Keluarga

Ucapan ke Anak Yang Sebaiknya Dihindari Orangtua

Terakhir diperbaharui

Ucapan ke Anak Yang Sebaiknya Dihindari Orangtua

Bunda, perhatikan ucapan ke anak yang perlu Anda hindari dan bagaimana Anda perlu bicara agar anak mau mendengarkan.

 

Kita mewariskan cara membesarkan anak dari orangtua, tapi menurut psikolog anak, ada banyak ekspresi klasik yang berulang dari generasi ke generasi yang sebenarnya memberi pelajaran berbahaya untuk anak. Ada alternatif ucapan ke anak yang lebih baik, dan yang perlu Anda lakukan adalah menggunakannya di keseharian.

 

Berikut ini beberapa ucapan ke anak yang sebaiknya dihindari:

 

  1. “Biar Bunda aja” atau “Sini Bunda bantu”

    Motivasi Anda baik ketika ingin membantu anak yang kesulitan, tapi terlalu mencampuri usaha anak bisa menghilangkan kepuasan anak untuk belajar. Tunggu anak meminta bantuan Anda atau ketika ia mencapai titik frustrasi sebelum menawarkan bantuan atau membantu mengatasi masalah. Bila Anda terlalu dini  menawarkan bantuan, ini bisa mengganggu kemandirian anak, karena ia akan selalu mencari orang lain untuk membantunya.

     

  2. “Anak baik” atau “anak hebat”

    Apa yang salah dengan ucapan sederhana seperti “anak baik”? Yang jadi masalah menurut psikolog adalah menggunakan pujian umum macam ini untuk tiap hal kecil akan mengajarkan anak untuk menilai pujian Anda bukan kepuasan atas pencapaian yang sebenarnya.

     

    Anda tidak perlu sepenuhnya menghilangkan ucapan “anak baik” dari kosa-kata Anda, tapi coba selektif tentang kapan Anda menggunakannya dan fokus pada usaha yang dilakukan anak.

     

    Dengan mengatakan kalimat seperti, “Kamu sudah sangat berusaha,” berarti Anda mengajarkan ke anak kalau usaha lebih penting dibanding hasilnya. Ini mengajarkan anak untuk lebih gigih ketika mereka melakukan tugas yang sulit dan melihat kegagalan sebagai cara untuk berhasil.

     

    Fokus pada proses pencapaian juga mendorong anak untuk memahami apa yang membuat perilakunya sangat berharga. Katakan kalimat seperti “Bunda suka cara kamu mengoper bola agar tim kamu dapat nilai,” bisa membuat anak berpikir tentang proses untuk memperoleh gol.

     

  3. “Kamu pintar banget”

    Tujuan Anda saat memuji kecerdasan anak adalah untuk memotivasi mereka menyelesaikan tugas dengan baik, tapi strategi ini bisa berefek sebaliknya. Anak yang melihat dirinya sebagai orang yang pintar akan menghindari tugas yang benar-benar sulit yang mungkin merusak reputasi kecerdasan mereka.

     

    Mengatakan ini ke anak sebenarnya bisa bertentangan dengan perjuangan untuk belajar. Belajar adalah kumpulan percobaan dan kesulitan.

     

  4. “Bunda tahu kamu tidak bermaksud menyakiti adik”

    Tapi ia memang menyakiti adiknya. Menyangkal emosi anak tidak membantu mereka belajar mengontrolnya. Sebagai orangtua, kita perlu mengajarkan anak kemampuan untuk mengatur reaksi dan mengatasi emosi yang kuat dengan cara yang lebih produktif.

     

  5. “Jangan sampai Ayah putar balik kendaraan dan kita ga jadi pergi”

    Sebenarnya tak apa Anda mengatakan ini, tapi hanya bila Anda akan mengakhiri sesi keluar rumah dan anak tidak bisa berhenti bertengkar.

     

    Ketika orangtua menetapkan batasan, mereka harus selalu siap untuk mengikutinya. Jadi jangan mengancam dengan apapun yang sebenarnya tidak Anda lakukan, seperti balik pulang saat sedang liburan keluarga.

     

  6. “Bunda lagi diet”

    Tidak semua ucapan ke anak tentang diri anak. Anak belajar melalui contoh, jadi bila mereka melihat Anda bermasalah dengan image tubuh yang buruk, mereka tentu menganggap mereka perlu memenuhi kriteria fisik tertentu yang ideal untuk merasa nyaman dengan diri sendiri. Itu sebabnya psikolog menyarankan Anda tak perlu membahas tentang usaha Anda berdiet. Untuk alasan yang sama, memberitahu anak “Bunda ga bisa matematika,” juga bukan ide yang baik.

