Ciri Anak Neurodivergent dan Cara Memahaminya dengan Tepat
Punya anak yang sering dibilang “beda”, “nggak fokus”, atau “susah diatur” itu nggak mudah, Bu. Apalagi kalau komentar itu bukan cuma datang dari orang lain, tapi lama-lama juga ikut terlintas di pikiran sendiri. Kok anakku nggak seperti anak lain ya? Padahal, bisa jadi bukan anaknya yang bermasalah, tapi cara kita melihat dan memahami mereka yang belum tepat.
Faktanya, kondisi ini tidak jarang terjadi. Data menunjukkan bahwa 1 dari 5 anak belajar dengan cara yang berbeda, dan sekitar 3,3% atau setara dengan 2,6 juta anak di Indonesia termasuk dalam kelompok neurodivergent. Di balik angka itu, ada cerita lain yang sering luput dibicarakan. Lebih dari 80% orang tua mengalami stres, kecemasan, bahkan kelelahan emosional saat mendampingi anak mereka.
Sayangnya, banyak orang tua harus menjalani proses ini sendirian. Akses terhadap pendidikan inklusif dan layanan terapi yang terintegrasi masih terbatas, sehingga orang tua sering harus mencari, mencoba, dan menyatukan semuanya sendiri. Di tengah kondisi seperti ini, wajar kalau akhirnya muncul rasa bingung, lelah, bahkan mempertanyakan diri sendiri.
Hal inilah yang menjadi latar belakang diadakannya diskusi oleh Atelier of Minds, yang menghadirkan perspektif dari psikolog dan terapis untuk membantu orang tua melihat neurodiversity dengan cara yang berbeda, lebih utuh, dan lebih penuh empati.
Apa Itu Neurodivergent dan Kenapa Sering Disalahpahami?

Sebelum bicara lebih jauh soal perilaku anak atau cara mendampinginya, ada satu hal mendasar yang perlu kita luruskan dulu. Banyak orang tua masih melihat kondisi ini sebagai sesuatu yang harus diperbaiki, padahal justru di sinilah letak kesalahpahaman paling besar.
Jeremy Ang, Principal Clinical Psychologist dari Agape Psychology Singapura, menjelaskan bahwa cara pandang ini sering muncul tanpa disadari. Banyak orang tua datang dengan harapan anaknya bisa “kembali normal”, seolah ada sesuatu yang harus diperbaiki dari diri anak tersebut.
“Banyak orang tua datang dengan pemikiran bahwa mereka harus memperbaiki anaknya. Padahal kalau kita melihatnya sebagai sesuatu yang harus diperbaiki, berarti kita menganggap anak itu adalah masalah. Sementara sebenarnya perilaku anak bukan masalah, tapi cara mereka berkomunikasi dengan kita,” jelasnya.
Artinya, anak neurodivergent bukan anak yang “kurang”, tapi anak yang memiliki cara berpikir, belajar, dan merespons dunia yang berbeda dibandingkan kebanyakan anak lainnya. Di sinilah sering terjadi kesalahpahaman. Kita terbiasa membandingkan anak dengan standar yang dianggap “normal”. Padahal, konsep normal itu sendiri sebenarnya bisa berubah tergantung perspektif dan lingkungan. Apa yang terlihat berbeda hari ini, bisa jadi justru menjadi kekuatan di situasi yang tepat.
Secara umum, istilah neurodivergent digunakan untuk menggambarkan anak-anak yang memiliki cara kerja otak yang berbeda dari mayoritas. Sementara anak yang berkembang sesuai standar umum sering disebut sebagai neurotypical. Namun, penting untuk dipahami bahwa neurodivergent bukan satu kondisi yang spesifik, melainkan spektrum yang luas dengan kebutuhan yang sangat beragam.
Beberapa kondisi yang termasuk dalam spektrum ini antara lain:
a. Autism spectrum disorder yang memengaruhi komunikasi dan interaksi sosial
b. ADHD yang berkaitan dengan fokus dan kontrol impuls
c. Dyslexia yang memengaruhi kemampuan membaca dan memahami tulisan
d. Tantangan psikososial yang berkaitan dengan emosi dan kesehatan mental
e. Perbedaan sensori seperti sensitivitas terhadap suara, cahaya, atau sentuhan
f. Kondisi fisik seperti gangguan penglihatan, pendengaran, atau cerebral palsy
Melihat luasnya spektrum ini, penting untuk tidak langsung menarik kesimpulan hanya dari satu perilaku. Setiap anak punya cara berkembang yang unik, dan tidak semua perbedaan berarti ada masalah yang harus diperbaiki.
