Keluarga

Hal-Hal yang Sebaiknya Tidak Dilakukan Lagi Oleh Orang Tua

Terakhir diperbaharui

Hal-Hal yang Sebaiknya Tidak Dilakukan Lagi Oleh Orang Tua

Penelitian menunjukkan beberapa perilaku orang tua tidak bagus untuk anak. Meski gaya pengasuhan anak bisa berbeda di berbagai budaya, dan dari satu keluarga dengan keluarga lain, ada beberapa tindakan orang tua yang bagi para peneliti, psikolog, dan ahli perkembangan anak dianggap tidak relevan, tidak disarankan, bahkan bisa berbahaya.

 

Berikut ini yang seharusnya tidak lagi dilakukan para orang tua:

 

  1. Mengerjakan PR anak

    Tidak seperti praktik lain yang bisa menimbulkan rasa bersalah orang tua, ibu dan ayah yang mengerjakan tugas akademik anak sering merasa yakin kalau mereka telah menjadi orangtua yang suportif. Ternyata mereka salah. Ketika orangtua mengerjakan PR anak, mereka merampas kesempatan anak untuk belajar dan tumbuh secara personal.

     

    Oleh karena itu, sudah waktunya untuk menghentikan campur tangan orang tua. Tindakan orangtua ini tidak hanya mengirim pesan ke anak kalau orangtua kurang percaya dengan kemampuan yang anak peroleh, tapi juga membuat anak malas dan mendorongnya melalaikan tanggung jawab akademiknya.

     

    Bagaimana solusinya? Sebelum anak mulai mengerjakan PR, sediakan waktu beberapa menit bersama anak untuk memberi pemahaman dan menyiapkan anak untuk bisa menyelesaikan tugasnya. Lalu tinggalkan anak agar ia bisa mengerjakan PR. Bila nanti Anda memeriksa tugas anak, gunakan teknik bertanya untuk mengaktifkan pemikiran anak tentang tugas yang ia kerjakan, bukan memberinya arahan spesifik untuk merevisi PR. Bila tugas yang dikerjakan anak di luar kapasitasnya, jangan kerjakan PR untuknya. Tapi bahas ini bersama guru untuk menentukan kenapa tidak cocok antara tuntutan tugas dan  kemampuan anak.

     

  2. Tidak mengutamakan waktu tidur anak

    Sering kali, orangtua meminimalisir pentingnya tidur, baik karena kurang pemahaman tentang pentingnya tidur atau karena tuntutan peran. Tidur yang tidak cukup punya dampak negatif bagi perilaku, juga mengganggu fungsi mental dan berhubungan dengan penambahan berat badan.

     

    Anak usia remaja membutuhkan setidaknya 8,5 jam tidur, dan antara 11 sampai 12 jam tidur untuk anak kecil usia antara 5 sampai 12 tahun. Ini artinya anak usia 15 tahun yang bangun jam 7 pagi, harus tidur setidaknya mulai jam 10.30 malam, sedang anak usia 10 tahun perlu tidur dari jam 8 malam dan bangun jam 7 pagi.

     

    Buatlah jadwal bersama anak, untuk waktu tidur, waktu mengerjakan PR, dan aktivitas ekstrakurikuler. Bila merasa aktivitas anak mengurangi waktu tidurnya, Anda perlu membantunya membuat pilihan yang sulit, yakni mengurangi jadwalnya agar ia bisa mendapat tidur yang cukup.

     

  3. Sering makan di luar

    Sering makan di luar bisa punya efek negatif untuk jalinan kedekatan dengan orangtua, berdampak buruk untuk nutrisi yang baik, dan tidak baik untuk menjaga berat badan yang sehat. Lingkungan restoran, terutama restoran cepat saji, suasananya mengganggu percakapan dan kesempatan untuk menjalin kedekatan. Dan bila kata “makanan” didefinisikan sebagai kandungan nutrisi yang terserap tubuh untuk menjaga kehidupan dan pertumbuhan, beberapa item pada menu anak di restoran hampir tidak menyentuh kategori ini. Penelitian menemukan, bila dibandingkan makanan yang disiapkan di restoran, makanan yang dimasak di rumah lebih tinggi nilai nutrisinya.

