Kesehatan Dibaca 8,762 kali

6 Fakta tentang Penularan, Penanganan, dan Gejala TBC

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 26 November, 2018 01:11

6 Fakta tentang Penularan, Penanganan, dan Gejala TBC

Tuberkulosis (sering disingkat TBC) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Umumnya gejala TBC menyerang paru-paru meski bisa mempengaruhi organ lain.

Ketika seseorang mengalami batuk atau bersin TBC yang tidak diobati, tetesan batuk atau bersin yang dikeluarkan dan tersebar di udara mengandung bakteri. Nah, saat orang lain tidak sengaja menghirup cairan terbut, mereka bisa tertular penyakit TBC.

Di tahun 1920-an TBC menjadi penyebab utama kematian pada anak usia 1 hingga 4 tahun di Amerika. Seiring standar kesehatan dan penanganan medis yang selalu meningkat, kasus TBC menurun tiap tahunnya.

 

Tanda dan gejala TBC

Pada bayi dan anak, infeksi TBC laten yang merupakan infeksi pertama dengan bakteri tuberkulosis, biasanya tidak menimbulkan tanda atau gejala. Selain itu, penyinaran dengan sinar X pada area dada juga tidak menunjukkan tanda bakteri.

Pada kebanyakan kasus, kita bisa mengetahui apakah anak mengidap TBC dengan melakukan tes tuberkulin pada kulit (digunakan untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi oleh bakteri tuberkulosis). Bila hasilnya positif, ini mengindikasikan anak terinfeksi. Anak dengan hasil tes tuberkulin positif, meski tidak menunjukkan gejala TBC, biasanya membutuhkan pengobatan.

Infeksi TBC biasanya bisa hilang dengan sendirinya ketika anak mengembangkan kekebalan tubuh dalam periode 6 hingga 10 minggu. Tapi pada beberapa kasus, infeksi bisa menyebar ke paru-paru (tuberkulosis progresif) atau ke organ lain. Kondisi ini biasanya disertai dengan  tanda dan gejala lain, seperti demam, penurunan berat badan, lelah, kehilangan selera makan, dan batuk.

Selain tuberkulosis progresif, ada juga tuberkulosis reaktivasi. Di kondisi ini, infeksi utama biasanya telah hilang, tapi bakterinya tertidur atau berhibernasi dalam tubuh anak. Ketika kondisi imunitas anak lagi rendah, bakteri bisa menjadi aktif kembali. Tuberkulosis yang dialami oleh anak yang berusia lebih besar dan orang dewasa biasanya adalah tuberkulosis  reaktivasi.

Gejala TBC yang paling terlihat adalah demam yang terus-menerus, dengan disertai keringat di malam hari. Rasa lelah dan penurunan berat badan terjadi setelahnya. Jika penyakit berlanjut dan terbentuk rongga di paru-paru, penderita mengalami batuk dan produksi air liur, lendir, atau dahak mengandung darah.

Ada beberapa anak yang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami tuberkulosis, yaitu:

  • Anak yang tinggal di rumah bersama dengan orang dewasa yang menderita tuberkulosis aktif atau memiliki risiko terkena TBC.

  • Anak yang terinfeksi HIV atau kondisi lain yang melemahkan sistem kekebalan tubuh.

  • Anak yang lahir di negara dengan tingginya tingkat TBC.

  • Anak yang mengunjungi negara endemik TBC dan melakukan kontak dengan orang yang tinggal di sana.

  • Anak dengan kondisi kurang mampu yang umumnya menerima perawatan medis yang tidak mencukupi.

  • Anak yang tinggal di pengungsian atau tinggal dengan orang yang pernah di penjara.

 

Pencegahan gejala TBC

Agar anak tidak mengidap dan menunjukkan gejala TBC, Ibu bisa melakukan hal-hal beriktu ini:

  • Hindari kontak dengan orang yang memiliki penyakit TBC aktif.

  • Jika anak berisiko tinggi mengalami TBC, konsultasikan segera ke dokter.

  • Menjaga standar kehidupan yang baik.

 

Penularan gejala TBC

Orang bisa tertular TBC saat ia menghirup cairan tubuh penderita TBC yang tersebar melalui udara. Secara umum, anak kecil tidak menularkan TBC ke orang lain karena mereka memiliki sangat sedikit bakteri di sekresi lendir dan batuknya pun relatif tidak efektif. Anak-anak biasanya tertular penyakit ini dari orang dewasa yang terinfeksi. Masa inkubasi TBC bervariasi mulai dari hitungan minggu hingga tahun, bergantung individu dan jenis infeksinya apakah tuberkulosis utama, progresif, atau reaktivasi.

Untungnya, kebanyakan anak yang terpapar tuberkulosis  tidak seumanya langsung jatuh sakit. Ketika bakteri mencapai paru-paru, sistem kekebalan tubuh anak biasanya menyerang dan mencegah penyebarannya.

