Keluarga

Cara Tepat Bertengkar di Depan Anak

Terakhir diperbaharui

Cara Tepat Bertengkar di Depan Anak

Bertengkar di depan anak memberi dampak lebih dari yang Anda kira. Bahkan anak usia 6 bulan sangat sensitif terhadap semua jenis konflik yang terjadi pada ibu dan ayah, termasuk pertengkaran.

 

Banyak penelitian menunjukkan kalau tekanan darah bayi naik ketika mendengar orangtua berdebat. Mereka mungkin belum mengerti apa-apa tapi mereka mendengar dan melihat konflik dan mencoba mencari tahu artinya.

 

Bahkan penelitian yang dilakukan di University of Rochester menemukan kalau hubungan orangtua dan bagaimana mereka mengatasi konflik sehari-hari penting untuk kondisi anak.

 

Ketika orangtua akur, anak merasa aman dan ia jadi percaya diri mengeksplorasi dan belajar tentang dunianya. Tapi sering kali, pertengkaran yang tidak kunjung selesai membuat rasa percaya diri hilang, memicu kesedihan, kecemasan, dan ketakutan pada anak di usia berapapun.

 

Yang dirasakan anak ketika orangtua bertengkar

Anak mengalami hal berbeda ketika melihat orangtua bertengkar di depan mereka:

 

  • Bayi dan batita

    Mereka merasakan nada suara dan bahasa tubuh Anda ketika percakapan menjadi emosional. Anda mungkin hanya berdebat tentang kebutuhan perawatan kesehatan, tapi anak akan merasakan dua orang yang ia cintai saling berteriak. Bila Anda merasa melakukan ini, pelankan suara. Berikan pelukan, senyuman, dan tatap mata anak lalu katakan, “Nggak apa-apa ya dek! Ayah dan Bunda masih saling sayang kok.”

     

  • Usia prasekolah

    Anak di usia ini bisa menganggap mereka adalah penyebab pertengkaran orangtua. Ya, mereka biasanya berusaha menghindari untuk menyalahkan diri, tapi ada tahapan perkembangan yang membuat mereka menyalahkan diri. Mereka dikuasai oleh pemikiran unik dan percaya mereka adalah pusat alam semesta. Jadi mereka berpikir, “Bila saya tidak memukul adik, Ayah dan Ibu tidak akan bertengkar.” Kalau tidak sengaja bertengkar di depan anak usia ini, segera tenangkan mereka, ya Bun.

     

  • Anak usia sekolah

    Anak usia lebih dari 5 atau 6 tahun kadang berasumsi lebih buruk, mereka akan berpikir kalau orangtua akan bercerai, bila pertengkaran tidak juga selesai. Anak dari keluarga dengan tingkat konflik tinggi bisa mengalami kecemasan, depresi, dan gangguan tidur. Mereka bisa juga mengalami kesulitan konsentrasi di sekolah dan dalam berteman.

     

    Daripada mencoba menutupi pertengkaran dengan mengatakan, “Nggak ada masalah kok Kak!” Kalau memungkinkan, sampaikan apa yang Ibu dan Ayah perdebatkan dan kasih tau anak bila sudah ada jalan keluar. Ketika tidak ada solusi, jangan bohongi anak, tapi jelaskan kalau Ibu dan Ayah sedang mencoba mencari solusi.

     

Efek bila orangtua bertengkar di depan anak

Penelitian menemukan kalau efek bertengkar di depan anak tidak sama pada semua anak. Berikut ini bagaimana efeknya:

 

  1. Menyalahkan diri sendiri

    Saling berteriak, bukan bicara baik-baik, bisa berbahaya bagi anak. Pertengkaran tentang anak di depan anak adalah hal yang paling merusak. Ini membuat anak merasa terancam dengan agresi atau menyalahkan diri sebagai penyebab konflik. Waspadai dampak ini pada anak ketika Anda bertengkar di depan anak.

     

  2. Temperamen dan usia

    Anak yang lebih kecil sering berpikir mereka telah melakukan kesalahan ketika orangtua berteriak, berdebat, dan bertengkar di depan mereka. Anak yang lebih besar merasa cemas orangtua akan bercerai. Beberapa anak sangat sensitif dan akan menyembunyikan kecemasan di dalam diri, sedang mereka yang ekstrovert bisa mengungkapkan kemarahan melaui perilaku yang tidak sehat.

