Cara Melatih Kemampuan Sosial-Emosional Anak Neurodivergen

Cara Melatih Kemampuan Sosial-Emosional Anak Neurodivergen
Cara Melatih Kemampuan Sosial-Emosional Anak Neurodivergen

Ketika anak memukul temannya, marah karena kalah bermain, atau melakukan kesalahan, respons pertama orang tua biasanya langsung meminta anak berhenti dan memperbaiki perilakunya. Misalnya dengan mengatakan, “Jangan pukul teman!” atau “Ayo, sekarang minta maaf!”

Namun, bagi sebagian anak neurodivergen, memahami apa yang salah dari suatu tindakan dan menentukan respons yang tepat bisa menjadi tantangan tersendiri. Anak mungkin belum memahami perasaan orang lain, kesulitan mengendalikan respons emosinya, atau belum mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi sosial tertentu.

Kemampuan tersebut perlu dipelajari dan dilatih secara bertahap, termasuk melalui pengalaman yang mereka temui setiap hari.

Hal ini dijelaskan oleh Andini Iskayanti Putri, M.Psi., Psikolog, dalam seminar From Social Learning Opportunities to Friendship Skills: Interaksi Sehari-hari sebagai Ruang untuk Mengembangkan Kemampuan Sosial-Emosional dan Relasi Sosial pada SPEKIX (Neurodiversity Expo) 2026.

Menurut Andini, berbagai kejadian sederhana di rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar dapat menjadi kesempatan untuk membantu anak neurodivergen memahami emosi, mengambil keputusan, dan mengembangkan keterampilan sosialnya.

Kenapa Anak Neurodivergen Perlu Belajar Mengenali Emosinya?

Kemampuan sosial-emosional berkaitan dengan bagaimana seseorang mengenali perasaannya, memahami situasi sosial, mengelola respons, hingga menjalin hubungan dengan orang lain. Bagi sebagian anak neurodivergen, keterampilan tersebut mungkin membutuhkan pembelajaran yang lebih terstruktur dan eksplisit.

Sebagai contoh, ketika anak merasa tidak nyaman berada di tempat ramai, ia mungkin menangis, berteriak, atau menunjukkan respons tertentu karena belum mampu menjelaskan apa yang sedang dirasakannya.

Orang tua mungkin melihat perilaku tersebut sebagai bentuk kemarahan. Padahal, bisa saja anak merasa kewalahan akibat suara keras, banyaknya orang, atau rangsangan lingkungan yang sulit diproses.

Dalam situasi seperti ini, Andini menjelaskan pentingnya membantu anak mengenali dan memberi nama pada pengalaman yang sedang dialaminya. Misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Di sini ramai sekali, ya. Suaranya keras dan kamu kelihatan nggak nyaman.” Dengan mendengar penjelasan tersebut, anak mendapatkan bantuan untuk menghubungkan apa yang dirasakan dengan situasi yang menjadi penyebabnya.

Selanjutnya, orang tua bisa mengenalkan pilihan yang dapat dilakukan, seperti beristirahat sejenak atau mencari tempat yang lebih tenang. Tujuannya agar anak perlahan memahami apa yang membuatnya tidak nyaman sekaligus mengetahui cara menyampaikan kebutuhan atau mencari bantuan ketika menghadapi situasi serupa.

Kemampuan mengenali emosi dan kebutuhan diri sendiri ini juga menjadi dasar bagi anak untuk memahami perasaan orang lain. Misalnya, ketika anak sudah mulai memahami bahwa terluka membuat dirinya merasa sakit atau sedih, pengalaman tersebut dapat digunakan untuk membantu anak memahami perasaan temannya yang mengalami kejadian serupa.

Namun, mengenali emosi saja belum cukup. Anak juga perlu berada dalam kondisi yang memungkinkan dirinya menerima penjelasan dan mempelajari respons yang lebih sesuai.

Saat Anak Sedang Emosi, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menasihatinya?

Saat anak sedang marah atau menangis hebat, orang tua mungkin ingin segera menjelaskan kesalahannya agar perilaku tersebut tidak terulang. Sayangnya, ketika anak sedang kewalahan secara emosional, ia bisa mengalami kesulitan untuk mendengarkan, memahami penjelasan, atau menentukan respons yang diharapkan.

