Kesehatan Dibaca 1,296 kali

Juvenile Rheumatoid Arthritis: Penyakit Arthritis Yang Sering Terjadi Pada Anak

Share info ini yuk ke teman-teman
Ismawati
Juvenile Rheumatoid Arthritis: Penyakit Arthritis Yang Sering Terjadi Pada Anak

Bila si kecil mengalami nyeri persendian, bisa jadi ia menderita arthritis. Bentuk paling umum arthritis yang terjadi pada anak adalah juvenile rheumatoid arthritis (JRA). JRA biasanya muncul pada anak usia 6 bulan hingga 16 tahun. Bicaralah pada dokter tentang kemungkinan arthritis bila anak mengalami kaku, bengkak, dan sakit pada persendian.

Penyebab JRA

JRA adalah gangguan autoimun yang berarti tubuh salah menyerang beberapa sel dan jaringan yang sehat, kemudian memicu peradangan. Para ahli tidak mengetahui pasti kenapa tubuh bereaksi demikian, tapi diperkirakan ada kecenderungan genetik yang mengakibatkan JRA dan faktor lingkungan seperti virus yang sering memicu reaksinya.

Gejala JRA

Anak yang mengalami JRA ada yang tidak merasakan sakit. Tapi beberapa juga ada yang sering merasa kaku, kemerahan, atau bengkak pada beberapa atau banyak persendian. Gejala ini biasanya bertambah parah di pagi hari, sebelum ia mulai bergerak. Kadang organ internal juga bisa terkena. JRA bisa menyebabkan bengkak pada kelenjar getah bening, ruam, serta demam.

Beberapa anak mengalami gejala ini satu kali atau sesekali saja, sedang lainya bisa mengalami gejala kronis yang tidak bisa hilang. Kasus kronis dan parah bisa berbahaya, karena akan mengganggu perkembangan tulang dan memperlambat pertumbuhan anak. Pada kebanyakan kasus, ada kemungkinan untuk mengontrol gejala dengan obat dan terapi fisik.

Meski JRA bisa muncul di usia berapapun, beberapa diantaranya hilang ketika anak mulai besar, biasanya saat pubertas. Jenis-jenis JRA antara lain:

  1. Pauciarticular JRA

    Ini bentuk JRA yang paling umum. Terjadi pada 4 persendian atau kurang, dengan persendian ukuran besar seperti lutut. Sebanyak 20 hingga 30 persen anak dengan pauciarticular JRA mengalami peradangan di mata, yang bisa memicu kehilangan penglihatan, jadi anak dengan kondisi ini harus bertemu dokter mata secara teratur.

  2. Polyarticular JRA

    Bentuk JRA ini terjadi pada 5 persendian atau lebih, termasuk persendian kecil dan besar (tangan dan kaki serta lutut dan bahu). Polyarticular JRA terjadi pada persendian sisi mana saja. Polyarticular JRA lebih mungkin terjadi setelah masa kanak-kanak. Anak dengan Polyarticular JRA sering mengalami anemia.

  3. Oligoarthritis

    Terjadi pada lebih sedikit persendian. Gejalanya berupa sakit, kaku, dan bengkak pada persendian. Lutut dan persendian pergelangan tangan yang paling umum terkena.  Peradangan pada iris mata bisa terjadi dengan atau tanpa gejala persendian aktif. Peradangan ini bisa dideteksi dini oleh dokter mata.

  4. Enthesitis-related arthritis

    Paling umum terjadi pada kaki dan tulang belakang. Anak juga mengalami peradangan pada tulang tendon.

  5. Systemic JRA

    Juga dikenal dengan penyakit Still, siystemic JRA kurang umum terjadi dan menjadi bentuk yang paling serius. Systemic JRA bisa menyebabkan nyeri persendian dan bengkak, demam tinggi (103 derajat Fahrenheit atau lebih) dan ruam pada dada, paha atau bagian tubuh lain. Systemic JRA juga bisa menyebabkan peradangan pada liver, limpa, dan kelenjar getah bening. Anak dengan systemic JRA bisa menjadi anemia dan mengalami arthritis parah pada banyak persendian hingga masa dewasa. Systemic JRA mengancam nyawa bila menyebabkan peradangan pada pericardium (jaringan di sekitar jantung).