     

    Makan malam yang sudah disiapkan lebih dulu bisa membantu Anda menghindari makanan siap saji. Anda hanya butuh 2 hingga 4 jam di akhir pekan untuk menyiapkan masakan selama satu minggu. Buat rencana menu yang akan disajikan, sediakan bahan makanan yang Anda butuhkan di dapur, dan pastikan Anda mengikuti rencana ini tiap minggunya. Makanan yang sudah Anda masak bisa disimpan di lemari es atau freezer agar tetap segar.

     

  4. Memukul

    Banyak orang tua memukul atau setuju dengan memukul anak, tapi manfaat memukul tidak didukung oleh penelitian. Memang benar kalau memukul bisa menghentikan perilaku buruk anak untuk waktu singkat, tapi efek negatifnya signifikan. Tentu disiplin perlu bagi anak, tapi bukan berarti diterapkan dengan cara memukul.

     

    Anti memukul bukan berarti anti disiplin. Kekerasan fisik pada anak tidak bisa diterima. Anak yang dipukul lebih mungkin melakukan tindak kejahatan dan lebih rentan depresi. Mereka juga lebih tidak dekat dengan orangtua dan merasa kekerasan sebagai cara yang lebih tepat untuk mengatasi masalah.

     

    Cara memperbaikinya, mulai dengan ekspektasi Anda dan jelaskan pemikiran Anda, pastikan anak memahami tindakan yang bisa diterima dan yang dianggap salah. Lalu ciptakan rencana penerapan disiplin yang disertai konsekuensi non-fisik untuk berbagai perilaku buruk anak. Tapi konsekuensi saja tidak cukup, jadikan kedekatan dengan anak sebagai prioritas.

     

    Selanjutnya, coba ikuti kelas yoga atau meditasi untuk meningkatkan kesadaran diri dan kontrol diri ketika perilaku anak mengecewakan Anda atau membuat Anda marah.

     

  5. Membandingkan diri dengan orang tua lain

    Anda berhasil tidak membandingkan anak sendiri dengan anak lain, tapi bagaimana dengan diri Anda sendiri? Apakah Anda merasa bersalah ketika tidak berhasil mengajak anak membaca selama 30 menit tiap malam? Atau ketika Anda hanya membeli cemilan untuk acara sekolah sedangkan ibu lain membuat kreasi kue yang cantik? Beri jeda untuk diri sendiri Bun, lakukan yang terbaik, cintai anak, biarkan anak menyadari Anda selalu ada untuknya dan Anda peduli. Berhentilah merasa kurang dan jangan membandingkan diri dengan orang tua lain.

     

  6. Memberi reward ke anak

    Bertolak belakang dengan pendapat yang populer, reward bukan cara tepat untuk memotivasi anak. Reward bisa berarti mainan atau bahkan pujian dan bisa mempengaruhi motivasi anak. Motivasi terbaik adalah intrinsik, dan ini berarti anak termotivasi dari dirinya sendiri, misalnya karena tertantang atau merasa senang. Penggunaan reward bisa menyebabkan anak mengandalkan motivasi dari luar dirinya. Bila reward hilang, motivasi pun hilang dan anak kemungkinan tidak lagi melanjutkan perilaku yang baik. Sebagai orangtua kita menawarkan pujian dan reward ketika melihat anak berperilaku baik.

     

    Ada cara untuk melakukan ini selain memotivasi untuk jangka pendek. Kita bisa gunakan metode untuk mendorong refleksi diri dan pertumbuhan karakter, seperti:

    • Memberi reward atau memuji anak karena memenuhi standar atau perintah tertentu, bukan sekedar memuji keterlibatan anak atau penyelesaian tugas secara umum, misalnya Anda katakan, “Kamu hebat bisa mewarnai tanpa keluar garis.”
    •  
    • Memberikan reward atau pujian tak terduga untuk peningkatan kemampuan atau perilaku spesifik, dan yakin anak memahami kalau reward yang diberikan berkaitan dengan kemampuan atau perilaku tersebut.

     

  7. Fokus pada hasil

    Hidup seharusnya tidak hanya tentang hasil, usaha juga sama pentingnya. Anak tidak mungkin memperoleh segala hal dengan sekali mencoba, jadi kemampuan untuk mencoba dan mencoba lagi sangat penting. Untuk membantu anak memperoleh hal ini, Anda perlu berhati-hati dengan jenis pujian yang Anda berikan padanya.

