Keluarga

Ayah, Jangan Ucapkan Ini Ke Istri Pasca Melahirkan!

Terakhir diperbaharui

Ayah, Jangan Ucapkan Ini Ke Istri Pasca Melahirkan!

Sangat wajar bila ibu pasca melahirkan jadi lebih sensitif dari biasanya, jadi para ayah perlu lebih berhati-hati dengan sikap dan perkataan Anda. Ucapan yang sebenarnya biasa saja, bisa membuat ibu sangat sedih bahkan kecewa.

 

Bila satu sebab yang membuat Ayah jatuh cinta pada Ibu adalah selera humornya yang tinggi, maka untuk saat ini tidak ada lagi candanya, setidaknya untuk sementara waktu pasca melahirkan.

 

Kondisi hormon pasca melahirkan, kurang tidur, dan kurang rasa percaya diri terhadap kemampuannya untuk menjadi ibu telah membuat pasangan tidak berselera humor. Jadi hingga selera humornya kembali datang, Anda perlu hindari memberi komentar berikut ini:

 

  1. “Bisa gak sih kamu buat si bayi berhenti menangis?”

    Mungkin ia akan balik bertanya, “Kenapa ga kamu aja? Ini kan bayi kamu juga.” Kenapa Anda tidak membantu dan menenangkan tangisan bayi bila itu mudah menurut Anda?

     

  2. “Sekarang giliranmu untuk mengganti popok”

    Istri Anda akan berkata, “Giliranku? Oh... jadi tugas mengurus bayi harus dibagi dua? Tapi kok kamu ga ikutan hamil ya? Lagi pula, kamu seharian di kantor dan saya harus mengganti popok ketika kamu ga di rumah, jadi sekarang giliran kamu.”

     

  3. “Kamu kelihatan gemuk”

    Perut wanita masih terlihat besar pasca melahirkan. Perut tidak akan cepat mengecil pasca melahirkan. Begitu pula dengan berat badan yang diperoleh selama kehamilan tidak akan hilang hanya dalam hitungan minggu. Memang ada beberapa wanita yang berhasil menurunkan berat beberapa kg tanpa usaha begitu keras, tapi ini tidak terjadi pada kebanyakan wanita.

     

    Lagi pula, Anda tak perlu mengingatkan istri tentang hal ini. Anda perlu memperbaiki kesalahan Anda karena menyebut istri terlihat gemuk.

     

  4. “Kapan kamu mau mulai menurunkan berat badan?”

    Percayalah, istri Anda sangat ingin melakukan ini tapi kebutuhan dan tuntutan bayi jauh lebih penting dibanding menurunkan berat badan. Anda masih mencintai istri meski ia tidak menurunkan berat badannya bukan?

     

  5. “Kamu yakin begitu cara melakukannya?”

    Ini jadi pertanyaan yang meragukan kemampuan ibu baru, di saat ia membutuhkan motivasi kalau ia melakukan tugasnya dengan baik. Tingkatkan rasa percaya diri istri dengan mengatakan ia melakukan tugas dengan baik. Percayalah, istri akan menghargai bantuan kecil Anda dalam merawat bayi ketika ia melakukan tugas lain atau beristirahat singkat.

     

    Belajarlah merawat bayi dan jadi ayah yang mau terlibat. Istri akan sangat senang karena ia tidak harus sendirian menghadapi situasi yang sulit sepanjang waktu.

     

  6. “Kamu harusnya banyak belajar dari si A, ia ibu dan istri yang baik”

    Meski Anda punya niat yang baik, ini bisa terdengar berbeda bila istri sedang mengalami hari yang buruk. Bahkan ini bisa terdengar seperti ia dibandingkan dengan ibu lain dan Anda secara tidak langsung mengatakan kalau ia tidak bisa melakukan perannya dengan baik.

     

    Yang perlu dilakukan adalah berdiskusi terbuka tentang menjadi orangtua, bukan dengan menginterogasi dan meragukan kemampuannya menjadi ibu.

     

  7. “Kenapa kamu selalu terlihat lelah?”

    Kasihan istri Anda bila Anda tidak merasa bersalah mengatakan ini. Anda mungkin tidak menyadari jumlah jam tidur yang didapat istri setiap hari. Menjadi ibu baru membuat istri Anda tidak bisa duduk santai sambil membolak-balik halaman majalah karena kenyataan dan waktu tidak mengizinkannya. Daripada mengajukan pertanyaan ini, lakukan tugas yang Anda bisa agar istri bisa punya waktu untuk istirahat.

