Mertua Fenita Arie Alami Pneumonia, Ini Pelajaran untuk Keluarga

Mertua Fenita Arie Alami Pneumonia, Ini Pelajaran untuk Keluarga
Mertua Fenita Arie Alami Pneumonia, Ini Pelajaran untuk Keluarga

Punya orang tua yang sudah lanjut usia kadang membuat kita terbiasa mendengar kalimat seperti, “Nggak apa-apa, namanya juga sudah tua.” Batuk sedikit dianggap biasa, napas mulai terasa lebih berat dikira karena faktor usia, dan keluhan yang belum terlalu mengganggu aktivitas akhirnya sering ditunggu sampai membaik sendiri.

Fenita Arie pernah berada di situasi tersebut. Mertuanya yang saat itu berusia sekitar 80 tahun beberapa kali terlihat batuk atau agak sesak, tetapi keluhan tersebut belum membuat keluarga berpikir ada masalah kesehatan yang lebih serius.

Sampai akhirnya mertua Fenita Arie alami pneumonia dan kondisinya diketahui sudah cukup berat. Pengalaman mendampingi orang tua yang sakit itu mengubah cara Fenita memperhatikan kesehatan anggota keluarganya, terutama ketika ada perubahan kecil yang sebelumnya mudah dianggap wajar pada lansia.

Kisah tersebut dibagikan Fenita dalam Media Roundtable kampanye “Lindungi Napasmu, Jaga Momen Berarti” yang diselenggarakan Pfizer Indonesia di Jakarta pada 24 September 2026. Salah satu pembahasannya menyoroti pentingnya keluarga memahami kesehatan pernapasan orang dewasa dan lansia, termasuk ketika mereka masih terlihat cukup aktif menjalani keseharian.

Pneumonia pada Lansia Bisa Berawal dari Keluhan yang Dianggap Ringan

Source: Instagram @ariekuntung

Saat itu, keluarga sebenarnya membawa mertua Fenita ke rumah sakit bukan karena masalah pernapasan. Ia baru saja mengalami jatuh sehingga perhatian keluarga lebih banyak tertuju pada kondisi kakinya.

Di sisi lain, ada riwayat sesak napas yang sebelumnya sudah pernah muncul. Fenita mengingat, ketika keluarga berkunjung dan melihat orang tua sedang batuk atau berbicara dengan napas yang sedikit lebih berat, kondisi tersebut masih mudah dianggap sebagai sesuatu yang lumrah karena usia.

“Kalau kita datang ke rumah orang tua, misalnya lagi batuk atau lagi ngomong agak sesak dikit, ‘Nggak apa-apa, namanya juga orang tua.’ Jawabnya gitu. ‘Nggak apa-apa, paling juga nanti minum jahe nanti sembuh dengan sendirinya, masuk angin, paling kerokan aja sudah cukup,’” cerita Fenita.

Pemeriksaan di rumah sakit kemudian menemukan persoalan kesehatan yang lebih berat daripada keluhan kaki yang awalnya menjadi perhatian keluarga. Sang mertua didiagnosis mengalami pneumonia.

Fenita menceritakan bahwa pada saat diperiksa, kondisi paru mertuanya sudah disertai cairan. Ia juga menyebut adanya komplikasi pada jantung dan ginjal selama kondisi tersebut berlangsung.

Bagi Fenita dan keluarga, situasi itu menjadi pengalaman yang berat. Bukan hanya karena harus menghadapi orang tua yang sedang sakit, tetapi juga karena beberapa keluhan sebelumnya ternyata tidak sesederhana yang mereka bayangkan.

“Ternyata hal-hal yang kita anggap sepele itu tuh nggak bisa kita anggap begitu saja. Tapi memang harus ada penanganan yang lebih lanjut,” ungkapnya.

Jangan Anggap Remeh Batuk dan Sesak Pada Lansia

Menjadi caregiver tidak selalu berarti tinggal bersama orang tua sepanjang hari atau menangani seluruh kebutuhan mereka sendiri. Kadang perannya muncul lewat hal-hal yang terlihat sederhana seperti menelepon, berkunjung, mengantar kontrol, membantu mengurus obat, atau menjadi orang yang ikut mengambil keputusan ketika orang tua sakit.

Fenita mengakui sebelumnya ia pun merasa sudah memberikan perhatian dengan rutin menelepon atau datang menemui orang tua. Setelah pengalaman bersama mertuanya, ia merasa pertanyaan tentang kesehatan perlu dilakukan dengan lebih dalam daripada sekadar menanyakan kabar.

“Kalau selama ini mungkin telepon, atau cuma datang seminggu sekali cuma nanyain ‘Gimana kabarnya?’ Habis itu sudah cuma sekadar basa-basi. Tapi mungkin kita lebih deep lagi nanya,” tutur Fenita.

Perhatian tersebut bukan berarti keluarga harus langsung menganggap setiap batuk sebagai penyakit berat. Yang berubah bagi Fenita adalah kepekaannya ketika ada sesuatu yang terlihat berbeda dari kondisi orang tua biasanya.

