Dampak Media Sosial pada Gen Z, Kenapa Butuh Fourth Space?
Niatnya hanya ingin scroll sebentar, tetapi tanpa terasa sudah melihat puluhan konten. Ada teman yang baru mendapat pekerjaan, content creator dengan rutinitas superproduktif, sampai seseorang yang penampilannya selalu terlihat sempurna. Meski tahu media sosial hanya memperlihatkan sebagian kecil kehidupan seseorang, tetap saja rasa tertinggal atau kurang percaya diri bisa muncul.
Dampak media sosial pada Gen Z memang tidak selalu terlihat secara langsung. Mereka bisa aktif berinteraksi di berbagai platform, memiliki banyak teman online, dan mengikuti beragam komunitas, tetapi pada saat yang sama tetap merasa kesepian. Kelelahan juga dapat muncul ketika otak terus menerima informasi serta emosi yang berbeda setiap kali layar digulirkan.
Bagi Parents yang memiliki anak remaja atau dewasa muda, kebutuhan mereka untuk mengambil jeda dari dunia digital sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tren. Ruang untuk bertemu orang lain, melakukan aktivitas tanpa layar, dan kembali mengenali diri sendiri dapat menjadi bagian penting dari keseharian mereka.
Topik tersebut dibahas dalam Lightplus Lightperience Picnic 2026 yang digelar Lightplus by Wardah pada 17 sampai 19 Juli 2026 di Urban Forest Cipete, Jakarta. Mengusung pesan “Light on Your Skin, Light on Your Mind”, acara ini menghadirkan ruang bagi Gen Z untuk beristirahat sejenak dari aktivitas digital, membangun koneksi langsung, mengeksplorasi diri, sekaligus mengenali kebutuhan kulitnya.
Empat Tekanan Media Sosial yang Sering Dialami Gen Z

Media sosial tentu tidak selalu membawa dampak negatif. Melalui platform digital, anak muda dapat bertemu orang dengan ketertarikan serupa, menemukan informasi, membangun karya, menjadi content creator, dan membuka berbagai peluang baru.
Namun, koneksi yang terjadi melalui layar tidak selalu memberikan rasa dekat yang sama dengan pertemuan tatap muka. Sasya Sava, Mental Health Counselor, menjelaskan bahwa ada empat tekanan yang cukup sering muncul saat seseorang terlalu larut dalam kehidupan digital.
1. Social comparison
Media sosial membuat seseorang mudah membandingkan penampilan, pencapaian, pekerjaan, hubungan, atau kehidupan sehari-harinya dengan orang lain. Perbandingan tersebut dapat terjadi terhadap teman yang dikenal maupun content creator dan influencer yang hanya dilihat melalui layar.
Masalahnya, konten yang muncul biasanya sudah dipilih dan dikurasi. Pengguna melihat hasil akhir atau bagian hidup yang ingin ditampilkan, tetapi tidak selalu mengetahui proses, kegagalan, dan kesulitan yang berada di baliknya.
2. FOMO dan perasaan tertinggal
Kebiasaan membandingkan diri dapat berkembang menjadi fear of missing out atau FOMO. Seseorang mulai merasa orang lain bergerak lebih cepat, memiliki lebih banyak pengalaman, atau telah mencapai sesuatu yang belum bisa ia dapatkan.
Rasa tertinggal tersebut juga dapat mendorong toxic productivity. Anak muda terus memaksa dirinya sibuk atau produktif bukan karena benar-benar membutuhkan aktivitas tersebut, tetapi karena khawatir dianggap kurang berhasil dibandingkan orang lain.
3. Kesepian di tengah ramainya dunia digital
Memiliki banyak pengikut, teman online, atau percakapan di media sosial belum tentu membuat seseorang merasa benar-benar dekat dengan orang lain. Sasya melihat bahwa Gen Z tetap dapat merasa kesepian karena koneksi digital memiliki pengalaman yang berbeda dengan pertemuan langsung.
Di media sosial, seseorang bisa terlihat terus terhubung tanpa pernah merasa benar-benar didengar. Perasaan inilah yang membuat mereka membutuhkan komunitas tempat mereka dapat bertemu orang dengan minat atau pengalaman serupa.
4. Digital fatigue
Scrolling dalam waktu lama membuat otak menerima begitu banyak informasi dan emosi dalam waktu singkat. Satu konten mungkin terasa lucu, lalu beberapa detik kemudian muncul berita menyedihkan, pencapaian orang lain, atau informasi yang memicu kecemasan.
Sasya menyebut pola tersebut sebagai emotional loop. Pergantian emosi yang terus terjadi dapat membuat seseorang semakin lelah dan merasa terputus dari dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar.
Keempat tekanan ini membantu menjelaskan mengapa seseorang dapat terlihat aktif di media sosial, tetapi sebenarnya sedang merasa kewalahan. Di titik inilah koneksi nyata dibutuhkan, bukan untuk menggantikan seluruh aktivitas digital, melainkan memberi keseimbangan.
Fourth Space Memberi Ruang Untuk Terkoneksi Secara Nyata