     

  8. “Kapan kita akan berhubungan seks lagi?”

    Setelah punya bayi, frekuensi keintiman biasanya sangat menurun dan ini jadi masalah yang umum dihadapi banyak pasangan. Istri Anda baru saja melahirkan bayi dari tubuhnya, lebih berat lagi bila ia menjalani bedah besar. Beri waktu tubuhnya agar bisa beristirahat karena ia layak memperolehnya.

     

    Ada banyak sebab kenapa istri tidak punya mood dan waktu untuk berhubungan intim pasca melahirkan. Ia mungkin merasa lelah karena merawat bayi seharian atau ia masih merasakan sakit setelah melahirkan atau ia merasa tidak percaya diri tentang bentuk tubuhnya yang sekarang.

     

    Hadirlah di sisinya untuk mengurangi beban mengurus bayi, membantu tugas rumah, dan menunjukkan kalau Anda peduli dengan memanjakannya dan memberinya pijatan yang nyaman. Terakhir, jangan lupa memberinya lebih banyak waktu, ketika ia siap, Anda akan berhubungan seks kembali.

     

  9. Kamu ngapain aja seharian?

    Bila bisa disebutkan satu persatu, mulai dari menyusui bayi, mengganti popok berkali-kali sepanjang hari, menenangkan bayi yang menangis, menidurkan bayi 4 sampai 5 kali sehari, mencuci pakaian kotor, membersihkan rumah, menyiapkan makan, berusaha agar bisa mandi, dan banyak lagi. Apakah ini terdengar sangat banyak bagi Anda?

     

  10. “Kenapa kamu tidak ...?”

    Apapun yang ingin Anda tanyakan, selalu ingat kalau sekarang ada anggota keluarga baru dalam keluarga. Ada banyak alasan kenapa istri tidak melakukan apa yang dulunya ia lakukan sebelum bayi lahir. Alasan utamanya adalah karena bayi yang jadi prioritas. Anda perlu lebih pengertian tentang hal ini.

     

  11. “Kata ibu saya ...”

    Meski Anda sangat menghormati orangtua dan pengalaman yang mereka miliki, Anda juga perlu memahami kalau kadang ungkapan ini sama sekali tidak suportif. Waktu berubah dan Anda berdua membesarkan anak dengan cara Anda berdua, bukan dengan cara orangtua Anda.

     

  12. “Kenapa bayi belum juga tidur sepanjang malam?”

    Anggaplah pertanyaan ini tidak diajukan dalam beberapa bulan pertama usia bayi, karena jawabannya akan melibatkan banyak faktor. Bisa saja bayi tidur sepanjang malam asal Anda mau turun tangan membantu melatih tidur bayi. Diskusikan hal ini secara terbuka dan cari solusi bersama. Anda perlu trial and error, bersabar dan perlahan ini akan berhasil atau cari bantuan profesional.

     

  13. “Kamu harusnya bilang kalau butuh bantuan”

    Istri Anda ingin suami yang peduli dan perhatian. Ia membutuhkan pelindung dan ingin merasa dijaga. Karenanya, alangkah baiknya bila suami langsung turun tangan memberi bantuan yang dibutuhkan istri. Kadang istri butuh bantuan untuk mengambil mangkok di rak atas atau mengambil sendok yang jatuh di sudut ruangan. Ini waktunya untuk membantu dan melayani istri Anda.

     

    Bila Anda tidak membantu, istri bisa merasa frusrtasi atau mengatakan kalau ia butuh bantuan Anda, jangan memberi komentar dengan mengatakan kalau seharusnya ia memberitahu Anda. Komentar seperti ini akan membuat istri merasa sendiri dan tidak dipedulikan.

     

  14. “Kenapa kamu melakukannya dengan cara itu?”

    Ketika istri melakukan tugasnya, yang ia butuhkan adalah motivasi dari suami. Yang perlu dihindari para suami adalah memberi kritik tentang bagaimana cara istri mengerjakan sesuatu. Hindari membuat pernyataan yang mempertanyakan kemampuannya, ini akan membuatnya terpuruk. Berikan pujian dan Anda bisa bertanya, “Apa kamu pernah coba cara ini?” Pendekatan ini mendorongnya untuk jadi lebih baik tanpa memberi kritik.