Misalnya, cara mereka bernapas terasa tidak seperti biasanya atau ada keluhan yang terus muncul. Dalam kondisi yang membuat keluarga khawatir, Fenita memilih untuk tidak hanya membantu menyediakan obat, tetapi juga mengajak orang tua berkonsultasi langsung dengan tenaga kesehatan.

Baginya, mendampingi pemeriksaan juga memberi kesempatan bagi anak untuk membantu menjelaskan riwayat kesehatan orang tua. Apalagi pada usia lanjut, bisa saja ada beberapa kondisi kesehatan yang perlu disampaikan agar dokter mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.

“Kita benar-benar temenin orang tua kita, datengin ke dokter, konsultasi, dan kita bilang bahwa misalnya bapak ada sakit ini, ibu sakit ini. Terus apakah harus juga dicek lagi, cek untuk masalah paru-parunya, itu penting banget,” jelas Fenita.

Caregiver Perlu Mengenali Perubahan Kondisi Kesehatan Orang Tua

Pengalaman Fenita cukup dekat dengan keseharian banyak keluarga di Indonesia. Survei YouGov Indonesia terhadap 1.000 orang dewasa menunjukkan 55 persen responden secara rutin merawat orang tua atau anggota keluarga yang berusia lebih tua.

Peran tersebut bisa terasa semakin menantang ketika anak dan orang tua tidak tinggal di kota yang sama. Fenita sendiri memiliki orang tua yang tinggal di Palembang dan memilih tetap menetap di sana. Ketika tidak bisa bertemu setiap hari, telepon dan video call akhirnya menjadi bagian penting untuk tetap mengetahui bagaimana kondisi mereka.

Namun, percakapan mengenai kesehatan juga tidak selalu mudah. Ada orang tua yang terbiasa menahan keluhan, merasa kondisinya belum cukup serius untuk diceritakan, atau tidak ingin membuat anak khawatir.

Karena itu, Fenita mencoba membangun percakapan bukan dengan menakut-nakuti mereka tentang penyakit, melainkan mengingatkan masih banyak momen keluarga yang ingin dijalani bersama. “Mama mau nggak sih kalau misalnya nanti lihat Mas Gavin wisuda? Mau nggak sih kalau misalnya nanti lihat cucu-cucunya nikah? Semua terwujud kalau misalnya kita punya kesehatan yang baik,” cerita Fenita mengenai caranya berbicara dengan orang tua.

Pendekatan seperti ini membuat pembicaraan soal kesehatan tidak melulu berangkat dari rasa takut. Ada alasan yang terasa lebih dekat bagi keluarga untuk menjaga kondisi tubuh, yaitu agar tetap bisa hadir dalam berbagai momen yang ingin dinikmati bersama.

Komunikasi dengan Dokter Penting Saat Merawat Orang Tua Lansia

Fenita dan keluarganya kemudian harus menghadapi kehilangan sang mertua. Ia tidak menutupi bahwa pengalaman tersebut terasa berat bagi keluarga. Dari situlah kebersamaan dengan orang tua yang masih ada terasa semakin berharga. Fenita mengatakan saat ini ia masih memiliki ibu mertua serta kedua orang tuanya. Pengalaman sebelumnya membuatnya merasa masih memiliki kesempatan untuk memberikan perhatian yang lebih besar kepada mereka.

Bagi Fenita, momen berarti sekarang tidak harus berupa perayaan besar. Bisa berkumpul bersama keluarga, duduk dan mengobrol, hingga mendengar orang tua bercerita tentang kesehariannya sudah menjadi sesuatu yang ia hargai. Terlebih ketika orang tua mulai merasa nyaman menceritakan apa yang sedang dirasakan tubuhnya.

“Momen yang berharga itu adalah momen ketika kumpul sama keluarga, kumpul lengkap, orang tua kita, ada kakak atau sama anak-anak semuanya kumpul. Apalagi kita juga pernah merasakan momen kehilangan. Ternyata cukup berat sekali kami hadapi,” kenangnya.

Ia berharap keterbukaan seperti itu terus terjaga. Bukan hanya bercerita soal kegiatan dari pagi sampai malam, tetapi juga berani menyampaikan ketika ada rasa sakit atau perubahan kesehatan yang sedang dialami.

Bagi Parents yang kini mulai berada di posisi sebagai caregiver, percakapan sederhana tersebut bisa menjadi kesempatan untuk lebih memahami kondisi orang tua. Kita mungkin tidak selalu berada di samping mereka setiap saat, tetapi kita masih bisa lebih sungguh-sungguh mendengarkan ketika bertanya, “Mama atau Papa hari ini gimana?” Bukan untuk membuat orang tua merasa terus diawasi, melainkan agar keluhan yang terasa berbeda tidak buru-buru dianggap sekadar bagian dari bertambahnya usia.

Follow Ibupedia Instagram