Drama Anak Susah Makan Setelah Lebaran, Benarkah Akibat Kelebihan Gula?
Parents, ternyata nggak cuma Ibumin saja nih, beberapa orang tua juga ada yang mengeluh menurunnya nafsu makan anak usai lebaran berakhir. Yes! Anak susah makan dan cenderung lebih pilih-pilih makanan tertentu, memang bikin kita pusing tujuh keliling ya, Parents.
Tapi tahukah, Parents? Anak yang mendadak susah makan setelah lebaran, bisa jadi karena pola makan yang berubah selama liburan. Nggak bisa dipungkiri, melimpahnya kue kering, cokelat, hingga minuman manis selama hari raya, membuat si Kecil lebih tertarik untuk ngemil.
Kondisi ini yang membuat si Kecil 'kecanduan' rasa manis, jika sudah begitu, anak akan lebih sering merasa kenyang. Akibatnya, si Kecil menolak makanan utama seperti nasi, sayur, dan lauk berprotein.
Memang, gula tetap dibutuhkan sebagai sumber energinya, namun jika dikonsumsi berlebih, hal ini akan mengganggu keseimbangan nutrisi di tubuhnya. Padahal untuk pertumbuhannya, si Kecil memerlukan nutrisi penting seperti protein, kalsium, dan vitamin D.
Lantas, bagaimana cara mengembalikan nafsu makan si Kecil agar kembali normal, sehingga tumbuh kembangnya tetap optimal? Yuk, simak dalam ulasan berikut ini.
Bagaimana Konsumsi Camilan Manis Pengaruhi Pola Makan dan Kualitas Asupan Nutrisi Anak?
Gula memang mampu meningkatkan energi dengan cepat, sekaligus menyumbang kalori dalam jumlah cukup tinggi. Namun, di balik itu, kandungan nutrisinya sangat terbatas.
Meski begitu, konsumsi gula pada anak sebenarnya tetap aman, selama diberikan dalam jumlah yang tepat dan tidak berlebihan. Seperti disampaikan dr. Kanya Ayu, Sp.A dalam webinar bersama Ibupedia, gula punya peran penting untuk tubuh, yaitu sebagai sumber energi instan. Glukosa merupakan bahan bakar utama bagi sel tubuh dan otak, membantu meningkatkan fungsi kognitif, serta mengatasi tekanan darah rendah.
Secara umum, gula terbagi menjadi dua jenis:
a. Gula alami: terdapat dalam buah dan sayur, produk gandum, serta laktosa pada produk susu (dairy product).
b. Gula bebas (tambahan): berupa monosakarida atau disakarida yang ditambahkan ke makanan/minuman, seperti gula tebu, gula pasir, dan gula batu.
Sebagaimana yang dijelaskan dr. Kanya Ayu, Sp.A, gula tambahan perlu dibatasi, sementara gula alami dari makanan utuh relatif aman dikonsumsi dalam jumlah wajar.
Lalu berapa kebutuhan normal asupan gula harian? Menurut European Society for Paediatric Gastroenterology Hepatology and Nutrition (ESPGHAN), konsumsi gula harian pada anak usia 2–18 tahun sebaiknya kurang dari 5% dari total kebutuhan kalori harian. Untuk anak di bawah usia 2 tahun, asupannya harus jauh lebih dibatasi.
Dampak Serius Kelebihan Gula terhadap Nafsu Makan & Asupan Kalsium/Protein Anak

Parents, pernahkan mendengar istilah sugar rush? Yup! Menurut dr. Kanya Ayu Sp.A, Jika dikonsumsi secara berlebihan, gula dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan pada anak, salah satunya adalah sugar rush.
Tidak hanya itu, efek samping kelebihan gula juga bisa melebar kemana-mana. Gula berlebih meningkatkan risiko obesitas dan overweight, serta memicu penyakit metabolik seperti gangguan jantung, pembuluh darah, dan diabetes tipe 2. Saluran cerna juga bisa terganggu, mulai dari gangguan penyerapan nutrisi, diare kronik, kembung, sering buang gas, hingga nyeri perut.
Dampak lain yang cukup sering terjadi adalah karies gigi, berat badan lambat, juga hidden hunger yang sebabkan tubuh si Kecil kekurangan mikronutrien penting seperti zat besi, kalsium, vitamin A, dan zinc.
Cuma itu saja? Eits, ternyata nggak berhenti sampai disitu ya Parents, kelebihan gula pada juga bisa bikin anak susah makan. Karena ia merasa kenyang, akibat kelebihan energi dan kalori dari gula.
Bahkan, si Kecil juga berisiko mengalami gangguan pertumbuhan, karena kualitas gizinya tidak seimbang. Anak mungkin mendapatkan cukup karbohidrat, namun kekurangan protein, lemak baik, serta berbagai mikronutrien penting seperti kalsium, vitamin D, zinc, magnesium, dan omega.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat berdampak pada gangguan pertumbuhan, mulai dari weight faltering, tinggi badan yang tidak sesuai, hingga terganggunya perkembangan otak, fungsi kognitif, dan bahkan potensi IQ anak.
Jadi Anak Susah Makan, Benarkah Hanya Karena Konsumsi Gula?

