Energen Gelar Kajian Ramadhan di Istiqlal, Bahas Pentingnya Sahur Bergizi
Saat Ramadan tiba, ritme pagi di banyak rumah berubah. Alarm berbunyi lebih awal, dapur mulai menyala sebelum subuh, dan para ibu biasanya sudah lebih dulu bangun untuk menyiapkan sahur bagi keluarga.
Namun kenyataannya, menyiapkan sahur tidak selalu mudah. Waktu yang terbatas, anak yang masih mengantuk saat dibangunkan, hingga memilih menu yang praktis tetapi tetap bergizi sering menjadi tantangan tersendiri bagi para ibu selama bulan puasa.
Topik inilah yang kemudian dibahas dalam Kajian Ramadhan yang digelar Energen pada 3 Maret 2026 di Masjid Istiqlal, Jakarta. Acara ini menghadirkan tausiyah dari Habib Ja'far serta sesi edukasi kesehatan bersama dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp.A, yang membahas pentingnya sahur bergizi sebagai bekal menjalani puasa sepanjang hari.
Antusiasme masyarakat terlihat jelas sejak awal acara. Lebih dari 10.000 peserta memadati area Masjid Istiqlal untuk mengikuti kajian yang tidak hanya membahas makna Ramadan dari sisi spiritual, tetapi juga mengangkat pentingnya menjaga kesehatan selama berpuasa.
Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar, Tapi Menjaga Amanah Tubuh

Dalam sesi kajian tersebut, Habib Ja'far mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Menurutnya, ibadah ini juga menjadi cara manusia menjaga amanah tubuh yang telah diberikan oleh Allah. "Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga amanah tubuh. Ikhtiar melalui sahur yang baik menjadi bagian dari kesungguhan kita dalam beribadah," ujar Habib Ja'far.
Ia kemudian menjelaskan bahwa kualitas iman sejatinya berada di dalam hati. Hanya Allah dan diri kita sendiri yang benar-benar mengetahui bagaimana kondisi hati tersebut. Karena itulah puasa sering disebut sebagai ibadah yang sangat istimewa.
Untuk menggambarkan hal tersebut, ia menjelaskan bahwa setiap ibadah dalam Islam memiliki karakter yang berbeda beda. Salat, misalnya, merupakan ibadah hati yang menuntut kekhusyukan. Zakat berkaitan dengan harta karena seseorang mengeluarkan sebagian rezekinya untuk orang lain. Haji menjadi ibadah fisik bagi mereka yang mampu menunaikannya. Sementara puasa sering disebut sebagai ibadah yang sangat personal antara hamba dan Allah, karena hanya Allah yang benar-benar mengetahui kualitasnya.
Habib Ja'far juga menekankan bahwa Islam adalah agama yang fitrah dan manusiawi. Dalam menjalankan ibadah, umat Islam tidak diminta menjadi malaikat yang tanpa kebutuhan, tetapi juga tidak dianjurkan untuk bersikap berlebihan.
Prinsip keseimbangan ini juga berlaku dalam hal makan saat sahur. Ia mengingatkan bahwa makan terlalu banyak justru dapat membuat tubuh terasa berat dan mudah mengantuk saat berpuasa. "Sakit sering kali berawal dari apa yang masuk melalui mulut. Makan berlebihan membuat tubuh tidak sehat dan mudah mengantuk. Biasanya kita justru lebih kuat ketika makan secukupnya, tidak berlebihan," jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa sahur tidak perlu selalu dalam porsi besar. Yang terpenting adalah makanan yang cukup, halal, dan baik bagi tubuh.
Sunnah Sahur dan Keberkahan yang Menyertainya
Dalam kajian tersebut, Habib Ja'far juga menyinggung tentang sunnah sahur yang dianjurkan dalam Islam. Salah satunya adalah mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil. Kurma dikenal sebagai makanan yang kaya serat dan gula alami sehingga dapat membantu memberikan energi bagi tubuh selama berpuasa. Selain kurma, ada pula beberapa makanan yang disebut dalam tradisi Islam memiliki banyak manfaat, seperti madu, buah tin, dan minyak zaitun.
Namun kembali lagi, kunci sahur yang baik bukanlah makan sebanyak mungkin. Habib Ja'far menjelaskan bahwa sahur pada dasarnya adalah bentuk keberkahan yang Allah berikan kepada umat Islam. Sahur bukan sekadar membuat perut kenyang, tetapi menjadi bekal untuk menjalani ibadah puasa sepanjang hari.
Menurutnya, seseorang tetap bisa menjalani puasa dengan baik meskipun sahurnya sederhana. Misalnya hanya dengan beberapa butir kurma, air putih, atau makanan lain yang secukupnya. "Badan kita sudah diciptakan Allah dengan sempurna. Jangan khawatir akan sakit jika makan secukupnya. Sahur itu penting, tetapi tidak perlu berlebihan," ungkapnya.
Komposisi Sahur Bergizi Agar Energi Stabil Seharian