4 Tanda Awal Anak Neurodivergent yang Sering Terlewat

Banyak orang tua baru menyadari ada perbedaan pada anaknya setelah masuk usia tertentu. Padahal, beberapa tanda sebenarnya sudah bisa terlihat sejak dini, hanya saja sering dianggap sebagai hal biasa atau sekadar fase.
Ries Sansani, Pediatric Occupational Therapist dari Atelier of Minds, menjelaskan bahwa tanda awal anak neurodivergent bisa muncul dalam berbagai bentuk, dan setiap anak bisa menunjukkan pola yang berbeda. Namun, ada beberapa hal yang cukup sering ditemui di lapangan.
Beberapa tanda yang perlu mulai diperhatikan antara lain:
1. Keterlambatan bicara dibandingkan anak seusianya
2. Kesulitan untuk fokus atau mudah terdistraksi
3. Minim atau tidak adanya kontak mata saat diajak berinteraksi
4. Kurangnya respons saat diajak berkomunikasi, bahkan untuk hal sederhana seperti dipanggil atau diajak bermain
Menurut Ries, tanda-tanda ini sering terlihat dalam keseharian, bahkan sejak anak masih sangat kecil. Misalnya, saat diajak bercanda atau dipanggil, anak tidak menunjukkan respons seperti yang diharapkan. Atau saat diberikan stimulasi sederhana, interaksi yang muncul terasa sangat minim.
Meski begitu, penting untuk tidak langsung menarik kesimpulan hanya dari satu gejala saja. Setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda, dan satu tanda belum tentu langsung mengarah pada kondisi tertentu.
Jeremy Ang juga menekankan hal yang sama. Ia menjelaskan bahwa perilaku yang terlihat bisa saja disebabkan oleh faktor lain yang lebih sederhana. “Tidak bisa hanya melihat dari satu tanda saja. Misalnya anak tidak melakukan kontak mata, belum tentu itu berarti autisme. Bisa saja anak memiliki gangguan penglihatan, atau sedang terdistraksi oleh hal lain. Karena itu, perlu dilihat secara menyeluruh,” jelasnya.
Pendekatan yang lebih tepat adalah melihat pola secara keseluruhan, bukan potongan-potongan kecil yang berdiri sendiri. Dengan begitu, orang tua bisa mendapatkan gambaran yang lebih utuh sebelum mengambil langkah berikutnya.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua dengan Anak Neurodivergent

Setelah memahami bahwa anak neurodivergent bukan sesuatu yang perlu “diperbaiki”, tantangan berikutnya justru muncul di keseharian. Banyak orang tua sebenarnya sudah punya niat baik, ingin membantu anaknya berkembang, tapi tanpa sadar menggunakan cara yang kurang tepat.
Salah satu pola yang paling sering terjadi adalah keinginan untuk membuat anak “segera bisa”. Jeremy Ang menjelaskan bahwa banyak orang tua langsung fokus pada hasil akhir, tanpa benar-benar melihat posisi anak saat ini. “Kalau kita melihat anak sebagai sesuatu yang harus diperbaiki, kita akan terus mencari cara untuk mengubah mereka. Padahal yang sebenarnya perlu dilakukan adalah memahami apa yang sedang mereka coba sampaikan lewat perilakunya,” ujarnya.
Di sisi lain, Ries Sansani juga melihat pola serupa dari pengalaman mendampingi anak-anak di Indonesia. Ia mengatakan bahwa banyak orang tua datang dengan harapan instan setelah bertemu tenaga ahli. “Banyak orang tua datang dengan harapan anaknya bisa cepat berubah, seolah setelah ke terapis semuanya langsung beres. Padahal prosesnya tidak seperti itu, dan setiap anak punya cara berkembang yang berbeda,” paparnya.
Akibatnya, pendekatan yang diambil seringkali terlalu memaksa. Misalnya, anak yang belum bisa berbicara langsung didorong untuk berbicara lancar, tanpa melihat alternatif komunikasi yang sebenarnya bisa membantu.
