1 dari 5 Anak Alami Anemia, Ini Dampaknya ke Otak

1 dari 5 Anak Alami Anemia, Ini Dampaknya ke Otak
1 dari 5 Anak Alami Anemia, Ini Dampaknya ke Otak

Pernah nggak sih, Parents, lagi nemenin anak belajar tapi rasanya kok apa yang dipelajarin sama anak “nggak masuk-masuk” ke otaknya? Sudah dijelasin pelan-pelan, diulang beberapa kali, bahkan sampai pakai cara yang lebih seru, tapi tetap saja anak terlihat sulit fokus. Ujung-ujungnya, kita jadi mikir macam-macam. Apa dia lagi malas? Kebanyakan screen time? Atau memang belum siap belajar?

Situasi seperti ini ternyata bukan cuma dialami satu dua orang tua. Banyak yang menghadapi hal serupa di rumah, dan seringkali anak dianggap kurang usaha, kurang disiplin, atau perlu lebih banyak latihan.

Padahal, ada kemungkinan lain yang sering terlewat. Sesuatu yang nggak langsung terlihat dari luar, tapi punya peran besar dalam proses anak memahami pelajaran sehari-hari.

Sebuah studi terbaru dari Indonesia Health Development Center (IHDC) yang didukung Danone Indonesia menemukan bahwa kondisi gizi anak seperti anemia dan stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan belajar anak, khususnya pada aspek working memory.

Temuan ini menjadi perhatian karena selama ini pembahasan seputar gizi anak lebih sering berhenti pada tinggi dan berat badan. Padahal, kemampuan anak dalam memahami pelajaran di sekolah juga dipengaruhi oleh kondisi tubuhnya secara keseluruhan.

Hal ini juga disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek selaku Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC), yang menekankan bahwa dampak gizi tidak bisa dilihat hanya dari sisi fisik saja. Ia menjelaskan bahwa kemampuan belajar anak juga ikut terpengaruh oleh kondisi tersebut. “Bukan hanya fisik, tapi juga kemampuan belajar termasuk working memory,” ujarnya dalam pemaparan studi di Jakarta, Rabu (15/4).

Melalui kajian ini, IHDC bersama para peneliti ingin membuka perspektif baru bahwa pemenuhan gizi anak memiliki peran yang lebih luas, termasuk dalam mendukung proses belajar dan daya tangkap anak sehari-hari.

Kenali Dampak Anemia pada Anak yang Sering Terlewat

Kalau selama ini anemia sering dianggap sebagai kondisi yang “ringan” pada anak, hasil studi ini justru menunjukkan hal yang sebaliknya, angkanya pun tidak sedikit.

Dalam penelitian yang dilakukan IHDC, ditemukan bahwa sekitar 1 dari 5 anak usia sekolah mengalami anemia. Artinya, dalam satu kelas, kemungkinan besar ada beberapa anak yang sedang menghadapi kondisi ini tanpa disadari.

Temuan ini menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan kemampuan belajar anak. Tidak hanya soal lemas atau mudah lelah, anemia ternyata juga berhubungan dengan penurunan kemampuan anak dalam memproses informasi.

Hal ini juga dijelaskan oleh Prof. Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH selaku Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC). Ia memaparkan bahwa kondisi ini cukup sering ditemukan di lapangan. “Kalau kita masuk ke satu kelas, asumsi kita minimal dua anak mengalami anemia defisiensi besi,” jelasnya.

Tidak berhenti di situ, studi ini juga menemukan bahwa anak dengan kondisi stunting memiliki risiko hingga tiga kali lebih besar mengalami gangguan pada working memory. Sementara itu, anemia sendiri turut memperburuk kondisi tersebut.

Ketika asupan nutrisi tidak terpenuhi dengan baik, terutama protein dan zat besi, tubuh anak tidak mendapatkan energi yang cukup untuk mendukung fungsi otaknya. Akibatnya, kemampuan untuk menangkap pelajaran di sekolah pun ikut terdampak.

Pahami Peran Working Memory dalam Proses Belajar Anak

Istilah working memory mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang tua. Padahal, kemampuan ini punya peran besar dalam keseharian anak, terutama saat mereka berada di lingkungan belajar.

Secara sederhana, working memory adalah kemampuan anak untuk fokus, mengingat, dan memproses informasi dalam waktu yang bersamaan. Kemampuan ini yang membantu anak memahami penjelasan guru, mengikuti instruksi, hingga merespons pertanyaan dengan tepat.