Kebutuhan Gen Z untuk beristirahat sejenak dari dunia digital kemudian diwujudkan Lightplus by Wardah melalui Lightplus Lightperience Picnic 2026, sebuah acara selama tiga hari yang dirancang sebagai fourth space bagi anak muda. Melalui ruang ini, Lightplus ingin membawa koneksi yang biasanya berlangsung secara URL atau di dunia maya menuju interaksi IRL yang terjadi langsung di kehidupan nyata.
Fourth space tersebut bukan hanya menjadi tempat untuk berkumpul. Peserta juga diajak melakukan aktivitas bersama, mengeksplorasi minat dan kepribadian, mengenali kondisi kulit, serta bertemu orang-orang yang memiliki ketertarikan serupa.
Kehadiran ruang seperti ini sejalan dengan temuan Survei Jakpat tahun 2025. Survei tersebut menunjukkan bahwa kebanyakan Gen Z di Indonesia memiliki ketertarikan terhadap aktivitas pengembangan sosial, salah satunya dengan bergabung dalam komunitas. Meski komunikasi digital telah menjadi bagian besar dari keseharian mereka, kebutuhan untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari suatu kelompok tetap tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh interaksi melalui layar.
Sasya menjelaskan bahwa pertemuan tatap muka dapat membantu seseorang membangun koneksi yang terasa lebih autentik dan bermakna. “Media sosial memudahkan kita terhubung, tetapi belum tentu membuat seseorang merasa benar-benar dekat dengan orang lain. Kehadiran fourth spaces dapat membantu seseorang membangun sense of belonging melalui interaksi yang lebih autentik dengan orang-orang yang memiliki minat serupa. Pertemuan seperti ini bukan hanya tentang bersosialisasi. Ini juga dapat menjadi bentuk self-care yang membantu seseorang lebih hadir, merasa didengar, dan lebih nyaman menjadi dirinya sendiri,” jelas Sasya.
Konsep tersebut diterapkan melalui berbagai kegiatan yang membuat pengunjung tidak hanya datang untuk melihat acara. Mereka dapat mengikuti Light Journaling Class, Light Crafty Class bersama influencer, beauty class, serta sejumlah aktivitas personalisasi yang membantu peserta mengenali diri dan kebutuhan kulitnya.
Lightplus Lightperience Picnic 2026 juga menghadirkan sesi interaktif bersama Xaviera Putri, Aqeela Calista, dan Amanda Rawles. Suasana piknik dimeriahkan oleh penampilan Ify Alyssa, Idgitaf, serta Reality Club, disertai Light Bites hasil kolaborasi dengan Feel Matcha dan Petit Bite.
Pengunjung dapat mengikuti kelas kreatif, aktivitas personalisasi, dan sejumlah benefit dari Lightplus. Melalui kegiatan yang dijalani bersama, peserta memiliki kesempatan untuk mengobrol, berkenalan dengan orang baru, serta menemukan komunitas yang membuat mereka merasa tidak sendirian.
Meski begitu, mengambil jeda dari dunia digital tentu tidak harus selalu dilakukan melalui acara besar. Ada beberapa langkah sederhana yang juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk kembali terkoneksi dengan diri sendiri dan lingkungan sekitar.
Cara Mengambil Jeda Dari Dunia Digital

