Kesehatan Dibaca 386 kali

10 Penyebab Telat Datang Bulan, Tidak Semua Berbahaya

Share info ini yuk ke teman-teman
Menur

Terakhir diperbaharui 10 November, 2019 16:11

10 Penyebab Telat Datang Bulan, Tidak Semua Berbahaya

Menstruasi atau datang bulan merupakan hal alami yang terjadi pada setiap wanita. Sel telur dengan bantuan sejumlah hormon berperan besar dalam mengatur terjadinya menstruasi setiap bulannya. Idealnya, menstruasi terjadi sebulan sekali atau setiap 21 hingga 35 hari sekali. Lama hari menstruasi datang kembali disebut siklus menstruasi, yang dihitung sejak hari pertama haid hingga hari pertama haid berikutnya. 

Namun, tidak semua wanita memiliki siklus menstruasi sesuai patokan di atas. Ada yang memiliki siklus pendek, di mana jarak antar menstruasi kurang dari 21 hari, ada juga yang memiliki siklus panjang atau lebih dari 35 hari. Hanya saja, kebanyakan wanita mulai kuatir jika menstruasi tidak kunjung datang. Bagi wanita yang sudah aktif secara seksual, telat datang bulan bisa disebabkan oleh kehamilan. Tapi, jika testpack menunjukkan hasil negatif, ada beberapa hal lain yang mungkin menjadi penyebab telat datang bulan seperti kondisi-kondisi berikut:

  1. Penggunaan alat kontrasepsi hormonal

    Alat kontrasepsi –khususnya yang menggunakan hormon- dapat menjadi penyebab telat datang bulan, bahkan tidak datang bulan sama sekali. Beberapa jenis alat kontrasepsi hormonal antara lain pil KB, KB suntik, dan implan (susuk KB). IUD (Intra Uterine Device) atau KB spiral juga ada yang bersifat hormonal, namun yang banyak digunakan di Indonesia adalah IUD non-hormonal.

    Bagaimana kontrasepsi hormonal dapat menjadi penyebab telat datang bulan?

    Untuk mencegah terjadinya kehamilan, hormon estrogen dan progestin dalam kontrasepsi hormonal bertugas untuk mencegah indung telur melepaskan sel telur (ovulasi). Sel telur inilah yang jika tidak dibuahi akan keluar menjadi darah menstruasi. Dengan bekerjanya kedua hormon tersebut, otomatis tidak terjadi menstruasi. Ibu bisa saja mengalami flek ringan, namun bisa juga tidak datang bulan sama sekali selama menggunakan kontrasepsi hormonal.

    Jenis kontrasepsi turut mempengaruhi siklus menstruasi Ibu. Untuk pil KB, menstruasi bisa kembali normal maksimal setelah 6 bulan pemakaian. Potensi kehamilan sebagai penyebab telat datang bulan saat menggunakan kontrasepsi hormonal sangat kecil, karena itu Ibu tidak perlu kuatir.

  2. Stres

    Dalam situs Healthline disebutkan bahwa stres menjadi salah satu penyebab telat datang bulan. Saat seorang wanita mengalami stres, hipotalamus (bagian otak yang berperan dalam mengatur proses menstruasi) juga terkena dampaknya. Jika tidak segera ditangani, stres juga dapat menurunkan kekebalan tubuh sehingga rentan terhadap penyakit, maupun terjadi kenaikan dan penurunan berat badan secara drastis. Hal tersebut juga mempengaruhi siklus menstruasi.

    Saat stres, tubuh memproduksi hormon kortisol. Hormon kortisol ini ternyata menghambat proses ovulasi. Ketika mendekati jadwal datang bulan biasanya terjadi peningkatan hormon estrogen. Namun, stres menyebabkan turunnya kadar hormon estrogen. Akibatnya, menstruasi menjadi terlambat, tidak teratur, atau malah tidak terjadi selama beberapa bulan. Hal ini disebut dengan amenore sekunder, atau tidak datang bulan minimal 3 bulan setelah haid terakhir.  