Kalau dianalogikan, working memory seperti “ruang kerja” di otak anak. Di sinilah informasi yang baru diterima diproses sebelum akhirnya dipahami. Ketika ruang ini bekerja dengan baik, anak akan lebih mudah menangkap pelajaran. Sebaliknya, jika terganggu, anak bisa terlihat seperti tidak fokus atau sulit mengikuti alur belajar.

Penjelasan ini juga sejalan dengan yang disampaikan Ray. Ia menekankan bahwa working memory punya peran besar dalam mendukung kemampuan akademik anak. “Working memory itu salah satu modal utama anak untuk punya prestasi akademik yang baik. Untuk punya IQ bagus, dia harus punya working memory score yang baik,” paparnya.

Karena itu, ketika anak terlihat kesulitan memahami pelajaran, bukan berarti mereka tidak mampu. Bisa jadi, kemampuan working memory mereka belum optimal, sehingga informasi yang diterima tidak bisa diproses dengan maksimal.

Di sinilah pentingnya orang tua mulai melihat kemampuan belajar anak dari sudut pandang yang lebih luas, bukan hanya dari hasil akhir, tapi juga dari proses yang terjadi di baliknya.

Orang Tua Jangan Hanya Fokus pada Tinggi dan Berat Badan Anak

Selama ini, ketika membahas tumbuh kembang anak, perhatian kita sering langsung tertuju pada hal yang terlihat. Tinggi badan, berat badan, atau apakah anak termasuk kategori stunting atau tidak.

Hal tersebut tidak salah, memang itu penting. Tapi tanpa disadari, ada satu hal lain yang sering luput dari perhatian, yaitu bagaimana anak menangkap dan memahami pelajaran.

Banyak orang tua mungkin baru menyadari ketika anak mulai kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah. Padahal, kondisi tersebut bisa jadi sudah terbentuk jauh sebelumnya, hanya saja tidak terlihat secara langsung seperti pertumbuhan fisik.

Kondisi ini juga yang kemudian disoroti oleh Nila. Ia menilai bahwa selama ini aspek kognitif anak belum banyak diperhatikan dalam konteks gizi. “Kita sering melihat anak kurus atau pendek, tapi daya tangkap ini kan tidak pernah diperhatikan,” ujarnya.

Dari sini terlihat bahwa permasalahan gizi pada anak tidak hanya berdampak pada tubuh yang tampak dari luar, tetapi juga pada cara mereka berpikir dan memahami informasi.

Perubahan sudut pandang ini menjadi penting. Karena ketika orang tua mulai menyadari bahwa daya tangkap anak juga dipengaruhi oleh kondisi tubuhnya, maka perhatian terhadap asupan gizi pun bisa menjadi lebih menyeluruh, tidak hanya sekadar mengejar angka pertumbuhan. Di sinilah peran asupan nutrisi sehari-hari menjadi semakin penting untuk diperhatikan.

Perhatikan Asupan Protein dan Zat Besi untuk Dukung Otak Anak

Kalau ditarik lebih dalam, permasalahan yang muncul pada kemampuan belajar anak ini sebenarnya punya akar yang cukup mendasar, yaitu asupan makanan sehari-hari.

Kondisi seperti anemia defisiensi besi dan kekurangan protein menjadi dua faktor yang paling sering ditemukan. Keduanya memiliki peran penting dalam mendukung fungsi otak, terutama di masa pertumbuhan anak.

Dr. dr. Luciana B. Sutanto, M.S., Sp.GK (K) selaku President of Indonesian Nutrition Association menjelaskan bahwa ketika kebutuhan nutrisi ini tidak terpenuhi, dampaknya tidak hanya terasa pada tubuh, tetapi juga pada perkembangan otak. “Kalau protein dan zat besi tidak cukup, otaknya juga tidak tumbuh dan berkembang,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa protein berperan sebagai “bahan baku” utama dalam pembentukan sel dan jaringan, termasuk di otak. Sumbernya pun sebenarnya cukup mudah ditemukan dalam keseharian, mulai dari protein hewani seperti daging, telur, dan ikan, hingga protein nabati seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan.

Sementara itu, zat besi memiliki peran penting dalam membantu membawa oksigen ke seluruh tubuh, termasuk ke otak. Ketika kadar zat besi rendah, suplai oksigen ke otak ikut berkurang, sehingga anak bisa lebih mudah lelah dan kesulitan untuk fokus saat belajar.