Menurut Sasya, waktu yang digunakan untuk berhenti sejenak dari layar dapat menjadi kesempatan untuk kembali mengenali diri dan terkoneksi dengan apa yang ada di sekitar. Bentuknya dapat disesuaikan dengan minat, kondisi, serta energi setiap orang.
1. Kembali mengenali kebutuhan diri sendiri
Di tengah derasnya konten, seseorang dapat lebih sibuk mengikuti kehidupan orang lain daripada memahami apa yang sebenarnya sedang ia rasakan. Jeda digital bisa digunakan untuk mengenali kembali minat, emosi, kegiatan yang disukai, dan hal-hal yang sedang dibutuhkan oleh tubuh maupun pikiran.
Proses ini tidak harus menghasilkan jawaban besar. Menulis jurnal, berdiam sejenak, atau menyadari bahwa tubuh sedang lelah juga termasuk bentuk mengenali diri.
2. Lakukan grounding dengan lingkungan sekitar
Grounding berarti membawa perhatian kembali pada keadaan yang sedang berlangsung. Dalam bahasa Gen Z, langkah ini juga sering disebut touch the grass atau keluar sejenak dari ruang digital untuk kembali hadir di kehidupan nyata.
Caranya dapat berupa berjalan di luar ruangan, mengikuti kegiatan kreatif, mendengarkan musik, menyentuh dan membuat sesuatu dengan tangan, atau sekadar menikmati percakapan tanpa terus memeriksa notifikasi.
3. Bangun koneksi yang lebih nyata
Mengikuti komunitas, berkenalan dengan orang baru, atau mengajak teman melakukan aktivitas bersama dapat membantu seseorang merasa lebih didengar. Koneksi tersebut tidak harus selalu melibatkan percakapan mendalam. Melakukan hal sederhana bersama orang yang memiliki minat serupa juga dapat menumbuhkan sense of belonging.
Ruang semacam ini membuat seseorang menyadari bahwa pengalaman, kekhawatiran, atau perjuangan yang sedang dihadapi ternyata juga dirasakan oleh orang lain.
4. Jangan menjadikan proses orang lain sebagai ukuran diri
Setelah kembali menggunakan media sosial, perbandingan mungkin tetap muncul. Sasya mengingatkan bahwa perjalanan setiap orang berbeda, sehingga pencapaian orang lain tidak dapat dijadikan standar tunggal untuk menilai diri sendiri.
Pesan ini sejalan dengan dr. Iksanuddin Qothi, dokter dan skinfluencer, yang menggunakan konsep personal best dalam olahraga untuk menjelaskan cara melihat perkembangan diri dengan lebih sehat.
“Kalau di olahraga ada yang namanya personal best. Kita membandingkan diri dengan diri kita sendiri yang sebelumnya. Dengan adanya komunitas dan kegiatan seperti ini, kita jadi tahu bahwa masih banyak orang di luar sana yang sebenarnya sama seperti kita. Jadi, yang perlu dibandingkan adalah diri kita sekarang dengan diri kita sebelumnya, bukan dengan orang lain,” paparnya.
Jeda dari media sosial tidak harus berarti menonaktifkan akun atau menghilang sepenuhnya. Hal yang lebih penting adalah memberi ruang bagi diri sendiri untuk hadir, beristirahat, dan menjalani aktivitas tanpa terus mengukurnya berdasarkan kehidupan orang lain.
Tekanan yang muncul dari dunia digital juga tidak hanya memengaruhi pikiran. Pada sebagian orang, kondisi emosional dapat ikut terasa pada tubuh, termasuk kulit.
Saat Pikiran Sedang Tidak Baik, Kulit Bisa Ikut Terdampak
Sasya menjelaskan bahwa stres dapat memengaruhi tubuh melalui peningkatan hormon kortisol dan berpotensi berkaitan dengan peradangan maupun menurunnya fungsi skin barrier. Pada sebagian orang, jerawat, sensitivitas, atau eksim juga dapat terasa lebih mengganggu ketika tingkat stres sedang tinggi.
Namun, munculnya masalah kulit tidak otomatis berarti penyebabnya adalah stres atau penggunaan media sosial. Kondisi kulit dapat dipengaruhi banyak faktor, mulai dari perubahan hormonal, produk yang digunakan, lingkungan, sampai gaya hidup. Karena itu, penyebabnya tetap perlu dilihat secara menyeluruh.