Andini menjelaskan bahwa proses belajar akan lebih mudah dilakukan ketika kondisi emosional anak sudah cukup stabil. “Anak bisa benar-benar belajar itu ketika memang situasi emosionalnya sudah cukup stabil,” jelas Andini.

Misalnya, ketika anak memukul teman saat bermain, orang tua tetap perlu segera menghentikan perilaku tersebut dan memastikan semua anak aman. Namun, pembahasan lebih lanjut mengenai alasan perilaku itu tidak tepat dan apa yang sebaiknya dilakukan bisa menunggu hingga anak lebih tenang.

Pada kondisi tersebut, orang tua dapat membantu anak memahami apa yang terjadi tanpa membuatnya semakin kewalahan. Di sinilah konsep co-regulation berperan. Co-regulation adalah proses ketika orang dewasa membantu anak mengelola kondisi emosinya melalui respons dan pendampingan yang sesuai.

Salah satu hal yang ditekankan Andini adalah pentingnya orang dewasa mampu mengelola emosinya sendiri sebelum membantu anak. Ketika orang tua ikut marah, berbicara dengan nada tinggi, atau menunjukkan respons yang membuat anak semakin tertekan, proses komunikasi bisa menjadi lebih sulit.

Sebaliknya, orang dewasa yang mampu menjaga ketenangan dapat membantu menciptakan situasi yang lebih aman dan nyaman bagi anak untuk kembali mengatur emosinya. Setelah anak cukup tenang, barulah orang tua bisa mengajaknya memahami kejadian tersebut dan mendiskusikan tindakan yang dapat dilakukan pada kesempatan berikutnya.

Ajarkan Anak Memahami Situasi Sosial dan Memilih Respons yang Tepat

Setelah anak mampu mengenali emosinya, keterampilan berikutnya yang perlu dikembangkan adalah memahami situasi sosial. Dalam interaksi sehari-hari, anak perlu belajar menangkap social cues atau isyarat sosial, seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan respons orang lain. Isyarat tersebut membantu seseorang memahami apa yang sedang terjadi serta menentukan tindakan yang sesuai.

Misalnya, saat anak menjatuhkan gelas milik orang lain hingga pecah, ia mungkin sudah mengetahui bahwa gelas tersebut rusak. Namun, anak belum tentu memahami bahwa kejadian itu membuat pemiliknya kecewa atau bahwa ada tindakan yang perlu dilakukan setelahnya. Karena itu, orang tua dapat membantu anak menghubungkan kejadian dengan dampaknya terhadap orang lain.

Penjelasannya bisa dimulai dari pertanyaan sederhana, seperti “Tadi gelasnya jatuh dan pecah, ya. Menurut kamu, bagaimana perasaan orang yang punya gelas itu?”

Jika anak masih kesulitan menjawab, orang tua dapat memberikan bantuan dengan menjelaskan situasinya terlebih dahulu. Dari situ, anak bisa mulai diajak memahami tindakan yang mungkin diperlukan, seperti meminta maaf, menawarkan bantuan, atau ikut bertanggung jawab sesuai kemampuannya.

Andini juga menekankan pentingnya memperluas pilihan respons anak melalui diskusi. Ketika menghadapi suatu masalah, anak bisa diajak memikirkan apa saja yang mungkin dilakukan, bukan sekadar diminta mengikuti satu instruksi.

Dengan begitu, anak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mengambil keputusan dan memecahkan masalah sosial. Tentu, kedalaman penjelasan dan pertanyaan harus disesuaikan dengan kemampuan bahasa serta pemahaman anak.

Cara Mengajarkan Keterampilan Sosial dengan Bantuan Bertahap

Pada anak neurodivergen, memahami suatu keterampilan sosial belum tentu membuatnya langsung mampu menerapkan keterampilan tersebut secara mandiri. Karena itu, orang tua dapat menggunakan pendekatan scaffolding, yaitu memberikan bantuan sesuai kemampuan anak dan menguranginya secara bertahap ketika anak mulai menguasai keterampilan yang sedang dipelajari. “Kita bisa memberikan dukungan yang sesuai dengan kemampuan anak, lalu akan kita kurangi bantuannya,” terang Andini.