Padahal, kemampuan komunikasi tidak selalu harus berbentuk verbal. Anak tetap bisa menyampaikan kebutuhan dan perasaannya melalui gambar, gestur, atau visual lain yang lebih sesuai dengan kemampuannya saat ini.
Di titik ini, yang perlu diubah bukan targetnya saja, tapi juga cara mencapainya. Bukan tentang membuat anak langsung “bisa”, melainkan bagaimana membantu anak berkomunikasi dengan cara yang paling bisa mereka lakukan saat ini.
Karena begitu sudut pandangnya berubah, respons orang tua pun ikut berubah. Tidak lagi terburu-buru memperbaiki, tapi mulai belajar memahami.
“Step Back” Jadi Langkah Penting Yang Harus Dilakukan Orang Tua dengan Anak Neurodivergent

Dalam banyak situasi membersamai anak neurodivergent, reaksi pertama orang tua biasanya refleks. Begitu anak terlihat kesulitan, tantrum, atau melakukan sesuatu yang dianggap “tidak sesuai”, tangan langsung bergerak, suara langsung meninggi, atau solusi langsung diberikan saat itu juga. Padahal, justru di momen seperti itu, langkah paling penting sering kali bukan bertindak, melainkan berhenti sejenak.
Jeremy Ang menekankan bahwa orang tua perlu memberi ruang untuk mengamati sebelum bereaksi. “Langkah pertama yang bisa dilakukan orang tua adalah mundur sejenak, tarik napas, lalu lihat dulu. Apa yang sebenarnya anak sedang coba sampaikan kepada kita,” jelasnya.
Respons spontan untuk langsung membantu memang datang dari naluri melindungi. Namun, jika terlalu cepat masuk ke situasi, orang tua bisa kehilangan kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Misalnya saat anak tiba-tiba menjauh, menolak, atau terlihat “menghindar”.
Sekilas, hal ini bisa terasa seperti penolakan terhadap orang tua, padahal, belum tentu demikian. Dalam banyak kasus, anak justru sedang merespons lingkungan di sekitarnya. Bisa jadi suasananya terlalu ramai, suara terlalu keras, atau ada hal lain yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Jeremy menjelaskan bahwa anak tidak selalu “menjauh dari orang tuanya”. “Sering kali anak bukan menjauh dari kita, tapi dari lingkungan yang terasa tidak nyaman bagi mereka,” ujarnya. Dengan mengambil jeda sejenak, orang tua punya kesempatan untuk melihat situasi dengan lebih jernih. Bukan hanya melihat perilakunya, tapi juga memahami konteks di baliknya. Cara orang tua merespons pun jadi lebih tepat. Tidak lagi sekadar reaktif, tapi benar-benar berdasarkan pemahaman.
Bukan Anak Neurodivergent yang Harus Menyesuaikan, Tapi Lingkungannya

Setelah orang tua mulai bisa melihat dan memahami perilaku anak dengan lebih utuh, langkah berikutnya adalah melihat satu faktor yang sering terlewat, yaitu lingkungan. Selama ini, banyak anak diminta untuk menyesuaikan diri dengan situasi di sekitarnya. Harus bisa duduk diam di kelas, harus fokus di tempat ramai, harus tenang di situasi yang sebenarnya penuh stimulus. Padahal, untuk anak neurodivergent, hal-hal seperti ini tidak selalu sederhana.
Jeremy Ang menjelaskan bahwa pendekatan yang lebih efektif justru berangkat dari arah sebaliknya. “Daripada memaksa anak menyesuaikan diri dengan lingkungan, kita perlu mulai berpikir bagaimana lingkungan bisa disesuaikan dengan kebutuhan anak,” ujarnya.
Perilaku yang selama ini terlihat “sulit” sering kali sebenarnya adalah respons alami terhadap kondisi sekitar. Anak yang gelisah, menutup telinga, atau tiba-tiba menangis di tempat umum bisa saja sedang kewalahan dengan suara, cahaya, atau banyaknya stimulus yang datang bersamaan.
Di sinilah pentingnya memahami sudut pandang anak. Apa yang terasa biasa bagi orang dewasa, bisa jadi terasa sangat intens bagi anak. Bahkan, hal sederhana seperti cara orang tua mendekat pun bisa memengaruhi respons anak.
Jeremy menggambarkan bagaimana posisi tubuh orang dewasa bisa terasa “mengintimidasi” bagi anak. Dengan ukuran tubuh yang lebih besar dan suara yang lebih keras, interaksi yang dimaksudkan untuk membantu justru bisa terasa menekan.