     

    Apakah Anda fokus pada hasil atau usaha? Apakah Anda lebih mungkin mengatakan gambar anak bagus atau berkomentar tentang seberapa keras usaha anak untuk membuatnya? Memuji anak ketika melakukan usaha untuk mengerjakan sesuatu berarti mengajarkan padanya kalau proses lebih penting, bukan hasil.

     

    Anak yang dipuji karena usahanya merasa baik tentang dirinya dan lebih mungkin bisa menghadapi tugas yang sulit di masa mendatang.

     

  8. Selalu menemani anak agar tidak bosan

    Kita tidak selalu harus menemani anak agar ia tidak bosan. Kemampuan untuk bermain sendiri juga penting untuk si kecil.  Tidak hanya mengatasi kebosanan, dengan bermain sendiri, anak juga belajar banyak tentang kemampuan lain selama bermain bebas sendiri tanpa gangguan.

     

    Membiarkan anak sibuk dengan permainannya sendiri juga membuat Anda punya waktu sendiri. Anda bisa menyelesaikan pekerjaan rumah atau duduk dan menikmati minuman hangat.

     

  9. Memecahkan semua masalah anak

    Kemampuan untuk memecahkan masalah sangat penting, dan tanpa kemampuan ini, anak akan kesulitan. Bisa dipahami kalau sebagai orangtua, Anda ingin membantu memecahkan masalah anak. Lagi pula, bila Anda tidak melakukannya, siapa lagi? Ia yang akan melakukannya, dan itu yang memang seharusnya.

     

    Anda tidak membantu anak ketika merampas pengalaman awal dalam memecahkan masalah, bahkan ini bisa menyebabkan masalah nantinya. Anak mungkin terlalu kecil untuk mengupas pisang, tapi biarkan ia mencoba bila ia mau. Anda bisa selalu membantu ketika ia meminta setelah beberapa menit. Dan bila tidak, artinya ia telah menguasai kemampuan baru. Hal serupa ketika ia terjatuh. Sebagai orangtua, Anda ingin mengatasi semua rintangan yang dihadapi anak, dan membuat anak bermain dengan nyaman. Biarkan ia bermain sendiri dan Anda akan terkejut melihat bagaimana mudahnya anak kecil mengatasi pertikaian dengan sendirinya.

     

  10. Berpura-pura sempurna

    Anda mungkin sulit mengakuinya, tapi Anda tidak sempurna. Anda manusia seperti yang lain. Dan ini berarti Anda melakukan kesalahan.

     

    Anda melakukan kesalahan di kantor, di rumah, dan sebagai orangtua. Dan ini tak apa, karena itu yang dilakukan manusia. Anak perlu tahu kalau Anda juga manusia. Anak perlu melihat Anda melakukan kesalahan, dan melihat bagaimana Anda mengatasinya. Anda perlu menunjukkan ke anak kalau tak apa melakukan kesalahan dan Anda bisa belajar dari kesalahan ini.

     

    Ini akan membantu menyiapkan anak menghadapi kesalahan yang akan ia buat dalam hidup dan mengajarkan cara sehat mengatasinya. Buatlah banyak kesalahan dan keputusan buruk. Momen menjadi orangtua yang tidak sempurna akan menjadi berkah karena anak melihat kita mencari tahu apa yang salah dan bagaimana kita bisa lebih baik di kemudian hari.

     

    Kewajiban Anda bukan menjadi sempurna dan membesarkan anak yang bahagia. Tidak ada yang sempurna, dan yang membuat anak bahagia tidak selalu membuatnya siap untuk jadi orang dewasa yang terlibat dan berani.

     

  11. Membentak anak

    Berteriak tidak akan berhasil. Anda sudah tahu ini. Anda tahu karena di hari-hari Anda berteriak tidak jadi lebih mudah dibanding hari ketika Anda tidak berteriak-teriak. Faktanya bahkan bisa lebih sulit. Ketika Anda membentak anak, anak mendengar suara Anda tapi tidak kata-kata yang Anda ucapkan.

     

    Berteriak mengintimidasi dan bisa menakutkan. Berteriak bukan cara tepat untuk menyampaikan maksud Anda. Bahkan yang lebih buruk, anak bisa belajar melakukan hal yang sama.

     

    Banyak orang tua kini menyadari kalau memukul tidak efektif, tapi Anda mungkin terkejut mendengar kalau berteriak juga tidak efektif. Berteriak bisa menyebabkan perubahan perilaku sementara, tapi bisa merusak hubungan dan rasa percaya jangka panjang anak terhadap Anda. Berteriak juga berarti mencontohkan perilaku buruk ke anak, ini bukan sekedar apa yang Anda ucapkan tapi apa yang Anda lakukan. Mereka belajar apa yang harus dilakukan dari Anda.