Contohnya ketika orang tua ingin mengajarkan anak cara meminta maaf setelah melakukan kesalahan. Pada tahap awal, anak mungkin membutuhkan penjelasan yang cukup lengkap. Orang tua dapat membantu menjelaskan apa yang terjadi, siapa yang terdampak, serta bagaimana cara memperbaiki situasi.

Jika anak belum mampu menentukan respons sendiri, orang tua bisa memberikan contoh kalimat permintaan maaf atau cara lain untuk menyampaikan penyesalan sesuai kemampuan komunikasinya.

Setelah beberapa kali mendapatkan pengalaman serupa, bantuan dapat dikurangi. Misalnya, orang tua cukup mengingatkan, “Tadi temanmu sedih karena mainannya rusak. Menurut kamu, sekarang kita bisa apa?”

Ketika anak sudah lebih memahami situasinya, ia mungkin mulai dapat menentukan respons tanpa perlu diberi arahan panjang. Proses ini membutuhkan pengulangan dan penyesuaian berdasarkan perkembangan anak.

Andini juga menjelaskan bahwa tingkat bantuan perlu mempertimbangkan kemampuan perkembangan anak, bukan hanya usia kronologisnya. Anak yang berusia lebih besar belum tentu memiliki tingkat pemahaman sosial-emosional yang sama dengan teman seusianya. Karena itu, cara menjelaskan, bentuk latihan, dan target yang diberikan perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak.

Selain itu, pendekatan yang digunakan sebaiknya dipahami bersama oleh orang-orang yang mendampingi anak, termasuk ayah, ibu, anggota keluarga lain, maupun pengasuh. Konsistensi respons dari lingkungan dapat membantu anak memahami keterampilan yang sedang dilatih dan menerapkannya dalam berbagai situasi.

Cara Melatih Kemampuan Sosial-Emosional Anak Neurodivergen Lewat Permainan

Anak tidak harus menunggu mengalami konflik atau kesulitan untuk belajar memahami situasi sosial. Orang tua juga dapat menggunakan permainan dan cerita sebagai sarana latihan dalam suasana yang lebih santai.

Ada beberapa cara yang dijelaskan Andini dan bisa dicoba sesuai kebutuhan serta kemampuan anak.

1. Bermain peran atau pretend play

Melalui permainan peran, orang tua dapat menciptakan berbagai situasi sosial yang mungkin ditemui anak. Misalnya, ketika bermain masak-masakan, salah satu boneka berpura-pura terluka. Orang tua kemudian dapat mengajak anak berpikir, “Wah, bonekanya terluka. Kira-kira dia merasa apa, ya? Terus, kita bisa bantu bagaimana?”

Dari permainan tersebut, anak dapat belajar mengenali kondisi orang lain, memahami perasaan, dan mencoba menentukan respons. Permainan juga bisa digunakan untuk melatih cara meminta bantuan, menyampaikan keinginan, atau menghadapi perbedaan pendapat.

2. Menggunakan social story atau cerita sosial

Social story merupakan cerita yang membantu anak memahami situasi sosial, perilaku, dan respons yang mungkin muncul dalam suatu kejadian. Misalnya, orang tua membacakan cerita tentang seorang anak yang mengganggu permainan temannya hingga teman tersebut merasa kesal dan tidak ingin melanjutkan permainan.

Setelah cerita selesai, anak dapat diajak berdiskusi mengenai alasan temannya merasa kesal dan tindakan apa yang sebaiknya dilakukan oleh tokoh dalam cerita. Andini menjelaskan bahwa bagian penting dari proses ini adalah mengajak anak berpikir kembali mengenai kejadian yang diceritakan, bukan sekadar mendengarkan cerita sampai selesai.

Dengan begitu, anak memperoleh kesempatan memahami hubungan antara tindakan, perasaan, dan konsekuensi sosial.

3. Bermain board game untuk melatih kemampuan bergiliran

Permainan sederhana seperti ular tangga juga dapat digunakan untuk membantu anak belajar menunggu giliran, mengikuti aturan, serta menghadapi pengalaman menang dan kalah.

Saat bermain, orang tua dapat memberikan penjelasan mengenai keterampilan yang sedang dipraktikkan.

Misalnya, “Sekarang giliran Mama, setelah itu baru giliran kamu.” Ketika anak kecewa karena kalah, orang tua juga bisa membantunya mengenali perasaan tersebut dan membicarakan respons yang dapat dilakukan. Latihan seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk memahami situasi sosial melalui pengalaman yang menyenangkan.

