7 Tanda Kanker yang Sering Diabaikan Menurut Dokter

7 Tanda Kanker yang Sering Diabaikan Menurut Dokter
7 Tanda Kanker yang Sering Diabaikan Menurut Dokter

Di tengah ritme hidup keluarga yang padat, banyak orang tua terbiasa menomorduakan tubuhnya sendiri. Bangun pagi menyiapkan anak, bekerja, mengurus rumah, lalu tidur dengan rasa lelah yang dianggap wajar. Kadang, sinyal tubuh yang terasa aneh dianggap sekadar masuk angin, kecapekan, atau efek usia. Padahal, menurut para dokter, termasuk Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, banyak kasus kanker justru terlambat terdeteksi karena kita tidak benar-benar mendengarkan tubuh sendiri.

“Banyak pasien itu sebenarnya sudah diberi tanda oleh tubuhnya, tapi keluhannya diabaikan,” ujar Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP saat acara pembukaan pameran seni bertajuk Understanding Cancer Through Art yang diadakan oleh MSD Indonesia bersama Yayasan Kanker Indonesia. Dari sinilah pentingnya mengenali tanda kanker sejak dini, agar keluarga punya kesempatan lebih besar untuk pulih.

Tanda Kanker yang Perlu Diwaspadai Sejak Awal

Berikut ini adalah tanda kanker yang menurut Prof. Aru paling sering muncul, namun juga paling sering diabaikan oleh masyarakat.

1. Muncul Benjolan yang Tidak Biasa

Benjolan sering menjadi tanda kanker pertama yang disadari, terutama di payudara, leher, ketiak, atau selangkangan. Yang perlu diwaspadai bukan hanya keberadaan benjolan, tetapi sifatnya.

Benjolan yang keras, tidak nyeri, tidak mudah digerakkan, dan cenderung membesar dari waktu ke waktu patut dicurigai. Banyak orang baru merasa perlu memeriksakan diri saat benjolan terasa sakit. Padahal, pada fase awal kanker, benjolan justru sering tidak menimbulkan rasa apa pun. Inilah yang membuat banyak kasus datang terlambat.

2. Nyeri yang Menetap di Satu Titik

Nyeri yang datang sesekali biasanya tidak berbahaya. Namun berbeda jika nyeri terasa terus-menerus di lokasi yang sama dan tidak kunjung hilang meski sudah diobati.

Prof. Aru menjelaskan bahwa nyeri seperti ini sering disalahartikan sebagai maag, pegal, atau gangguan saraf biasa. Dalam beberapa kasus, keluhan tersebut ternyata berkaitan dengan kanker lambung, kanker tulang, atau kanker organ dalam lainnya. Jika nyeri sudah diobati berulang kali tetapi tidak membaik, kondisi ini perlu ditelusuri lebih dalam.

3. Pendarahan di Waktu atau Tempat yang Tidak Lazim

Pendarahan merupakan tanda kanker yang sangat penting untuk dicatat. Contohnya adalah menstruasi yang tidak berhenti-berhenti, perdarahan di luar siklus haid, buang air besar berdarah, batuk berdarah, atau mimisan yang sering tanpa sebab jelas.

“Kalau terjadi pendarahan di tempat atau waktu yang tidak lazim, itu harus dicurigai,” ujar Prof. Aru. Pendarahan semacam ini bisa berkaitan dengan kanker serviks, kanker rahim, kanker usus, hingga kanker paru. Sayangnya, banyak orang menunggu sampai pendarahan dianggap parah sebelum mencari pertolongan.

4. Perubahan Pola Buang Air Besar

Perubahan pola buang air besar sering dianggap akibat salah makan atau stres. Padahal, kondisi ini bisa menjadi tanda kanker usus besar.

Jika sebelumnya buang air besar teratur dan konsistensinya normal, lalu tiba-tiba berubah menjadi cair, keesokan harinya keras, kemudian bergantian tanpa pola yang jelas, kondisi ini perlu diwaspadai. Menurut Prof. Aru, perubahan pola seperti ini merupakan salah satu tanda awal kanker usus yang sering muncul sebelum keluhan lain terasa lebih berat.

