Ini Penyakit yang Sering Dialami Karyawan di Indonesia
Batuk sedikit, tetap berangkat kerja. Badan pegal setelah duduk berjam-jam dianggap hanya kurang istirahat. Sakit kepala datang lagi, tetapi pemeriksaan ditunda karena jadwal sedang padat.
Situasi seperti ini mungkin cukup dekat dengan Parents yang bekerja. Di tengah urusan kantor, perjalanan, mengurus anak, dan menyelesaikan pekerjaan rumah, kondisi tubuh sendiri sering kali baru diperhatikan ketika keluhannya sudah mengganggu aktivitas.
Padahal, penyakit yang sering dialami karyawan tidak selalu sama. Usia, gender, kebiasaan, dan jenis pekerjaan dapat membentuk profil risiko yang berbeda. Saat kesehatan terganggu, dampaknya pun tidak hanya dirasakan oleh karyawan, tetapi juga keluarga yang bergantung pada kehadirannya di rumah.
Fenomena tersebut dibahas dalam peluncuran Indonesia Employee Health & Benefit Insights 2026 dan HaloAssist yang digelar Halodoc for Business di Jakarta pada 16 Juli 2026. Laporan ini disusun dari lebih dari satu juta transaksi kesehatan sepanjang kuartal pertama 2026, mencakup lebih dari 3.000 diagnosis ICD-10 dan lebih dari 30 sektor industri di Indonesia.
Penyakit yang Sering Dialami Karyawan Berubah Seiring Usia

Data menunjukkan bahwa masalah kesehatan tenaga kerja bergerak mengikuti pertambahan usia. Keluhan yang sering muncul pada karyawan muda berbeda dengan kondisi yang lebih banyak ditemukan pada pekerja berusia di atas 50 tahun.
A. Karyawan berusia di bawah 30 tahun
Pada kelompok ini, gangguan yang paling banyak ditemukan umumnya merupakan penyakit akut. Infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA menjadi salah satu diagnosis yang menonjol, disertai keluhan seperti demam, batuk, hidung tersumbat, dan sakit kepala.
Mobilitas yang tinggi dapat ikut memengaruhi kondisi tersebut. Karyawan muda sering menggunakan transportasi umum, berada di ruangan kerja bersama banyak orang, dan beraktivitas di tempat yang memungkinkan kontak dekat dengan orang yang sedang batuk atau bersin.
B. Karyawan berusia 30 sampai 49 tahun
Memasuki rentang usia ini, gangguan muskuloskeletal mulai lebih banyak ditemukan. Kondisi tersebut melibatkan otot, tulang, sendi, tendon, dan bagian tubuh lain yang mendukung pergerakan.
Keluhannya dapat berkaitan dengan duduk terlalu lama, postur kerja yang kurang nyaman, gerakan berulang, membawa beban, atau aktivitas fisik tertentu. Karyawan yang bekerja di depan layar tentu menghadapi tekanan tubuh yang berbeda dengan mereka yang lebih banyak bekerja di lapangan.
C. Karyawan berusia di atas 50 tahun
Pada kelompok usia ini, penyakit kardiovaskular dan kondisi kronis menjadi lebih menonjol. Diabetes, hipertensi, kanker, dan gangguan lain yang membutuhkan pemantauan jangka panjang juga mulai lebih banyak ditemukan.
Menurut dr. Irwan Heriyanto, MARS, Chief of Medical Halodoc, pertambahan usia dapat membuat kondisi kesehatan seseorang semakin kompleks. Karena itu, keluhan sebaiknya tidak terus dibiarkan tanpa pemeriksaan. “Lakukan semua itu untuk kesehatan sedini mungkin,” pesannya.
Pola yang sama terlihat dari rata-rata pengeluaran kesehatan per peserta selama tiga bulan. Kelompok usia 0 sampai 9 tahun mencatat biaya sekitar Rp903 ribu, lebih tinggi daripada kelompok 10 sampai 19 tahun yang berada di kisaran Rp620 ribu. Salah satu penyebabnya adalah kebutuhan vaksinasi pada anak usia dini, terutama sejak bayi hingga dua tahun.
Biaya rata-rata kelompok usia 20 sampai 29 tahun tercatat sekitar Rp777 ribu. Angkanya meningkat menjadi Rp1,3 juta pada usia 30 sampai 39 tahun, lalu naik menjadi Rp1,8 juta pada kelompok 40 sampai 49 tahun.