     

    Apa yang sebaiknya Anda katakan? “Bunda makan makanan sehat karena Bunda suka manfaatnya” atau “Cuaca lagi bagus di luar, Bunda akan jalan-jalan.” Ini jauh lebih baik dibanding mengeluhkan program diet atau olahraga yang Anda jalani.

     

  7. “Kamu lebih baik dari temanmu itu”

    Tentu, Anda merasa anak Andalah yang paling baik, yang sangat luar biasa. Tiap orangtua melakukan ini. Tapi Anda seharusnya tidak memberitahu anak kalau ia lebih baik dari anak lain, kecuali Anda ingin membuat anak narsis. Penelitian menunjukkan kalau anak yang dipuji lebih superior dibanding temannya berisiko lebih tinggi merasa memiliki harga diri yang tinggi.

     

  8. “Karena Bunda bilang begitu”

    Ini bisa jadi ucapan ke anak yang paling mereka benci. Ucapan ini mengambil semua kontrol dari anak. Anda tidak selalu punya waktu untuk menjelaskan tapi Anda harus mencoba memberi anak konteks yang lebih baik kenapa Anda meminta mereka melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

     

  9. “Tinggalkan Bunda sendiri”

    Orangtua yang tidak pernah istirahat kadang lupa kalau mereka membutuhkannya. Masalahnya, ketika Anda terus memberitahu anak, “Jangan ganggu, Bunda” atau “Bunda sibuk,” mereka mulai berpikir tidak ada untungnya berbicara pada Anda karena Anda selalu mengusir mereka. Bila Anda selalu menggunakan ucapan ini ketika anak masih kecil, mereka jadi kurang suka berbagi cerita ke Anda ketika beranjak besar.

     

    Sejak bayi, anak perlu terbiasa melihat orangtua meluangkan waktu untuk mereka. Anda bisa bergantian mengasuh anak agar Anda bisa punya waktu 30 menit untuk istirahat.

     

    Di waktu Anda kewalahan dan stres, Anda bisa jelaskan ke anak, “Bunda harus selesaikan pekerjaan ini dulu, jadi kamu tenang dulu menggambar beberapa menit. Kalau Bunda sudah selesai, kita main di luar.” Coba berpikir realistis. Anak batita dan usia prasekolah tidak mungkin bermain sendiri selama satu jam penuh.

     

  10. “Jangan nangis”

    Termasuk variasinya seperti “Jangan sedih,” “Jangan seperti bayi,” “Sudah... sudah ga usah takut.” Anak memang mudah menangis, terutama batita, yang tidak selalu bisa mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Mereka merasa sedih dan takut. Wajar bila Anda ingin melindungi anak dari perasaan ini. Tapi mengatakan “jangan” tidak membuat anak merasa lebih baik, dan ini juga membuat anak merasa kalau emosi ini tidak valid, dan menganggap perasaan sedih dan takut tidak bagus.

     

    Daripada menyangkal apa yang anak rasakan, segera kenali emosi ini. “Pasti kamu sangat sedih waktu Jason bilang tidak mau jadi temanmu lagi.” Dengan menyebutkan perasaan nyata yang anak alami, Anda memberinya kata-kata untuk mengungkapkan perasaan dirinya dan Anda bisa menunjukkan bagaimana berempati. Akhirnya anak jadi lebih sedikit menangis dan menjelaskan emosinya.

     

  11. “Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?”

    Mungkin terlihat bagus menunjukkan kalau saudara kandung atau teman anak sebagai contoh yang baik. “Lihat pintar sekali temanmu memakai baju” atau “Jenna sudah bisa pakai potty, kenapa kamu belum juga bisa?” Bunda, membandingkan bisa berefek negatif. Anak Anda bukan anak lain.

     

    Memang wajar bila orangtua membandingkan anaknya, untuk mencari bingkai referensi tentang tumbuh kembang dan perilakunya. Tapi jangan sampai anak mendengar Anda membandingkannya. Anak punya kepribadian dan bakat sendiri. Membandingkan anak Anda dengan anak lain menunjukkan Anda berharap anak Anda berbeda.

     

    Membandingkan juga tidak mengubah perilaku. Bahkan anak bisa merasa kurang percaya diri. Sebaiknya beri dorongan atas prestasinya, “Wah, kamu bisa memakai baju sendiri,” atau “Makasih sudah kasih tahu kalau popokmu  penuh dan perlu diganti.”