Ketika lingkungan mulai disesuaikan, perubahan yang terjadi sering kali cukup signifikan. Anak menjadi lebih tenang, lebih mudah diajak berinteraksi, dan lebih siap untuk belajar. “Anak yang mendapatkan dukungan yang tepat akan terlihat berkembang. Sebaliknya, anak yang tidak didukung dengan lingkungan yang sesuai sering kali terlihat sulit, padahal yang sebenarnya tidak sesuai adalah situasinya,” jelasnya.
Pemahaman ini membuka sudut pandang baru bagi orang tua. Bahwa tantangannya bukan selalu pada anak, melainkan bagaimana menciptakan ruang yang membuat anak bisa merasa aman dan dipahami.
3 Cara Sederhana Bantu Anak Neurodivergent Lebih Mandiri

Banyak orang tua berharap anaknya bisa lebih mandiri, bisa melakukan sesuatu sendiri tanpa terus dibantu. Tapi sering kali, yang terlewat justru fondasinya. Untuk anak neurodivergent, kemandirian tidak muncul tiba-tiba, melainkan dibangun dari hal yang berulang dan bisa diprediksi.
Ries Sansani menjelaskan bahwa salah satu kunci penting ada di rutinitas sehari-hari. “Anak neurodivergent butuh lingkungan yang bisa diprediksi. Ketika mereka tahu apa yang akan terjadi, itu membuat mereka lebih tenang,” ujarnya.
Rasa tenang ini punya efek yang besar. Saat anak merasa aman, mereka lebih mudah mengatur emosinya. Ketika emosi lebih stabil, anak jadi lebih siap mencoba hal-hal baru secara mandiri. Jadi, kemandirian sebenarnya bukan langsung soal “bisa sendiri”, tapi dimulai dari rasa nyaman dalam rutinitas yang konsisten.
Itulah kenapa kebiasaan kecil yang dilakukan berulang setiap hari bisa memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan instruksi yang hanya sesekali diberikan.
Untuk memulai, Ries menyarankan orang tua tidak langsung memberikan banyak target sekaligus. Cukup mulai dari beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan setiap hari. “Mulai dari tiga kebiasaan dulu, baru ditambah perlahan. Jangan langsung banyak, karena anak juga butuh waktu untuk membentuk kebiasaan,” jelasnya.
Beberapa contoh yang bisa mulai diterapkan di rumah antara lain:
1. Pertama, melibatkan anak dalam persiapan makan. Misalnya, anak mengambil piring, sendok, atau gelasnya sendiri. Walaupun masih perlu dibantu, proses ini tetap penting untuk dikenalkan.
2. Kedua, mengajak anak membereskan setelah selesai makan. Tidak harus sempurna, yang penting anak mulai memahami alurnya. Dari mengambil, menggunakan, sampai mengembalikan.
3. Ketiga, membiasakan anak meletakkan baju kotor di tempatnya. Meskipun awalnya hanya sekadar memindahkan atau meletakkan, ini sudah menjadi bagian dari latihan kemandirian.
Yang perlu diingat, kebiasaan yang sudah bisa dilakukan sebaiknya tetap dipertahankan. Jangan langsung diganti dengan hal baru hanya karena anak sudah terlihat bisa. Justru pengulangan itulah yang membantu membentuk pola. Pelan-pelan, dari tiga kebiasaan ini, orang tua bisa mulai menambahkan hal lain. Dengan cara ini, anak tidak merasa terbebani, dan proses belajar terasa lebih natural.
Anak Neurodivergent Berkembang Bertahap dan Setiap Anak Punya Kelebihan

Salah satu hal yang sering bikin orang tua lelah adalah ekspektasi. Rasanya ingin anak cepat bisa ini itu, apalagi kalau melihat anak lain seusianya sudah lebih dulu mencapai hal tertentu. Tanpa sadar, standar itu ikut terbawa ke cara kita mendampingi anak. Padahal, setiap anak punya titik awal dan kecepatan belajar yang berbeda.
Jeremy Ang menjelaskan bahwa perkembangan anak tidak bisa dipaksakan meloncat jauh dalam waktu singkat. Yang lebih penting adalah melihat posisi anak saat ini, lalu membantu mereka melangkah sedikit demi sedikit. “Kalau anak baru bisa satu kata, bantu ke dua kata. Jangan langsung minta satu kalimat. Kita perlu melihat dulu anak ada di tahap mana, lalu bantu dari situ,” ujarnya.