Pengalaman tersebut pernah dirasakan Xaviera Putri, Face of Lightplus by Wardah sekaligus representasi Gen Z. Ia sempat mengalami breakout cukup parah ketika kuliah dan sedang menghadapi tekanan emosional.
Sebagai content creator, Xaviera juga memahami bagaimana media sosial dapat membuat kehidupan seseorang terlihat jauh lebih sempurna daripada kenyataannya. “Sebagai content creator, aku merasa media sosial sangat difilter. Apa yang ingin kita tunjukkan dan apa yang sudah kita capai. Padahal, kita tidak bisa benar-benar tahu atau merasakan apa yang orang lain lewati sampai kita mengalaminya sendiri. Mau kita sudah sesukses apa pun, comparison akan selalu ada,” akunya.
Menurut Xaviera, berada terlalu lama dalam lingkungan yang terasa terisolasi dapat membuat seseorang semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia mulai merasa pencapaiannya tidak sebanyak orang lain atau penampilannya tidak cukup baik, padahal yang terlihat di media sosial hanyalah potongan dari kehidupan seseorang.
Keluar sejenak, bertemu orang lain, dan mendengar perjalanan mereka dapat membantu memperluas sudut pandang. Meski demikian, pengalaman Xaviera tidak berarti stres akan menimbulkan reaksi kulit yang sama pada setiap orang.
Bila keluhan kulit terus muncul, semakin berat, atau mengganggu aktivitas, penyebabnya sebaiknya diperiksa lebih lanjut. Alih-alih langsung mencoba banyak produk, dr. Iksan menyarankan untuk memahami kondisi dasarnya terlebih dahulu.
Jangan Asal Mengganti Skincare Saat Kulit Bermasalah

Dr. Iksan menceritakan bahwa ia pernah mengalami kulit sensitif saat memasuki masa pubertas. Ketika masih duduk di bangku SMP dan SMA, ia juga sempat mencoba berbagai cara karena belum memahami langkah yang tepat untuk kondisi kulitnya.
Seiring waktu, ia menyadari bahwa penanganan masalah kulit sebaiknya dimulai dengan mencari tahu penyebab dan kebutuhan dasarnya. Beberapa langkah berikut dapat menjadi pertimbangan.
1. Cari tahu kondisi dan kemungkinan penyebabnya
Kulit sensitif atau bermasalah tidak selalu disebabkan oleh faktor yang sama. Perubahan hormonal, kondisi lingkungan, gaya hidup, maupun penggunaan produk tertentu dapat berpengaruh.
Karena penyebabnya berbeda-beda, mencoba banyak produk sekaligus justru dapat membuat seseorang semakin sulit mengetahui produk mana yang cocok atau memicu ketidaknyamanan.
2. Lakukan skin check atau konsultasi bila dibutuhkan
Pemeriksaan kondisi kulit dapat membantu seseorang memahami kebutuhan kulitnya dengan lebih tepat. Bila masalah tidak kunjung membaik, semakin berat, atau berulang, konsultasi dengan dokter dapat membantu menentukan penanganan yang sesuai.
Langkah ini juga penting agar seseorang tidak hanya mengikuti rekomendasi yang sedang populer tanpa mempertimbangkan keadaan kulitnya sendiri.
3. Kembali pada kebutuhan dasar kulit
Menurut dr. Iksan, kondisi dasar kulit perlu diperbaiki terlebih dahulu. Rutinitasnya dapat dimulai dengan memilih pembersih wajah yang sesuai, menjaga kelembapan, dan memberikan perlindungan pada kulit.
Produk yang digunakan tidak harus banyak. Hal yang lebih penting adalah kesesuaiannya dengan kebutuhan kulit dan konsistensi dalam menjalankan rutinitas tersebut. Karena itulah, peserta Lightplus Lightperience Picnic 2026 juga diajak mengenali kondisi kulitnya lebih dulu sebelum menentukan produk yang sesuai.
Bespoke Skin Dictionary Membantu Mengenali Kulit dan Diri
Lightplus Bespoke Skin Dictionary merupakan teknologi yang dikembangkan melalui proses co-creation bersama Xaviera sebagai representasi Gen Z. Teknologi ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman beauty yang lebih personal dan tidak hanya berfokus pada satu aspek.

