Produk No Added Sugar, Tapi Kok Tetap Manis? Ini Alasannya!

Produk No Added Sugar, Tapi Kok Tetap Manis? Ini Alasannya!
Produk No Added Sugar, Tapi Kok Tetap Manis? Ini Alasannya!

Tulisan no added sugar semakin mudah ditemukan pada kemasan makanan dan minuman. Mulai dari jus, camilan, hingga produk nutrisi anak, klaim ini sering menjadi salah satu hal yang diperhatikan orang tua saat memilih produk untuk keluarga.

Wajar saja, Parents tentu ingin membatasi konsumsi gula, terutama pada anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Namun, pernah nggak merasa heran ketika mencoba produk berlabel no added sugar, tetapi rasanya tetap manis?

Hal ini kadang menimbulkan pertanyaan. Kalau tidak ada gula tambahan, sebenarnya dari mana rasa manis tersebut berasal? Apakah produk no added sugar benar-benar bebas gula dan otomatis lebih sehat?

Ternyata, ada beberapa hal yang perlu dipahami sebelum menjadikan tulisan no added sugar sebagai pertimbangan utama saat memilih makanan atau minuman.

Hal ini kadang menimbulkan pertanyaan. Kalau tidak ada gula tambahan, sebenarnya dari mana rasa manis tersebut berasal? Apakah produk no added sugar benar-benar bebas gula dan otomatis lebih sehat?

Ternyata, ada beberapa hal yang perlu dipahami sebelum menjadikan tulisan no added sugar sebagai pertimbangan utama saat memilih makanan atau minuman.

Apa Arti No Added Sugar pada Kemasan Makanan?

Dalam edukasi World Food Day 2026 yang diselenggarakan Danone Indonesia bersama Universitas Pelita Harapan (UPH) (15/10/2026), Julia R. Wijaya, Ph.D., akademisi dan peneliti Teknologi Pangan UPH, menjelaskan bahwa no added sugar berkaitan dengan tidak adanya gula yang sengaja ditambahkan ke dalam produk selama proses pembuatannya.

"Kalau gula tambahan, ini adalah gula yang sengaja ditambahkan pada saat kita memproduksi bahan pangan," jelas Julia. Sebagai contoh, ketika Parents membuat puding kemudian menambahkan gula pasir agar rasanya lebih manis, gula pasir tersebut termasuk gula tambahan.

Gula tambahan sendiri bisa berasal dari berbagai bahan, seperti sukrosa atau gula pasir, sirup glukosa, sirup fruktosa, hingga madu yang digunakan untuk memberikan rasa manis.

Berbeda dengan gula tambahan, ada pula gula yang memang secara alami sudah terdapat dalam bahan makanan. Buah-buahan, misalnya, memiliki kandungan gula alami yang membuat rasanya manis meskipun tidak ditambahkan gula pasir. Begitu juga dengan susu yang secara alami mengandung laktosa.

Artinya, produk yang tidak diberi gula tambahan masih mungkin mengandung gula yang berasal dari bahan bakunya. Inilah mengapa no added sugar tidak sama dengan sugar free atau bebas gula. Tulisan no added sugar tidak berarti kandungan gula dalam produk tersebut pasti nol.

Namun, gula alami ternyata juga bukan satu-satunya alasan mengapa produk tanpa gula tambahan masih bisa terasa manis.

Kenapa Produk No Added Sugar Masih Bisa Terasa Manis?

Selain berasal dari bahan makanan itu sendiri, rasa manis pada produk pangan juga bisa diperoleh dari penggunaan bahan pemanis.

Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, SpGK(K), Dokter Spesialis Gizi Klinik Konsultan, menjelaskan bahwa konsumen perlu melihat lebih jauh komposisi produk yang mencantumkan klaim no added sugar, terutama ketika rasanya masih sangat manis.

Pasalnya, dalam formulasi pangan, gula dan pemanis merupakan dua jenis bahan yang memiliki karakteristik berbeda. Gula termasuk karbohidrat yang memberikan rasa manis sekaligus menyumbang energi. Sementara itu, bahan pemanis tertentu dapat memberikan rasa manis dengan jumlah penggunaan yang jauh lebih kecil.