 

Diagnosa gejala TBC

Anak yang berisiko terkena TBC harus menjalani tes kulit tuberkulin. Untuk memastikan apa anak Ibu perlu tes ini, Bunda bisa jawab pertanyaan-pertanyaan berikut. Kalau ada salah satu jawaban “Ya” dari pertanyaan tersebut, maka Anda membutuhkan tes ini.

  • Apakah ada anggota keluarga yang terkena TBC atau melakukan kontak dengan orang yang memiliki penyakit tuberkulosis?

  • Apakah Ibu memiliki anggota keluarga yang memiliki hasil tes tuberkulin positif? 

  • Apakah anak Anda lahir di negara dengan risiko tinggi TBC? 

  • Apakah anak Anda melakukan perjalanan ke negara berisiko tinggi TBC selama lebih dari satu minggu?

 

Tes kulit tuberkulin dilakukan dengan menyuntikkan bakteri murni TBC yang tidak aktif ke kulit lengan. Jika ada infeksi, kulit anak akan membengkak dan memerah di area injeksi. Dokter akan memeriksa kulit 48 hingga 72 jam setelah injeksi, dan mengukur diameter reaksi.

 

Penanganan gejala TBC

Dokter biasanya menyarankan perawatan di rumah sakit untuk evaluasi awal dan penanganan TBC bila:

  • Anak masih di usia bayi.
  • Ada reaksi obat yang parah.
  • Ada penyakit lain selain TBC.

Tapi kebanyakan anak yang menderita tuberkulosis bisa ditangani dengan berobat jalan dan dirawat di rumah. Pengobatan biasanya dalam bentuk obat oral. Tiga atau empat jenis obat akan diresepkan. Meski pengobatan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk selesai, penting untuk menghabiskan obat yang diresepkan agar tuberkulosis bisa sembuh.

 

Hubungi dokter bila anak Anda:

  • Melakukan kontak dengan orang yang terduga terkena tuberkulosis.

  • Mengalami demam yang berkelanjutan. 

  • Mengeluh berkeringat di malam hari.

  • Menderita batuk yang kronis dan lama.

 

Mengontrol penyebaran gejala TBC

Bila anak Anda terinfeksi TBC, baik ada atau tidak ada gejala TBC yang dialami, penting untuk mencari tahu orang yang menularkannya. Biasanya ini dilakukan dengan melihat gejala TBC pada tiap orang yang melakukan kontak dengannya dan tes kulit TBC yang dilakukan pada semua anggota keluarga, termasuk pengasuh dan pembantu rumah tangga. Siapa saja yang positif hasil tesnya harus menjalani pemeriksaan fisik, sinar X, dan pengobatan.

Bila infeksi aktif ditemukan pada orang dewasa, orang tersebut sebaiknya diisolasi terutama dari anak-anak hingga pengobatan selesai. Semua anggota keluarga yang melakukan kontak dengan orang ini biasanya juga diobati, tanpa melihat hasil dari tes TBC. Siapa saja yang sakit atau terbukti sakit dari hasil sinar X dada yang tidak normal harus diobati sebagai kasus tuberkulosis aktif.

Tuberkulosis lebih umum terjadi pada masyarakat yang kurang mampu karena mereka lebih rentan terhadap penyakit karena kondisi lingkungan yang padat, nutrisi buruk, dan penanganan medis yang tidak memadai. Pasien AIDS juga berisiko tinggi terkena TBC karena resistensi yang rendah.

Bila tidak diobati, tuberkulosis dalam tubuh anak bisa menjadi tidak aktif selama bertahun-tahun, lalu bisa aktif lagi menjelang dewasa dini, saat hamil, atau dewasa lanjut. Pada saat itu, tidak hanya anak saja yang sakit, tapi ia juga bisa menyebarkan infeksi ke orang di sekitarnya. Karenanya, anak Anda perlu menjalani tes TBC jika ia melakukan kontak dengan orang dewasa yang mengidap penyakit ini dan ia harus mendapat pengobatan yang memadai jika hasil tes positif.

 

Hal penting yang perlu diketahui tentang gejala TBC dan penyakit TBC

Berikut ini beberapa hal penting yang perlu Anda tahu tentang penyakit TBC dan gejala TBC:

 

  1. TBC bisa tersebar saat penderita belum sadar kalau ia sudah terinfeksi

    TBC menyebar melalui udara. Ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin, mereka menyebarkan tetesan cairan yang bisa dihirup oleh orang di dekatnya. Karena gejala TBC awal biasanya ringan, penderita TBC tidak menyadari kalau sudah terinfeksi.

    Dalam satu tahun, orang yang menderita TBC aktif bisa menginfeksi 10 hingga 15 orang. Kebanyakan orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala TBC meski memiliki bakteri di tubuhnya, kondisi ini disebut TBC laten dan tidak menular.

    Sekitar 10 persen penderita TBC laten akan mengalami infeksi TBC aktif. Ini lebih mungkin terjadi pada orang dengan masalah sistem kekebalan, seperti orang yang menderita kanker, diabetes, HIV, dan mereka yang menggunakan tembakau.