Selain membahas sisi spiritual puasa, kajian ini juga menghadirkan sudut pandang medis dari dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp.A, dokter spesialis anak yang turut menjadi pembicara dalam acara tersebut.
Dr. Denta menjelaskan bahwa sahur yang baik seharusnya memiliki komposisi nutrisi yang seimbang agar tubuh tetap bertenaga sepanjang hari. "Sahur dengan kombinasi karbohidrat, protein, serat, serta vitamin dan mineral membantu memperlambat rasa lapar dan menjaga energi tetap stabil, sehingga anak dapat menjalani puasa dengan lebih nyaman dan tidak mudah rewel," jelas Dr. Denta.
Dr. Denta kemudian merinci beberapa komponen nutrisi penting saat sahur. Pertama adalah karbohidrat yang bisa didapat dari nasi, mie, atau pasta sebagai sumber energi utama. Kedua adalah protein yang berasal dari lauk seperti ayam, telur, atau sumber protein lainnya untuk membantu menjaga rasa kenyang lebih lama. Ketiga adalah serat yang dapat diperoleh dari sayur dan buah. Serat berperan membantu memperlambat proses pencernaan sehingga tubuh tidak cepat merasa lapar.
Selain itu, tubuh juga memerlukan vitamin dan mineral yang banyak terdapat pada sayur dan buah. Lemak dalam jumlah secukupnya juga tetap dibutuhkan oleh tubuh untuk menjaga keseimbangan energi. Dengan kombinasi nutrisi tersebut, tubuh dapat mempertahankan energi lebih stabil selama menjalani puasa.
Prinsip Sahur yang Tepat: Tidak Berlebihan dan Tidak Kekurangan

Dalam sesi tanya jawab, Dr. Denta juga menekankan pentingnya menjaga pola makan yang seimbang selama Ramadan. Ia menjelaskan bahwa makan terlalu banyak saat sahur justru tidak baik bagi tubuh. Ketika seseorang makan berlebihan, tubuh akan menyimpan kelebihan energi dalam bentuk lemak.
Kondisi tersebut dalam jangka panjang bisa berdampak pada kesehatan, termasuk meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Selain itu, makan terlalu banyak juga membuat aliran darah lebih banyak mengarah ke sistem pencernaan sehingga tubuh terasa lemas dan mengantuk.
Karena itu, Islam mengajarkan prinsip keseimbangan dalam segala hal. "Sahur tidak boleh terlalu kenyang dan tidak boleh terlalu sedikit hingga lemas. Islam mengajarkan sikap pertengahan, tidak berlebihan dalam segala hal," jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa puasa sebenarnya tidak membuat tubuh sakit selama dilakukan dengan pola makan yang tepat. "Puasa seharusnya tidak membuat sakit dan tidak memicu masalah lambung. Justru banyak penelitian yang menunjukkan bahwa puasa baik untuk kesehatan jika dilakukan dengan benar," katanya.
Cara Melatih Anak Mulai Belajar Puasa Secara Bertahap

