Keluarga

Masalah Setelah Menikah yang Sering Terjadi dan Cara Mengatasinya

Terakhir diperbaharui

Masalah Setelah Menikah yang Sering Terjadi dan Cara Mengatasinya

Memiliki bayi jadi momen yang menyenangkan sekaligus menimbulkan stres dan mengubah kehidupan. Jadi tidak heran kalau banyak pasangan yang menghadapi masalah setelah menikah dan memiliki anak. Bila Anda termasuk yang punya masalah setelah menikah, Anda tidak sendirian.

 

Berikut ini beberapa masalah setelah menikah dan cara yang bisa Anda tempuh untuk menjaga hubungan pernikahan tetap baik dengan pasangan:

 

  1. Perubahan setelah menikah tidak bisa dihindari

    Bila ada orang yang memberitahu kalau pernikahan mereka tidak berubah setelah ada anak, berarti mereka tidak berkata jujur. Ketika hanya ada Anda dan pasangan lalu ada bayi di antara pasangan dan Anda, semua tidak lagi sama. Perubahan ini tidak selalu buruk.

     

    Ingat, kehadiran bayi akan mengubah kehidupan Anda dan kadang menimbulkan masalah. Setelah memiliki bayi Anda menyadari kalau kehidupan yang Anda jalani hanya seputar si kecil yang selalu membutuhkan perhatian Anda sepanjang waktu. Terima hal ini Bunda, dan jalani dengan sebaik-baiknya.

     

  2. Anda jadi membenci pasangan

    Mungkin membenci adalah pilihan kata yang terlalu kasar, tapi Anda merasa jengkel pada pasangan melebihi sebelumnya. Anda mungkin akan banyak membentak pasangan. Anda marah ketika ia berangkat kerja sedangkan Anda di rumah, Anda tidak suka dengan caranya memakaikan popok, membersihkan botol susu, atau mencuci pakaian berwarna putih.

     

    Tapi berita bagusnya, situasi ini tidak berarti Anda di ambang perceraian. Sebagian orang menyebut mood swing ini yang kemungkinan akibat perubahan hormon dan kurang tidur, baby blues. Dan ini normal selama tidak meningkat jadi depresi setelah melahirkan. Hormon Anda perlahan akan seimbang, tapi Anda juga harus berusaha mengatasi mood yang buruk.

     

  3. Tidak menjaga hubungan dengan pasangan seperti yang seharusnya

    Pasangan tidak lagi bicara tentang aktivitas yang dilewati setelah punya bayi. Mereka memang saling bicara, tapi seputar popok, daycare, serta pengasuhan anak, dan sebagainya. Akan terasa lebih berat bagi istri bila suami sering tugas luar kota dan ketika ada di rumah, suami menginginkan perhatian 100 persen dari istri, tapi di tengah-tengahmereka adabayi atau batita yang sering menangis atau aktif bicara. Kondisi ini menjadi sulit untuk kedua belah pihak. Tidak ada lagi waktu dan perhatian seperti sebelum ada bayi.

     

    Bila Anda harus menuliskan daftar pekerjaan rumah, ada lebih dari 242 tugas yang perlu Anda kerjakan dalam satu hari. Jadi akan ada banyak hal yang tidak bisa terselesaikan. Dan yang paling penting adalah quality time bersama pasangan. Tiap orang menasihati Anda untuk kencan bersama pasangan, tapi mungkin Anda tidak bisa menikmatinya karena payudara Anda bengkak dan tidak terasa nyaman atau Anda cemas meninggalkan bayi bersama pengasuh.

     

    Ada ikatan antara ibu dan bayi tapi sedikit saja waktu untuk jauh dari bayi bisa membuat Anda tetap waras. Ingatkan diri sendiri kalau Anda perlu keluar sebentar, dan habiskan waktu bersama pasangan, hanya Anda berdua. Ini bagus untuk hubungan Anda.

     

  4. Kehidupan seks setelah punya anak

    Seks tidak lagi jadi prioritas setelah buah hati lahir. Untuk sementara waktu, kehidupan seks Anda mungkin mengalami terjun bebas. Anda perlu menunggu sekitar 6 minggu setelah melahirkan sebelum mulai berhubungan seks. Tapi setelah Anda mendapat izin dari dokter, Anda justru belum siap melakukannya. Memang akan terasa sakit, meski tidak membuat Anda tersiksa, tapi tubuh Anda telah melewati banyak hal dan butuh waktu untuk bisa kembali normal.

