Kesalahan Membaca Label Gizi yang Sering Tidak Disadari

Kesalahan Membaca Label Gizi yang Sering Tidak Disadari
Kesalahan Membaca Label Gizi yang Sering Tidak Disadari

Pernah nggak, Parents, membeli minuman kemasan dan melihat angka kalori yang tertera di bagian belakangnya? Sekilas mungkin terlihat tidak terlalu tinggi, sehingga kita merasa aman menghabiskan satu botol sekaligus.

Padahal, angka kalori yang tercantum belum tentu menunjukkan jumlah energi dalam seluruh isi kemasan. Bisa saja informasi tersebut hanya berlaku untuk satu takaran saji, sementara satu kemasan ternyata berisi beberapa sajian.

Kesalahan seperti ini cukup mudah terjadi, apalagi kalau Parents hanya membaca informasi nilai gizi secara sekilas. Belum lagi berbagai klaim pada bagian depan kemasan yang sering kali lebih menarik perhatian dibandingkan tabel kandungan nutrisi di belakangnya.

Lalu, bagaimana sebenarnya cara membaca label gizi yang tepat agar kita bisa memilih makanan dan minuman sesuai kebutuhan keluarga?

Jangan Hanya Percaya Klaim Gizi di Depan Kemasan

Saat membeli makanan atau minuman untuk anak, tulisan seperti tinggi nutrisi atau klaim manfaat kesehatan tertentu mungkin menjadi pertimbangan pertama Parents.

Namun, klaim yang tercantum di bagian depan kemasan belum memberikan gambaran lengkap mengenai kandungan suatu produk.

Dalam edukasi World Food Day 2026 yang diselenggarakan Danone Indonesia bersama Universitas Pelita Harapan (UPH), Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, SpGK(K), Dokter Spesialis Gizi Klinik Konsultan, menjelaskan bahwa salah satu kesalahan konsumen adalah terlalu berfokus pada informasi yang ditonjolkan di bagian depan kemasan.

"Sering kali hanya membaca sepintas saja yang ada di depan," jelas dr. Diana. Menurutnya, konsumen bisa saja langsung tertarik pada suatu produk karena klaim manfaatnya, tetapi tidak melanjutkan dengan membaca kandungan yang sebenarnya terdapat di dalam produk tersebut.

Hal ini juga berlaku ketika suatu bahan pangan sedang ramai dibicarakan di media sosial. Sebagian orang mungkin langsung menghindari produk karena menemukan satu kandungan yang dianggap kurang baik, tanpa memperhatikan bahan maupun nutrisi lainnya.

Padahal, dalam satu produk pangan terdapat berbagai komponen yang perlu dipertimbangkan secara keseluruhan. Karena itu, setelah membaca klaim pada bagian depan kemasan, Parents sebaiknya melanjutkan dengan memeriksa daftar komposisi dan informasi nilai gizinya.

Apa Bedanya Daftar Komposisi dan Informasi Nilai Gizi?

Meski sama-sama terdapat pada kemasan makanan, daftar komposisi dan informasi nilai gizi memberikan keterangan yang berbeda.

Daftar komposisi membantu Parents mengetahui bahan apa saja yang digunakan untuk membuat suatu produk. Sementara itu, informasi nilai gizi menunjukkan jumlah energi dan zat gizi yang terkandung berdasarkan takaran saji tertentu.

Keduanya perlu diperhatikan agar kita bisa memahami produk dengan lebih menyeluruh. Misalnya, ketika memilih camilan untuk anak, Parents mungkin ingin mengetahui apakah produk tersebut mengandung sumber protein, lemak, atau bahan lain yang perlu diperhatikan.

Informasi mengenai bahan yang digunakan bisa ditemukan pada daftar komposisi. Namun, untuk mengetahui berapa banyak protein, lemak, karbohidrat, dan gula yang terkandung, Parents perlu melihat tabel informasi nilai gizinya.

Dr. Diana menjelaskan bahwa jumlah energi atau kalori menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, kemudian dilanjutkan dengan kandungan karbohidrat, gula, protein, dan lemak. Dari informasi tersebut, orang tua bisa memperoleh gambaran mengenai kontribusi nutrisi suatu produk terhadap kebutuhan makan anak sehari-hari.

Namun, ada satu bagian penting yang sering terlewat ketika membaca angka-angka tersebut, yaitu takaran saji.

Hati-Hati, Takaran Saji Belum Tentu Sama dengan Satu Kemasan

Menurut dr. Diana, salah satu kekeliruan yang perlu diwaspadai saat membaca informasi nilai gizi adalah tidak memperhatikan ukuran porsi atau takaran saji. Sebab, angka nutrisi yang tercantum pada kemasan biasanya dihitung berdasarkan satu takaran saji, bukan selalu berdasarkan seluruh isi produk.

Untuk menjelaskannya, dr. Diana memberikan ilustrasi mengenai minuman dalam kemasan berukuran satu liter. Bayangkan sebuah minuman memiliki informasi berikut:

- Isi kemasan: 1.000 ml atau 1 liter

- Takaran saji: 250 ml

- Energi per sajian: 250 kalori

- Gula per sajian: 30 gram

Kalau Parents hanya melihat angka 250 kalori, mungkin muncul anggapan bahwa satu botol minuman tersebut mengandung 250 kalori.