    Untuk mengatasinya, Ibu bisa:

    • Memperbanyak olahraga. Beberapa jenis olahraga yang dapat dilakukan untuk menghilangkan stress adalah berlari, yoga, atau berenang

    • Belajar teknik relaksasi atau latihan pernapasan 

    • Belajar CBT (cognitive behavioral therapy) yaitu terapi bicara yang dapat mengubah pola pikir dan perilaku agar lebih mudah menyelesaikan masalah

  3. Kurang berat badan

    Penyebab telat datang bulan lainnya adalah kondisi underweight atau berat badan terlalu rendah, di mana seseorang memiliki indeks massa tubuh kurang dari 19. Penderita anoreksia nervosa dan bulimia juga termasuk ke dalam kategori ini. Saat badan terlalu kurus, cadangan lemak pun menjadi sedikit. Padahal, hormon estrogen yang berperan dalam proses menstruasi membutuhkan lemak sebagai bahan dasarnya. Akibatnya, Ibu mengalami telat datang bulan. Hati-hati, jika hal ini berlangsung terus menerus, maka tingkat kesuburan akan menurun.

    Untuk mengatasi underweight, Ibu bisa mengikuti sejumlah langkah dair Mayo Clinic berikut:

    • Memperbanyak frekuensi makan, menjadi 5-6 kali sehari tetapi dalam porsi kecil.

    • Memilih menu yang kaya gizi, seperti beras merah, gandum utuh, kacang-kacangan, sayur, dan buah.

    • Kurangi (atau hentikan) konsumsi makanan dan minuman yang tinggi kalori minim nutrisi seperti kopi, teh, soda dan makanan dalam kemasan.

    • Olahraga lebih rutin. Selain dapat meningkatkan massa otot, olahraga juga mampu meningkatkan rasa lapar.

  4. Berat badan berlebih

    Meskipun berkebalikan dari underweight, ternyata berat badan berlebih (overweight) juga sama-sama menjadi penyebab telat datang bulan. Kali ini, penyebabnya adalah penumpukan lemak yang terjadi di area perut. Cadangan lemak yang terlalu banyak tersimpan di daerah ini dapat mengakibatkan menurunnya kadar protein yang mengatur hormon seks, yaitu estrogen dan androgen. Di sisi lain, kegemukan juga dapat memicu produksi estrogen berlebih yang dapat mengganggu keseimbangan hormon. Kedua faktor tersebut sama-sama dapat menyebabkan siklus datang bulan tidak teratur. 
    Seseorang dikatakan overweight jika memiliki indeks massa tubuh lebih dari 30.

    Untuk mengurangi berat badan secara aman, Ibu bisa menemui dokter atau dietitian. Ibu juga bisa melakukan langkah-langkah mandiri seperti:

    • Mengatur jumlah kalori yang dikonsumsi

    • Mengonsumsi makanan sehat kaya serat

    • Berolahraga secara rutin

    • Memantau berat badan sehingga tahu berapa banyak berat yang harus dikurangi

    Prinsipnya, penurunan berat badan yang aman berkisar antara 0,5 kg hingga 1 kg per minggu. Jumlah kalori yang dapat dikonsumsi pun tidak boleh lebih dari 1900 kkal per hari bagi pria dan 1400 kkal bagi wanita. Untuk menghitung jumlah kalori dari makanan yang kita konsumsi, Ibu bisa menggunakan aplikasi penghitung kalori. Hal yang sama juga dapat digunakan untuk menghitung indeks massa tubuh. Jangan lupa, memiliki komunitas dengan permasalahan yang sama dapat menjadi support system di kala motivasi melemah. Dukungan keluarga dan orang terdekat juga dapat membantu Ibu menjalankan usaha penurunan berat badan.

  5. PCOS

    Polycystic ovary syndrome (PCOS) merupakan salah satu kelainan penyebab telat datang bulan. Secara sederhana, PCOS merupakan kondisi di mana seorang wanita memiliki hormon pria yang cukup banyak sehingga mengganggu proses ovulasi. Hampir 27 persen wanita mengalaminya pada usia subur, namun tidak semua mengetahui bahwa dirinya memiliki PCOS. Beberapa ciri yang dimiliki oleh wanita yang memiliki PCOS adalah kecenderungan overweight, tumbuhnya rambut di wajah, dan ketidakteraturan hormon.

    Bagaimana PCOS bisa menjadi penyebab telat datang bulan?

