3 Masalah Gigi Keluarga yang Sering Diabaikan sampai Sudah Parah
Ada satu kebiasaan yang diam-diam cukup sering terjadi di banyak keluarga, terutama keluarga dengan anak kecil. Saat anak demam, batuk tak kunjung sembuh, atau terlihat lesu, ibu biasanya langsung sigap mencari bantuan medis. Tapi ceritanya bisa berbeda ketika anak mulai mengeluh giginya ngilu, gusinya tampak merah, atau terlihat ada lubang kecil di gigi. Di momen ini, perawatan gigi sering kali tidak langsung jadi prioritas.
Bukan karena ibu tidak peduli, justru ini terjadi karena banyak ibu berpikir terlalu jauh. Takut anak trauma, takut prosesnya ribet, dan yang paling sering, takut biaya perawatannya mahal. Akhirnya, rencana ke dokter gigi pun kerap ditunda, sampai keluhan benar-benar tidak bisa diabaikan lagi.
Menunda perawatan gigi sebenarnya terasa sangat manusiawi. Selama belum ada rasa sakit yang mengganggu, banyak keluarga merasa kondisi gigi masih aman-aman saja. Padahal, masalah gigi jarang datang mendadak. Sebagian besar masalah gigi berkembang pelan-pelan, dari kondisi ringan yang awalnya tidak mengganggu aktivitas anak maupun orang tua.
Tanpa disadari, cara pandang inilah yang membuat kesehatan gigi sering diperlakukan sebagai kebutuhan yang bisa menunggu dan pola ini ternyata bukan hanya terjadi di satu dua keluarga.
Data Nasional Menguatkan Kebiasaan Menunda Perawatan Gigi

Jika ditarik lebih luas, kebiasaan menunda perawatan gigi juga tercermin jelas dalam data kesehatan nasional. Pengalaman yang dirasakan banyak ibu di rumah, nyatanya terjadi dalam skala yang jauh lebih besar.
Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat bahwa 57 persen penduduk usia tiga tahun ke atas mengalami masalah gigi dan mulut. Namun, hanya 11,2 persen yang benar-benar mencari pengobatan. Artinya, sebagian besar masyarakat hidup berdampingan dengan masalah gigi tanpa penanganan yang memadai. Angka ini menunjukkan adanya jarak yang cukup lebar antara kesadaran akan masalah gigi dan langkah nyata untuk merawatnya.
Di tingkat global, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga menyoroti alasan yang kerap membuat orang ragu datang ke dokter gigi. Ketidakpastian biaya perawatan gigi menjadi salah satu hambatan paling nyata.
Bagi ibu yang sehari-hari mengatur keuangan rumah tangga, kekhawatiran ini sangat bisa dipahami. Tanpa gambaran biaya yang jelas sejak awal, keputusan membawa anak atau diri sendiri ke dokter gigi terasa penuh pertimbangan. Tidak sedikit ibu yang akhirnya memilih menunda, dengan harapan masalahnya tidak berkembang lebih jauh.
Padahal, justru penundaan inilah yang sering membuat perawatan menjadi lebih kompleks di kemudian hari dan kondisi ini juga tercermin dalam praktik klinis para dokter gigi sehari-hari.
3 Masalah Gigi yang Paling Sering Dialami Keluarga Indonesia

Berdasarkan praktik klinis sepanjang 2025, AUDY Dental mencatat tiga masalah utama kesehatan gigi yang paling sering dialami keluarga Indonesia.
A. Ketidakharmonisan susunan gigi atau maloklusi
Kasus maloklusi mengalami peningkatan lebih dari 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Banyak keluarga tidak menyadari kondisi ini sejak dini karena sering kali tidak menimbulkan rasa sakit. Padahal, susunan gigi yang tidak harmonis dapat memengaruhi fungsi mengunyah, kebersihan gigi, hingga tampilan senyum dalam jangka panjang.
B. Gigi berlubang pada anak dan dewasa
Kasus gigi berlubang juga meningkat sekitar 10 persen. Kondisi ini kerap dimulai dari lubang kecil yang tidak terasa sakit, sehingga sering diabaikan. Jika dibiarkan, gigi berlubang bisa berkembang menjadi nyeri, infeksi, bahkan mengganggu proses makan. WHO sendiri menyebut karies gigi sebagai salah satu penyakit kronis paling umum di dunia.
C. Rendahnya kebiasaan perawatan gigi preventif dan rutin
Masih banyak pasien yang datang ke dokter gigi saat keluhan sudah muncul, bukan untuk pemeriksaan berkala. Padahal, perawatan preventif justru berperan besar dalam mencegah masalah gigi yang lebih berat.
Menanggapi kondisi ini, drg. Yulita Bong, CEO AUDY Dental, menjelaskan, “Perawatan gigi preventif dan rutin berperan penting untuk mencegah kondisi yang lebih berat. Namun, kami masih melihat banyak pasien datang setelah muncul keluhan. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap biaya yang tidak terprediksi juga menjadi hambatan bagi sebagian masyarakat.”
Dari sini, terlihat bahwa masalah gigi tidak hanya soal penyakitnya, tetapi juga soal waktu dan kesiapan keluarga untuk datang lebih awal dan dampaknya paling terasa pada kelompok anak.
Ketika Anak Datang dalam Kondisi Gigi Sudah Parah