Pengeluaran tertinggi terdapat pada peserta berusia 50 tahun ke atas, yaitu sekitar Rp2,2 juta per orang dalam tiga bulan. Jumlah karyawan pada kelompok ini mungkin lebih sedikit, tetapi penyakit yang dihadapi cenderung lebih kompleks dan memerlukan layanan dengan biaya lebih besar.
Data layanan juga menunjukkan bahwa ISPA menjadi diagnosis teratas pada rawat jalan dan telemedicine. Sementara itu, kondisi yang banyak ditemukan pada rawat inap meliputi infeksi pencernaan, flu dan pneumonia, serta penyakit pernapasan lainnya.
Risiko Kesehatan Laki-Laki dan Perempuan Juga Berbeda

Selain usia, gender turut menunjukkan perbedaan pola kesehatan. Dalam data yang dianalisis, sebanyak 81 persen pasien kardiovaskular merupakan laki-laki. Sementara itu, 72 persen pasien kanker atau neoplasma merupakan perempuan.
Angka tersebut tidak berarti semua karyawan laki-laki pasti mengalami penyakit jantung atau setiap perempuan akan menghadapi kanker. Temuan ini menggambarkan distribusi pasien pada transaksi yang tercatat dalam laporan.
Pada laki-laki, kebiasaan merokok, pola makan, dan gaya hidup dapat berkaitan dengan risiko kardiovaskular yang muncul lebih awal. Penyakit kardiovaskular sendiri berhubungan dengan jantung serta pembuluh darah yang mengalirkan oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh.
Pada perempuan, perhatian kesehatan juga mencakup organ reproduksi, kanker payudara, serta kondisi lain yang dapat dipengaruhi oleh perubahan hormonal.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa kebutuhan skrining karyawan tidak selalu sama. Pemeriksaan sebaiknya mempertimbangkan usia, gender, kondisi tubuh, riwayat keluarga, kebiasaan sehari-hari, dan faktor risiko pribadi.
Program kesehatan yang terlalu seragam justru dapat melewatkan kebutuhan kelompok tertentu. Pemeriksaan kardiovaskular mungkin menjadi prioritas bagi sebagian karyawan, sedangkan kelompok lain lebih membutuhkan skrining kesehatan reproduksi atau kanker.
Jenis Pekerjaan Ikut Membentuk Masalah Kesehatan

Pekerjaan di tambang, pabrik, kantor teknologi, bank, toko, atau perusahaan logistik memberi tekanan yang berbeda pada tubuh. Kondisi lapangan, suhu, aktivitas fisik, pencahayaan, sampai lamanya menatap layar dapat memengaruhi pola kesehatan karyawan.
Laporan tersebut menganalisis penggunaan manfaat kesehatan pada enam kelompok industri.
A. Energi dan pertambangan
Sektor ini mencatat tingkat penggunaan manfaat kesehatan tertinggi, yaitu 44 persen peserta. Rata-rata biayanya mencapai sekitar Rp2,3 juta per orang dalam tiga bulan.
Karyawan energi dan pertambangan dapat menghadapi paparan panas, cuaca ekstrem, medan yang berat, dan aktivitas fisik tinggi. Pekerjaannya juga banyak melibatkan tenaga ahli serta lingkungan kerja dengan risiko yang lebih kompleks.
B. Teknologi
Sebanyak 40 persen peserta di sektor teknologi tercatat menggunakan manfaat kesehatan. Meski tingkat penggunaannya tinggi, rata-rata biayanya hanya sekitar Rp1 juta per peserta dalam tiga bulan.
Salah satu alasannya adalah karyawan teknologi cenderung lebih terbiasa dengan layanan digital. Banyak keluhan yang masih dapat ditangani melalui telemedicine sehingga tidak selalu berlanjut menjadi kunjungan langsung.
Pekerja teknologi tetap mempunyai risiko tersendiri. Menatap layar terlalu lama, bekerja dengan pencahayaan kurang baik, serta duduk dalam posisi yang sama berjam-jam dapat memicu keluhan mata, leher, punggung, dan sendi.
C. Logistik dan transportasi
Pada sektor ini, 33 persen peserta tercatat menggunakan manfaat kesehatan. Biaya rata-ratanya mencapai sekitar Rp660 ribu per peserta.
Jam kerja yang tidak selalu teratur, perjalanan panjang, aktivitas fisik, serta kebutuhan menjaga konsentrasi dapat menjadi bagian dari risiko pekerjaan di bidang tersebut.