Sebenarnya, kalau menurut dr. Kanya Ayu, Sp. A dalam webinar bersama Ibupedia, anak GTM alias menolak makan bukan cuma diakibatkan karena konsumsi gula berlebih ya, Parents. Ternyata ada banyak faktor pendukung yang menyebabkan anak susah makan setelah lebaran, lho!
Misalnya saja feeding rules yang berantakan selama lebaran, bisa menyebabkan anak susah makan setelahnya. Apalagi jika feeding rules ini terjadi secara berulang selama 14 hari berturut-turut, atau bahkan dibiarkan selama berbulan-bulan.
Feeding rules berantakan selama lebaran bisa membuat pola makan anak ikut berantakan. Terlebih saat libur lebaran, bisa jadi apa yang dimakan anak menjadi ‘suka-suka’ alias makan semaunya.
Nah, jika hal ini dilakukan selama 14 hari saja, otomatis sudah bisa membuat pola makan anak berantakan, yang berujung anak susah makan setelah libur lebaran berakhir. Efek jangka panjangnya, anak jadi merasa ini adalah kebiasaan baru yang boleh dan benar dilakukan.
Yuk, Kembalikan Pola Makan Anak Dengan Strategi “3-Day Reset”
Don’t worry Parents, feeding rules yang kacau dan sebabkan anak susah makan sejatinya masih bisa diperbaiki, kok. Namun, mengubah kebiasaan tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat (3-5-7 hari).
Kadang di tengah jalan, orang tua juga sering merasa ‘nggak tega-an’, nggak serius (on-off), atau anak diasuh oleh caregiver atau orang terdekat yang merasa lebih paham. Tetap tenang ya, Parents. Yuk, terapkan 3-Day Reset yang dimulai dari:
a. Biasakan anak bangun jam 7 pagi.
b. Terapkan feeding rules yang ketat; duduk saat makan, no distraction (termasuk nonton TV/gadget), dan tetapkan durasi maksimal hanya 30 menit.
c. Kalau anak masih merajuk nggak mau makan, sesekali coba bujuk dengan reward. Tanyakan ulang, kalau ia tetap menolak makan maka hentikan kegiatan ini.
d. Beri jarak makan 2-3 jam ke makan berikutnya.
e. Di antara jam makan, berikan air putih saja (hindari minuman manis).
f. Berikan susu sesuai usia, atur pemberiannya sesuai frekuensi makan atau susu hanya diberikan menjelang tidur saja.
g. Buat suasana makan jadi menyenangkan, tidak diiming-imingi hadiah, serta tidak dipaksa/dimarahi.
h. Pastikan Parents harus disiplin dengan waktu makan, jangan lupa untuk selalu tegas, tega dan konsisten.
Setelah aturan makan beres dan pola makan anak teratur, penting untuk Parents memastikan nutrisinya terserap sempurna sehingga akan mendukung tumbuh kembang anak secara maksimal. Parents perlu mendukung asupan nutrisinya dengan dua hal penting ini, yaitu CPP (Casein Phosphopeptides) yang berperan seperti “magnet” di saluran cerna untuk membantu penyerapan mineral kunci seperti kalsium, zinc, dan magnesium, serta arginine yang membantu merangsang hormon pertumbuhan guna mendukung perkembangan tulang anak.
Peran CPP & Arginine dalam Membantu Penyerapan Mineral Penting secara Optimal
Saat pola makan sudah diperbaiki dan asupan nutrisi sudah ditingkatkan, penting untuk Parents memastikan penyerapan nutrisi dalam tubuh si Kecil bekerja secara maksimal.
Parents perlu memastikan kualitas asupan nutrisi tetap terjaga, dengan dua nutrisi penting ini, yaitu CPP (Casein Phosphopeptides) dan Arginine yang berperan penting dalam proses penyerapan nutrisi dan pertumbuhan si Kecil.

Yup, memang segitu pentingnya peran CPP! CPP bekerja seperti magnet di saluran cerna, dengan cara mengikat mineral penting, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan Zinc (Zn) sehingga penyerapannya di usus lebih optimal. Kalsium sendiri, berfungsi sebagai pembentukan dan kepadatan tulang, magnesium sebagai metabolisme tulang, dan zinc perannya penting untuk menunjang pertumbuhan dan meningkatkan imunitas anak.
CPP juga terbukti secara ilmiah bisa membantu anak 2x lebih cepat tinggi, meningkatkan massa otot dan meningkatkan nafsu makan anak dalam 4 minggu. Hebatnya lagi, asupan CPP juga terbukti secara ilmiah membuat 35% anak lebih jarang sakit, dan 37% anak jarang absen di sekolah.
Sebagai perbandingan, standar penambahan tinggi badan anak biasanya hanya 1cm/3bulan. Dengan mengonsumsi mikronutrien CPP secara rutin, bisa tingkatkan tinggi badan anak sebanyak 2-3cm/3 bulan.
Begitupun dengan berat badan anak, yang standarnya 100gram/bulan. Dengan mengonsumsi CPP, berat badan anak bisa bertambah sebanyak 200gram/bulan.
Sementara itu, Arginine berperan dalam merangsang hormon pertumbuhan yang penting untuk perkembangan tulang. CPP dan Arginine bekerja secara sinergis bersama vitamin D dan vitamin K2. Yang mana jika dijabarkan perannya, Vitamin D mendukung penyerapan kalsium, K2 mendukung aktivitas OC (Osteocalcin) untuk membawa kalsium ke dalam tulang, serta Arginine yang berfungsi memberikan sinyal untuk merilis hormon pertumbuhan.
Kombinasi ini tidak hanya membantu penyerapan nutrisi, tetapi juga mendukung pembentukan dan pertumbuhan tulang anak secara maksimal.
Nah, untuk lihat progres pertumbuhan anak, Parents bisa pantau dan evaluasi pertumbuhan anak secara rutin menggunakan kurva standar World Health Organization (WHO) atau memanfaatkan tools pertumbuhan seperti Growthpedia Calculator. Dengan begitu, tumbuh kembang anak lebih terukur dan jangan lupa konsultasikan juga ke dokter anak juga, ya!