Budaya Mendongeng Untuk Anak Perlu Dihidupkan Lagi, Ini Alasannya!

Budaya Mendongeng Untuk Anak Perlu Dihidupkan Lagi, Ini Alasannya!
Budaya Mendongeng Untuk Anak Perlu Dihidupkan Lagi, Ini Alasannya!

Parents, kapan terakhir kali membacakan dongeng atau menceritakan cerita rakyat kepada Si Kecil?

Di tengah banyaknya pilihan hiburan digital seperti video pendek, game, hingga media sosial, kebiasaan bercerita di rumah mungkin mulai jarang dilakukan. Padahal, momen sederhana ini bisa menjadi waktu berkualitas antara orang tua dan anak. Tidak hanya itu, banyak manfaat mendongeng untuk anak, mulai dari memperkaya kosakata, melatih imajinasi, hingga mengenalkan nilai-nilai kehidupan sejak dini.

Tak heran jika budaya mendongeng kembali menjadi perhatian berbagai pihak. Salah satunya melalui Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026, sebuah program dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang mengajak masyarakat untuk kembali mengenal, menceritakan, dan mendokumentasikan cerita rakyat dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini.

Mengapa Mendongeng Masih Penting untuk Anak di Era Digital?

Teknologi memang membawa banyak manfaat. Apalagi, anak kini lebih mudah mengakses berbagai informasi dan hiburan hanya lewat satu perangkat. Namun, di balik kemudahan tersebut, anak tetap membutuhkan interaksi langsung dengan orang tua, termasuk melalui aktivitas sederhana seperti bercerita.

Ada banyak manfaat mendongeng untuk anak yang sayang jika dilewatkan. Saat mendengarkan cerita, anak belajar menyimak, mengenal kosakata baru, mengembangkan imajinasi, hingga memahami berbagai nilai kehidupan melalui tokoh dan alur cerita. Tak hanya itu, momen mendongeng juga dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk membangun kedekatan emosional dengan anak di tengah kesibukan sehari-hari.

Cerita yang dibagikan untuk anak tidak selalu harus berasal dari buku cerita modern. Cerita rakyat Indonesia juga bisa menjadi pilihan karena tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkenalkan budaya, tradisi, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 Ajak Masyarakat Kembali Bercerita

Semangat untuk menghidupkan kembali budaya bercerita inilah yang diangkat melalui Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026. Program ini mengajak masyarakat dari berbagai daerah untuk membuat video mendongeng menggunakan telepon genggam, kemudian membagikannya melalui media sosial dan mendaftarkan karya tersebut melalui laman Gala Cerita Rakyat Indonesia. Periode pengumpulan karya berlangsung mulai 20 April hingga 20 Mei 2026.

Melalui pendekatan digital, program ini membuktikan bahwa pelestarian budaya tetap bisa berjalan seiring perkembangan teknologi. Cerita rakyat yang selama ini diwariskan secara lisan kini dapat didokumentasikan dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Ribuan Peserta dari 34 Provinsi Turut Melestarikan Cerita Rakyat

Antusiasme masyarakat terhadap program ini pun cukup besar. Sepanjang periode penyelenggaraan, Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 berhasil menjangkau 34 provinsi dengan total 1.737 karya yang dikirimkan oleh 2.797 peserta dari berbagai kelompok usia dan latar belakang.

Peserta berasal dari berbagai kategori, mulai dari Anak, Remaja, Orang Tua, Pendidik, Umum, hingga Inklusi. Keikutsertaan berbagai kelompok ini menunjukkan bahwa budaya bercerita bukan hanya milik satu generasi, tetapi dapat menjadi ruang belajar sekaligus berbagi bagi siapa saja.

Melalui program ini, cerita rakyat dari berbagai daerah tidak hanya kembali diperkenalkan kepada masyarakat, tetapi juga memperoleh ruang baru agar tetap hidup dan relevan bagi generasi masa kini.

Puncak Apresiasi Jadi Bentuk Dukungan bagi Pelestarian Cerita Rakyat

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Puncak Apresiasi Karya Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 diselenggarakan pada 24 Juni 2026 di Graha Utama, Gedung A, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Dalam kesempatan tersebut, sebanyak enam peserta terbaik dari setiap kategori menerima apresiasi yang diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka dalam melestarikan cerita rakyat Indonesia. Apresiasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa cerita rakyat masih memiliki tempat di tengah masyarakat dan layak terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Indonesia Bercerita 2027 Siap Menghidupkan Kembali Budaya Mendongeng

Komitmen tersebut tidak berhenti sampai di sini. Sebagai tindak lanjut, Kementerian Kebudayaan RI memperkenalkan GALA Indonesia Bercerita 2027, sebuah gerakan nasional budaya dan pengasuhan berbasis cerita yang bertujuan menghidupkan kembali budaya bercerita sebagai sarana pembentukan karakter, pelestarian budaya, serta mempererat hubungan antargenerasi.