Padahal, satu botol berukuran 1.000 ml dengan takaran saji 250 ml berarti memiliki empat sajian.

Jika seluruh isi botol dihabiskan, jumlah yang dikonsumsi menjadi:

- Total energi: 1.000 kalori

- Total gula: 120 gram

Jumlah tersebut tentu jauh berbeda dari angka yang tercantum untuk satu sajian. "Jadi, penting untuk memperhatikan takaran saji ini," tegas dr. Diana.

Perlu diingat, angka di atas merupakan contoh perhitungan yang digunakan dr. Diana untuk menggambarkan pentingnya takaran saji, bukan kandungan dari produk tertentu.

Kesalahan menghitung takaran saji bisa membuat seseorang tidak menyadari berapa banyak energi dan gula yang sudah dikonsumsi, terutama jika satu kemasan dihabiskan sekaligus.

Karena itu, sebelum melihat angka kalorinya, coba cari terlebih dahulu informasi mengenai takaran saji dan jumlah sajian per kemasan. Dari situ, Parents bisa menghitung kandungan nutrisi sesuai dengan jumlah makanan atau minuman yang benar-benar dikonsumsi.

Jangan Sampai Tertukar antara Kalori, Karbohidrat, dan Gula

Setelah memahami takaran saji, langkah berikutnya adalah membaca kandungan nutrisi yang tercantum pada tabel. Dr. Diana menjelaskan bahwa total energi, karbohidrat, dan gula merupakan informasi yang saling berkaitan, tetapi memiliki arti berbeda.

Kalori menunjukkan jumlah energi yang diperoleh dari makanan atau minuman. Energi tersebut dapat berasal dari karbohidrat, protein, maupun lemak. Sementara itu, karbohidrat merupakan salah satu zat gizi makro yang berfungsi sebagai sumber energi tubuh. Gula termasuk bagian dari karbohidrat, tetapi tidak semua karbohidrat merupakan gula. Artinya, ketika suatu produk memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, belum tentu seluruh kandungan tersebut berasal dari gula.

Begitu juga ketika Parents menemukan produk dengan jumlah kalori tertentu. Untuk memahami kandungan nutrisinya, kita perlu melihat dari mana energi tersebut berasal. Apakah lebih banyak berasal dari karbohidrat? Berapa jumlah gulanya? Bagaimana dengan protein dan lemaknya? Informasi ini penting karena produk dengan jumlah kalori yang sama belum tentu memiliki komposisi nutrisi yang serupa.

Dr. Diana juga mengingatkan bahwa penilaian terhadap makanan tidak cukup hanya berdasarkan satu jenis zat gizi. Misalnya, ketika orang tua sedang berusaha membatasi konsumsi gula anak, jumlah gula memang perlu diperhatikan. Namun, kandungan protein, lemak, serta total energi tetap perlu dilihat untuk mengetahui komposisi nutrisi produk tersebut secara keseluruhan.

Nah, setelah memahami perbedaan informasi tersebut, Parents bisa mulai membiasakan diri membaca label gizi dengan lebih teliti. Sebenarnya tidak sulit, asalkan tahu bagian mana yang perlu diperhatikan terlebih dahulu.

Cara Membaca Label Gizi Makanan dengan Lebih Teliti

Agar tidak keliru saat memilih makanan atau minuman kemasan, Parents bisa mulai memperhatikan beberapa informasi berikut.

1. Baca daftar komposisi

Cari tahu bahan apa saja yang digunakan dalam produk, terutama jika anak memiliki kebutuhan atau pembatasan terhadap bahan tertentu.

2. Periksa takaran saji dan jumlah sajian per kemasan

Pastikan angka kandungan gizi yang dibaca sesuai dengan jumlah produk yang akan dikonsumsi. Jika satu kemasan berisi beberapa sajian, hitung kembali total nutrisinya ketika produk dikonsumsi lebih dari satu sajian.

3. Lihat jumlah energi dan kandungan zat gizinya

Jangan berhenti pada angka kalori. Perhatikan juga karbohidrat, gula, protein, serta lemak untuk mendapatkan gambaran komposisi nutrisi produk.

4. Sesuaikan dengan kebutuhan anak

Pertimbangkan usia, kebutuhan energi, aktivitas fisik, dan makanan lain yang dikonsumsi anak sepanjang hari sebelum menentukan pilihan.

Selain informasi nutrisi, Parents juga perlu memperhatikan tanggal kedaluwarsa dan keterangan lain yang tercantum pada kemasan.

Memang membutuhkan sedikit waktu tambahan untuk membaca seluruh informasi tersebut. Namun, kebiasaan ini dapat membantu Parents membuat keputusan yang lebih tepat ketika memilih makanan dan minuman untuk keluarga.

Jadi, mulai sekarang jangan hanya melihat tulisan menarik di bagian depan kemasan, ya, Parents. Coba balik kemasannya, baca komposisi serta informasi nilai gizinya, dan jangan lupa perhatikan takaran sajinya. Dengan begitu, Parents bisa mengetahui lebih jelas apa saja nutrisi yang dikonsumsi si Kecil dan berapa jumlahnya dalam setiap sajian.

Follow Ibupedia Instagram