Quality Time dengan Anak Harus Lama? Ini Kata Psikolog

Quality Time dengan Anak Harus Lama? Ini Kata Psikolog
Quality Time dengan Anak Harus Lama? Ini Kata Psikolog

Mengantar anak sekolah, menyiapkan bekal, bekerja, lalu pulang dan kembali mengurus kebutuhan keluarga. Rutinitas seperti ini sering kali membuat orang tua merasa waktunya bersama anak kurang berkualitas.

Apalagi kalau sudah bicara soal quality time. Rasanya harus ada kegiatan khusus yang direncanakan, seperti mengajak anak jalan-jalan, liburan, atau mencoba aktivitas baru saat akhir pekan.

Padahal, di tengah padatnya aktivitas sehari-hari, kesempatan untuk melakukan hal-hal tersebut belum tentu selalu ada. Lantas, apakah kebersamaan yang sederhana kurang berarti bagi anak?

Menariknya, survei online yang dilakukan Lexus pada Juli 2026 menemukan bahwa 9 dari 10 ibu masih merasa perlu menciptakan pengalaman istimewa agar anak merasa disayang. Meski begitu, seluruh responden survei tersebut juga sepakat bahwa waktu 10–15 menit bisa menjadi momen yang bermakna ketika dijalani dengan perhatian penuh.

Hal inilah yang ingin disampaikan Rachmawati Sutarto, Marketing Director URC Indonesia, melalui kampanye That's A Lexus Moment yang kembali dihadirkan dalam peluncuran biskuit Lexus kemasan spesial berkolaborasi dengan Mofusand di Jakarta, 28 Oktober 2026.

Menurut Rachmawati, orang tua sebenarnya sudah memiliki banyak kesempatan untuk menciptakan momen menyenangkan bersama anak melalui rutinitas yang dijalani setiap hari. "Kita ingin mengingatkan kembali, oh, tidak harus momen-momen istimewa atau momen-momen besar. Karena momen-momen dalam keseharian yang sederhana itu pun bisa jadi momen yang dikenang sama anak, bisa jadi momen yang ceria," ungkap Rachmawati.

Lalu, seperti apa quality time yang sebenarnya dibutuhkan anak? Dan bagaimana orang tua bisa memanfaatkan rutinitas sederhana untuk membangun kedekatan dengannya?

Cara Membangun Quality Time dengan Anak Lewat Interaksi Sehari-hari

Psikolog Anak dan Certified Play Therapist, Anastasia Satriyo, menjelaskan bahwa dari perspektif anak, pengalaman berkesan justru bisa muncul dari aktivitas sederhana yang dilakukan berulang bersama orang tua.

Misalnya, saat dibangunkan dengan sapaan hangat setiap pagi, mengobrol sepanjang perjalanan pulang sekolah, bermain sebentar di taman, atau menikmati camilan bersama di sore hari.

Aktivitas tersebut mungkin terlihat biasa bagi orang dewasa. Namun, ketika orang tua hadir dan merespons anak dengan hangat, momen-momen kecil itu bisa membantu membangun rasa aman dan kedekatan emosional.

"Anak tidak membutuhkan setiap momen bersama orang tua menjadi besar atau sempurna. Hal yang lebih penting adalah pengalaman merasa dilihat, didengar, dan direspons secara konsisten," jelas Anastasia.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah konsistensi. Kedekatan dengan anak dibangun melalui interaksi yang terjadi berulang, sehingga tidak harus selalu menunggu kesempatan liburan atau kegiatan istimewa.

Anastasia bahkan menceritakan pengalaman seorang temannya yang memiliki anak berusia 5 tahun. Anak tersebut mempunyai kebiasaan menikmati waktu sore dengan minuman dan biskuit sambil duduk santai. Menariknya, aktivitas tersebut akhirnya menjadi ritual yang dinantikan anak. Terkadang ia ingin ditemani ibunya, tetapi ada juga saat ketika ia memilih menikmati waktu tersebut sendiri.