     

  3. Efek pada anak laki-laki dan anak perempuan

    Anak laki-laki lebih mungkin menjadi lebih agresif, sedang anak perempuan cenderung menekan konflik dan jadi menarik diri ketika orangtua bertengkar di depan mereka. Hati-hati, ketika Anda bertengkar di depan anak, Anda perlu memulihkan kondisi anak setelah peristiwa ini.

     

Menyelesaikan konflik

Psikolog Jodie Benveniste mengatakan ada cara untuk mendiskusikan masalah yang bisa memperkuat hubungan. Anak sebenarnya bisa mendapatkan manfaat bila orangtua mau saling mendengarkan dan ingin memberi dan menerima. Ini mengajarkan anak bagaimana cara bernegosiasi dan mencari solusi masalah.

 

Bila Anda tidak bisa menghindari bertengkar di depan anak, jangan panik dan merasa bersalah. Kita semua tidak sempurna dan melakukan kesalahan. Gunakan kesempatan ini untuk meminta maaf di depan pasangan atau bahkan ke anak dan yakinkan kalau Anda dan pasangan akan selalu mencintai dan ada untuk mereka.

 

Setelah bicara pada anak, berjanjilah pada diri sendiri Anda tidak akan bertengkar di depan anak lagi. Di lain kesempatan, ketika Anda merasa kesulitan menghadapi dorongan untuk bertengkar, segera tinggalkan ruangan. Ingat, bila Anda tidak pergi dari tempat bertengkar, Anda akan membahayakan anak.

 

Bila pertengkaran dengan pasangan jauh lebih serius, cari bantuan profesional. Apa yang anak cari dari orangtua adalah ketentraman. Jelaskan ke anak kalau mereka bukan penyebab pertengkaran dan yakinkan mereka kalau mereka dicintai.

 

Cara tepat bertengkar di depan anak

Bila bertengkar di depan anak tidak bisa dihindari, berikut ini beberapa hal yang perlu Anda perhatikan:

  1. Turunkan kemarahan Anda

    Tiap orang, baik sadar atau tidak, punya tingkat agresi yang akan kita toleransi dalam hubungan. Kuncinya adalah mengenali tanda yang tubuh Anda tunjukkan sebelum percakapan jadi memanas.

     

    Apakah kemarahan meningkat ke titik di mana percakapan menjadi tidak produktif? Apakah Anda bicara lebih keras? Apakah perut Anda seperti teraduk-aduk dan dada terasa panas? Apakah pikiran Anda hanya fokus pada kesalahan yang dilakukan pasangan?

     

    Ambil napas, minum air, buka majalah, dan kembalilah bicara ketika Anda sudah tenang kembali. Bila berada di dalam mobil, ganti topik pembicaraan dan rencanakan untuk membahasnya kembali nanti. Anda mungkin merasa anak tidak mendengar pertengkaran. Tapi percayalah, mereka mendengarnya. Jadi buat kesepakatan dengan pasangan, bila argumen memuncak, Anda berdua akan menekan tombol “pause.”

     

  2. Buat catatan

    Pergi ke ruangan terpisah bila memungkinkan, dan tulis pikiran dan perasaan Anda pada secarik  kertas atau di handphone dan buat komitmen untuk membicarakannya dengan pasangan dalam waktu 24 jam.

     

    Tuliskan point yang ingin Anda utarakan. Tindakan simpel seperti menulis bisa membantu mengatur pikiran dan memperjelas sebuah masalah. Anda akan lebih siap berbicara dengan tenang ketika Anda kembali membuka diskusi.

     

  3. Masalah dengan perilakunya, bukan orangnya

    Selalu mulai percakapan dengan menggunakan kata “saya” yang menjelaskan bagaimana perasaan Anda, seperti, “Saya kesal kalau kamu memberi cemilan ke anak sebelum makan malam,” ini lebih baik daripada “Kita kan sudah sering bahas ini, kamu tidak pernah dengarkan saya.”

     

    Saat berdebat, fokuslah pada satu topik dan bahas satu per satu. Hilangkan kata “selalu” dan “tidak pernah” dari kosa-kata Anda. Karena ini bisa membuat pasangan bersikap defensif dan membuat pertengkaran makin panas.

     

  4. Jangan paksa anak menjadi wasit

    Yang anak inginkan adalah orangtua berhenti bertengkar. Anak tidak boleh membagi loyalitas mereka. Ketika Anda mendengar, “Bunda jangan  marah sama Ayah,” ini jadi tanda kalau Anda perlu menurunkan emosi.