4. Menggunakan bantuan visual untuk mengenali kondisi emosi

Bagi anak yang membutuhkan bantuan visual, orang tua dapat menggunakan gambar atau simbol untuk menjelaskan kondisi emosional.

Salah satu contohnya adalah sistem lampu lalu lintas dengan warna merah, kuning, dan hijau.

Warna merah bisa digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika anak sedang sangat kewalahan dan membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.

Warna kuning menunjukkan kondisi ketika anak mulai lebih tenang, tetapi masih membutuhkan bantuan. Sementara itu, warna hijau menggambarkan kondisi ketika anak sudah cukup tenang untuk diajak berbicara atau mencoba mencari solusi.

Bantuan visual ini dapat memudahkan anak mengenali kondisi emosinya, terutama jika ia masih mengalami kesulitan menjelaskannya secara verbal. Namun, makna simbol dan penggunaannya tetap perlu diperkenalkan secara bertahap agar anak memahami apa yang ingin disampaikan.

Manfaat Mengajak Anak Merefleksikan Pengalaman Sehari-hari

Selain berlatih melalui permainan, pengalaman nyata juga memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kemampuan sosial-emosional. Misalnya, saat anak pergi ke pasar, menghadiri acara keluarga, mengikuti kegiatan sekolah, atau bermain bersama teman.

Agar pengalaman tersebut menjadi pembelajaran, Andini menjelaskan pentingnya memberikan persiapan sebelum kegiatan, mendampingi anak selama aktivitas, serta mengajak anak melakukan refleksi setelahnya.

Sebagai contoh, ketika orang tua akan mengajak anak yang sensitif terhadap keramaian pergi ke pasar, persiapan dapat dilakukan dengan menjelaskan situasi yang mungkin ditemui. “Nanti di pasar banyak orang dan mungkin cukup ramai. Kalau kamu merasa tidak nyaman, bilang ke Mama, ya.”

Orang tua juga dapat menyepakati cara anak menyampaikan kebutuhan, termasuk menggunakan kata tertentu atau isyarat yang sudah dipahami bersama.

Ketika berada di pasar dan anak mulai merasa kewalahan, orang tua bisa membantu anak menerapkan strategi yang sudah dibicarakan. Misalnya, mencari tempat yang lebih tenang, beristirahat sebentar, atau meninggalkan lokasi jika memang diperlukan.

Setelah pulang, pengalaman tersebut tidak harus langsung dilupakan. Orang tua bisa mengajak anak mengobrol kembali mengenai apa yang terjadi, kapan ia mulai merasa tidak nyaman, dan bagaimana ia berhasil menyampaikan kebutuhannya.

“Interaksi sehari-hari itu bisa meningkatkan kapasitas sosial emosionalnya,” ungkap Andini. Proses refleksi membantu anak mengenali hubungan antara situasi, perasaan, dan respons yang telah dilakukan.

Anak juga dapat belajar bahwa strategi yang berhasil digunakan dalam satu situasi mungkin bisa dicoba kembali ketika menghadapi kondisi serupa. Misalnya, kemampuan menyampaikan rasa tidak nyaman yang awalnya dilatih saat pergi ke pasar dapat digunakan pula ketika anak berada di sekolah atau menghadiri acara keluarga.

Dalam pembelajaran keterampilan sosial, proses menerapkan kemampuan yang sudah dipelajari ke berbagai lingkungan dikenal sebagai generalisasi.

Orang tua dapat mendukung proses tersebut dengan mengingatkan keterampilan yang pernah dilatih, memberi kesempatan anak mempraktikkannya, serta mengapresiasi ketika anak berhasil menggunakannya.

Anak Neurodivergen Cemas Saat Gagal atau Terus Mengharapkan Reward, Bagaimana Menyikapinya?

Mengembangkan kemampuan sosial-emosional juga berkaitan dengan cara anak menghadapi keberhasilan, kegagalan, dan harapan terhadap suatu hasil. Sebagian anak mungkin merasa sangat senang ketika berhasil menyelesaikan tugas, tetapi menjadi kecewa atau cemas ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi.