     

    Kelelahan, stres, mood swing, kekeringan vagina akibat menyusui, dan pasangan yang kurang romantis, bisa membuat Anda menunda berhubungan seks selama berbulan-bulan sebelum Anda merasa berada di mood yang baik untuk melakukannya.

     

    Tentu Anda tidak perlu tergesa-gesa berhubungan intim setelah melahirkan bila belum merasa siap, tapi Anda juga perlu mengomunikasikan dengan pasangan apa yang terjadi agar ia tidak merasa kurangnya keintiman ini sebagai kesalahannya, atau membuatnya berpikir situasi ini akan berlangsung selamanya.

     

    Keintiman secara fisik sangat diperlukan untuk hubungan jangka panjang. Di antara penyebab masalah setelah menikah yang paling umum berkaitan dengan seks. Masalah seks bisa terjadi dalam hubungan suami-istri karena beberapa sebab. Masalah seks paling umum dalam pernikahan adalah hilangnya libido. Banyak orang menganggap hanya wanita yang mengalami masalah libido, tapi pria juga mengalami hal serupa. Di kasus lain, masalah seks bisa karena pilihan seks pasangan. Anda mungkin lebih suka hubungan seks dengan cara yang berbeda dengan yang disukai  pasangan, ini bisa membuat salah satu, baik suami atau istri, merasa tidak nyaman.

     

  5. Lebih sayang anak dibanding pasangan

    Setelah punya bayi, Anda jadi agak berjarak dengan pasangan. Anda lebih banyak menghabiskan waktu bersama bayi. Tentu sudah pasti Anda mencintai bayi melebihi apapun, dan kadang melebihi cinta Anda pada pasangan. Dan ini membuat Anda lupa kalau Anda punya pasangan.

     

    Jangan biarkan ini terjadi. Ingat, Anda berdua mencintai bayi, dan tidak ada alasan untuk saling menyakiti karenanya. Gunakan cinta Anda berdua pada bayi untuk menjadi lebih saling mencintai.

     

  6. Uang

    Masalah yang berhubungan dengan uang bisa terjadi meski sebelum pernikahan. Masalah uang bisa disebabkan banyak hal, misalnya pengeluaran atau biaya pernikahan yang tinggi. Sebaiknya pasangan yang punya masalah keuangan menarik napas dalam dan lakukan percakapan serius tentang kondisi keuangan mereka.

     

    Strategi untuk mengatasi masalah ini antara lain:

    • Jujur tentang situasi keuangan terbaru Anda. Bila kondisinya sedang sulit, tidak realistis bila Anda terus menjalani gaya hidup yang sekarang.
    •  
    • Jangan mengarah ke masalah keuangan saat perdebatan memanas. Sebaiknya luangkan waktu yang nyaman untuk Anda berdua.
    •  
    • Kenali apakah pasangan suka menabung atau suka menghabiskan uang, keduanya punya manfaat dan belajarlah dari tiap kecenderungan ini.
    •  
    • Jangan sembunyikan pendapatan atau hutang.
    •  
    • Jangan menyalahkan.
    •  
    • Buat anggaran bersama, termasuk untuk tabungan.
    •  
    • Putuskan siapa yang bertanggung jawab membayar tagihan bulanan.
    •  
    • Biarkan tiap orang punya kebebasan menyisihkan uang untuk dihabiskan sesuai keinginan.
    •  
    • Buat tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Tak apa punya tujuan pribadi, tapi Anda juga perlu punya tujuan bersama.
    •  
    • Bahas juga tentang kewajiban Anda merawat orangtua ketika mereka lanjut usia dan bagaimana merencanakan keuangannya bila dibutuhkan.

     

  7. Pekerjaan rumah tangga

    Kebanyakan suami bekerja di luar rumah dan sering menjalani lebih dari satu pekerjaan. Jadi penting untuk secara adil membagi tugas rumah dengan suami. Beberapa strategi yang bisa Anda coba:

    • Atur dan perjelas tentang tugas Anda di Tulis semua tugas dan sepakati siapa yang mengerjakannya. Bersikap adil agar tidak muncul kebencian.
    •  
    • Bersikap terbuka untuk solusi lain. Bila Anda berdua tidak suka melakukan tugas rumah, mungkin ada baiknya menggunakan jasa asisten rumah tangga. Bila salah satu dari Anda menyukai tugas tertentu, pasangan bisa mengurus cucian dan membersihkan pekarangan. Anda bisa kreatif menjalani tugas rumah dan memilih pekerjaan yang lebih disukai selama cukup adil untuk Anda dan pasangan.
    •  

    Bunda, wanita cenderung mengira pasangan bisa mengerjakan tugas tanpa diminta, tapi kebanyakan pria merespon lebih baik pada permintaan secara langsung. Juga jangan lupa ucapkan terima kasih pada suami setelah ia berhasil menyelesaikan tugas rumah. Memang ini mungkin terkesan tidak adil karena Anda tidak pernah menerima ucapan terima kasih tapi ini akan membuat pasangan lebih reseptif terhadap permintaan Anda selanjutnya.