     

  15. “Kamu terlihat sama saja”

    Istri Anda memotong rambut dengan gaya baru, berolahraga untuk menurunkan berat badan pasca melahirkan, atau mencoba tampilan makeup baru. Ia ingin tahu apakah Anda menyadarinya atau tidak dan bertanya, “Bagaimana penampilan saya?” Jangan pernah menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan, “Kamu terlihat sama saja.”

     

    Istri ingin Anda melihat apa yang berbeda dari dirinya, sekecil apapun itu. Berikan komentar dengan mengatakan Anda menyukai tampilan barunya dan hargai kerja kerasnya.

     

  16. “Berhentilah merasa cemas”

    Ini sulit bagi ibu. Mulai sejak bayi lahir, atau bahkan sebelumnya, istri Anda mungkin pikirannya dipenuhi oleh rasa cemas tentang buah hati. Daripada memintanya untuk tidak merasa khawatir, coba utarakan kalimat positif seperti, “Bayi kita akan baik saja, ia akan lebih kuat dari yang kamu pikir.” Berpikir positif dan bicaralah positif.

     

  17. “Jadi, kapan kita akan punya anak lagi?”

    Ini bukan pertanyaan yang bagus untuk diajukan, terutama selama 6 bulan pertama pasca melahirkan. Sebaiknya jangan utarakan pertanyaan ini terutama setelah melihat istri Anda sangat kerepotan mengurus bayi.

     

  18. “Kapan kita mulai olahraga lagi?

    Anda memang menyebut “kita” bukan “kamu” tapi yang istri Anda dengar adalah “Kamu perlu menurunkan berat badan” atau “Kamu sudah tidak menarik lagi setelah punya bayi.” Anda baru saja mengonfirmasi hal yang ditakuti kebanyakan wanita setelah punya anak.

     

    Ingat, Anda berdua sedang menyesuaikan diri dengan bayi baru lahir. Istri menyesuaikan  diri dengan bayi dan tubuh barunya. Anda menikahinya karena ia manis dan menyenangkan. Karena ia membuat Anda merasa seperti pria yang lebih baik. Bukan karena ia terlihat menarik dengan balutan jeans ketat. Jadi pikir ulang sebelum mengucapkan pertanyaan ini.

     

  19. “Saya lelah”

    Memiliki bayi berarti tugas melelahkan untuk kedua orangtua. Ini bukan berarti ayah tidak merasa lelah, tapi mengatakan ini ke istri membuatnya merasa ia butuh orang untuk membantu agar Anda bisa istirahat. Atau Anda memintanya untuk menghibur Anda. Ini tidak jadi tugas istri saat ini. Sadarkah Anda? Tubuhnya punya tugas berat, termasuk memproduksi ASI untuk bayi. Ia tidak punya energi untuk membuat Anda merasa lebih baik dan tidak merasa lelah. Jadi bantu istri dan jangan pernah katakan kalau Anda  merasa lelah.

     

  20. “Jadi saya nih yang harus gantiin baju si kecil?”

    Tentu saja. Anda yang jadi ayahnya. Dan ini kerjasama orangtua. Bila anak buang air besar, tugas Anda untuk membersihkannya. Jangan serahkan ke istri. Anda sekarang berada di area di mana pria bisa mengganti popok. Anda patut bangga bisa mengganti popok bayi tanpa membuat istri mengeluh. Jangan malas dan berpikir kalau tugas ini tidak cocok untuk Anda.

     

  21. “Kamu cuti selama 3 bulan. Itu liburan yang panjang ya”

    Bukan, ini bukan liburan tapi waktu pemulihan. Ini jadi waktu untuk istri mengembalikan kondisi tubuhnya dan menjalin kedekatan dengan bayi. Ia seharusnya mendapat waktu yang ia butuhkan.

     

  22. Nggak tau ...”

    Istri mencuci botol susu dan bertanya menu apa yang Anda inginkan untuk makan malam. Anda menjawab singkat “Nggak tau” lalu sibuk dengan diri sendiri. Anda membuat istri merasa sendirian. Akan lebih baik bila Anda menawarkan bantuan, atau memberi saran menu makan malam yang simpel dan mudah.