Julia turut menjelaskan bahwa pemanis seperti stevia, sukralosa, dan aspartam memiliki tingkat kemanisan yang berbeda dari gula. Beberapa jenis pemanis bahkan dapat menghasilkan rasa manis yang jauh lebih kuat. Karena itu, penggunaan pemanis dapat menjadi salah satu alasan suatu produk tetap terasa manis meskipun tidak menggunakan gula tambahan.

Meski begitu, penggunaan pemanis dalam produk perlu dilihat berdasarkan jenis bahan dan ketentuan klaim yang berlaku. Parents sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa semua produk no added sugar pasti menggunakan pemanis.

Dr. Diana pun mengingatkan agar konsumen tidak hanya terpaku pada satu klaim yang tercantum di bagian depan kemasan. "Jangan hanya berfokus pada no added sugar, tapi kita lihat komposisinya itu apa," jelas dr. Diana.

Jadi, kalau Parents menemukan produk no added sugar yang rasanya cukup manis, coba perhatikan daftar bahan yang digunakan. Dengan begitu, Parents bisa mengetahui apakah rasa manisnya berasal dari kandungan alami bahan pangan atau penggunaan pemanis tertentu.

Apakah No Added Sugar Pasti Lebih Sehat untuk Anak?

Setelah mengetahui perbedaan sumber rasa manis, pertanyaan berikutnya adalah apakah produk tanpa gula tambahan selalu menjadi pilihan yang lebih sehat?

Menurut dr. Diana, penilaian terhadap suatu produk pangan tidak cukup hanya berdasarkan satu kandungan atau klaim pada kemasannya. Produk yang tidak mengandung gula tambahan tetap memiliki komposisi nutrisi lain, termasuk karbohidrat, protein, lemak, dan total energi yang perlu diperhatikan.

Misalnya, suatu produk mungkin tidak menggunakan gula tambahan, tetapi tetap memiliki kandungan karbohidrat dan energi yang cukup tinggi dari bahan-bahan lainnya. Karena itu, jumlah konsumsi dan kesesuaian produk dengan kebutuhan gizi anak juga perlu menjadi pertimbangan.

Selain kandungan produknya, Parents juga perlu memperhatikan bagaimana makanan dan minuman manis dikonsumsi dalam keseharian anak. Dr. Diana menjelaskan bahwa konsumsi gula secara berlebihan dapat menambah asupan energi harian. Jika berlangsung terus-menerus dan tidak diimbangi dengan kebutuhan serta aktivitas fisik, kondisi ini bisa berkontribusi terhadap kelebihan berat badan.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa berat badan berlebih tidak hanya dipengaruhi konsumsi gula. Total energi dari makanan lain, termasuk lemak, serta aktivitas fisik juga memiliki peran.

Ada pula dampak lain yang perlu diperhatikan, terutama pada kesehatan gigi anak. Konsumsi gula yang berlebihan dapat mendukung aktivitas bakteri di dalam mulut yang menghasilkan asam. Kondisi ini dapat menyebabkan hilangnya mineral pada permukaan gigi dan meningkatkan risiko gigi berlubang atau karies.

Itulah sebabnya, membatasi gula tetap penting meskipun Parents sudah berusaha memilih produk dengan klaim yang dianggap lebih sehat.

Berapa Batas Konsumsi Gula Harian yang Dianjurkan?

Dalam paparannya, dr. Diana mengutip rekomendasi World Health Organization (WHO) mengenai pembatasan konsumsi gula. WHO menganjurkan agar asupan gula bebas dibatasi hingga kurang dari 10% total kebutuhan energi harian. Pembatasan hingga di bawah 5% dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Gula bebas mencakup gula yang ditambahkan ke makanan atau minuman serta gula yang terdapat dalam madu, sirup, dan jus buah. Gula yang secara alami terdapat dalam buah utuh dan susu tidak termasuk dalam pengertian tersebut.

