SPEKIX 2026 Dorong Indonesia Lebih Ramah Neurodiversitas

SPEKIX 2026 Dorong Indonesia Lebih Ramah Neurodiversitas
SPEKIX 2026 Dorong Indonesia Lebih Ramah Neurodiversitas

Setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam belajar, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Ada anak yang mudah mengikuti aktivitas di kelas, tetapi ada juga yang membutuhkan pendekatan berbeda agar bisa memahami pelajaran atau berinteraksi dengan teman-temannya.

Sayangnya, perbedaan tersebut terkadang masih disalahpahami. Anak yang sulit duduk tenang bisa dianggap nakal, sementara anak yang mengalami kesulitan berkomunikasi belum tentu mendapatkan dukungan sesuai kebutuhannya.

Padahal, lingkungan yang inklusif memiliki peran penting dalam membantu setiap anak mendapatkan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Semangat inilah yang kembali diangkat melalui SPEKIX (Neurodiversity Expo) 2026, yang telah diselenggarakan pada 10–11 Oktober 2026 di JICC Senayan, Jakarta.

Melalui berbagai kegiatan edukasi, diskusi, dan kolaborasi lintas sektor, SPEKIX 2026 mendorong terwujudnya lingkungan yang semakin ramah terhadap individu neurodivergen dan individu berkebutuhan khusus (IBK) di Indonesia.

SPEKIX 2026 Dorong Perubahan Kebijakan yang Lebih Inklusif

Perjalanan SPEKIX telah dimulai sejak 2019 melalui Special Kids Expo, sebuah inisiatif komunitas yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus memberikan ruang bagi keluarga dengan anak berkebutuhan khusus.

Gerakan ini kemudian berkembang menjadi platform inklusif nasional pada 2024. Setahun berikutnya, SPEKIX menghadirkan konsep One Community in Harmony yang berhasil menjangkau 5.585 pengunjung, melampaui target awal sebanyak 3.500 pengunjung.

Memasuki 2026, SPEKIX membawa misi yang lebih luas. Selain meningkatkan kesadaran masyarakat, gerakan ini turut mendorong hadirnya kebijakan yang memberikan dukungan nyata bagi individu berkebutuhan khusus di berbagai tahapan kehidupan.

Ketua Yayasan SPEKIX Asa Indonesia, Zarrabida Ibnusirad, menegaskan bahwa upaya membangun Indonesia yang inklusif masih perlu terus diperjuangkan. “SPEKIX bukan sekadar acara dua hari, ini gerakan yang terus mendorong, sampai kebijakan yang berpihak pada individu berkebutuhan khusus benar-benar terwujud. Bukan hanya di Jakarta, tapi di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Upaya tersebut turut melibatkan berbagai pihak, termasuk Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).

Kolaborasi ini diarahkan untuk mendorong layanan dan kebijakan yang lebih terintegrasi, mulai dari dukungan bagi keluarga, pendidikan, hingga kesempatan bekerja bagi individu berkebutuhan khusus.

Perkembangan Anak Berbeda, Kapan Perlu Mendapat Perhatian Khusus?

Selain dukungan melalui kebijakan dan layanan yang lebih inklusif, pemahaman masyarakat terhadap neurodiversitas juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Terutama bagi orang tua dan tenaga pendidik yang sehari-hari berinteraksi dengan anak. Sebab, tidak semua perbedaan perilaku atau perkembangan anak menunjukkan adanya gangguan yang membutuhkan penanganan khusus.

Lantas, bagaimana membedakan perilaku anak yang masih merupakan bagian dari keragaman perkembangan dengan kondisi yang memang perlu diperiksa lebih lanjut?

Dalam talkshow bertajuk Beyond the Label: Apa Arti Diagnosis di Era Neurodiversitas? yang menjadi bagian dari SPEKIX 2026, Prof. Dr. dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak, Konsultan Neurologi Anak, sekaligus Founder Klinik Anakku, menjelaskan pentingnya melihat dampak perbedaan tersebut terhadap kehidupan anak.

“Kalau bedanya ini tidak mengganggu kehidupan sosialnya, nggak mengganggu akademisnya, ya nggak apa-apa,” jelas Prof. Hardiono. Sebagai contoh, anak yang sesekali berjalan-jalan atau berlari di kelas tidak otomatis perlu diberi label gangguan tertentu. Namun, kondisi yang sampai mengganggu keselamatan, kemampuan belajar, komunikasi, atau hubungan sosial membutuhkan perhatian lebih lanjut.

Prof. Hardiono juga menjelaskan bahwa istilah neurodivergent merupakan istilah sosial yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan cara kerja dan perkembangan neurologis. Sementara itu, pemeriksaan medis tetap diperlukan apabila ditemukan kesulitan perkembangan atau gangguan fungsi yang memerlukan penanganan.