  6. Undifferentiated arthritis

    Arthritis ini tidak sesuai dengan kategori manapun atau cocok pada lebih dari satu kategori. Bunda, tanda pertama arthritis yang ini bisa terlihat atau hampir tidak kentara. Biasanya berupa sakit pada pergelangan tangan, jari, atau lutut. Persendian tiba-tiba bengkak dan membesar serta kaku pada leher, pinggang, atau persendian lain. Ruam tiba-tiba muncul dan hilang, terjadi pada satu area lalu di area lain. Demam tinggi yang cenderung memuncak di malam hari dan tiba-tiba hilang digolongkan sebagai gejala systemic JRA.

Bila dokter mencurigai si kecil mengalami JRA, ia akan memberi rujukan ke spesialis arthritis. Spesialis ini akan melakukan pemeriksaan fisik, bertanya tentang gejala, dan melakukan tes darah dan penyinaran sinar X. Tes laboratorium tidak mendiagnosa JRA, tapi bisa membantu mengetahui penyebab lain gejala yang dialami anak dan membantu dokter mengklasifikasi jenis JRA yang diderita anak. Anak bisa didiagnosa mengalami JRA bila ia mengalami gejala selama lebih dari 6 minggu dan tidak ada penyebab lain yang teridentifikasi.

Beberapa jenis tes yang mungkin dilakukan jika anak mengidap JRA:

  • Kultur darah, tes untuk mendeteksi bakteri yang menyebabkan infeksi di aliran darah.

  • CBC (complete blood count), tes darah untuk mengevaluasi komponen dasar sel dalam darah, termasuk sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Abnormal pada jumlah dan tampilan sel bisa digunakan untuk mendiagnosa banyak kondisi medis.

  • ANA (antinuclear antibody), tes darah untuk mendeteksi autoimun, juga bermanfaat untuk memprediksi anak mana yang mungkin mengalami sakit mata karena JRA.

  • Pemeriksaan sumsum tulang, tes yang memungkinkan dokter melihat darah di tempat terbentuknya (sumsum tulang) untuk mengetahui kondisi seperti leukemia.

  • Scan tulang, untuk mendeteksi perubahan pada tulang dan persendian guna mengevaluasi penyebab nyeri pada tulang dan persendian.

Penanganan JRA

Tujuan pengobatan JRA adalah mengurangi bengkak, meredakan sakit, membantu anak menjaga gerakan di persendiannya, dan mengatasi komplikasi. Spesialis kemungkinan meresepkan obat untuk mengatasi peradangan dan memperlambat atau mencegah kerusakan persendian.

Anak mungkin harus mencoba beberapa jenis obat berbeda sebelum menemukan yang paling efektif dengan paling sedikit efek sampingnya. Dokter juga akan menyarankan olahraga atau terapi fisik untuk membantu anak menjaga kelenturan otot dan gerakan persendian. Berenang dan olahraga lain yang tidak berat pada persendian bisa sangat bermanfaat.

Untuk peradangan dan rasa sakit dokter bisa meresepkan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs), seperti ibuprofen. Ini bisa membantu mengurangi peradangan dan rasa sakit dengan membatasi pelepasan bahan kimia berbahaya dari sel darah putih.

Dosis rendah atau tinggi mungkin dibutuhkan bergantung pada respon anak pada obat. Anak harus terus mengonsumsi obat hingga dokter memintanya berhenti. Bila NSAID tidak mengontrol peradangan persendian, dokter bisa meresepkan obat lain seperti methotrexate.

Terapi Fisik

Terapi fisik yang sesuai penting untuk mengatasi jenis arthritis manapun. Ahli terapi fisik akan menjelaskan pentingnya aktivitas tertentu dan latihan fisik yang dianjurkan yang sesuai dengan kondisi spesifik anak. Ahli terapi bisa menganjurkan latihan untuk fleksibilitas, nyeri persendian, dan latihan lain untuk membantu kekuatan dan ketahanan.

Olahraga Teratur

Ketika muncul rasa sakit, wajar bila anak hanya ingin duduk diam, tapi penting untuk melanjutkan program latihan fisik yang teratur. Otot harus dijaga tetap kuat dan sehat agar bisa mendukung dan melindungi persendian.

Di rumah dan di sekolah, anak perlu menjalani latihan kebugaran fisik yang teratur. Aktivitas seperti berjalan kaki, berenang, dan bersepeda aman dilakukan. Pastikan anak melakukan pemanasan otot melalui perenggangan sebelum berolahraga. Lakukan olahraga bersama keluarga untuk membangun antusiasme anak. Tanyakan ke dokter tentang olahraga yang harus dihindari. Beberapa jenis olahraga bisa berbahaya bagi tulang dan persendian yang lemah. Jangan lupa pastikan anak makan dengan pola makan seimbang yang menyertakan banyak kalsium untuk tulang yang sehat.

(Ismawati)