Kesehatan

Jangan Asal Mendiagnosa! Kenali Gejala Autisme Pada Si Kecil

Jangan Asal Mendiagnosa! Kenali Gejala Autisme Pada Si Kecil

Belakangan si kecil terlihat kurang fokus ketika diajak bicara? Nggak mau melakukan kontak mata pada lawan bicaranya? Atau bahkan terlalu fokus bermain roda pada mainan mobil-mobilannya? Wah, jangan-jangan ini merupakan gejala autisme!

Ibu, sebaiknya jangan buru-buru menganggap bahwa hal tersebut merupakan gejala autisme ya. Sebab menurut Menurut World Health Organization autisme atau autism spectrum disorder (ASD) memiliki tingkat keparahan yang bervariasi tiap penderita. Autisme di duga terjadi akibat beberapa faktor, yaitu kelainan genetik dan gangguan pada otak.

Berdasarkan data yang dihimpun WHO, autisme terjadi pada 1 dari 160 anak di seluruh dunia. Sedangkan di Indonesia, hingga saat ini belum ada data yang pasti mengenai jumlah penderita autisme.

Meski begitu, penting untuk mengetahui apa saja gejala autisme pada anak sedini mungkin serta bagaimana cara menangani masalah tersebut. Supaya bisa sama-sama belajar, yuk simak ulasan berikut ini.

Apa yang dimaksud dengan autisme?


Menurut Psikolog Anak, Nadia Emanuela Gideon, M.Psi dari Jakarta Child Development Center autisme adalah gangguan perkembangan otak yang memengaruhi kemampuan penderita dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Di samping itu, autisme juga menyebabkan gangguan perilaku dan membatasi minat penderitanya.

Terbatasnya kemampuan dalam berkomunikasi, membuat anak penderita autisme tidak mampu mengutarakan keinginan dan emosi yang sedang dirasakan, baik secara lisan maupun melalui bahasa tubuh. Hal ini jelas sangat mengganggu akademik, aktifitas sosialnya serta interaksi pada orang tua.

Penting bagi orang tua untuk mengumpulkan, mempelajari, dan memahami informasi terkait autisme. Sebab mendiagnosa gejala autisme pada anak harus di dampingi dengan dokter atau psikolog.

Miss Nadia mengatakan, sebaiknya jangan buru-buru memberikan ‘label’ pada anak bahwa ia menderita autisme. Diagnosa gejala autisme pada anak harus dilakukan dengan proses yang panjang dan hati-hati oleh dokter atau psikolog. Sebab, gejala autisme tidak bisa hanya dilihat dari satu masalah saja.

“Bukan untuk melabeli si anak tapi supaya orang tua lebih aware untuk berkonsultasi lebih lanjut ke dokter atau psikolog” kata Miss Nadia.

Apa saja gejala autisme pada anak?


Gejala autisme biasanya bisa dilihat saat anak lahir atau berumur 1-2 tahun. Dilansir dari Healthline, gejala autisme biasanya meliputi masalah pada komunikasi dan keterlambatan bicara. Sementara menurut Miss Nadia, gejala lain yang mungkin bisa muncul sebagai indikasi autisme diantaranya sebagai berikut:

Gejala autisme dalam hal sosial dan komunikasi

  • Sulit untuk bersosialisasi atau berinteraksi; tidak bisa melakukan kontak mata terhadap lawan bicara dan tidak fokus saat melakukan komunikasi;
  • Perilaku non verbal komunikasi atau gerakan tubuhnya kurang, ekspresinya wajahnya minim dan terlihat tidak nyaman; dan
  • Tidak bisa mempertahankan komunikasi dua arah. Sangat susah dari sangat susah sampai dengan tidak bisa memulai komunikasi sama sekali.