Dari contoh ini, orang tua bisa melihat bahwa anak pun memiliki cara tersendiri untuk menikmati momen santai. Orang tua dapat menawarkan kebersamaan sambil tetap menghargai ketika anak membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri.

Jadi, Parents nggak harus menambah daftar kegiatan baru setiap weekend. Coba perhatikan rutinitas yang sudah ada, lalu cari kesempatan untuk menghadirkan interaksi yang lebih hangat bersama si Kecil.

Terapkan Konsep ABC untuk Membangun Kedekatan dengan Anak

Meski terdengar sederhana, terkadang orang tua masih bingung harus memulai dari mana. Terlebih, di tengah rutinitas yang padat, mengurus anak sering kali terasa seperti menjalankan daftar tugas yang harus diselesaikan.

Nah, Anastasia memperkenalkan konsep ABC, yang bisa membantu orang tua lebih menyadari kesempatan untuk terhubung dengan anak.

1. Acknowledge - Perhatikan dan respons anak

Saat berinteraksi, orang tua terkadang terbiasa langsung mengajukan pertanyaan, seperti "Kenapa?" atau "Tadi kamu ngapain?" Menurut Anastasia, ketika anak sedang lelah, pertanyaan seperti itu justru bisa terasa membebani.

Orang tua bisa memulai dengan memperhatikan hal-hal sederhana yang sedang dilakukan atau dipilih anak. Misalnya, "Eh, hari ini kamu pakai jepit rambut yang itu, ya?" atau "Wah, kamu pilih gelas yang lucu buat minum."

Respons seperti ini bisa menjadi pembuka percakapan yang lebih santai, tanpa membuat anak merasa harus langsung memberikan penjelasan panjang.

2. Bonding - Nikmati waktu bersama tanpa tuntutan

Setelah membuka interaksi, coba manfaatkan momen tersebut untuk benar-benar menikmati kebersamaan. Misalnya, ketika sedang ngemil bersama anak setelah seharian beraktivitas, orang tua bisa mengajak anak duduk santai, bercanda, atau sekadar menemani tanpa terburu-buru.

Anastasia juga mengaitkan hal ini dengan rasa syukur dan kemampuan menikmati present moment, yaitu memberikan perhatian pada apa yang sedang dijalani saat ini.

Jadi, ketika sedang bersama anak, orang tua bisa memberi jeda sejenak dari kekhawatiran tentang pekerjaan, tugas sekolah, atau aktivitas yang harus dilakukan besok.

3. Connection dan Communication - Bangun koneksi lewat komunikasi sederhana

Interaksi yang hangat dapat membuka kesempatan bagi anak untuk bercerita dengan lebih natural. Tidak semua percakapan harus dimulai dengan pertanyaan serius. Terkadang, obrolan ringan, bercanda, atau melakukan aktivitas yang disukai bersama sudah bisa menjadi awal komunikasi.

Ketika anak mulai bercerita, orang tua bisa mendengarkan dan merespons tanpa terburu-buru mengoreksi atau memberikan nasihat.

Konsep ABC ini bisa dipraktikkan dalam rutinitas yang sudah ada, sehingga Parents nggak perlu merasa harus menyiapkan kegiatan tambahan setiap hari.

Ngemil dan Ngobrol Santai Bisa Jadi Momen Berharga Bersama Anak

Salah satu kesempatan yang bisa dimanfaatkan untuk menerapkan konsep ABC adalah saat menikmati makanan atau camilan bersama.

Anastasia menjelaskan bahwa setelah seharian berada di sekolah, anak mungkin merasa lelah karena harus belajar, mengerjakan tugas, dan menghadapi berbagai interaksi sosial.

Ketika sudah berada dalam suasana santai, seperti saat makan atau menikmati camilan, anak memiliki kesempatan untuk beristirahat sejenak dari berbagai tuntutan tersebut.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak selalu menjadikan waktu santai sebagai kesempatan untuk membahas kesalahan anak, menanyakan PR, atau mengingatkan hal-hal yang belum dikerjakan.