     

  12. Terlalu khawatir tentang makanan

    Waktu makan jadi sumber stres bagi banyak orang tua. Anda khawatir anak tidak makan cukup atau tidak menikmati banyak variasi makanan. Anda menghabiskan banyak waktu di meja makan memaksa anak untuk makan. Jangan, Bunda. Yang Anda perlu lakukan hanya menyediakan makanan yang sehat dan seimbang untuk anak.

     

    Setelah itu, terserah anak. Selama tersedia makanan sehat di piring anak, tidak masalah apa yang anak pilih untuk dimakan. Pastikan Anda menawarkan makanan yang variatif, termasuk sayuran dan buah, tapi biarkan anak memutuskan apa yang ia mau makan.

     

  13. Mengalihkan anak dari emosi yang ia rasakan

    Emosi bisa terasa tidak nyaman bukan? Terutama ketika Anda sedang sibuk atau sangat letih, dan anak punya emosi yang kuat tentang sesuatu yang menurut Anda sepele. Tentu ini bisa bikin frustrasi, dan kadang yang paling mudah adalah mengalihkan emosi anak agar Anda bisa terus melanjutkan aktivitas. Tapi apakah sehat mengalihkan anak dari emosi yang ia rasakan? Emosi bisa terasa berlebihan untuk anak kecil, dan satu cara mengatasinya adalah dengan mempelajarinya. Cara terbaik untuk melakukan ini adalah mengidentifikasi emosi ketika terjadi, dan Anda tidak bisa melakukannya bila Anda sibuk mengalihkan emosi anak.  

     

    Sebaiknya, kenali emosi anak, misalnya Anda bisa katakan, “Kamu marah ya karena kamu ingin mainan itu buat kamu sendiri.” Ini berarti anak merasa didengar, bukankah kita semua sebagai orang dewasa juga ingin merasa seperti ini? Lalu Anda bisa tawarkan solusi. Meski mungkin ini tidak segera mengatasi masalah, setidaknya Anda mengajarkan  cara untuk memecahkan masalah.

     

  14. Mengabaikan perilaku buruk diri sendiri

    Anda mengalami hari yang melelahkan, tentu tiap orang tua demikian. Di hari itu Anda mungkin berteriak atau tidak bersikap baik pada anak. Ini wajar terjadi. Apa yang Anda lakukan setelahnya yang sangat penting. Mengabaikan perilaku buruk Anda sendiri bisa merusak hubungan Anda dengan anak.

     

    Penting untuk mengakui dan mengatasi perilaku buruk Anda, seperti yang Anda lakukan terhadap anak. Akui perilaku buruk Anda dan coba maafkan, ini akan jadi contoh bagi anak untuk merefleksi diri dan jujur pada diri sendiri.

     

  15. Mengorbankan diri sendiri

    Anda sibuk, Anda lelah, dan Anda butuh jeda istirahat, tapi tidak mungkin bukan? Salah. Bila Anda merasa kewalahan, tidak butuh waktu lama untuk membuat semua mulai tak terkontrol. Anda jadi pelupa, memukul anak, dan merasa berantakan. Untuk bisa bermanfaat bagi keluarga, Anda perlu menjaga diri sendiri. Ini berarti punya waktu untuk diri sendiri, meski bila sepertinya tidak mungkin. Mandi, jalan-jalan, dipijat, atau lakukan apapun yang Anda butuhkan untuk bisa kembali menjalankan peran dengan baik. Tunjukkan ke anak kalau Anda penting, kalau kesehatan mental perlu dijaga, dan Anda perlu merawat diri Anda lebih dulu.

     

    Bunda, membuat perubahan pada gaya pengasuhan bisa sulit dilakukan. Kita terjebak dengan kebiasaan, kita mencontoh orang tua sendiri, dan mungkin kita tidak tahu apa yang perlu diubah, tapi kadang kita tahu ada yang perlu diubah. Menjadi orangtua yang terbuka terhadap perubahan yang dibutuhkan dan berlatih kemampuan sebagai orangtua bisa membantu kita memberi dukungan terbaik untuk buah hati tercinta.

(Ismawati)