Pendekatan ini dikenal sebagai konsep zone of proximal development, yaitu area di mana anak hampir bisa melakukan sesuatu, tapi masih butuh sedikit bantuan. Di titik inilah proses belajar paling efektif terjadi.
Alih-alih mendorong anak terlalu jauh, orang tua justru perlu fokus pada langkah kecil yang realistis. Karena saat tantangan terasa masih dalam jangkauan, anak lebih percaya diri untuk mencoba. Sebaliknya, jika terlalu jauh, yang muncul justru rasa frustrasi.
Jeremy juga menekankan bahwa perkembangan tidak terjadi karena tekanan. “Perkembangan terjadi di batas kemampuan anak, bukan karena tekanan. Kalau kita terus mendorong tanpa melihat kesiapan mereka, justru itu tidak membantu,” jelasnya. Pendekatan ini mungkin terasa lebih pelan, tapi justru lebih konsisten. Anak tidak hanya belajar, tapi juga merasa mampu.
Di tengah fokus pada apa yang belum bisa dilakukan anak, sering kali ada satu hal yang terlewat. Kita lupa melihat apa yang sebenarnya sudah dimiliki anak. Jeremy Ang mengingatkan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki kekuatan di area tertentu. “Setiap anak pasti punya kekuatan. Masalahnya bukan mereka tidak punya, tapi kita yang belum melihatnya,” ujarnya.
Ada anak yang lebih responsif terhadap musik, ada yang cepat menangkap visual, ada juga yang lebih nyaman bergerak atau belajar lewat aktivitas fisik. Bentuknya bisa berbeda-beda, dan tidak selalu terlihat seperti kemampuan akademik.
Ketika orang tua mulai mengenali area yang disukai anak, proses belajar pun terasa lebih ringan. Anak tidak lagi terus-menerus dihadapkan pada hal yang sulit, tapi juga diberi ruang untuk berkembang lewat hal yang mereka kuasai. Pendekatan ini bukan hanya membantu anak belajar, tapi juga membangun rasa percaya diri. Anak merasa dirinya mampu, bukan terus merasa tertinggal.
Dengan dukungan yang tepat di area kekuatannya, anak jadi lebih stabil secara emosi dan lebih terbuka untuk mencoba hal baru. Dari situ, perkembangan di area lain biasanya akan ikut menyusul.
Perlukah Anak Neurodivergent Masuk Sekolah Khusus?

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul di benak orang tua dengan anak neurodivergent adalah soal pendidikan. Harus ke sekolah khusus, atau masih bisa di sekolah umum seperti anak lainnya?
Jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak. Karena setiap anak berada di spektrum yang berbeda, dengan kebutuhan dan kemampuan yang juga tidak sama.
Ries Sansani menjelaskan bahwa keputusan ini sangat bergantung pada kondisi masing-masing anak. “Setiap anak ada di spektrum yang berbeda. Ada yang ringan, ada yang sedang, ada yang lebih kompleks. Jadi tidak bisa disamaratakan semua harus sekolah di tempat yang sama,” jelasnya.
Pada anak dengan kondisi yang lebih ringan, dengan kemampuan kognitif yang cukup baik, sekolah umum masih bisa menjadi pilihan. Tentunya dengan beberapa penyesuaian agar anak tetap bisa mengikuti proses belajar dengan nyaman.
Beberapa bentuk dukungan yang biasanya diberikan antara lain pendampingan oleh shadow teacher, atau pengaturan posisi duduk yang lebih dekat dengan guru agar anak lebih mudah fokus dan menerima instruksi.
Namun, untuk anak dengan kebutuhan yang lebih kompleks, pendekatannya bisa berbeda. Dalam kondisi tertentu, memaksakan anak mengikuti jalur akademik yang sama justru bisa membuat anak merasa tertekan.
Ries menyarankan agar orang tua mulai melihat kemungkinan lain yang lebih sesuai dengan potensi anak. “Kalau memang anak memiliki tantangan yang cukup besar di akademik, tidak perlu dipaksakan. Bisa diarahkan ke jalur vokasional, fokus ke skill yang bisa dia kembangkan,” paparnya.
