pemberian ASI agar anak tidak alergi. Padahal proses menyusui harus terus dilakukan dan diusahakan karena si kecil bisa mendapatkan nutrisi dalam ASI yang tidak bisa ditemukan di susu formula.
  2. Restriksi berbagai jenis makanan. Memang ada beberapa makanan yang tidak boleh dimakan anak yang mengalami alergi susu sapi, tapi ini dilakukan tidak secara terus menerus. Orang tua bisa mencoba pemberian makanan pemicu alergi seiring usia kecil makin besar.
  3. Nutrisi pengganti tidak tepat. Saat anak tidak mau makan, orang tua kerap memberikan makanan yang kurang mengandung nutrisi demi anak mau makan. Padahal si kecil harus tetap mendapatkan makanan pengganti yang bernutrisi.
  4. Tidak menghindari susu sapi sepenuhnya. Kita harus ingat kalau susu sapi juga terkandung pada produk susu dan turunannya, seperti keju, yoghurt, atau ice cream.

 
Lalu, bagaimana dengan Ibu yang tidak bisa memberi ASI untuk si kecil? dr. Putu menjelaskan kalau Ibu masih bisa memberikan alternatif susu yang bisa ditoleran oleh si kecil. Salah satunya adalah dengan memberikan si kecil susu formulasi soya. Kandungan kalsium, protein, dan asam amino esensial pada susu formula soya dapat membantu si kecil tumbuh optimal dan tetap berprestasi. Jadi jangan biarkan alergi susu sapi si kecil menghalangi pertumbuhan si kecil ya!


Setelah mendapatkan informasi yang bermanfaat dari expert talks, Allergy Expert Camp ini ditutup dengan pemberian tabungan pendidikan kepada Allergy Mama Squad dan si kecil yang terpilih. Sampai jumpa di event Nutriclub berikutnya!

(Atalya / Dok. Ibupedia)