Masalah gigi pada anak menjadi perhatian tersendiri. Sepanjang 2025, lebih dari 70 persen pasien anak datang ke dokter gigi dalam kondisi yang sudah cukup parah atau membutuhkan penanganan lanjutan.
Masih banyak orang tua yang menganggap gigi susu sebagai gigi sementara. Padahal, gigi susu memegang peran penting dalam pertumbuhan gigi permanen, struktur rahang, serta kebiasaan perawatan gigi anak di masa depan.
Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak AUDY Dental, drg. Eka Sabaty Shofiyah, Sp.KGA, menjelaskan, “Perawatan gigi anak sejak dini sangat penting karena kondisi gigi susu akan memengaruhi pertumbuhan gigi permanen, struktur rahang, hingga kebiasaan perawatan gigi anak di masa depan. Jika dibiarkan, masalah gigi sejak kecil tidak hanya berisiko menimbulkan infeksi dan nyeri, tetapi juga berdampak pada rasa percaya diri anak saat tumbuh besar.”
Penjelasan ini sejalan dengan berbagai literatur WHO dan Kementerian Kesehatan RI yang menekankan bahwa pencegahan dan perawatan dini merupakan kunci untuk menjaga kesehatan gigi anak dalam jangka panjang.
Pengalaman Pertama ke Dokter Gigi Membentuk Kebiasaan Anak

Selain kondisi gigi, pengalaman pertama anak ke dokter gigi juga berpengaruh besar. Anak yang pertama kali datang dalam kondisi sudah sakit cenderung mengaitkan kunjungan ke dokter gigi dengan rasa tidak nyaman atau takut.
Berbagai jurnal kedokteran gigi anak menyebutkan bahwa pengalaman perawatan yang ramah dan positif sejak dini dapat membantu anak membangun kebiasaan perawatan gigi yang lebih baik hingga dewasa.
Seiring bertambahnya usia anak, tantangan kesehatan gigi pun ikut berkembang. Masalah gigi tidak berhenti di masa kanak-kanak. Pada orang dewasa, kesehatan gigi berdampak langsung pada kemampuan makan, berbicara, hingga berinteraksi sosial.
Drg. Eka juga menegaskan, “Kesehatan gigi tidak hanya berkaitan dengan fungsi mulut, tetapi juga berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan serta kepercayaan diri. Perawatan rutin seperti scaling, topical fluoride, dan fissure sealant menjadi langkah penting sebagai investasi kesehatan jangka panjang.” WHO dan American Dental Association juga menempatkan perawatan preventif sebagai bagian penting dalam menjaga kualitas hidup.
Dari berbagai temuan ini, terlihat bahwa tantangan kesehatan gigi keluarga bukan hanya soal penyakitnya, tetapi juga soal akses, pengalaman, dan kejelasan informasi. Keluarga membutuhkan layanan yang membuat mereka merasa aman, dipahami, dan membuat tidak ragu sejak awal.
AUDY Dental dan Pendekatan One Stop Dental Clinic

Berangkat dari kebutuhan tersebut, AUDY Dental menghadirkan pendekatan one stop dental clinic dengan dokter gigi umum dan dokter gigi spesialis, teknologi modern, standar klinis medis, transparansi rencana perawatan, serta waktu tunggu yang nyaman.
AUDY Dental juga menghadirkan tiga layanan utama untuk kebutuhan berbeda keluarga. AUDY Kids untuk anak dengan pendekatan child friendly care dan dokter gigi spesialis anak. AUDY Braces untuk perawatan ortodonti yang presisi. Serta AUDY Implant sebagai solusi fungsional dan estetik jangka panjang.
Saat ini, AUDY Dental hadir di lebih dari 60 cabang di Jabodetabek, Jawa, dan Bali, didukung lebih dari 800 dokter gigi dan dokter spesialis.
Menutup penjelasannya, drg. Yulita menyampaikan, “Kami percaya bahwa kesehatan gigi dan senyum sehat adalah fondasi kualitas hidup. Melalui edukasi, layanan spesialis, dan akses yang luas, AUDY Dental berkomitmen mendampingi keluarga Indonesia membangun kebiasaan perawatan gigi yang berkelanjutan demi Senyum Tanpa Ragu.”