5. Perubahan Tahi Lalat dan Adanya Garis Hitam di Kuku

Tanda kanker kulit termasuk yang paling sering diabaikan oleh masyarakat. Banyak pasien datang terlambat karena menganggap perubahan pada tahi lalat sebagai hal sepele.

Tahi lalat yang tadinya kecil lalu membesar, menjadi lebih menonjol, bentuknya tidak simetris, atau warnanya berubah perlu segera diperiksa. Prof. Aru menjelaskan bahwa tahi lalat atau andeng-andeng berada di dalam kulit dan biasanya sedikit menonjol. Ketika ukurannya berubah, itu adalah sinyal bahaya.

Selain itu, adanya garis hitam di kuku seperti digambar pensil juga bisa menjadi tanda melanoma. Meski tidak sebanyak di negara Barat, tanda ini tetap penting dikenali karena sering tidak disadari.

6. Mudah Lemas dan Cepat Capek

Rasa lemas yang berkepanjangan sering dianggap akibat kurang tidur atau kelelahan mengurus keluarga. Padahal, kondisi ini bisa berkaitan dengan anemia yang disebabkan oleh perdarahan kronis di dalam tubuh.

Menurut Prof. Aru, kurang darah yang tidak jelas penyebabnya dapat menjadi tanda kanker, terutama kanker saluran cerna atau kanker darah. Jika rasa lelah terasa berlebihan dan tidak sebanding dengan aktivitas, kondisi ini tidak boleh dianggap wajar.

7. Penurunan Berat Badan Drastis Tanpa Diet

Berat badan yang turun signifikan tanpa perubahan pola makan atau olahraga merupakan salah satu tanda kanker yang cukup khas.

Penurunan ini terjadi karena sel kanker menggunakan energi tubuh secara berlebihan. Jika berat badan turun drastis dalam waktu singkat tanpa sebab yang jelas, kondisi ini perlu segera diperiksa. Banyak pasien baru menyadari kondisi serius setelah berat badan menurun jauh.

Kapan Tanda Kanker Harus Benar-Benar Diwaspadai

Prof. Aru membagikan satu aturan tidak resmi berdasarkan pengalamannya sebagai dokter. Jika sebuah gejala sudah diobati tiga kali namun tidak membaik, maka keluhan tersebut harus dikejar dengan pemeriksaan yang lebih intensif. “Kadang dokter juga bisa kecolongan. Sakit maag ternyata kanker lambung. Jadi kalau tiga kali diobati tidak sembuh, jangan dianggap biasa,” ujarnya.

Setelah mengenali berbagai tanda kanker dari tubuh, pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah kenapa kasus kanker justru semakin banyak, bahkan pada usia yang lebih muda. Menurut Prof Aru, jawabannya tidak berdiri pada satu faktor saja, melainkan kombinasi antara gaya hidup, lingkungan, dan kebiasaan yang berlangsung bertahun-tahun.

Ia menekankan bahwa kanker bukan penyakit yang muncul mendadak. Ada proses panjang di baliknya, dan sering kali dimulai dari hal-hal yang tampak sepele dalam kehidupan sehari-hari.

Kanker yang Paling Banyak Terjadi di Indonesia

Ketika berbicara tentang kanker yang paling banyak di Indonesia, arah pembahasannya tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan merokok. Prof. Aru menyampaikan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Indonesia saat ini berada di peringkat pertama dunia dalam jumlah perokok anak usia 9 hingga 12 tahun, bahkan lebih tinggi dibanding Rusia, Cina, Amerika, dan India.

Dengan kondisi tersebut, peningkatan kasus kanker paru menjadi sesuatu yang hampir tidak terhindarkan. Rokok masih menjadi penyebab kanker paru yang paling dominan, dan dampaknya baru terlihat puluhan tahun kemudian. Prof. Aru juga menyinggung bagaimana perjuangan Yayasan Kanker Indonesia bersama Komnas Pengendalian Tembakau sering kali menemui jalan buntu ketika berhadapan dengan kepentingan kebijakan yang lebih besar.