Menariknya, penyerapan zat besi dalam tubuh juga dipengaruhi oleh nutrisi lain, salah satunya vitamin C. Tanpa asupan vitamin C yang cukup, zat besi dari makanan tidak dapat diserap secara optimal. Karena itu, kombinasi makanan juga menjadi hal yang penting untuk diperhatikan.

Waspadai “Lingkaran Setan” Gizi yang Bisa Ganggu Perkembangan Anak

Kalau dilihat lebih dalam, permasalahan gizi pada anak ternyata tidak berdiri sendiri. Ada pola yang sering terjadi dan tanpa disadari bisa membentuk semacam “lingkaran setan” yang sulit diputus.

Kondisi ini biasanya dimulai dari kekurangan zat besi atau protein. Ketika asupan nutrisi tidak terpenuhi, kemampuan kognitif anak bisa ikut menurun. Anak jadi lebih sulit fokus, cepat lelah, dan kurang bersemangat saat belajar.

Di sisi lain, kondisi ini juga bisa berdampak pada nafsu makan. Anak yang sudah merasa tidak nyaman atau mudah lelah cenderung makan lebih sedikit. Akibatnya, asupan nutrisi semakin berkurang, dan kondisi yang dialami pun bisa semakin memburuk.

Luciana menggambarkan kondisi ini sebagai siklus yang saling berkaitan dan perlu segera diperhatikan. “Jadi seperti lingkaran setan, ketika anak kekurangan zat besi, kemampuan kognitifnya bisa menurun. Kalau sudah begitu, biasanya nafsu makannya juga ikut turun, akhirnya asupan nutrisinya makin kurang,” jelasnya.

Ketika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya berhenti di satu aspek saja. Dalam keseharian, anak bisa mengalami:

• Kesulitan memahami pelajaran sehingga prestasi akademik menurun

• Konsentrasi yang mudah terganggu saat belajar

• Tubuh lebih cepat lelah dan kurang bertenaga

• Rasa percaya diri yang menurun karena merasa “tidak bisa mengikuti”

• Munculnya tekanan atau kecemasan saat menghadapi proses belajar

Ray menjelaskan bahwa kondisi ini juga bisa berdampak pada kesehatan mental anak jika tidak disadari sejak awal. Ketika anak terus mengalami kesulitan belajar tanpa tahu penyebabnya, hal ini bisa memicu rasa frustrasi hingga anxiety. “Kalau sudah berdampak ke kognitif, kita khawatirnya itu tidak bisa kembali seperti semula,” jelasnya.

Karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak menunggu sampai anak benar-benar mengalami kesulitan belajar. Semakin cepat kondisi ini dikenali, semakin besar peluang untuk mencegah dampak yang lebih jauh, termasuk pada aspek emosional dan mental anak. Kondisi seperti ini juga yang akhirnya banyak dirasakan langsung oleh orang tua di rumah.

Cerita Putri Titian Saat Mulai Lebih Perhatian ke Asupan Anak

Setelah memahami berbagai faktor yang bisa memengaruhi kemampuan belajar anak, banyak orang tua mungkin mulai merasa, “kok ini relate banget ya sama kondisi di rumah.”

Hal serupa juga dirasakan oleh Putri Titian, seorang public figure sekaligus ibu, yang mengakui bahwa sebelumnya ia tidak menyadari bahwa kondisi gizi bisa berdampak langsung pada kemampuan anak dalam memahami pelajaran.

Ia menceritakan bahwa dalam keseharian, orang tua sering kali langsung mengaitkan kesulitan fokus anak dengan faktor perilaku. Mulai dari dianggap kurang disiplin, terlalu banyak bermain, hingga kurang serius saat belajar.

Padahal, setelah mendapatkan pemahaman yang lebih utuh, ia menyadari bahwa ada faktor lain yang selama ini tidak terlihat. “Saya juga baru tersadarkan, ternyata kekurangan nutrisi itu bisa ngaruh ke working memory anak,” ujarnya.

Kesadaran ini kemudian membuatnya mulai lebih memperhatikan pola makan anak di rumah. Ia mencoba memastikan anak mendapatkan makanan yang lebih bervariasi, sekaligus membiasakan konsumsi nutrisi pendukung lainnya.

“Kalau saya, mungkin mulai dari makanan yang bervariasi. Selain itu dibiasakan juga untuk minum susu, tapi bukan sembarang susu ya, pilih yang benar-benar penuh dengan nutrisi untuk mendukung tumbuh kembang anak,” lanjutnya.