Berikan ruang agar anak benar-benar bisa menikmati kebersamaan tanpa tekanan. Percakapan yang lebih serius tetap dapat dilakukan pada waktu lain ketika anak sudah lebih siap.

Hal ini juga sejalan dengan pengalaman Rachmawati bersama kedua anaknya yang kini sudah semakin besar. Ia bercerita bahwa keluarganya memiliki kebiasaan makan malam bersama tanpa menggunakan HP di meja makan. Kebiasaan ini menjadi salah satu kesempatan bagi seluruh anggota keluarga untuk saling bercerita.

Bahkan, ketika mereka tidak sempat makan malam bersama, anak perempuannya terkadang datang sendiri ke kamar Rachmawati karena merasa belum bertemu dan ingin mengobrol dengan ibunya. "Kalau ternyata kita tidak bisa makan bareng-bareng, anakku yang perempuan itu suka tiba-tiba masuk kamar, 'Aku belum ketemu Mama hari ini, loh. Aku pengen ngobrol dikit,'" ceritanya.

Menurut Rachmawati, kedekatan seperti ini tetap bisa terjaga meskipun anak-anak mulai beranjak remaja, memiliki kesibukan sendiri, dan semakin sering menghabiskan waktu bersama teman.

Ia juga memiliki kebiasaan memanfaatkan perjalanan mengantar anak sekolah sebagai kesempatan untuk berbagi cerita. Saat perjalanan terasa melelahkan karena kemacetan atau anak mulai khawatir akan terlambat, Rachmawati terkadang mengajak anak berbagi biskuit Lexus sambil menenangkan suasana dan mengobrol.

Begitu pula ketika anak perempuannya mengadakan playdate di rumah. Ada kalanya anak justru mengajak ibunya ikut menonton bersama teman-temannya sambil menikmati camilan. Bagi Rachmawati, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kesempatan untuk dekat dengan anak sebenarnya dapat ditemukan di tengah rutinitas keluarga.

Inilah yang menjadi semangat That's A Lexus Moment. Melalui biskuit Lexus, brand ini ingin menemani momen-momen santai yang sudah hadir dalam keseharian, sekaligus mengajak orang tua menemukan keceriaan dari hal-hal sederhana. "Membuka Lexus bersama, berbagi dua keping biskuit sambil bertukar cerita bisa menjadi awal dari momen yang berarti antara orang tua dan anak," ujar Rachmawati.

Lexus Hadirkan Keseruan Baru Lewat Kolaborasi dengan Mofusand

Untuk menambah keseruan dalam momen kebersamaan keluarga, Lexus tahun ini menghadirkan kemasan spesial melalui kolaborasi dengan Mofusand. Mofusand merupakan karakter ilustrasi kucing karya ilustrator Jepang, Juno, yang dikenal melalui visual menggemaskan dan tingkah lucu para kucingnya.

Rachmawati menjelaskan bahwa Lexus secara berkala menghadirkan kolaborasi dengan karakter yang memiliki semangat serupa dengan brand. Tahun ini, Mofusand dipilih karena karakternya yang playful dan dinilai cocok untuk menambah keceriaan dalam berbagai momen sederhana. Kolaborasi tersebut hadir melalui desain kemasan spesial Lexus x Mofusand yang menggemaskan.

Yang menarik, setiap kemasan spesial Lexus ukuran 190 gram berisi satu stiker Mofusand secara acak dari empat desain yang dapat dikoleksi. Stiker tersedia pada kemasan besar varian cokelat dan keju. Sementara itu, kemasan ukuran kecil juga hadir dengan desain Mofusand, tetapi tanpa hadiah stiker di dalamnya.

Menurut Rachmawati, keberadaan stiker ini diharapkan bisa menambah keseruan, mulai dari membuka kemasan bersama, melihat desain yang didapat, hingga saling bertukar stiker dengan teman. Menariknya, dari sudut pandang psikologi anak, aktivitas sederhana seperti mengoleksi stiker ternyata juga bisa dimanfaatkan sebagai kesempatan belajar.