Selain kanker paru, tren lain yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah naiknya kasus kanker usus besar. Jika dulu kanker ini jarang masuk sepuluh besar dan identik dengan usia di atas 60 tahun, kini situasinya berubah. Kanker usus besar sudah menempati peringkat tiga, dan banyak ditemukan pada usia 40-an. Perubahan ini erat kaitannya dengan gaya hidup modern, terutama pola makan dan kebiasaan konsumsi makanan sehari-hari.

Makanan Penyebab Kanker yang Sering Tidak Disadari

Banyak orang langsung menyalahkan gorengan sebagai biang kanker. Namun Prof. Aru meluruskan bahwa yang menjadi masalah utama bukan gorengannya, melainkan minyak yang sudah rusak karena dipakai berulang kali. Minyak seperti ini menghasilkan senyawa berbahaya yang dapat memicu kanker jika dikonsumsi terus-menerus

Masalah yang lebih besar justru datang dari makanan ultra proses. Makanan jenis ini adalah makanan yang sudah diolah pabrik sedemikian rupa hingga bentuknya jauh berbeda dari bahan aslinya. Jika sebuah kemasan makanan memiliki daftar komposisi panjang dengan banyak nama kimia yang asing, kondisi ini patut diwaspadai

Prof. Aru menjelaskan bahwa bahan pengawet sering kali disamarkan dengan istilah kimia. Contoh yang paling jelas adalah daging olahan seperti sosis, kornet, dan daging asap. Daging yang diproses ini mengandung nitrat, yang di dalam tubuh dapat berubah menjadi nitrosamin, senyawa yang terbukti menyebabkan kanker. Warna merah yang membuat kornet tampak menggugah selera justru berasal dari zat tersebut.

Konsumsi jangka panjang makanan ini, terutama pada anak-anak, sangat berisiko. “Kalau sering makan sosis siap makan, ya siap-siap kanker 20 tahun lagi,” ujar Prof. Aru dengan nada serius.

Namun penting juga untuk meluruskan bahwa tidak semua makanan kaleng berbahaya. Sarden kaleng, misalnya, justru termasuk makanan yang baik karena prosesnya hanya pembekuan dari laut lalu dikalengkan dengan tambahan bumbu, tanpa pengolahan kimia berlebihan. Kandungan omega 3-nya bahkan sangat tinggi dan bermanfaat bagi kesehatan.

Kanker Payudara Tidak Hanya Terjadi pada Perempuan

Selain kanker paru dan kanker usus besar yang jumlahnya terus meningkat, kanker payudara juga menjadi masalah kesehatan serius yang tidak bisa diabaikan. Data global menunjukkan bahwa kanker payudara masih menjadi kanker dengan jumlah kasus terbanyak di dunia.

Menurut World Health Organization, setiap tahun lebih dari 2 juta kasus kanker payudara baru terdiagnosis, dan ratusan ribu di antaranya berakhir dengan kematian. Angka ini membuat kanker payudara bukan hanya isu perempuan, tapi isu keluarga.

Yang sering tidak disadari, kanker payudara tidak hanya terjadi pada perempuan. Meski jumlahnya jauh lebih kecil, laki-laki juga bisa mengidap kanker payudara dan justru sering datang dalam kondisi yang lebih berat. Data di Amerika Serikat menunjukkan bahwa dari ratusan ribu kasus kanker payudara setiap tahun, sekitar 400 kasus terjadi pada laki-laki.

Menurut Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, kanker payudara pada laki-laki cenderung lebih sulit disembuhkan dan memiliki angka kematian yang lebih cepat. Hal ini diduga berkaitan dengan faktor biologis dalam tubuh laki-laki yang membuat pengobatan tidak selalu bekerja optimal, ditambah keterlambatan diagnosis karena rendahnya kewaspadaan.