     

  12. “Kamu pasti sudah tahu, kan?”

    Seperti membandingkan, kata-kata ini bisa punya efek lebih dari yang Anda bayangkan. Anak sebenarnya tidak tahu lebih banyak. Belajar adalah proses trial and error. Apakah anak benar memahami kalau teko yang berat akan sulit dituang? Mungkin saja isinya tidak penuh atau teko itu beda dengan yang berhasil ia tuang saat TK.

     

    Dan meski anak melakukan kesalahan yang sama seperti kemarin, komentar Anda ini tidak produktif dan suportif. Anda perlu spesifik mengatakan, “Akan lebih baik kalau kamu lakukan seperti ini.”

     

    Hal yang sama berlaku untuk “Bunda ga percaya kamu lakukan ini.” Anak mungkin tidak merasa bersalah, tapi jangan katakan ini berlebihan. Pesan yang anak terima adalah ia tidak bisa melakukan apapun dengan benar.

     

  13. “Berhenti atau kamu akan menyesal”

    Orangtua sering memberi peringatan seperti, “Lakukan ini atau...,” atau “Kalau berbuat itu sekali lagi, akan Bunda pukul.” Masalahnya adalah cepat atau lambat Anda harus merealisasikan ancaman ini atau akan kehilangan kekuatannya. Ancaman memukul bisa mengarah ke kebiasaan memukul anak berlebihan, yang telah terbukti tidak efektif sebagai cara mengubah perilaku.

     

    Semakin kecil usia anak, semakin butuh waktu lama pelajaran diterima. Penelitian menunjukkan kemungkinan anak usia 2 tahun mengulangi kesalahan di hari yang sama sebesar 80 persen, tanpa melihat bentuk disiplin yang Anda gunakan.

     

    Bahkan pada anak dengan usia lebih besar, tidak ada strategi disiplin yang segera berhasil. Jadi lebih efektif mengembangkan taktik yang konstruktif seperti pengarahan, memindahkan anak dari situasi, atau time out, dibanding memberi konsekuensi negatif termasuk ancaman verbal dan memukul.

     

  14. “Tunggu sampai Ayah pulang”

    Ucapan ke anak ini tidak hanya terdengar seperti ancaman tapi juga pendisiplinan yang keliru. Agar efektif, Anda perlu mengatasi situasi ini segera seorang diri. Disiplin yang ditunda tidak menghubungkan konsekuensi dengan tindakan anak. Di saat ayah pulang, kemungkinan anak telah lupa dengan kesalahannya.

     

    Melempar wewenang ke orang lain juga menurunkan otoritas Anda. Anak akan merasa, “Kenapa saya perlu mendengar Bunda bila ia tidak akan melakukan apa-apa?”

     

  15. “Ayo cepetan!”

    Siapa yang tidak pernah mengutarakan ucapan ini? Tentunya tiap orangtua yang batitanya tidak bisa menemukan sepatu atau bonekanya akan mengatakan ini. Perhatikan nada suara Anda ketika meminta anak untuk cepat, dan seberapa sering Anda mengucapkannya bila Anda mulai menarik napas, dengan tangan di pinggang, dan jari kaki menepuk-nepuk lantai. Ada kecenderungan ketika orangtua menyuruh anak untuk cepat, ini membuat anak merasa bersalah. Rasa bersalah membuat anak merasa buruk, dan tidak memotivasi mereka untuk bergerak lebih cepat.

     

  16. “Kita tidak mampu beli”

    Mudah saja menggunakan respon ini ketika anak meminta dibelikan mainan terbaru. Tapi melakukan ini mengirim pesan ke anak kalau Anda tidak bisa mengontrol keuangan. Anak usia sekolah juga bisa mengatakan hal serupa bila Anda membeli barang dengan harga mahal. Pilih cara alternatif untuk mengungkapkan hal yang sama seperti, “Kita nggak akan beli itu karena kita sedang menghemat uang untuk hal yang lebih penting.” Bila anak mendesak, Anda bisa memulai percakapan tentang bagaimana mengatur keuangan.

     

  17. “Jangan bicara pada orang asing”

    Ini jadi konsep yang sulit untuk anak kecil terima. Anak bisa salah menerimanya dan menolak bantuan pak polisi atau pemadam kebakaran yang mereka tidak kenal.