D. Ritel
Sektor ritel mencatat penggunaan manfaat kesehatan sebesar 29 persen dengan rata-rata biaya sekitar Rp500 ribu per peserta.
Karyawan ritel mungkin lebih banyak berdiri, berjalan, memindahkan barang, dan berinteraksi langsung dengan banyak orang. Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan otot, sendi, serta risiko terpapar penyakit menular.
E. Perbankan
Pada sektor perbankan, 28 persen peserta menggunakan manfaat kesehatan dengan biaya rata-rata sekitar Rp680 ribu.
Pekerjaannya sering melibatkan duduk lama, penggunaan komputer, serta tuntutan konsentrasi tinggi. Keluhan pada mata, punggung, leher, dan pengelolaan stres dapat menjadi hal yang perlu diperhatikan.
F. Manufaktur
Sektor manufaktur mencatat penggunaan manfaat kesehatan sebesar 19 persen, dengan rata-rata biaya sekitar Rp465 ribu per peserta.
Walaupun pekerja manufaktur dan pertambangan sama-sama banyak berada di lapangan, profil tenaga kerja, risiko, serta besarnya manfaat kesehatan yang diberikan bisa berbeda. Hal tersebut ikut memengaruhi biaya yang tercatat.
Bahkan di dalam satu perusahaan, kebutuhan karyawan belum tentu sama. Tim produksi bisa membutuhkan perhatian lebih pada otot, sendi, dan keselamatan kerja. Sementara itu, tim administrasi mungkin lebih banyak menghadapi masalah postur, mata lelah, dan kurang bergerak.
Medical Benefit Masih Banyak Berfokus Pada Pengobatan
Manfaat kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar karyawan. Ketika seseorang sering sakit atau membutuhkan waktu lama untuk berobat, produktivitasnya dapat ikut menurun.
Namun, medical benefit yang tersedia di perusahaan masih banyak berfokus pada layanan kuratif atau pengobatan setelah karyawan sakit. Dalam data yang dipaparkan, sekitar 89 persen perusahaan memberikan manfaat rawat jalan.
Sementara itu, baru sekitar 9 persen perusahaan yang menyediakan perlindungan lebih lengkap, mulai dari rawat inap, rawat jalan, perawatan gigi, kacamata, hingga persalinan.

Menurut Ruth Novalinda, Head of Human Resources Halodoc, perusahaan tidak lagi bisa menyamaratakan kebutuhan seluruh karyawan. “Pendekatan one-size-fits-all sudah tidak lagi relevan karena profil risikonya berbeda-beda,” jelasnya.
Data kesehatan dapat membantu tim HR memahami masalah yang paling sering muncul, jenis layanan yang banyak digunakan, dan kelompok mana yang membutuhkan perhatian lebih besar.
Informasi tersebut penting karena biaya medis terus meningkat. Inflasi medis Indonesia pada 2026 diproyeksikan mencapai 15,1 persen. Angka ini menempatkan Indonesia dalam lima besar tertinggi di Asia Pasifik dan berada di atas rata-rata global sebesar 14 persen. Dalam beberapa tahun terakhir, kenaikan biaya medis di Indonesia juga disebut berada pada kisaran 13 sampai 18 persen.
Perusahaan pun tidak cukup hanya menaikkan atau memangkas anggaran kesehatan. Programnya perlu disusun berdasarkan kondisi nyata karyawan agar biaya yang dikeluarkan benar-benar digunakan untuk layanan yang relevan.
Fibriyani Elastria, Chief Marketing Officer Halodoc, menilai data kesehatan seharusnya menjadi dasar dalam merancang manfaat karyawan. “Aset paling berharga sebuah perusahaan adalah sumber daya manusianya,” tuturnya.
Menurutnya, hambatan kesehatan karyawan tidak selalu berasal dari kurangnya kesadaran. Sebagian orang menunda pemeriksaan karena proses berobat terasa merepotkan, menghabiskan banyak waktu, dan harus melalui administrasi yang panjang. Penundaan itu dapat membuat keluhan yang awalnya ringan berkembang menjadi kondisi yang lebih sulit dan mahal untuk ditangani.
Lima Kebiasaan Menjaga Kesehatan Karyawan Menurut Dokter

Menjaga kesehatan tidak berarti seseorang bisa terhindar dari semua penyakit. Namun, menurut dr. Irwan, ada beberapa langkah yang dapat membantu menemukan risiko lebih awal dan mengurangi kemungkinan kondisi berkembang semakin berat.