Kanker Anak, Saat Penyebabnya Bukan Gaya Hidup atau Lingkungan

Selain kanker pada orang dewasa, ada satu topik yang secara emosional jauh lebih berat untuk dibicarakan, yaitu kanker anak. Meski jumlah kasusnya tidak sebesar kanker dewasa, dampaknya sangat besar bagi keluarga. Data global menunjukkan bahwa kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit pada anak. Setiap tahunnya, ratusan ribu anak di seluruh dunia didiagnosis kanker, dan banyak di antaranya berusia di bawah lima tahun.

Yang membuat kanker anak terasa begitu tidak adil yaitu karena anak-anak belum punya riwayat gaya hidup berisiko seperti merokok, konsumsi makanan ultra proses dalam jangka panjang, atau paparan lingkungan bertahun-tahun. Karena itu, banyak orang tua bertanya apa penyebab kanker anak, termasuk apa penyebab kanker darah yang muncul di usia sangat dini.

Menurut Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, kanker pada anak sangat berbeda dengan kanker pada orang dewasa. Jenis yang paling sering ditemui adalah retinoblastoma atau kanker mata dan leukemia atau kanker darah. Penyebabnya bukan faktor lingkungan dan bukan pula kesalahan orang tua.

“Ini bukan diturunkan juga. Ini random error,” jelas Prof. Aru. Ada kelemahan sel yang sudah ada sejak awal kehidupan dan secara kebetulan berkembang menjadi kanker. Karena sifatnya acak, kanker anak hampir tidak bisa dicegah. Anak-anak ini tidak salah apa-apa, dan keluarga pun tidak bisa menyalahkan diri sendiri.

Apakah Kanker Stadium 4 Masih Bisa Sembuh?

Baik pada orang dewasa maupun anak, satu hal yang sering menjadi titik balik emosional bagi keluarga adalah saat kanker baru terdeteksi di stadium lanjut. Banyak pasien datang bukan karena tidak berobat, tetapi karena tanda-tanda awal dianggap ringan, ditahan, atau diobati berulang tanpa pemeriksaan lebih dalam. Di titik inilah, kata “stadium” mulai terdengar menakutkan.

Ketika seseorang didiagnosis kanker stadium 4, reaksi pertama yang paling sering muncul adalah rasa putus asa. Banyak keluarga langsung berpikir bahwa semuanya sudah terlambat dan harapan sudah habis. Padahal, menurut Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, cara pandang seperti ini justru bisa menjadi beban tambahan bagi pasien.

Dalam dunia medis, dokter tidak berbicara tentang kepastian hidup atau mati, melainkan tentang harapan hidup. Salah satu ukuran yang digunakan adalah five year survival rate, yaitu peluang pasien untuk bertahan hidup dalam lima tahun setelah diagnosis. Memang benar, semakin tinggi stadium kanker, angka harapan hidup cenderung semakin kecil. Namun angka ini bukan vonis individual, melainkan gambaran statistik.

Prof. Aru menekankan bahwa dokter tidak boleh mengatakan kepada pasien bahwa tidak ada harapan. Bukan karena ingin memberi harapan palsu, tetapi karena kenyataannya perjalanan penyakit kanker sangat dipengaruhi banyak faktor. Jenis kanker, kondisi tubuh pasien, respons terhadap pengobatan, hingga faktor yang belum sepenuhnya bisa dijelaskan secara medis semuanya berperan.

“Dalam sepanjang karier saya, ada pasien stadium 4 yang sembuh, dan ada juga pasien stadium 2 yang justru cepat meninggal,” ujar Prof. Aru. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kanker tidak selalu berjalan lurus sesuai teori. Selalu ada kemungkinan yang berada di luar dugaan.

Mengenali tanda kanker sejak dini adalah tentang memberi kesempatan, bukan menumbuhkan ketakutan. Kesempatan untuk mencari pertolongan lebih cepat, mendapatkan terapi yang lebih ringan, dan menjaga kualitas hidup keluarga. Tubuh selalu berusaha berbicara. Yang kita perlukan hanyalah berhenti sejenak dan mau mendengarkannya.

Follow Ibupedia Instagram