Perjalanan Wina Natalia Menerima Anak Neurodivergent

Perjalanan Wina Natalia Menerima Anak Neurodivergent
Perjalanan Wina Natalia Menerima Anak Neurodivergent

Pernah nggak, Bu, ada di situasi anak tiba-tiba tantrum di tempat umum? Nangis, teriak, bahkan sampai menjatuhkan diri ke lantai, sementara orang-orang di sekitar mulai melirik, berbisik, atau bahkan menghakimi tanpa benar-benar tahu apa yang sedang terjadi.

Di momen seperti itu, yang terasa bukan cuma capek menghadapi anak, tapi juga campur aduk perasaan. Bingung harus bagaimana, merasa disalahpahami, bahkan tidak jarang muncul rasa malu yang pelan-pelan ikut menekan.

Pengalaman seperti inilah yang juga dirasakan oleh Wina Natalia, figur publik sekaligus ibu dari empat anak, di mana salah satu anaknya merupakan anak neurodivergent. Perjalanannya sebagai orang tua tidak selalu mudah, terutama di masa-masa awal saat ia belum sepenuhnya memahami apa yang sebenarnya sedang dihadapi oleh anaknya.

Dari luar, mungkin terlihat seperti sekadar tantrum. Namun di balik itu, ada proses panjang, emosi yang tidak sederhana, dan perjalanan menerima yang tidak terjadi dalam satu waktu.

Awal Mula, Dari Anak Speech Delay ke ASD (Autism Spectrum Disorder)

Perjalanan memahami kondisi anak sering kali tidak langsung jelas sejak awal. Banyak orang tua memulai dari tanda yang terlihat sederhana, sebelum akhirnya menyadari bahwa ada hal lain yang perlu dipahami lebih dalam.

Hal ini juga dialami oleh Wina Natalia. Di Grand Opening Atelier of Minds, ia menceritakan bahwa di awal, tidak ada kecurigaan yang terlalu spesifik selain keterlambatan bicara. “Waktu itu anakku umur dua tahun, aku tahunya dia speech delay. Jadi kita ke dokter, dan memang diagnosis awalnya speech delay, lalu mulai terapi untuk itu,” ceritanya.

Namun, seiring waktu berjalan, muncul perilaku lain yang mulai terlihat berbeda. Tantrum yang dialami anaknya bukan tantrum biasa, melainkan cukup intens hingga membahayakan diri sendiri.

“Setelah lewat beberapa waktu, mulai kelihatan tantrumnya. Dan itu parah banget. Dia bisa jedotin kepala ke tembok, guling-guling di lantai, sampai jedotin kepala ke lantai,” jelasnya.

Dari situ, proses observasi kembali dilakukan. Tidak hanya sekali, tapi melalui pengamatan yang lebih panjang untuk benar-benar memahami kondisi anak secara utuh. “Baru di umur tiga tahun akhirnya diobservasi lagi, dan dari situ ketahuan kalau ini lebih ke ASD. Jadi memang butuh waktu untuk benar-benar tahu,” paparnya.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa proses diagnosis pada anak neurodivergent tidak selalu bisa ditentukan dalam satu kali pemeriksaan. Ada tahapan, ada proses, dan sering kali membutuhkan waktu untuk melihat pola perkembangan anak secara keseluruhan.

Bagi banyak orang tua, fase ini bisa terasa membingungkan. Karena di satu sisi ingin segera tahu, tapi di sisi lain memang tidak semua hal bisa dipastikan secara instan. Di fase ini, kesabaran dan keterbukaan untuk terus mengamati menjadi kunci.

Momen Paling Berat adalah Pandangan Orang Sekitar

Source: TikTok @winataliaaa

Kalau melihat dari luar, tantrum anak mungkin jadi hal yang paling terlihat. Apalagi saat terjadi di tempat umum, di mana semua mata seolah langsung tertuju ke satu arah. Namun bagi orang tua, yang terasa berat sering kali bukan hanya situasinya, tapi bagaimana orang lain memandangnya.

Wina Natalia mengakui, di masa-masa awal, tekanan terbesar justru datang dari reaksi sekitar. Bukan hanya rasa capek menghadapi anak, tapi juga perasaan tidak nyaman karena dinilai tanpa dipahami. “Yang paling berat itu sebenarnya bukan ke anaknya, tapi ke pandangan orang. Waktu anak lagi tantrum di tempat umum, orang lihatnya seperti aib. Apalagi waktu itu kami juga dikenal orang, jadi rasanya seperti dipandang rendah,” ceritanya.