     

  5. Jangan berusaha jadi “pemenang”

    Lihat argumen seobjektif mungkin. Argumen adalah masalah yang perlu diselesaikan. Ketika Anda merespon pendapat tiap orang dengan baik, anak melihat kalau ada lebih dari satu solusi untuk sebuah masalah. Dan berkompromi bukan satu hal yang buruk.

     

  6. Sensitif terhadap tanda stres pada anak

    Anak seperti orang dewasa, mereka menunjukkan kecemasan dengan cara berbeda. Beberapa anak menarik diri ketika mendengar atau merasakan konflik. Anak menutup telinga atau mata atau keluar dari ruangan. Beberapa anak berulah di rumah atau sekolah, sedang lainnya membela salah satu orangtua.

     

    Bukan malah jadi terbiasa dengan pertengkaran ini, seiring waktu anak akan tumbuh menjadi kurang tahan uji. Sakit kepala, sakit perut, atau mengalami reaksi berlebihan saat melihat Ayah dan Ibu bertengkar, semua ini jadi petunjuk kalau dampak dari pertengkaran Anda mempengaruhi anak.

 

Berikut ini beberapa tips lain yang bisa membantu:

  • Bila bertengkar di depan anak jadi hal yang sering Anda lakukan, ubahlah mindset Anda. Coba prioritaskan kesehatan anak dibanding kebutuhan untuk mengekspresikan emosi saat Anda mulai meninggikan suara Anda.
  •  
  • Meski sulit dan tidak realistis untuk tidak bertengkar di depan anak, hindari bertengkar tentang topik dewasa yang anak tidak bisa mencernanya, seperti masalah seks.
  •  
  • Bertengkar tentang anak di depan anak juga harus dihindari dan Anda perlu mendiskusikan ini dengan pasangan ketika anak tidak ada di dekat Anda.
  •  
  • Gunakan tanda non verbal untuk menunjukkan time out seperti mengangkat tangan.
  •  
  • Bila pertengkaran telah terjadi di depan anak, minta maaflah kepada anak karena sudah bertengkar di depannya. Untuk anak yang kecil, katakan “Bunda minta maaf yaa tadi Ayah dan Bunda bertengkar di depan Adek. Bunda sama Ayah salah. Kita sudah menyelesaikan masalahnya kok. Adek mau Bunda peluk?” Pastikan anak baik-baik saja dan tanyakan bagaimana perasaan mereka lalu beritahu kalau Anda sangat mencintai mereka. Juga minta pasangan untuk melihat kondisi anak di waktu terpisah.
  •  
  • Anda perlu jelaskan dan menekankan kalau pertengkaran yang terjadi tidak berhubungan dengan mereka karena mereka merasa bersalah bila orangtua bertengkar.
  •  
  • Gunakan penjelasan yang sesuai umur. Untuk anak yang lebih besar, Anda bisa katakan seperti, “Ayah dan Bunda lagi berdiskusi apa Ayah perlu pindah kerja dan kita punya pendapat berbeda. Tapi masalah ini sudah selesai kok sekarang.”
  •  
  • Bila terasa alami bagi Anda, biarkan anak melihat kalau Anda masih mencintai dan saling peduli dan hubungan Anda membaik setelah pertengkaran. Misalnya, beri pasangan pelukan dan ciuman dan beritahu anak kalau Anda mencintai si kecil.
  •  
  • Hindari berpura-pura semua baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak. Anak bisa dengan mudah merasakan ketidaktulusan dan ini bisa membuat mereka kebingungan.

 

Cara berhenti bertengkar di depan anak

Bertengkar jadi sesuatu yang sangat wajar terjadi dalam pernikahan. Tapi ketika argumen Anda dan pasangan mulai mempengaruhi anak, Anda perlu lakukan perubahan pada cara Anda berdua mengatasi perdebatan. Coba strategi berikut untuk berhenti bertengkar di depan anak:

 

  1. Hitung sampai 10

    Latih keinginan Anda untuk berhenti bertengkar di depan anak. Anda bisa memberitahu anak untuk menghitung sampai 10 ketika Anda marah. Lakukan hal yang sama. Daripada langsung bereaksi pada sesuatu yang pasangan katakan atau lakukan, lebih dulu hitung sampai 10.