1. Menjalani skrining atau medical check-up
Skrining dapat membantu mengenali kondisi tubuh sebelum muncul gangguan yang lebih serius. Jenis pemeriksaannya perlu disesuaikan dengan usia, gender, riwayat kesehatan, dan jenis pekerjaan.
Pekerja yang banyak menggunakan otot bisa membutuhkan pemeriksaan berbeda dengan karyawan yang menghabiskan waktu di depan layar. Hasil pemeriksaan juga tetap perlu dibaca bersama dokter dan tidak digunakan untuk mendiagnosis diri sendiri.
2. Menjaga gaya hidup dan pola makan
Makanan yang dikonsumsi sehari-hari dapat memengaruhi energi, berat badan, dan berbagai faktor risiko kesehatan. Perubahannya tidak harus dilakukan secara ekstrem. Karyawan dapat mulai dengan memperhatikan pilihan makanan, jumlah yang dikonsumsi, serta keseimbangan asupan.
Kebiasaan merokok juga perlu menjadi perhatian karena berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan kesehatan lainnya.
3. Tetap aktif bergerak dan berolahraga
Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan energi dari makanan dan mengurangi dampak duduk terlalu lama. Olahraga tidak harus selalu berat. Bentuknya dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh, kemampuan, serta rutinitas masing-masing orang agar bisa dilakukan secara konsisten.
4. Mengelola stres
Tuntutan pekerjaan, perjalanan, kondisi ekonomi, dan tanggung jawab di rumah dapat menumpuk dalam waktu bersamaan. Stres yang tidak dikelola dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, nafsu makan, suasana hati, dan hubungan dengan orang lain. Ketika beban terasa semakin berat, mencari dukungan atau berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi pilihan.
5. Melengkapi vaksinasi yang direkomendasikan
Vaksinasi tidak hanya dibutuhkan oleh anak-anak. Orang dewasa juga dapat memerlukan vaksin tertentu berdasarkan usia, pekerjaan, kondisi kesehatan, perjalanan, dan riwayat imunisasi.
Data yang dipaparkan menunjukkan kunjungan pasien berkurang hingga 66 persen setelah vaksinasi flu. Angka ini tetap perlu dipahami sesuai konteks data dan tidak berarti vaksin dapat mencegah seluruh kasus penyakit.
Pasien dengan penyakit kronis juga disebut dapat menghabiskan biaya hingga tiga kali lebih tinggi daripada rata-rata. Ketika memiliki penyakit penyerta atau komorbiditas, biayanya dapat meningkat hingga 11 kali lipat.
Fibriyani turut membagikan pengalamannya sebagai ibu dari dua anak. Anak bungsunya sempat cukup sering sakit karena daya tahan tubuhnya dinilai lebih rendah dibandingkan kakaknya. Setelah mengetahui adanya vaksin flu dan berkonsultasi mengenai kebutuhannya, ia mengajak seluruh anggota keluarga untuk menjalani vaksinasi. “Setelah mengerti ada vaksin flu, aku langsung vaksin seluruh keluarga, termasuk anak-anak,” ungkapnya.
Ia bercerita bahwa setelah itu anaknya tidak perlu dibawa berobat selama sekitar satu tahun. Pengalaman tersebut tentu tidak dapat dijadikan jaminan hasil yang sama bagi setiap orang. Vaksinasi tetap perlu diberikan berdasarkan kondisi dan rekomendasi dokter.
Saat Parents Yang Bekerja Sakit, Banyak Waktu Ikut Terbuang
Bagi Parents yang bekerja, sakit bukan hanya soal rasa tidak nyaman. Ada jadwal kantor yang perlu diatur, anak yang tetap harus diurus, dan anggota keluarga lain yang mungkin ikut terdampak.
Satu kunjungan ke rumah sakit dapat menghabiskan waktu berjam-jam. Pasien perlu melakukan pendaftaran, menunggu dokter, berkonsultasi, mengurus pembayaran, menanti persetujuan asuransi, lalu kembali mengantre untuk mengambil obat.
Waktu konsultasi dengan dokter mungkin hanya sekitar 15 menit. Namun, keseluruhan prosesnya bisa berlangsung hingga empat jam atau lebih.
Pasien rawat inap menghadapi persoalan lain ketika sudah diizinkan pulang oleh dokter. Setelah dokter menyampaikan bahwa pasien boleh pulang, keluarga masih harus menunggu obat, tagihan, proses asuransi, serta administrasi lainnya.