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Denta juga membahas bagaimana orang tua dapat melatih anak untuk mulai belajar berpuasa. Ia menjelaskan bahwa pendidikan ibadah sebenarnya sudah bisa dimulai bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Orang tua dianjurkan memperbanyak doa serta membaca Al Quran sebagai bentuk ikhtiar spiritual bagi anak.
Ketika anak mulai bertumbuh, latihan puasa bisa dilakukan secara bertahap. Anak usia sekitar tujuh tahun biasanya sudah bisa mulai dilatih berpuasa setengah hari. Ketika menginjak usia sepuluh tahun, anak umumnya sudah dapat dibiasakan menjalani puasa penuh jika kondisi tubuhnya memungkinkan.
Namun yang perlu diingat, puasa tidak boleh menjadi beban bagi anak. Untuk anak usia sekitar lima tahun yang masih berada dalam masa pertumbuhan aktif, kebutuhan energi dan cairan mereka cukup tinggi. Jika ingin mengajak anak belajar puasa, orang tua perlu memantau kondisi mereka secara berkala.
Tanyakan apakah anak masih kuat atau tidak, dan pastikan suasana Ramadan tetap terasa menyenangkan bagi mereka. Dr. Denta juga menyarankan agar momen sahur, berbuka, dan tarawih dilakukan bersama keluarga sehingga anak merasa lebih semangat menjalani ibadah puasa.
Peran Ibu Menentukan Kualitas Sahur Keluarga

Di tengah kesibukan Ramadan, ibu memiliki peran penting dalam memastikan kebutuhan nutrisi keluarga tetap terpenuhi. Dalam kesempatan tersebut, Haruman Rustandi selaku Marketing Director Coffee and Health Food PT Mayora Indah Tbk menjelaskan bahwa Energen ingin hadir sebagai sahabat bagi para ibu selama Ramadan. "Kami memahami bahwa ibu memiliki peran besar dalam memastikan keluarga siap menjalani puasa. Energen hadir sebagai pelengkap sahur bergizi lengkap yang mengenyangkan dan mudah disiapkan, sehingga ibu dapat lebih tenang memastikan anak anak kuat puasa seharian," ujarnya.
Energen sendiri dikenal sebagai pionir sarapan bergizi lengkap di Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 90 persen di kategori sereal. Melalui berbagai program edukatif, Energen berkomitmen untuk terus mendampingi keluarga Indonesia agar dapat menjalani Ramadan dengan lebih sehat, kuat, dan penuh makna.
Kajian Ramadan yang Membuka Perspektif Baru tentang Sahur

Kajian Ramadan ini tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga menjadi pengalaman yang berkesan bagi para peserta yang hadir. Salah satu pengunjung mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari kajian tersebut. "Menarik sekali karena selain membahas makna Ramadan dari sisi spiritual, kajian ini juga mengulas pentingnya menjaga kesehatan selama berpuasa, termasuk memastikan asupan nutrisi yang lengkap saat sahur. Informasi yang dibagikan sangat membantu saya dalam menyiapkan menu sahur yang tepat dan bergizi lengkap untuk keluarga," ungkapnya.
Setelah rangkaian kajian dan diskusi selesai, acara kemudian ditutup dengan buka puasa bersama para peserta yang hadir di Masjid Istiqlal. Melalui kegiatan ini, Energen berharap dapat terus mendampingi keluarga Indonesia dalam menjalani Ramadan dengan lebih kuat, sehat, dan penuh keberkahan. Karena pada akhirnya, sahur yang baik bukan hanya tentang kenyang, tetapi tentang bekal energi dan niat ibadah yang membawa kebaikan sepanjang hari.