     

    Mungkin terdengar kekanak-kanakan menghitung sampai 10, tapi 10 detik bisa membantu Anda memperoleh ketenangan sambil mengumpulkan pikiran. Apa yang Anda katakan setelah menghitung sampai 10 bisa sangat berbeda dibanding reaksi yang langsung Anda lakukan saat lagi emosi.

     

  2. Tentukan kata kunci

    Tetapkan kata kunci bersama pasangan. Anda akan menggunakannya ketika salah satu dari Anda merasa percakapan di depan anak jadi di luar kontrol. Anda berdua harus sepakat menggunakan kata kunci dan saat salah satu dari Anda menyebutnya, diskusi harus ditunda hingga anak tidak lagi ada dekat Anda berdua.

     

    Dengan kata lain, bila kata kuncinya adalah “coffee break” dan perdebatan tentang masalah keuangan terlalu memanas untuk anak dengar, salah satu dari orangtua katakan “coffee break.” Ini berarti perdebatan berakhir atau diskusi dilanjutkan ketika anak sudah tidur.

     

  3. Konsisten

    Cari solusi dan tetap pertahankan. Jangan berteriak “coffee break,” pergi ke ruangan lain, dan lalu mulai menghitung hingga 10. Coba konsisten untuk meredam perdebatan Anda.

     

Bekerjasamalah dengan pasangan untuk memilih salah satu metode di atas. Bila tidak berhasil untuk Anda berdua, sepakati untuk memilih metode yang berbeda. Yang penting, jangan mencoba semuanya sekaligus.

 

Bunda, pertengkaran bisa terasa menakutkan bagi anak. Mereka mungkin punya teman yang orangtuanya bercerai dan perdebatan antara Anda dan pasangan bisa membuat mereka tertekan.

 

Tapi bertengkar di depan anak bisa kok tidak berdampak negatif pada anak. Ini bisa terjadi saat pertengkaran tidak eksplosif.  Anak bisa belajar bagaimana Anda dan pasangan mengatasi perbedaan pendapat dengan damai. Jadilah contoh yang bisa mereka pelajari dan Anda akan terkejut dengan cara anak mengatasi konflik dengan adik atau kakaknya, teman, dan bahkan dengan Anda.

 

Kapan mencari bantuan profesional?

Bila hubungan yang Anda dan pasangan jalani tidak seperti yang Anda inginkan, jangan diam dan jangan lanjutkan perasaan marah. Bicaralah pada ahli, baik psikolog atau terapis yang bisa membantu Anda mencari solusi masalah Anda. Konseling juga membantu Anda menggali bagian yang menimbulkan pertengkaran, memberi rasa aman, dan yang paling penting, kita bisa belaja skill komunikasi yang baik.

 

Menjadi orangtua bisa memicu konflik

Saat lagi bertengkar dengan pasangan, wajar bila kebanyakan orangtua hilang kontrol dan membiarkan emosi memuncak. Tapi ahli parenting  Warren Cann and Jodie Benveniste menyatakan bukan pertengkaran orang tua yang memberi efek negatif ke anak, tapi cara orangtua bertengkar di depan anak lah yang memberi efek negatif.

 

Dampak konflik keluarga pada anak bergatung pada tingkat keparahan dan seringnya konflik terjadi, serta cara penyelesaiannya. Hubungan orangtua menciptakan iklim emosi di rumah. Ketika iklim emosi menimbulkan stres, ini mempengaruhi perkembangan anak. Tidak hanya pertengkaran keras yang berefek negatif, tapi juga pertengkaran yang terjadi terus-menerus.

 

Kemarahan yang tidak dikeluarkan juga bisa menyebabkan stres. Ini memicu gangguan emosi dan perilaku pada anak dengan efek jangka panjang. Ketika memiliki bayi, hubungan personal Ayah dan Ibu akan cenderung dikesampingkan. Penelitian juga menunjukkan kalau tingkat stres orangtua meningkat signifikan segera setelah bayi lahir. Dengan begitu banyak stres, konflik tidak bisa dihindari pasangan, lalu berakhir dengan bertengkar di depan anak.

 

Bagaimana orangtua memilih mengatasi konflik bisa membantu atau membahayakan bagi anak. Jadi prioritaskan hubungan Anda dengan pasangan, ini penting untuk anak juga penting untuk Anda.

(Ismawati)