Dalam diskusi tersebut, disebutkan bahwa 90 persen pasien dapat menunggu lebih dari empat jam di rumah sakit. Salah satu penyebabnya adalah koordinasi yang masih manual melalui telepon, email, WhatsApp, dan pengiriman dokumen bolak-balik.

Pengalaman menunggu kepulangan juga pernah dialami Fibriyani. Ia selesai menjalani transfusi darah sekitar pukul 15.00, tetapi baru dapat meninggalkan rumah sakit pukul 20.00. Ia tiba di rumah sekitar pukul 21.30. Setengah jam setelah kepulangannya, sang ayah meninggal dunia. Pengalaman tersebut membuatnya merasa bahwa waktu pasien tidak boleh dianggap sepele. Menurutnya, seandainya proses kepulangan bisa selesai lebih cepat, mungkin ia masih mempunyai lebih banyak waktu bersama ayahnya.
Menunggu terlalu lama di rumah sakit juga dapat memperpanjang waktu seseorang berada di tengah pasien dengan beragam kondisi. dr. Irwan menjelaskan adanya infeksi nosokomial, yaitu infeksi yang didapat atau menular di lingkungan pelayanan kesehatan. Pasien dari berbagai poli dapat berkumpul di ruang tunggu, area pendaftaran, dan farmasi.
Anak kecil, lansia, atau orang dengan daya tahan tubuh rendah mungkin lebih rentan ketika berada lama di lokasi tersebut. Hal ini tidak berarti setiap kunjungan ke rumah sakit akan menyebabkan penularan, tetapi proses yang lebih singkat dapat membantu mengurangi durasi paparan.
Solusi Halodoc Untuk Perjalanan Kesehatan Karyawan
Halodoc for Business menghadirkan beberapa layanan yang digunakan dalam tahapan berbeda. Ada layanan digital untuk keluhan yang dapat ditangani dari jarak jauh, pengelolaan klaim dan administrasi, hingga pendampingan langsung ketika pasien harus datang ke rumah sakit.

A. Telemedicine untuk kebutuhan yang dapat ditangani secara daring
Digital Cashless Outpatient atau DCO menghubungkan karyawan dengan layanan konsultasi dokter melalui telemedicine selama 24 jam. Layanannya mencakup konsultasi dokter, pengiriman obat, serta integrasi pembayaran cashless dengan asuransi atau medical benefit perusahaan.
Dalam laporan tersebut, telemedicine menangani sekitar 24 persen dari seluruh kasus, tetapi hanya menggunakan sekitar 8 persen dari total biaya kesehatan. Biaya rata-ratanya berada di kisaran Rp240 ribu. Untuk sepuluh diagnosis teratas, layanan ini sekitar Rp408 ribu lebih murah dibandingkan rawat jalan secara langsung.
Sebagai perbandingan, rawat inap hanya mencakup sekitar 2 persen kasus, tetapi menyerap 28 persen total biaya. Rawat jalan mencakup 69 persen kasus dan menggunakan 54 persen pengeluaran kesehatan.
Lebih dari 95 persen kasus telemedicine dapat diselesaikan tanpa kunjungan fisik lanjutan selama 30 hari. Sekitar 5 persen pasien tetap perlu datang langsung karena kondisinya lebih kompleks atau membutuhkan pemeriksaan fisik.
Pada pasien dengan penyakit kronis, penggunaan DCO juga dikaitkan dengan penghematan biaya hingga 66,4 persen dalam waktu 90 hari dibandingkan pasien yang tidak memakai layanan digital.
Telemedicine tentu tidak dapat menggantikan seluruh pemeriksaan langsung. Ketika dokter menyarankan pasien datang ke klinik atau rumah sakit, menjalani tes, atau memperoleh penanganan lanjutan, arahan tersebut tetap perlu diikuti.
B. HILDA membantu proses TPA dan klaim kesehatan
Halodoc juga memiliki layanan Third Party Administrator atau TPA yang digunakan untuk mengelola proses cashless dan reimbursement.
Ketika pasien datang ke rumah sakit, TPA membantu memeriksa apakah kepesertaan masih aktif, manfaat apa yang ditanggung, dokumen yang dibutuhkan, serta bagian biaya yang dapat dijamin.
Halodoc mengembangkan layanan TPA sejak 2018. Perusahaan yang tidak menggunakan asuransi juga dapat memakai layanan Administrative Services Only atau ASO untuk membantu mengelola klaim karyawan.