     

  2. Gejala TBC dan penyakit TBC tidak hanya terjadi di negara-negara miskin

    WHO memperkirakan ada 9 juta orang terjangkit TBC setiap tahunnya dan diperkirakan 1,5 sampai 3 juta orang mati akibat TBC tiap tahun. Penyakit ini menyebabkan lebih dari 10 juta anak kehilangan orangtua tiap tahun. Meski 95 persen kematian akibat TBC terjadi di negara berkembang, TBC juga terjadi di negara-negara lain.

     

  3. Jika curiga mengidap gejala TBC, segera jalani tes

    Jika Anda melakukan kontak dengan orang yang menunjukkan gejala TBC, seperti sakit batuk, demam, lelah, nyeri dada, dan berat badan menurun, Anda perlu dites oleh dokter.

    Ada dua jenis tes yang digunakan untuk mengecek TBC, yaitu tes kulit dan tes darah. Selama tes kulit, dokter akan menyuntikkan sedikit cairan yang disebut tuberculin, di bawah kulit. Dokter lalu akan mengecek kembali area tersebut dalam 2 sampai 3 hari untuk melihat reaksinya.

    Sedangkan tes darah TBC digunakan untuk mencari respon sel darah terhadap TBC di laboratorium. Tes darah bisa bermanfaat untuk pasien yang ragu dengan hasil tes kulit, mengalami masalah sistem kekebalan tubuh, atau sudah menerima vaksin TBC.

     

  4. Antibiotik yang tidak tepat membuat gejala TBC  dan penyakit TBC lebih sulit ditangani

    TBC biasanya bisa diobati dan bisa disembuhkan. TBC umumnya dapat ditangani dengan obat antimikroba selama 6 bulan. Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit bisa menyebar.

    TBC juga berpotensi menyebabkan resistensi obat. Penderita TBC yang mengalami resistensi obat biasanya membutuhkan penanganan lebih lama (lebih dari 20 bulan) dan biaya pengobatannya lebih mahal. Diperkirakan 9 persen penderita TBC mengalami resistensi obat yang ekstensif.

     

  5. TBC salah satu penyakit paling tua

    TBC merupakan salah satu penyakit yang sudah muncul sejak lama sepanjang sejarah manusia. Pada mumi Mesir terlihat jelas bukti kalau penyakit ini sudah ada sejak 6,000 tahun lalu, meski ilmuwan meyakini usia penyakit ini lebih tua dari ini.

    Analisa genetik dari mikrobakteri menunjukkan M. tuberculosis berasal dari nenek moyang Afrika sekitar 15,000 sampai 20,000 tahun lalu. Bahkan ada yang meyakini kalau TBC sudah ada sejak ri 70,000 tahun lalu.

     

  6. Sebelum ada antibiotik, sanitarium dibuat untuk menangani TBC

    Di akhir tahun 1800-an, jauh sebelum antibiotik ditemukan, terori muncul kalau pola makan yang baik, istirahat, sinar matahari, dan udara pegunungan yang segar sangat bermanfaat dalam mengontrol penyakit dan gejala TBC.

    Di tahun 1859 Herman Brehmer membuka sanitarium TBC pertama di German Alps. Negara-negara barat segera mengembangkan fasilitas sendiri meski tidak jelas apakah perawatan di sanitarium mengubah kondisi penderita jadi lebih baik atau tidak. Sanitarium bertujuan untuk mengisolasi penderita TBC dari masyarakat umum.

 

Pengobatan gejala TBC

Bila Anda mengidap TBC laten, Anda hanya perlu gunakan satu jenis obat TBC. Sedangkan, Penderita TBC aktif, khususnya bila mengalami resistensi obat, akan membutuhkan beberapa jenis obat. Pengobatan paling umum yang digunakan untuk mengatasi TBC antara lain:

  • Isoniazid
  • Rifampin (Rifadin, Rimactane)
  • Ethambutol (Myambutol)
  • Pyrazinamide

Bila Anda ternyata resisten terhadap obat TBC, gabungan antibiotik dan obat suntik biasanya digunakan selama 20 sampai 30 bulan. Tapi beberapa jenis TBC resisten terhadap obat ini.

Sejumlah obat baru digunakan sebagai tambahan penanganan bila terjadi resistensi obat, antara lain:

  • Bedaquiline
  • Linezolid

 

Efek samping obat TBC

Efek samping serius dari obat TBC jarang terjadi tapi bisa berbahaya ketika terjadi. Semua obat TBC punya racun tinggi untuk liver. Ketika minum obat ini, hubung dokter segera bila Anda mengalami hal berikut:

  • Mual atau muntah
  • Hilang selera makan
  • Kulit berwarna kuning
  • Urin gelap
  • Demam selama 3 hari atau lebih tanpa penyebab yang jelas.
(Ismawati)