     

  8. Berdebat dan bertengkar

    Masalah setelah menikah dan punya anak lainnya adalah munculnya friksi antara Anda dan pasangan. Anda berdua jadi lebih mudah bertengkar.

     

    Selalu ucapkan kata “tolong” dan “terima kasih” serta gunakan panggilan sayang untuk memanggil suami Anda. Bila butuh bantuan, Anda bisa gunakan aplikasi seperti Lasting yang mengajukan pertanyaan untuk mengetahui kondisi hubungan Anda, dan memetakan program untuk meningkatkan komunikasi dan kemampuan mengatasi konflik serta menyarankan kebiasaan sehat dan ritual romantis di kehidupan sehari-hari.

     

    Dulu Anda terbiasa bersama, Anda bisa duduk bersama pasangan di sofa selama berjam-jam. Kini tidak lagi, sekarang waktu Anda habiskan untuk bersih-bersih, menyiapkan segala hal untuk esok hari seperti pakaian kerja dan botol susu, serta melakukan pekerjaan rumah.

     

    Memang rutinitas Anda telah berubah, tapi ada hal yang dulunya Anda lakukan atas dasar hubungan, seperti menonton acara reality show di TV bersama, membaca novel di tempat tidur lalu bergantian membaca ketika selesai. Semua hal seru ini tidak ada lagi, setidaknya untuk saat ini.

     

    Anda punya tantangan tersendiri untuk menjalin kedekatan dengan pasangan sambil mengganti popok atau membersihkan high chair. Memang ini jauh dari kesan seksi tapi bila Anda pikirkan lagi, terasa menyenangkan ketika Anda berdua menjalani ini bersama.

     

  9. Gangguan teknologi

    Salah satu masalah setelah menikah yang terbesar adalah membiarkan teknologi mengganggu hubungan Anda dan pasangan. Orang mengirim pesan ketika sedang makan, surfing internet di malam hari, dan selalu menggunakan smartphone. Sebagai akibatnya, mereka mengalami kekurangan quality time dan ini berdampak pada keintiman. Sering kali, pasangan suami-istri bahkan tidak menyadari masalah ini. Mereka mengira telah menghabiskan waktu bersama, tapi tidak menyadari mereka diganggu oleh teknologi. Duduk di sebelah pasangan tapi menggunakan laptop masing-masing  tidak termasuk quality time.

     

  10. Kondisi traumatis

    Ketika pasangan mengalami insiden yang traumatik, ini menambah kesulitan dalam menghadapi masalah setelah menikah. Banyak peristiwa traumatik terjadi dan mengubah kehidupan. Untuk beberapa pasangan yang menikah, situasi traumatik ini menjadi masalah karena satu pasangan tidak tahu bagaimana mengatasi situasi.

     

    Satu pasangan tidak tahu atau tidak memahami bagaimana berfungsi tanpa pasangannya karena dirawat di rumah sakit atau menjalani bed rest. Di situasi lain, satu pasangan membutuhkan perawatan sepanjang waktu, menyebabkan ketergantungan pada pasangan. Kadang muncul tekanan terlalu besar dan tanggung jawab terlalu banyak, jadi kualitas pernikahan menurun hingga situasi traumatik ini berakhir.

     

  11. Stres

    Stres jadi masalah yang umum dalam pernikahan dan kebanyakan pasangan akan menghadapinya, setidaknya sekali dalam sebuah pernikahan. Stres dalam pernikahan bisa disebabkan oleh banyak sitausi, seperti keuangan, keluarga, atau penyakit. Masalah keuangan bisa dikarenakan pasangan kehilangan pekerjaan atau berpindah tugas. Stres dari keluarga bisa berupa masalah anak dan masalah dengan keluarga atau keluarga pasangan. Stres dipicu oleh banyak hal. Kadang mencari tahu bagaimana mengatasi stres bisa menimbulkan stres lagi.