     

  23. “Nanti saya kerjakan”

    Istri meminta Anda mengerjakan tugas rumah, atau meminta Anda ke supermarket terdekat untuk membeli popok. Anda merespon dengan, “Nanti saya kerjakan” tapi kemudian lupa atau mengerjakannya setelah beberapa hari. Bila Anda akan mengerjakan tugas ini, kerjaan di waktu yang masih masuk akal yang tidak membuat istri stres.

     

  24. “Terserah kamu”

    Keluarga kecil Anda ingin makan di luar, istri mencoba mencari tahu di mana tempat yang tepat dan ia meminta pendapat Anda. Anda kemudian merespon dengan mengatakan, “Terserah kamu.” Ini bisa menimbulkan frustrasi dan membuat istri Anda merasa sendirian.  Terlibatlah dalam percakapan bersamanya untuk mencari solusi yang tepat untuk bersama.

     

  25. “Pasti enak ya seharian sama si kecil

    Memang betul. Istri Anda menyukai hal ini tapi ini juga tugas yang berat. Ia tidak hanya seharian bersama bayi, tapi ia juga mengurus dan merawatnya. Istri Anda menyusuinya, mengganti popok, menyendawakan, menenangkan, mengajak bicara, menggendong dan menghibur si kecil. Istri Anda menjadi guru, perawat, teman, dan pelindung buah hati Anda. Bayi menjadi yang pertama dan semua kebutuhan istri jadi yang terbelakang. Bukankah ini melelahkan?

     

  26. “Bagaimana kalau kita mulai berikan si kecil susu formula?”

    Mungkin Anda mengira cukup suportif dengan menawarkan pilihan ini. Tapi Anda membuat istri merasa tidak mendapat dukungan terhadap pilihannya untuk menyusui. Bila istri memutuskan untuk menyusui, memang ini sulit, terutama di beberapa minggu pertama yang bisa membuatnya sangat lelah ketika menyusui di malam hari, tapi bukan berarti ia mau berhenti memberikan ASI.

     

    Daripada menawarkan susu formula tiap kali istri mengeluh lelah menyusui, Anda punya cara lain untuk membantunya. Bila ia mengeluh tentang payudaranya yang bengkak, Anda bisa siapkan air mandi untuknya dan biarkan ia berendam di kamar mandi tanpa diganggu. Bila ia lelah karena begadang, bawa bayi jalan-jalan di sekitar rumah dan biarkan istri beristirahat di pagi harinya.

     

Mungkin terkesan banyak sekali aturan dan Anda bingung tentang apa saja yang boleh Anda katakan. Sederhana saja. Anda hanya boleh mengatakan ia mengerjakan tugasnya dengan baik, katakan ia adalah ibu yang hebat, dan bayi Anda sangat beruntung punya ibu seperti istri Anda. Selalu katakan ini dan istri Anda tidak akan pernah merasa lelah mendengarnya. Jangan khawatir, aturan ini tidak berlaku selamanya, hanya sampai hormon stabil dan kurang tidur hilang, serta setelah pasangan merasa kembali seperti semula. Setelah itu, Anda bebas untuk mengungkapkan apapun.

 

Ayah, satu pemahaman keliru tentang menjadi orangtua adalah istri Anda secara otomatis tahu apa yang harus dilakukan. Tidak demikian. Ia belajar menjalankan tugasnya, sama seperti Anda. Semua ahli menyarankan ayah untuk sebisa mungkin terlibat dengan bayi.

 

Sebagai ayah Anda mungkin merasa cemas, tidak tahu apa yang perlu dilakukan, dan ragu untuk turun tangan. Yakinlah kalau istri juga merasakan hal yang sama meski ia terlihat profesional. Habiskan waktu sebanyak mungkin bersama bayi. Bila jadwal kerja Anda tidak fleksibel, luangkan waktu bersama bayi di akhir pekan.

 

Bila ada anak yang lebih besar, bantu mengurus mereka agar istri bisa fokus pada bayi baru lahir. Satu hal lagi yang akan membuat istri Anda sangat terbantu adalah di saat ia menyusui di malam hari. Anda bisa bawakan satu gelas air minum agar ia tidak mengalami dehidrasi. Dehidrasi bisa menyebabkan rasa lelah dan mood buruk. Jadi jangan sungkan untuk membawakan satu gelas minuman yang menyegarkan. Gulung lengan baju Anda dan bersiaplah mempelajari apapun yang dilakukan istri.

(Ismawati)