    PCOS ditandai dengan terbentuknya kista (cysts) pada indung telur. Kista adalah kantung kecil berisi sel telur yang tidak pernah matang sehingga tidak dilepaskan oleh indung telur, alias tidak terjadi ovulasi. Karena tidak terjadi ovulasi, maka tidak terjadi menstruasi. Dalam jangka panjang, hal ini menimbulkan ketidakseimbangan hormon, di mana hormon estrogen dan progesteron menurun, sementara hormon androgen (hormon pria) naik. Androgen nantinya dapat membuat telat datang bulan semakin sering terjadi.

    Penyebab PCOS belum diketahui secara pasti, namun faktor genetis dan resistensi insulin berperan besar dalam terjadinya PCOS. Sekitar 70% wanita dengan PCOS mengalami resistensi insulin di mana tubuh gagal menggunakan insulin dengan baik sehingga pankreas membuat lebih banyak lagi insulin. Ekstra insulin inilah yang memicu semakin tingginya hormon pria.

    Gejala PCOS bisa dikurangi dengan cara membuat siklus menstruasi lebih teratur dengan bantuan pil KB atau obat hormonal sesuai resep dokter.

  6. Olahraga berlebih

    Penyebab telat datang bulan pada mereka yang melakukan olahraga berlebih disebut athletic amenorrhea. Data dari AFPA (American Fitness Professionals Association) menunjukkan bahwa sekitar 45% atlet wanita di cabang olahraga tertentu mengalami ketidakteraturan menstruasi. 
    Biasanya, atlet yang memiliki kecenderungan ini adalah atlet lari, atlet senam/gymnastic, termasuk penari balet, yang membutuhkan badan yang ramping untuk performa maksimal. 

    Bagaimana olahraga berlebih bisa menjadi penyebab telat datang bulan?

    Seperti yang telah dijelaskan pada poin-poin sebelumnya, tubuh wanita membutuhkan hormon estrogen dan progesteron untuk menstruasi. Pada atlet, olahraga berlebih dan badan yang terlalu kurus mampu menghambat proses ovulasi. Rata-rata, persentase lemak tubuh atlet wanita lebih rendah 20%, di mana idealnya wanita memiliki cadangan lemak 22-28 %. Bahkan, atlet binaraga bisa hanya memiliki cadangan lemak 10%.

    Ketika cadangan lemak terlalu sedikit, tubuh akan menganggapnya sebagai suatu kondisi kritis di mana seorang wanita tidak punya cukup cadangan nutrisi untuk hamil. Untuk mempertahankan diri, tubuh akan menahan keluarnya sel telur agar tidak terjadi pembuahan oleh sperma, yang terwujud dengan tidak adanya menstruasi. 

    Hal ini juga berlaku pada atlet yang belum mengalami pubertas. Ketika masa pubertas tiba, atlet muda bisa tidak mengalami menstruasi pertama hingga usia 20 tahun. Hal ini disebut dengan amenorrhea primer.  

    Meskipun banyak terjadi pada atlet, ibu pada umumnya dapat mengalami hal serupa jika terlalu banyak berolahraga hingga menjadi terlalu kurus. Karena itu, tetap jaga semua aktivitas dengan seimbang ya!

  7. Gangguan tiroid

    Kelenjar tiroid terletak di leher bagian bawah. Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar ini berfungsi untuk mengatur hampir segala aktivitas tubuh. Namun, kelenjar tiroid yang terlalu aktif ataupun kurang aktif dapat menjadi penyebab telat datang bulan. Karena tiroid berperan mengatur metabolisme tubuh, gangguan pada tiroid dapat berdampak pada gangguan hormonal termasuk pada siklus menstruasi. Bentuknya bisa berupa datang bulan tidak teratur, darah haid menjadi banyak atau terlalu sedikit, bahkan berhenti datang bulan sama sekali. Gangguan tiroid yang berlangsung secara jangka panjang berpotensi menyebabkan terjadinya menopause dini.

    Jika Ibu mengalami gejala berikut selain siklus datang bulan yang tidak teratur, ada kemungkinan Ibu perlu menjalani tes kadar hormon tiroid untuk mengetahui status hipotiroidisme (kekurangan hormon tiroid). Beberapa gejalanya yaitu konstipasi, depresi, rambut rontok, kulit kering, kelelahan, berat badan naik tiba-tiba, hingga membengkaknya kelenjar tiroid. Sementara itu, hipertiroidisme (kelebihan hormon tiroid) memiliki gejala berat badan turun drastis, tangan tremor, rambut rontok, detak jantung cepat, dan sering berkeringat. 