Pendekatan ini membantu anak tetap berkembang, tanpa harus terus-menerus merasa tertinggal. Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya soal nilai atau akademik, tapi bagaimana anak bisa menemukan kemampuan yang bisa ia gunakan di kehidupan sehari-hari.
Banyak anak justru menunjukkan perkembangan yang signifikan ketika diarahkan ke bidang yang mereka sukai. Seperti yang juga terlihat dalam pengalaman beberapa orang tua, ketika anak diberi ruang untuk mengembangkan minatnya, potensi yang sebelumnya tidak terlihat bisa muncul dengan sangat kuat.
Di titik ini, orang tua mulai diajak untuk melihat pendidikan dengan cara yang lebih fleksibel. Bukan sekadar memilih antara sekolah umum atau khusus, tapi benar-benar mencari lingkungan yang paling sesuai untuk anaknya.
Atelier of Minds, Jembatan Kebutuhan Anak Neurodivergent

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi orang tua, satu hal yang sering terasa paling berat adalah harus menjalani semuanya secara terpisah. Sekolah ada di satu tempat, terapi di tempat lain, sementara di rumah orang tua harus mencoba menyatukan semuanya sendiri. Padahal, untuk anak neurodivergent, pendekatan yang terpisah seperti ini sering kali justru membuat prosesnya terasa lebih rumit.
Inilah yang kemudian melatarbelakangi hadirnya Atelier of Minds. Sebuah student care dan enrichment center yang mencoba menjembatani kebutuhan anak secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari sisi akademik, tapi juga dari sisi perkembangan dan regulasi emosi.
Atelier of Minds menghadirkan tiga program utama yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.
1. Program pertama adalah Atelier Minis untuk anak usia 2 hingga 5 tahun, yang berfokus pada pendekatan berbasis bermain. Di tahap ini, anak tidak hanya diajak belajar, tapi juga membangun fondasi interaksi, eksplorasi, dan regulasi diri.
2. Program kedua adalah Student Care untuk anak usia 6 hingga 12 tahun. Program ini dirancang sebagai pendampingan setelah sekolah, yang tidak hanya membantu akademik, tapi juga mendukung kemampuan sosial dan emosional anak dalam keseharian.
3. Selain itu, terdapat juga Enrichment Program yang mencakup berbagai aktivitas seperti coding, art therapy, seni dan kerajinan, angklung, gitar klasik, hingga gym and movement. Program ini memberikan ruang bagi anak untuk menemukan dan mengembangkan minat serta kekuatannya.
Seluruh program dirancang dengan pendekatan berbasis terapi okupasi dan psikologi, sehingga setiap aktivitas disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing anak. Dengan pendekatan ini, Atelier of Minds berperan sebagai pendamping yang melengkapi proses belajar anak, bukan menggantikan sekolah atau terapi yang sudah dijalani.
Artinya, anak tetap menjalani aktivitas utamanya di sekolah, namun mendapatkan dukungan tambahan yang lebih terarah setelahnya. Mulai dari membantu memahami materi dengan cara yang lebih sesuai, melatih regulasi emosi, hingga mengembangkan keterampilan sosial dan kemandirian dalam keseharian.
Donny Eryastha, Co-Founder Atelier of Minds, menjelaskan bahwa tempat ini dibangun bukan sekadar sebagai fasilitas belajar. “Kami tidak hanya membangun sebuah tempat, tetapi ingin mendorong gerakan menuju pendidikan yang lebih inklusif dan berempati, di mana setiap anak bisa mendapatkan lingkungan yang tepat untuk berkembang,” ujarnya.
Dengan kehadirannya di Jakarta Selatan, Atelier of Minds diharapkan bisa menjadi salah satu langkah awal dalam membangun ekosistem yang lebih suportif bagi anak-anak dengan kebutuhan yang beragam.
Pada akhirnya, mendampingi anak neurodivergent bukan tentang siapa yang paling cepat menemukan solusi, tapi siapa yang paling mau belajar memahami. Tidak selalu mudah, tidak selalu langsung terlihat hasilnya, tapi setiap langkah kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran akan membawa perubahan. Mungkin bukan perubahan yang instan, tapi yang lebih penting, perubahan yang tepat untuk anak. Karena ketika orang tua mulai melihat anaknya dengan cara yang berbeda, di situlah perjalanan yang tadinya terasa berat perlahan bisa terasa lebih ringan.