Lewat Stiker Mofusand, Anak Bisa Belajar Sabar hingga Bernegosiasi

Anastasia menjelaskan bahwa aktivitas mengoleksi stiker dengan desain berbeda bisa menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengenalkan keterampilan sosial dan emosional kepada anak.

Salah satunya adalah delayed gratification, yaitu kemampuan menunda kesenangan atau menunggu sesuatu yang diinginkan. Misalnya, anak mendapatkan satu stiker Mofusand, tetapi belum memperoleh desain yang menjadi favoritnya. Ia kemudian meminta orang tua membeli kemasan berikutnya agar bisa melengkapi koleksi. Dalam situasi tersebut, orang tua bisa mengajak anak belajar menunggu dan membuat kesepakatan.

Anastasia memberikan contoh bagaimana orang tua dapat menjelaskan bahwa tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi saat itu juga. Orang tua bisa mengajak anak menyepakati kapan mereka dapat mencoba mendapatkan stiker berikutnya, misalnya dua minggu atau satu bulan kemudian, sesuai kondisi keluarga.

Selain belajar menunggu, aktivitas mengoleksi stiker Mofusand yang hadir dalam kemasan spesial biskuit Lexus juga bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk mengembangkan berbagai keterampilan, seperti:

1. Belajar bernegosiasi. Anak bisa dilibatkan dalam membuat kesepakatan bersama orang tua mengenai kapan atau bagaimana menambah koleksinya.

2. Melatih keterampilan sosial. Ketika mendapatkan desain yang sama, anak bisa mencoba berkomunikasi dengan teman untuk bertukar stiker. Aktivitas ini memberi kesempatan untuk belajar bertanya, menyampaikan keinginan, dan mencari kesepakatan.

3. Belajar mengelola kekecewaan. Tidak mendapatkan desain favorit bisa menjadi pengalaman menghadapi kekecewaan kecil. Orang tua dapat membantu anak mengenali perasaannya dan mencari solusi tanpa harus langsung memenuhi keinginannya.

4. Melatih motorik halus. Aktivitas mengambil, melepas, dan menempelkan stiker juga dapat melibatkan koordinasi gerakan jari anak.

Tentunya, Parents nggak perlu menjadikan setiap aktivitas bermain sebagai sesi belajar yang serius. Biarkan anak menikmati keseruannya, lalu manfaatkan kesempatan yang muncul untuk berinteraksi dan mendampinginya.

Dengan begitu, keseruan mengoleksi stiker Mofusand dapat menjadi bagian dari pengalaman bersama, bukan semata-mata tentang seberapa cepat anak berhasil melengkapi koleksinya.

Di Mana Bisa Mendapatkan Lexus Kemasan Spesial Mofusand?

Lexus kemasan spesial Mofusand sudah tersedia di minimarket dan supermarket di Indonesia. Untuk memperkenalkan kolaborasi ini, Lexus juga merencanakan sejumlah aktivitas di gerai ritel modern sepanjang November 2026, termasuk di jaringan AEON.

Selain itu, terdapat kegiatan cafe takeover di kawasan Blok M pada 28 Oktober–4 November 2026, dengan aktivitas dan promo khusus yang berkaitan dengan Lexus. Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan Lexus bisa dipantau melalui Instagram @munchysindonesia.

Rachmawati juga mengungkapkan bahwa Lexus tengah menyiapkan berbagai kejutan untuk 2027, termasuk rencana menghadirkan kemasan tematik dan varian rasa baru.

Lewat kolaborasi dengan Mofusand, Lexus berharap bisa menghadirkan lebih banyak keceriaan dalam keseharian keluarga. Karena terkadang, momen yang paling berkesan bagi anak justru hadir dari hal-hal sederhana yang dilakukan bersama orang tua.

Follow Ibupedia Instagram