    Meskipun tidak menyakitkan, gangguan tiroid dalam jangka panjang dapat mempengaruhi kesuburan. Karena itu, segera periksakan ke dokter karena gangguan tiroid masih dapat disembuhkan dengan bantuan obat.

  8. Diabetes

    Ibu menderita diabetes? Mungkin diabetes lah yang menjadi penyebab telat datang bulan. Secara sederhana, diabetes adalah suatu penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah dalam tubuh sehingga tidak sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh tubuh. 

    Pankreas, organ yang berada di belakang lambung, bertugas menghasilkan hormon insulin yang berfungsi mengubah gula darah menjadi energi. Pada penderita diabetes tipe 1, sistem imun tubuh menyerang pankreas sehingga pankreas tidak mampu menghasilkan insulin. Pada diabetes tipe 2, pankreas tidak mampu menghasilkan cukup hormon insulin untuk mengimbangi tingginya kadar gula darah dalam tubuh. Akibatnya, tubuh menjadi resisten terhadap insulin. Resistensi insulin inilah yang mampu menghambat kinerja indung telur dan menjadi penyebab telat datang bulan.

  9. Perimenopause

    Penyebab telat datang bulan yang satu ini mungkin agak menakutkan bagi sebagian Ibu. Masa sih, umur segini menopause? Perlu Ibu tahu, bahwa menopause datang secara bertahap. Menopause sendiri adalah kondisi saat wanita tidak lagi datang bulan (minimal terjadi selama 12 bulan berturut-turut) sehingga sudah tidak lagi subur. Umumnya, menopause terjadi pada rentang usia 45-55 tahun, dan rata-rata terjadi pada usia 51 tahun. Pada sebagian wanita, menopause terjadi lebih cepat, contohnya pada wanita perokok.

    Nah, sebelum menopause terjadi, biasanya wanita memasuki fase perimenopause atau fase transisi. Dalam situs National Institute of Child Health and Human Development disebutkan bahwa saat fase perimenopause berlangsung, jumlah hormon estrogen dan progesteron yang dihasilkan mulai menurun. Berkurangnya kedua hormon tersebut menyebabkan munculnya sejumlah gejala menopause, salah satunya adalah frekuensi datang bulan yang semakin jarang hingga akhirnya berhenti sama sekali. 

    Pada usia berapakah wanita biasanya mengalami perimenopause? Fase ini dapat terjadi beberapa tahun sebelum usia menopause, tergantung dari kapan hormon estrogen dan progesteron mulai berkurang. Tindakan medis seperti operasi pengangkatan rahim, kemoterapi, dan terapi hormon juga dapat menyebabkan fase perimenopause.

  10. Menyusui

    Mungkin Ibu tidak menyangka bahwa menyusui mampu memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap siklus menstruasi. Meskipun Ibu sudah kembali haid pasca melahirkan, menyusui dapat menjadi salah satu penyebab telat datang bulan. Hal ini tidak lepas dari peran hormon yang dihasilkan saat menyusui.

    Ketika seorang ibu menyusui secara langsung, isapan mulut bayi pada puting mampu merangsang produksi hormon prolaktin. Hormon yang juga berperan dalam pembesaran payudara saat hamil ini berfungsi merangsang produksi ASI. Saat prolaktin meningkat, produksi hormon lain dihambat, termasuk produksi hormon estrogen. Padahal, dibutuhkan hormon estrogen dengan kadar tinggi untuk terjadi ovulasi. Akibatnya, Ibu terlambat datang bulan.

    Ibu tidak perlu kuatir karena hal ini wajar terjadi. Pada ibu menyusui, dibutuhkan beberapa bulan hingga akhirnya siklus menstruasi kembali normal, tergantung dari frekuensi menyusui dan jumlah ASI yang dikeluarkan. Kecuali, jika ibu tidak menggunakan alat kontrasepsi dan menstruasi tidak kunjung kembali, segera periksakan diri ke dokter. Kehamilan bisa saja menjadi penyebabnya.

(Menur / Dok.Freepik)