Gerakan ini mengusung lima fokus utama, yaitu budaya, pengasuhan, pendidikan, generasi muda, dan ekosistem nasional. Melalui pendekatan ini, Kementerian Kebudayaan ingin menghidupkan kembali cerita rakyat dan tradisi lisan Nusantara melalui berbagai medium kreatif dan digital, sekaligus mendorong budaya bercerita di dalam keluarga sebagai cara membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Selain itu, cerita juga diharapkan semakin dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, pembentukan karakter, dan pengembangan literasi di lingkungan pendidikan.

Tak hanya itu, GALA Indonesia Bercerita 2027 juga menempatkan remaja, Gen Z, dan Gen A sebagai pelopor sekaligus agen pewarisan budaya di berbagai daerah. Seluruh gerakan ini akan diperkuat melalui kolaborasi antara keluarga, sekolah, kampus, komunitas, pemerintah, media, dan para pelaku budaya agar tercipta ekosistem nasional yang mendukung budaya bercerita secara berkelanjutan.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, sejumlah program telah disiapkan. Salah satunya adalah Pusat Pelatihan Indonesia Bercerita yang akan melatih 42 anak bersama para pendongeng dan pendidik. Program ini juga akan bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) untuk menyusun metode pelatihan dan modul bercerita yang diharapkan dapat menjadi rujukan nasional dalam pengembangan storytelling di Indonesia.

Selain itu, akan digelar Roadshow Indonesia Bercerita di tujuh kota untuk menghimpun cerita lokal, memperkuat jejaring komunitas, sekaligus melahirkan Pelopor Indonesia Bercerita di berbagai daerah. Kementerian Kebudayaan juga akan menghadirkan Platform Digital Indonesia Bercerita sebagai ruang bersama yang menghubungkan cerita rakyat, keluarga, pendidik, komunitas, dan generasi muda dalam satu ekosistem pembelajaran berbasis cerita.

Tak hanya itu, program ini juga akan melakukan kurasi dan pengembangan cerita rakyat Nusantara agar tetap relevan dengan generasi masa kini tanpa menghilangkan nilai budaya yang diwariskan. Masyarakat pun akan kembali diajak berpartisipasi melalui Kompetisi Gala Cerita Indonesia 2027, yang membuka ruang bagi berbagai karya kreatif berbasis cerita Indonesia dalam beragam format dan medium.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, akan diselenggarakan Malam Anugerah Kompetisi Gala Cerita Indonesia 2027 untuk memberikan apresiasi kepada karya, tokoh, komunitas, dan berbagai inisiatif yang berkontribusi dalam menjaga serta menghidupkan cerita Indonesia. Seluruh rangkaian ini diharapkan mampu membangun ekosistem budaya bercerita yang semakin kuat dan berkelanjutan di Indonesia.

Orang Tua Adalah Pendongeng Pertama bagi Anak

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, orang tua tetap memiliki peran yang tak tergantikan dalam mengenalkan cerita kepada anak. Tak perlu menunggu memiliki banyak koleksi buku atau menjadi pendongeng yang hebat, Parents bisa memulai dari hal sederhana, seperti menceritakan kembali kisah masa kecil, mengenalkan cerita rakyat Indonesia dari daerah asal keluarga, atau meluangkan beberapa menit sebelum tidur untuk berbagi cerita bersama Si Kecil.

Karena pada akhirnya, manfaat mendongeng untuk anak bukan hanya terletak pada isi ceritanya. Momen ketika anak mendengarkan suara orang tua, berimajinasi bersama, tertawa, bertanya, dan berdiskusi justru menjadi kenangan berharga yang akan terus mereka ingat hingga dewasa.

Di era digital seperti sekarang, anak memang dikelilingi oleh beragam konten. Namun, mereka tetap membutuhkan cerita yang disampaikan langsung oleh orang-orang terdekat. Sebab melalui cerita, anak bukan hanya belajar mengenal budaya dan nilai kehidupan, tetapi juga merasakan kehangatan, perhatian, dan kedekatan bersama keluarga. Semoga semakin banyak keluarga Indonesia yang kembali menghidupkan budaya mendongeng, sehingga cerita rakyat tidak hanya dikenang, tetapi juga terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Follow Ibupedia Instagram