Dengan memahami perbedaan ini, orang tua dan masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menyikapi perilaku anak, tanpa terburu-buru memberi label maupun mengabaikan kebutuhan bantuan profesional.

Pendidikan Inklusif Perlu Didukung Fasilitas dan Pendampingan yang Tepat

Salah satu tantangan dalam membangun lingkungan inklusif juga terlihat di sekolah. Anak berkebutuhan khusus perlu mendapatkan kesempatan belajar sesuai kemampuan dan kebutuhannya. Namun, pelaksanaannya dapat menjadi tantangan ketika jumlah murid cukup banyak, sementara tenaga pendidik dan dukungan yang tersedia masih terbatas.

Dalam sesi diskusi bersama Prof. Hardiono, seorang guru sekolah dasar membagikan pengalamannya mengajar 32 murid dalam satu kelas reguler, termasuk dua anak dengan kebutuhan belajar yang berbeda.

Guru tersebut berusaha menyesuaikan metode pembelajaran, mulai dari menyederhanakan pertanyaan, menggunakan bantuan gambar, hingga melatih kemampuan mengikuti instruksi sederhana.

Pendekatan tersebut mulai menunjukkan perkembangan positif pada kedua muridnya. Meski demikian, sang guru masih menghadapi kesulitan karena harus membagi perhatian dengan puluhan siswa lainnya.

Menanggapi pengalaman tersebut, Prof. Hardiono menekankan bahwa pendidikan inklusif membutuhkan dukungan yang sesuai dengan kondisi anak. Ia menjelaskan bahwa anak yang memerlukan bantuan tambahan sebaiknya mendapatkan dukungan tersebut. Kehadiran tenaga pendidik lain juga dapat membantu proses pembelajaran, terutama ketika seorang guru harus menangani banyak murid dengan kebutuhan beragam.

Prof. Hardiono turut mengingatkan bahwa penggunaan shadow teacher atau guru pendamping perlu mempertimbangkan tujuan pendampingannya. Bantuan yang diberikan sebaiknya tetap membuka kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kemampuan dan kemandiriannya.

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa pendidikan inklusif membutuhkan kolaborasi antara sekolah, tenaga profesional, dan keluarga agar setiap anak dapat memperoleh dukungan yang sesuai.

SPEKIX 2026 Hadirkan Edukasi hingga Kesempatan Kerja Inklusif

Untuk memperluas pemahaman sekaligus mempertemukan berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan lingkungan inklusif, SPEKIX 2026 menghadirkan sejumlah kegiatan sepanjang penyelenggaraannya.

Terdapat 35 seminar dan lokakarya, termasuk sesi khusus bagi tenaga pendidik untuk mengenali serta mendampingi anak berkebutuhan khusus di kelas.

Selain itu, SPEKIX 2026 juga menghadirkan:

- Lebih dari 129 tenant pameran dan bazar, yang mempertemukan berbagai komunitas dan pelaku usaha.

- Layanan konsultasi gratis bersama psikolog dan terapis, sebagai ruang bagi keluarga untuk mendapatkan informasi dan arahan profesional.

- Program Karier Inklusi, yang mempertemukan individu berkebutuhan khusus dewasa dengan perusahaan yang membuka akses kesempatan kerja.

- Panggung pertunjukan serta kegiatan komunitas, sebagai ruang partisipasi bagi individu dengan beragam kemampuan.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui kehadiran booth resmi dan keterlibatan guru PAUD serta SD dalam lokakarya pendidikan inklusif.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, turut menekankan bahwa pembangunan ekosistem inklusif membutuhkan kerja sama berbagai pihak. “Inklusi tidak boleh berhenti sebagai sebuah program, kegiatan, atau momentum. Membangun ekosistem inklusi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Karena itu, kolaborasi menjadi kunci,” ungkapnya.

Dukungan bagi Individu Neurodivergen Perlu Hadir dalam Kehidupan Sehari-hari

Setelah penyelenggaraan SPEKIX 2026 berakhir, pekerjaan untuk membangun lingkungan yang semakin inklusif tentu masih terus berlanjut.

Dukungan yang dibutuhkan setiap individu bisa berbeda, mulai dari akses pemeriksaan dan terapi, metode pembelajaran yang sesuai, hingga kesempatan mengembangkan keterampilan dan bekerja saat dewasa.

Melalui kolaborasi antara keluarga, tenaga profesional, sekolah, komunitas, dan pemerintah, SPEKIX berharap lingkungan yang lebih ramah neurodiversitas dapat terus berkembang, bukan hanya di Jakarta, tetapi juga di berbagai wilayah Indonesia.

Bagi Parents, langkah tersebut juga bisa dimulai dari hal sederhana, seperti memahami kebutuhan anak tanpa terburu-buru memberi label, menghargai perbedaan cara belajar, serta membantu menciptakan lingkungan yang memberikan kesempatan bagi setiap anak untuk berkembang.

Follow Ibupedia Instagram