Tidak sedikit yang mempertanyakan, bahkan secara tidak langsung menyudutkan. Ada yang heran kenapa kondisi anak diceritakan, ada juga yang menganggap hal tersebut seharusnya disembunyikan. “Bahkan waktu kita mulai terbuka cerita, ada yang bilang, ‘kok diceritain sih, kok nggak malu?’ Padahal justru di situ proses menerima itu lagi berjalan,” lanjutnya.

Pengalaman seperti ini ternyata cukup banyak dirasakan orang tua dengan anak neurodivergent. Di satu sisi sedang berusaha memahami anak, di sisi lain harus menghadapi stigma yang belum tentu benar.

Di titik ini, yang diuji bukan hanya kesabaran dalam mendampingi anak, tapi juga kekuatan untuk tetap berdiri di tengah penilaian orang lain.

Dan sering kali, proses yang paling berat bukan saat menghadapi anak, melainkan saat harus belajar menerima keadaan di tengah lingkungan yang belum sepenuhnya memahami.

Butuh Waktu untuk Benar-Benar Memahami Anak

Source: TikTok @winataliaaa

Setelah melewati fase diagnosis dan menghadapi berbagai reaksi dari lingkungan, perjalanan berikutnya ternyata tidak langsung terasa lebih mudah. Justru di titik ini, proses yang lebih dalam mulai terjadi, yaitu memahami anak dengan cara yang benar-benar berbeda.

Wina Natalia mengakui bahwa penerimaan itu tidak datang dalam waktu singkat. Meski sudah mengetahui kondisi anak sejak usia tiga tahun, butuh waktu cukup lama hingga akhirnya ia dan keluarga benar-benar bisa memahami anaknya secara utuh.

“Setelah tahu dia ASD di umur tiga tahun, itu nggak langsung paham. Butuh waktu sekitar dua tahun sampai akhirnya kami benar-benar mengerti. Ternyata memang benar, anak itu hanya berbeda, jadi kita yang harus ubah cara pandang,” ceritanya.

Di awal, wajar jika orang tua masih mencoba menyamakan anak dengan standar yang sudah terbiasa. Membandingkan dengan saudara kandung, atau berharap anak bisa mengikuti pola yang sama seperti anak lain seusianya.

Namun seiring waktu, Wina mulai menyadari bahwa pendekatan seperti itu justru membuat prosesnya terasa lebih berat. Bukan karena anaknya tidak mampu, melainkan karena ekspektasi yang tidak disesuaikan dengan kondisi anak.

Perubahan pun mulai terjadi ketika cara pandang ikut berubah. Anak tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang harus “dikejar” agar sama dengan yang lain, melainkan sebagai individu dengan cara berkembang yang berbeda.

Lingkungan yang Tepat Bisa Mengubah Perkembangan Anak

Source: TikTok @winataliaa

Di tengah berbagai proses yang dijalani orang tua, ada satu faktor yang sering baru terasa dampaknya setelah dijalani, yaitu lingkungan. Bukan hanya soal diterima atau tidak, tapi benar-benar tentang bagaimana lingkungan bisa memengaruhi perkembangan anak secara langsung.

Wina Natalia merasakan sendiri perubahan ini ketika anaknya berada di lingkungan yang berbeda. “Sangat berpengaruh. Lingkungan yang support, yang menerima anak, itu benar-benar ngaruh banget ke perkembangan anak,” jelasnya.

Ia melihat perbedaan yang cukup signifikan. Ketika anak berada di lingkungan yang kurang memahami, perkembangan cenderung terasa berjalan di tempat. Anak menjadi sulit berkembang, bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak mendapatkan ruang yang tepat.

Sebaliknya, saat anak berada di lingkungan yang menerima, tidak membedakan, dan memberi rasa aman, perubahan mulai terlihat. “Kalau dia ada di lingkungan yang menerima, yang tidak membeda-bedakan, dia pasti berkembangnya jauh lebih cepat,” lanjutnya.

Di sinilah peran lingkungan menjadi sangat penting. Anak tidak hanya belajar dari instruksi, tapi juga dari rasa aman yang ia rasakan setiap hari. Ketika anak merasa diterima, ia lebih berani mencoba, lebih terbuka untuk berinteraksi, dan lebih siap untuk berkembang.

Lingkungan yang tepat bukan berarti harus sempurna. Namun cukup menjadi tempat di mana anak tidak merasa salah hanya karena dirinya berbeda.