     

  12. Kebosanan

    Kebosanan kadang dianggap sepele, tapi menjadi masalah setelah menikah yang serius. Seiring waktu pasangan menjadi bosan dengan hubungan mereka. Mereka merasa lelah dengan apa yang terjadi dalam pernikahan. Di situasi ini, rasa bosan dalam hubungan pernikahan sudah bisa diprediksi. Pasangan melakukan hal yang sama setiap hari selama bertahun-tahun tanpa perubahan. Perubahan biasanya terjadi ketika mereka melakukan hal spontan. Bila pernikahan kekurangan aktivitas spontan, ada kemungkinan masalah kebosanan muncul.

     

  13. Cemburu

    Kecemburuan jadi masalah setelah menikah berikutnya. Bila Anda punya pasangan yang sangat pencemburu, bisa terasa sulit untuk menjalani hidup bersamanya. Kecemburuan memang bagus untuk pernikahan, selama tidak berlebihan. Tapi kadang orang bisa berlebihan, pasangan bertanya siapa yang Anda ajak bicara di telepon, kenapa Anda bicara padanya, bagaimana Anda bisa mengenal orang tersebut, berapa lama Anda sudah mengenalnya, dan seterusnya. Memiliki pasangan yang sangat pencemburu bisa menciptakan ketegangan dan stres dalam pernikahan, yang perlahan mengancam keselamatan pernikahan.

     

    Rasa percaya jadi bagian penting dari sebuah pernikahan. Apakah Anda melihat sesuatu yang membuat Anda tidak percaya pada pasangan? Atau Anda punya masalah yang belum terpecahkan yang mencegah Anda mempercayai orang lain?

     

    Anda dan pasangan bisa mengembangkan rasa saling percaya dengan mengikuti langkah berikut:

    • Konsisten
    • Tepat waktu
    • Lakukan apa yang Anda katakan
    • Jangan berbohong, bahkan white lie, pada pasangan atau orang lain
    • Bersikap fair, meski dalam berargumen
    • Sensitif terhadap perasaan orang lain. Anda masih bisa tidak sependapat tapi jangan abaikan perasaan pasangan
    • Menelepon bila berjanji akan menelepon
    • Hubungi pasangan bila Anda akan pulang terlambat
    • Jangan bereaksi berlebihan ketika ada masalah
    • Jangan buka kembali luka lama
    • Hormati batasan pasangan
    • Jadi pendengar yang baik.

     

  14. Hilang kontrol saat marah

    Meski wajar bagi pasangan yang telah menikah untuk saling marah, keduanya harus tetap bertindak seperti yang seharusnya. Daripada bereaksi eksplosif, pasangan perlu mengatasi masalah dengan tetap tenang dan perhatikan perasaan masing-masing. Yang juga penting adalah mau mendengarkan, terbuka mengungkapkan pendapat, dan hindari perilaku defensif.

     

  15. Egois

    Bila salah satu pasangan bertindak egois dan konsisten menempatkan kebutuhan dan keinginannya di atas kebutuhan dan keinginan pasangannya, maka hanya soal waktu hingga pasangan yang diabaikan merasa tidak dihargai dan tidak dicintai.

     

    Ketika pasangan menikah, mereka berjanji untuk saling mencintai, dan bagian dari janji ini adalah tidak bersikap egois. Meski ini terdengar cukup mudah, banyak cobaan datang dalam banyak bentuk.

     

    Yang paling berat, sikap egois, cemburu, posesif, dan kekerasan terjadi. Di bentuk yang lebih ringan, pasangan tidak bisa saling menghormati dan menghargai.  Untuk mencegah masalah egois dalam pernikahan, pasangan harus belajar bagaimana berempati dan menciptakan keseimbangan antara kebutuhan diri sendiri dan pasangan.

     

    Meski selalu ada masalah setelah pernikahan, Anda berdua bisa meminimalisirnya, meski tidak bisa menghindarinya. Anda perlu bersikap realistis. Jangan mengira pasangan akan memenuhi semua kebutuhan dan bisa tahu tanpa bertanya. Langsung minta apa yang Anda butuhkan.

     

    Jangan lupa sertakan humor, belajarlah melepaskan beban dan nikmati apa yang Anda jalani. Akhirnya, buat tekad untuk memperjuangkan pernikahan dan benar-benar mencari cara yang perlu dilakukan. Jangan berpikir semua akan lebih baik jika Anda berpasangan dengan orang lain. 

(Ismawati)