Selain itu, ia juga memahami bahwa tidak semua anak mudah menerima berbagai jenis makanan. Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih fleksibel agar anak tetap mendapatkan asupan yang dibutuhkan. “Kalau anak nggak mau makan, mungkin bisa disiasati dengan kreasi masakan, jadi tetap masuk nutrisinya tapi anak juga nggak bosan,” tambahnya.

Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa perjalanan memahami kebutuhan anak memang tidak selalu instan. Namun, dengan mulai lebih peka terhadap hal-hal kecil seperti asupan harian, orang tua bisa membantu mendukung proses belajar anak secara lebih optimal.

Pastikan Variasi Makanan Anak Minimal 20 Jenis dalam Seminggu

Setelah memahami berbagai faktor yang memengaruhi kemampuan belajar anak, langkah berikutnya yang bisa dilakukan orang tua sebenarnya dimulai dari hal yang paling sederhana, yaitu pola makan sehari-hari.

Pemenuhan gizi tidak harus selalu rumit atau mahal. Justru, banyak sumber nutrisi penting yang bisa ditemukan dari makanan yang dekat dengan keseharian, seperti berbagai sumber protein, serta sayur dan buah yang mudah ditemukan sehari-hari.

Luciana menjelaskan bahwa keberagaman makanan menjadi salah satu kunci penting dalam pemenuhan gizi anak. Semakin beragam jenis makanan yang dikonsumsi, semakin besar peluang anak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan tubuhnya. Karena itu, orang tua tidak hanya perlu memperhatikan jumlah makanan, tetapi juga variasinya.

Sebagai gambaran, anak dianjurkan untuk mengonsumsi sekitar 20 jenis makanan berbeda dalam satu minggu. Tujuannya bukan sekadar agar anak tidak bosan, tetapi untuk membantu memenuhi kebutuhan berbagai zat gizi secara lebih menyeluruh.

Dalam praktik sehari-hari, ini bisa dimulai dari langkah sederhana, seperti:

• Mengombinasikan protein hewani dan nabati dalam menu harian

• Menyajikan sayur dan buah dengan warna yang berbeda-beda

• Mengganti jenis lauk setiap hari agar anak terbiasa dengan variasi rasa

Di sisi lain, tidak semua anak mudah menerima berbagai jenis makanan. Kondisi picky eater sering menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua.

Dalam situasi seperti ini, pendekatan yang terlalu kaku justru bisa membuat anak semakin menolak. Karena itu, orang tua bisa mencoba cara yang lebih fleksibel, misalnya dengan mengolah bahan makanan menjadi bentuk yang lebih menarik atau menyelipkannya ke dalam menu favorit anak.

Peran Susu Fortifikasi sebagai Pelengkap Asupan

Dalam praktiknya, tidak semua anak bisa memenuhi kebutuhan gizinya hanya dari makanan sehari-hari. Apalagi jika anak sedang dalam fase picky eater atau memiliki preferensi makanan yang terbatas. Di kondisi seperti ini, orang tua bisa mempertimbangkan sumber nutrisi tambahan untuk membantu melengkapi kebutuhan harian anak.

Ray menjelaskan bahwa salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah melalui makanan atau minuman yang telah diperkaya dengan zat gizi tertentu. “Susu pertumbuhan itu salah satu food source yang difortifikasi,” jelasnya.

Susu fortifikasi sendiri merupakan susu yang telah diperkaya dengan berbagai zat gizi penting, seperti protein, zat besi, serta vitamin dan mineral lainnya yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang anak. Dengan kandungan tersebut, susu fortifikasi dapat membantu melengkapi kebutuhan nutrisi harian anak, terutama ketika asupan dari makanan masih belum mencukupi.

Meski begitu, penting untuk dipahami bahwa susu fortifikasi berperan sebagai pelengkap, bukan pengganti makanan utama. Pola makan seimbang tetap menjadi fondasi utama dalam memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi dengan baik.

Dengan pendekatan yang lebih fleksibel seperti ini, orang tua memiliki lebih banyak pilihan untuk memastikan anak tetap mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan, tanpa harus bergantung pada satu sumber saja.

Kalau anak terlihat sulit fokus, belum tentu karena dia kurang berusaha. Bisa jadi, ada faktor lain yang selama ini tidak kita sadari, termasuk dari asupan nutrisinya.

Follow Ibupedia Instagram