Untuk mendukung proses tersebut, Halodoc menggunakan HILDA atau Halodoc Intelligent Digital Assistant. Menurut Saswat Satadal, VP of Insurance di Halodoc, teknologi berbasis kecerdasan buatan tersebut digunakan sejak pasien masuk hingga selesai menjalani perawatan. “AI tidak hanya digunakan pada satu titik, tetapi bisa mendukung seluruh perjalanan pasien,” jelasnya.
Saat pasien masuk, HILDA membantu memeriksa dokumen dan kelayakan kepesertaan. Selama perawatan, sistem membaca pembaruan kondisi, memantau tagihan, dan menandai biaya yang terlihat tidak biasa.
Ketika pasien akan pulang, HILDA membaca tagihan medis yang dapat berisi ratusan komponen. Obat, biaya dokter, pemeriksaan laboratorium, tindakan operasi, serta komponen lainnya dicocokkan dengan manfaat dan ketentuan asuransi.
Teknologinya telah dilatih menggunakan lebih dari satu juta klaim internal. Halodoc menyebut 90 persen pasien dapat menyelesaikan proses kepulangan dalam waktu kurang dari satu jam, dengan rata-rata sekitar 22 menit.
Sistem tersebut juga disebut dapat membantu menekan biaya pengelolaan klaim hingga 18 persen. Meski menggunakan AI, Saswat menekankan bahwa peran manusia tetap dibutuhkan untuk mendampingi pasien dan mengambil keputusan yang memerlukan pertimbangan lebih lanjut.
C. HaloAssist mendampingi pasien ketika datang ke rumah sakit
Tidak semua kondisi dapat diselesaikan melalui konsultasi digital. Saat pemeriksaan langsung memang dibutuhkan, Halodoc menghadirkan HaloAssist sebagai layanan pendamping atau personal concierge di rumah sakit.
Pasien dapat melakukan pemesanan H-1 melalui WhatsApp. Ketika tiba di rumah sakit, pasien akan bertemu dengan Teman Halodoc yang sudah membantu mengurus antrean dan pendaftaran.
Pasien dapat langsung menuju ruang tunggu dokter tanpa perlu menangani seluruh administrasi sendiri. Setelah pemeriksaan selesai, Teman Halodoc membantu pembayaran, proses asuransi, kepulangan, hingga pengantaran obat ke rumah bila dibutuhkan.
Fibriyani pernah mencoba HaloAssist saat perlu menemui dokter spesialis bersama suaminya. Proses yang sebelumnya dapat berlangsung hingga empat jam selesai dalam waktu sekitar 20 sampai 25 menit.
Layanan seperti ini dapat membantu Parents yang harus membawa anak berobat, mendampingi vaksinasi, atau mengantar orang tua lanjut usia ke rumah sakit.
Pada tahap awal, HaloAssist tersedia di 16 mitra rumah sakit yang tersebar di Jabodetabek, Karawang, dan Surabaya. Layanan tersebut saat ini difokuskan untuk peserta TPA Halodoc dan akan diperluas secara bertahap. Informasi dan pemesanan dapat dilakukan melalui laman HaloAssist atau WhatsApp Teman Halodoc di nomor 0851-1728-7225.
Halodoc for Business juga menyediakan layanan lain seperti klinik di tempat kerja, vaksinasi, pemberian booster vitamin, pemeriksaan laboratorium, dan pemenuhan resep obat. Saat ini, Halodoc for Business melayani lebih dari 1,5 juta peserta aktif. Layanannya bekerja sama dengan lebih dari 30 perusahaan asuransi, lebih dari 3.000 mitra korporat, dan didukung lebih dari 4.700 penyedia layanan kesehatan di seluruh Indonesia.
Kerja Penting, Tapi Sehat untuk Pulang Juga Penting

Pekerjaan memang penting. Tapi di rumah, ada anak dan keluarga yang menunggu Parents pulang dalam kondisi sehat, bukan sekadar selesai menjalani hari.
Jadi, jangan tunggu tubuh benar-benar tumbang baru mulai peduli. Sisihkan waktu untuk memeriksakan kesehatan, jaga kebiasaan sehari-hari, dan cari bantuan saat mulai ada keluhan. Karena menjaga kesehatan juga menjadi salah satu cara agar Parents bisa terus hadir untuk orang-orang tersayang di rumah.