Gejala autisme dalam hal perilaku

  • Adanya perilaku repetitif atau berulang-ulang tanpa makna. Biasanya dalam bentuk kata kata, atau gestur yang berulang-ulang;
  • Minat mereka hanya fokus pada satu mainan saja, tidak tertarik pada hal lain;
  • Ingin selalu memiliki ritual yang sama. Misalnya maunya hanya makan dengan menu yang sama. Kalau ada perubahan pada ritual ini mereka bisa tantrum berlebihan; dan
  • Perilaku sensory, bisa menjadi lebih sensitif atau tidak menjadi sensitif sama sekali terhadap panca indra perabanya. Misalnya saat menginjak pasir atau rumput. Takut mendengar suara keras seperti blender, tidak aware pada tubuhnya ketika jatuh.  

Gejala autisme sebelum usia 1 tahun

Biasanya, terjadi perubahan pada grafik pertumbuhan. Dari yang tadinya sesuai dengan grafik tapi tiba-tiba bisa melesat turun. Namun perilaku perubahan ini lebih banyak terlihat jika di situasi sosial misalnya saat di sekolah, berkomunikasi dengan temannya dan lainnya.

Apa yang harus dilakukan oleh orang tua?


  1. Lakukan pemeriksaan ke dokter atau psikolog, dokter anak yang dipilih pun harus spesialis tumbuh kembang. Biasanya dr hasil pemeriksaan dokter akan mengevaluasi apakah anak masuk dalam gejala autisme atau hanya kurang stimulasi selama masa tumbuh kembang. Proses evaluasi ini juga cukup panjang, agar dokter atau psikolog tidak sekadar memberikan ‘label’ autisme pada anak.
  2. Orang tua haru menjadi ‘terapis khusus’ dalam membimbing anak yang menderita autisme. Hal ini penting untuk melatih keterampilan sosial, komunikasi, serta perilakunya, agar ia dapat beradaptasi dengan lebih baik terhadap lingkungan sekitarnya.
  3. Rutin berkonsultasi dengan dokter guna menemukan cara mendidik dan membimbing anak dengan autisme sesuai kebutuhannya.
  4. Pahami gerak tubuh atau isyarat dari anak dengan autisme saat ia menunjuk atau menginginkan sesuatu. Hal ini bertujuan untuk menghindari anak agar tidak tantrum.
  5. Terapkan jadwal kegiatan terstruktur untuk membantu anak beralih dari satu kegiatan ke kegiatan lain secara teratur. Sediakan juga mainan lain yang bisa membuat anak beralih dan tidak fokus pada satu mainan saja.
  6. Bersabar dan tetap ikuti anjuran dari dokter atau psikolog sangat penting dilakukan oleh orang tua agar bisa lebih menerima kondisi si kecil.

Penanganan lain gejala autisme


Hingga saat ini gejala autisme belum ada obatnya dan belum bisa disembuhkan. Namun, Ibu tak perlu khawatir sebab terdapat beberapa pilihan pengobatan atau terapi yang dapat dilakukan untuk membantu anak penderita autisme agar bisa belajar dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan mandiri.

  • Memberikan obat-obatan

    Dokter dapat memberikan obat-obatan, misalnya obat antidepresan, stimulan, atau obat antipsikotik untuk mengurangi gejala autisme, seperti hiperaktif, sulit konsentrasi, atau sering tantrum.

  • Melakukan stimulasi tumbuh kembang

    Para orang tua dengan anak yang menderita autisme harus rutin berkonsultasi dengan dokter untuk mendukung tumbuh kembang si kecil. Stimulasi tumbuh kembang ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya terapi bermain sensory play, bermain pasir, menggambar, melipat kertas atau bermain musik.

  • Melakukan terapi wicara

    Biasanya hal ini dilakukan oleh dokter ataupun psikolog anak. Tujuannya tak lain adalah agar anak dapat berinteraksi dengan sekitarnya dan melakukan berbagai kegiatan secara mandiri.

Penulis: Aprilia Ramdani
Editor: Dwi Ratih