Situasi ini dapat menjadi lebih kompleks pada anak dengan profil perkembangan tertentu, misalnya anak yang memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata (gifted) sekaligus ADHD atau kesulitan belajar seperti disleksia.

Andini menjelaskan bahwa anak gifted dapat memiliki cara berpikir yang lebih kompleks dibandingkan teman sebayanya. Pada sebagian anak, perbedaan tersebut juga dapat memengaruhi cara mereka memahami pengalaman sosial dan emosional. Sementara itu, karakteristik ADHD seperti impulsivitas dan kesulitan regulasi diri dapat memberikan tantangan tambahan dalam menghadapi situasi yang memicu emosi.

Meski demikian, respons setiap anak tetap berbeda dan perlu dipahami berdasarkan kondisi masing-masing. Salah satu hal yang dapat diperhatikan orang tua adalah bagaimana anak memaknai keberhasilan dan kegagalan.

Misalnya, ketika anak terbiasa mendapatkan hadiah setiap kali berhasil melakukan sesuatu, ia mungkin mulai memiliki harapan tertentu terhadap hadiah tersebut. Jika kemudian gagal memperoleh hasil yang diinginkan, anak bisa merasa kecewa, cemas, atau menunjukkan respons emosional yang kuat.

Dalam kondisi seperti ini, orang tua perlu mencoba memahami alasan di balik respons anak. Apakah anak merasa harus selalu menang? Apakah ia takut mengecewakan orang lain? Atau apakah keberhasilan menjadi sesuatu yang sangat penting bagi dirinya?

Dengan memahami kebutuhan dan cara berpikir anak, orang tua dapat membantu menjelaskan bahwa perasaan kecewa ketika gagal merupakan hal yang boleh dirasakan. Anak tetap perlu dibantu membedakan antara emosi yang muncul dengan perilaku yang dapat merugikan diri sendiri atau orang lain.

Sebagai contoh, marah karena kalah bermain adalah respons emosional yang bisa dipahami. Namun, jika kemarahan tersebut membuat anak menyakiti orang lain atau merusak benda, ia membutuhkan bantuan untuk menemukan cara mengekspresikan perasaannya dengan lebih aman.

Apresiasi juga tetap penting dalam proses belajar anak. Namun, penguatan positif tidak harus selalu berupa hadiah atau imbalan. Orang tua dapat memberikan pengakuan yang spesifik terhadap keterampilan yang berhasil dilakukan anak.

Misalnya, “Tadi kamu kecewa karena kalah, tapi kamu sudah bisa bilang kalau kamu sedih dan mau istirahat dulu.” Apresiasi seperti ini membantu anak mengenali kemampuan yang sudah berkembang, sekaligus memahami bahwa kemajuan tidak selalu diukur dari menang atau mendapatkan hasil yang sempurna.

Keterampilan Sosial-Emosional Anak Perlu Dilatih Secara Konsisten

Mengembangkan kemampuan sosial-emosional anak neurodivergen membutuhkan proses yang berlangsung secara bertahap.

Anak mungkin sudah memahami suatu keterampilan ketika berlatih di rumah, tetapi masih membutuhkan bantuan untuk menerapkannya ketika berada di sekolah atau menghadapi situasi baru. Karena itu, orang tua perlu memberikan kesempatan latihan yang berulang, tanpa mengharapkan setiap keterampilan langsung dapat dikuasai dalam waktu singkat.

Bentuk dukungan juga dapat berubah seiring perkembangan anak. Ketika anak mulai mampu mengenali emosinya, memahami situasi sosial, atau menentukan respons secara mandiri, bantuan orang dewasa dapat dikurangi secara bertahap.

Parents bisa memulainya dari aktivitas sederhana, seperti membantu anak menamai perasaan, mengajak berdiskusi setelah bermain, atau memberikan contoh cara menghadapi situasi yang membuatnya kecewa.

Jika anak memiliki tantangan sosial-emosional yang cukup besar, orang tua juga dapat bekerja sama dengan psikolog atau tenaga profesional untuk menentukan strategi yang sesuai dengan kebutuhan perkembangannya.

Dengan pendampingan yang konsisten dan lingkungan yang memahami kebutuhannya, anak memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenali diri, mengembangkan kemampuan sosial-emosional, dan membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain.

Follow Ibupedia Instagram