    Daripada memberi peringatan tentang orang asing, berikan contoh kondisi, “Apa yang akan kamu lakukan bila orang yang tidak kamu kenal memberi permen dan tumpangan ke rumah?” Minta anak menjelaskan apa yang ia lakukan, lalu beri panduan untuk tindakan yang tepat. Karena kebanyakan kasus penculikan anak melibatkan orang yang anak sudah kenal, Anda perlu beritahukan, “Kalau ada orang yang bikin kamu sedih, takut, atau bingung, segera beri tahu Bunda.”

     

  18. “Hati-hati”

    Mengatakan ini ketika anak sedang menjaga keseimbangan di arena permainan sebenarnya membuat lebih besar kemungkinan ia akan terjatuh. Kata-kata Anda mengacaukan konsentrasi anak, jadi ia kehilangan fokus. Bila Anda merasa cemas, bergerak mendekat ke anak untuk mengantisipasi ia terjatuh.

     

  19. “Tak ada es krim kecuali makan sudah dihabiskan”

    Menggunakan ungkapan ini membuat anak merasa terancam dan menghilangkan kesenangannya menikmati makanan, yang bertolak belakang dengan apa yang Anda inginkan. Sampaikan pesan Anda dengan kalimat ini,  “Pertama kita makan dulu lalu kita makan es krim.” Perubahan pilihan kata, meski halus, punya dampak jauh lebih positif pada anak.

     

  20. “Kamu bikin Bunda sangat marah”

    Tugas nomor satu orangtua adalah bersikap tenang apapun yang terjadi. Selain kita biasanya ketika marah mengucapkan hal yang nantinya kita sesali, tetap tenang juga mencontohkan ke anak bagaimana kita mau mereka berperilaku. Ini terutama penting untuk orangtua dari anak yang cenderung mudah marah.

     

  21. “Kamu gemuk”

    Anak yang kelebihan berat badan bisa terbantu dengan melakukan penyesuaian nutrisi, tapi menyebut anak gemuk akan menyakitkan anak dan tidak memberi panduan tentang bagaimana menjadi kurus. Memberi label negatif pada tubuh anak bisa menyebabkan gangguan makan dan gangguan kesehatan.

     

  22. “Ayah dulu merokok atau minum-minum atau lainnya

    Mengatakan kalau Anda menggunakan obat-obatan ketika kecil bisa diartikan Anda membolehkan anak minum alkohol atau merokok. Meski bila anak tidak merespon dengan mengatakan, “Dan ayah tetap sehat sampai sekarang,” ini mungkin apa yang ada di pikiran anak. Anak akan mencontoh perilaku Anda, bila Anda tidak cukup baik menjelaskan ke anak kenapa melakukan itu semua, jangan beri mereka kesempatan untuk menggunakannya karena Anda melakukannya.

     

  23. “Kamu malas sekali”

    Anak bukan malas, sering kali ada alasan yang menyebabkan mereka tidak bisa menyelesaikan tugas yang diminta. Orangtua menyerang rasa percaya diri anak dengan pernyataan ini. Dan tak ada orang yang termotivasi untuk menjadi lebih baik dengan dipanggil pemalas.

     

  24. “Bunda nggak bisa bilang nggak ke kamu”

    Tidak ada aturan jadi impian anak, tapi anak perlu batasan untuk belajar dan tumbuh. Mengatakan “tidak” ke anak kadang bisa terasa keras tapi orangtua yang permisif cenderung membuat anak kurang bisa mengontrol diri.

     

  25. “Yakin kamu bisa lakukan itu?”

    Orangtua yang terlalu protektif bermaksud baik untuk membuat anak aman dari semua bahaya, tapi ini juga mengindikasikan Anda tidak menganggap anak cukup cerdas atau mampu untuk mencoba hal baru. Mengatakan ini cukup sering akan membuat anak mengalami "Peter Pan Syndrome” dimana ia merasa takut untuk tumbuh besar.

     

  26. “Bunda nggak nangis kok, semua baik-baik saja”

    Anda mungkin mengira dengan menunjukkan wajah bahagia ketika Anda sedih akan melindungi anak. Tapi anak melihat yang Anda sembunyikan dan ini membuat mereka takut. Menyembunyikan emosi negatif dan menunjukkan emosi positif tidak hanya membuat Anda merasa lebih buruk tapi juga menyakiti hubungan Anda dan buah hati.  Anda tidak harus memberitahu anak semua yang terjadi tapi mengutarakan perasaan Anda menunjukkan ke mereka kalau tidak apa merasakan hal yang sama.

(Ismawati)