Proses yang Berulang, Kunci Anak Neurodivergent Bisa Lebih Mandiri

Source: TikTok @winataliaa

Salah satu hal yang sering tidak terlihat dari luar adalah bagaimana anak neurodivergent belajar. Berbeda dengan anak pada umumnya yang bisa memahami instruksi dalam waktu singkat, banyak anak neurodivergent justru membutuhkan pengulangan yang konsisten dalam jangka waktu yang tidak sebentar.

Wina Natalia menceritakan bahwa dalam kesehariannya, proses ini benar-benar terasa. “Untuk satu instruksi saja bisa butuh waktu satu sampai dua tahun sampai dia benar-benar mengerti,” ujarnya.

Bagi sebagian orang, hal ini mungkin terdengar lama. Namun bagi orang tua yang menjalaninya, ini adalah bagian dari proses yang memang harus dilalui dengan penuh kesabaran.

Pengulangan bukan sekadar mengingatkan, tapi menjadi cara anak membangun pemahaman. Rutinitas yang dilakukan terus-menerus membantu anak mengenali pola, memahami apa yang diharapkan, dan perlahan mulai melakukannya sendiri.

Hal ini juga terlihat dalam proses kemandirian sehari-hari, yang sering kali membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan anak lain seusianya.

Wina memberikan contoh sederhana yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Untuk kebiasaan seperti toilet training saja bisa butuh waktu bertahun-tahun. Bahkan sampai sekarang di usia 11 tahun pun belum 100%,” ceritanya.

Meski begitu, bukan berarti tidak ada perkembangan. Perubahan tetap terjadi, hanya saja dengan ritme yang berbeda. Di sinilah pentingnya melihat proses, bukan hanya hasil akhir. Karena setiap pengulangan, sekecil apa pun, sebenarnya sedang membangun satu langkah baru menuju kemandirian.

Ketika orang tua bisa menerima bahwa setiap anak punya waktunya masing-masing, proses yang panjang ini tidak lagi terasa sebagai beban, tapi sebagai bagian dari perjalanan yang memang sedang dijalani bersama.

Saat Berhenti Denial, Semua Mulai Terasa Lebih Ringan

Source: TikTok @winataliaa

Di antara semua proses yang dijalani, ada satu fase yang sering jadi titik paling menentukan, yaitu saat orang tua berhenti menyangkal dan mulai benar-benar menerima kondisi anak.

Wina Natalia mengakui bahwa fase ini tidak mudah dilewati. Di awal, ada banyak perasaan yang bercampur. Bingung, tidak percaya, sampai keinginan untuk menutup diri dari kenyataan yang ada.

Namun perlahan, ketika ia mulai berani jujur pada diri sendiri dan tidak lagi menyangkal, sesuatu mulai berubah. “Setelah kita tidak denial, sudah bisa menerima keadaan, dan berani cerita, semuanya jadi terasa lebih ringan,” ujarnya.

Penerimaan ini bukan berarti semua tantangan langsung hilang. Anak tetap membutuhkan pendampingan, proses tetap berjalan, dan perjalanan masih panjang. Namun beban yang sebelumnya terasa berat, perlahan menjadi lebih bisa dijalani.

Salah satu perubahan yang paling terasa adalah ketika Wina mulai terbuka, bukan hanya ke orang terdekat, tapi juga ke publik. Keputusan ini bukan hal yang mudah, apalagi di tengah stigma yang masih ada. Namun justru dari situ, prosesnya menjadi lebih lega. Tidak ada lagi yang disembunyikan, tidak ada lagi rasa harus “terlihat baik-baik saja”.

Dari pengalaman itulah, Wina punya satu pesan yang selalu ia pegang sampai sekarang. “Jangan pernah malu punya anak istimewa. Kalau kita sudah menerima, semuanya akan terasa lebih mudah,” ungkapnya.

Mendampingi anak neurodivergent bukan tentang mencari cara tercepat agar semuanya “beres”, tapi tentang belajar berjalan pelan dengan cara yang lebih memahami. Akan selalu ada hari yang terasa berat, akan ada momen yang menguji kesabaran, tapi di setiap proses itu, selalu ada ruang untuk bertumbuh bersama.

Ketika orang tua mulai bisa melihat anaknya dengan lebih utuh, bukan dari kekurangannya, tapi dari cara uniknya menjalani dunia, di situlah hubungan yang lebih hangat perlahan terbentuk.

Follow Ibupedia Instagram