Sebagai gambaran, dr. Diana memberikan contoh anak dengan kebutuhan energi sekitar 1.400 kalori per hari. Jika menggunakan batas 10%, maka sekitar 140 kalori atau 35 gram berasal dari gula yang dibatasi tersebut. Angka ini merupakan ilustrasi perhitungan. Kebutuhan energi setiap anak tetap berbeda, tergantung usia, kondisi tubuh, serta aktivitas hariannya.

Parents juga perlu memperhatikan bahwa gula yang dikonsumsi anak tidak selalu berasal dari gula pasir yang sengaja ditambahkan saat membuat makanan atau minuman. Makanan ringan, minuman kemasan, dan berbagai produk olahan lain juga bisa menjadi sumber asupan gula dalam keseharian. Kalau dikonsumsi beberapa kali dalam sehari, jumlahnya tentu bisa bertambah tanpa disadari.

Namun, bagi dr. Diana, alasan membatasi konsumsi gula pada anak juga berkaitan dengan kebiasaan makan yang terbentuk sejak kecil.

Terlalu Sering Makan Manis Bisa Membentuk Kebiasaan Anak

Pernah nggak, Parents, merasa anak lebih memilih minuman atau camilan yang manis dibandingkan pilihan lainnya?

Menurut dr. Diana, kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis secara terus-menerus dapat memengaruhi preferensi rasa anak. Ketika anak terbiasa dengan rasa manis yang kuat, ia bisa semakin sering mencari makanan dengan rasa serupa. Bahkan, tingkat kemanisan yang diinginkan dapat meningkat seiring waktu.

Dr. Diana mencontohkan seseorang yang awalnya terbiasa menambahkan satu sendok teh gula ke dalam minuman. Seiring waktu, jumlah gula yang digunakan bisa bertambah karena rasa manis sebelumnya dianggap kurang. "Oleh sebab itu, kita harus menjaga supaya minum manis atau makan manis ini tidak menjadi kebiasaan," ungkap dr. Diana.

Kebiasaan tersebut juga dapat terbawa hingga dewasa. Ia mencontohkan bagaimana sebagian orang cenderung mencari makanan manis ketika sedang stres atau mengalami perubahan suasana hati. Karena itu, orang tua memiliki peran dalam membantu anak mengenal berbagai rasa sejak kecil, tanpa terus-menerus mengandalkan makanan atau minuman dengan rasa manis yang kuat.

Anak tetap boleh menikmati makanan manis sesekali. Parents bisa mulai dengan memperhatikan seberapa sering makanan tersebut diberikan dan jumlah yang dikonsumsi dalam sehari.

Cara Memilih Produk No Added Sugar untuk Anak

Setelah memahami arti no added sugar dan pengaruh konsumsi gula, Parents bisa lebih cermat saat memilih makanan atau minuman untuk si Kecil. Tulisan di bagian depan kemasan bisa menjadi informasi awal, tetapi sebaiknya tetap dilengkapi dengan membaca komposisi dan informasi nilai gizi produk.

Beberapa hal yang bisa diperhatikan antara lain:

- Sumber rasa manis. Periksa apakah produk mengandung gula alami dari bahan baku atau menggunakan pemanis tertentu.

- Total gula dan karbohidrat. Produk tanpa gula tambahan masih bisa mengandung gula alami maupun karbohidrat yang menyumbang energi.

- Kandungan nutrisi lainnya. Perhatikan juga protein, lemak, dan zat gizi lain yang dibutuhkan anak.

- Jumlah dan frekuensi konsumsi. Sesuaikan porsi dengan kebutuhan anak serta makanan dan minuman lain yang dikonsumsi sepanjang hari.

Memahami informasi tersebut membantu Parents melihat kandungan produk secara lebih menyeluruh, termasuk mengetahui bahwa rasa manis tidak selalu menunjukkan jumlah gula tambahan yang digunakan.

Jadi, ketika menemukan label no added sugar, Parents sudah tahu bahwa klaim tersebut bukan jaminan produk benar-benar bebas gula atau otomatis lebih sehat. Yang perlu diperhatikan adalah sumber rasa manisnya, kandungan gizi secara keseluruhan, dan bagaimana produk tersebut menjadi bagian dari pola makan anak sehari-hari.

Follow Ibupedia Instagram