Melalui pengalaman tersebut, peserta diajak mengenali tiga bagian dari dirinya.
1. Kondisi dan kebutuhan kulit
Peserta melakukan skin concern analysis untuk memahami kondisi serta masalah kulit yang sedang dihadapi. Hasilnya digunakan sebagai salah satu dasar untuk memberikan rekomendasi produk yang lebih relevan.
Langkah ini membantu peserta tidak sekadar memilih skincare karena sedang viral atau digunakan banyak orang.
2. Personal color dan shade
Analisis personal color dan shade digunakan untuk membantu peserta mengenali kelompok warna yang lebih sesuai dengan karakter tampilannya. Informasi tersebut kemudian dapat dipertimbangkan saat memilih produk makeup.
Rekomendasi yang diberikan tidak dimaksudkan untuk membatasi pilihan, tetapi membantu peserta memahami warna yang dapat membuatnya merasa lebih nyaman dan percaya diri.
3. Personality dan kecocokan aktivitas
Kepribadian dan preferensi peserta ikut dipertimbangkan dalam memberikan rekomendasi. Dengan begitu, hasil yang diperoleh tidak hanya berkaitan dengan produk, tetapi juga aktivitas yang dianggap lebih dekat dengan karakter masing-masing.
Ketiga hasil tersebut kemudian digunakan untuk memberikan rekomendasi produk dan pengalaman yang disesuaikan dengan setiap peserta. Pendekatan ini menegaskan bahwa dua orang dengan usia serupa belum tentu memiliki kondisi kulit, preferensi, dan rutinitas yang sama.
Agar rekomendasi personal tersebut dapat diterapkan dalam rutinitas, Lightplus turut memperkenalkan beberapa inovasi skincare dan makeup untuk mendukung gaya hidup aktif Gen Z.
Inovasi Skincare yang Disesuaikan dengan Kebutuhan Gen Z
Salah satu produk baru yang diperkenalkan di Lightplus Lightperience Picnic 2026 adalah Sensitive Relief Low pH Facial Wash. Pembersih wajah ini dirancang dengan konsep Barrier-First Relief System untuk membantu membersihkan kulit secara lembut tanpa mengabaikan kelembapan dan kenyamanannya.
Formulanya memadukan lima skin soothing actives, yaitu probiotics, vitamin B5, nano ceramide, Centella asiatica, dan beta-glucan. Produk ini juga dilengkapi dua teknologi pembersihan lembut melalui low pH formula dan amino surfactant.

Nurani Istiqomah, Lightplus Research & Development Scientist, menjelaskan bahwa pembersih wajah tersebut ditujukan untuk kulit sensitif maupun kulit yang sedang mengalami peningkatan sensitivitas atau sensitized skin. Pemilihan produk pembersih perlu diperhatikan karena menjadi salah satu langkah awal dalam rutinitas perawatan kulit dan dapat ikut memengaruhi kondisi skin barrier.
Dalam mengembangkan produknya, Lightplus menggunakan prinsip gentle, potent, dan proven. Artinya, formula dirancang tetap lembut saat digunakan, mengandung bahan aktif yang sesuai dengan fungsi produk, serta didukung pengujian untuk melihat hasil dan kinerjanya.

Lightplus juga memperkenalkan Longlast Glowing Combo yang memadukan Hydrashot Intensive Moisturizer dan Lite Skin Filter Cushion. Kombinasi ini dirancang untuk membantu menjaga kelembapan dan kenyamanan kulit sekaligus memberikan tampilan glowing yang lebih tahan lama.
Hydrashot Intensive Moisturizer disebut mengandung nano niacinamide dan hyalu-oligo untuk membantu menghidrasi serta mencerahkan tampilan kulit. Lite Skin Filter Cushion dilengkapi SPF 40 PA++++ sebagai bagian dari perlindungan kulit saat menjalani aktivitas sehari-hari.
Meski teknologi dan formula produk dapat membantu mempersempit pilihan, rutinitas perawatan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kulit dan gaya hidup masing-masing. “Ketika memilih skincare, kita harus memperhatikan kondisi kulit dan gaya hidup supaya treatment-nya lebih efektif, nyaman, dan bisa konsisten. Karena konsisten adalah kunci,” pesan Nurani.
Lightperience akan Hadir Lebih Dekat dengan Gen Z

Nastiti Prawitasari, Brand Manager Lightplus by Wardah, menjelaskan bahwa Lightperience tidak akan berhenti pada acara di Urban Forest Cipete. Lightplus berencana membawa kegiatan serupa ke beberapa kota, kampus, dan komunitas di Indonesia.
Harapannya, lebih banyak Gen Z dapat memperoleh ruang untuk melakukan aktivitas kreatif, mengenali kondisi kulit, menemukan komunitas, dan kembali terkoneksi dengan kehidupan nyata di tengah padatnya rutinitas digital.
“Kami percaya bahwa masa depan beauty industry tidak hanya ditentukan oleh produk yang relevan, tetapi juga oleh brand experience yang membantu generasi muda mengenal diri, mengetahui kondisi kulit untuk menentukan skincare dan makeup yang sesuai, juga didukung dengan aktivitas yang light on your skin, light on your mind. Melalui Lightperience Picnic, kami juga ingin terus menghadirkan fourth spaces yang dapat menjangkau lebih banyak generasi muda di berbagai kota, kampus, dan komunitas di Indonesia,” harap Nastiti.