Kenapa Kanker Sering Terlambat Disadari di Dalam Keluarga?
Di banyak keluarga, ada kebiasaan yang tanpa sadar terus diulang. Kalau badan pegal, dianggap kecapekan. Kalau sering begah, dibilang salah makan. Kalau ada benjolan kecil, ditunda dulu karena tidak sakit. Keluhan-keluhan ringan ini sering dilewati begitu saja, apalagi kalau aktivitas sedang padat.
Kanker termasuk penyakit yang sering datang dengan cara seperti ini. Kanker tidak selalu terasa di awal dan tidak selalu langsung mengganggu rutinitas. Gejalanya bisa samar, muncul sebentar lalu hilang, atau terasa “tidak penting”. Karena itulah banyak orang baru memeriksakan diri saat keluhan sudah berat, atau ketika kondisinya sudah memasuki stadium lanjut.
Padahal, kanker bukan penyakit yang muncul tiba-tiba. Prosesnya berjalan perlahan, bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Saat sinyal pertama muncul lalu dibiarkan, kesempatan untuk menemukan kanker di tahap dini ikut terlewat.
Yang sering luput disadari, ketika kanker akhirnya terdiagnosis, dampaknya tidak berhenti pada satu orang. Ritme keluarga berubah, emosi ikut terkuras, waktu, tenaga, dan biaya tersedot. Itulah sebabnya pemeriksaan dini bukan sekadar urusan individu, tapi bagian dari upaya melindungi seluruh keluarga.
Kanker Bukan Penyakit Langka dan Bisa Terjadi Pada Siapa Saja

Di Indonesia, kanker masih menjadi tantangan kesehatan yang besar. Data GLOBOCAN 2022 mencatat lebih dari 408 ribu kasus baru kanker dan hampir 243 ribu kematian dalam satu tahun. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi cerita nyata tentang keluarga yang berubah total ritmenya karena satu diagnosis.
Dalam pembukaan acara pameran seni bertajuk Understanding Cancer Through Art, Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, dr. Niken Wastu Palupi MKM, mengingatkan bahwa kasus kanker berpotensi terus meningkat bila pencegahan tidak dilakukan secara serius. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan fisik, tapi juga ekonomi dan stabilitas keluarga.
“Pasien kanker tidak bisa menghadapi perjalanan ini sendirian. Dari awal diagnosis, pengobatan, sampai menghadapi efek sampingnya, dukungan keluarga sangat dibutuhkan,” ujarnya. Ia juga menyinggung pentingnya penguatan skrining dan deteksi dini, termasuk pemeriksaan HPV DNA untuk kanker serviks. Di sini kita jadi sadar, pencegahan dan deteksi dini tidak berhenti di kebijakan atau kampanye kesehatan. Keputusan terpenting justru terjadi di rumah, lewat pilihan sederhana seperti, mau periksa sekarang atau menunggu sampai keluhan terasa berat.
Gaya Hidup dan Lingkungan Bisa Mempengaruhi Risiko Kanker

Pertanyaan yang sering muncul di sekitar kita adalah, “Kok sekarang kanker makin banyak dialami orang-orang terdekat kita ya.” Jawabannya memang tidak sesederhana merujuk pada satu penyebab, tapi memang ada benang merah yang kuat, yaitu perubahan cara hidup.
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo SpPD-KHOM FINASIM FACP, menjelaskan bahwa sekitar 90 persen faktor risiko kanker dipengaruhi oleh lingkungan dan gaya hidup. Ia menyoroti perubahan pola makan dan paparan produk industri yang makin sulit dihindari. “Sekarang kita dikepung oleh produk industri yang sulit dihindari. Bukan hanya rokok dan alkohol, tapi juga makanan ultra proses,” jelasnya.
Yang membuat topik ini terasa menohok adalah karena dampak dari perubahan gaya hidup ini tidak instan. Prof. Aru menegaskan bahwa kanker berkembang dalam waktu panjang. Tumor bisa membutuhkan 5 sampai 20 tahun untuk terbentuk. Bahkan, benjolan yang terasa “baru” hari ini, bisa jadi proses awalnya sudah dimulai puluhan tahun lalu.
Kanker usus besar menjadi salah satu contoh kanker yang sangat dipengaruhi pola makan. Di negara maju, kasus kanker usus besar di bawah usia 40 tahun sekitar 10 persen. Di Indonesia, angkanya disebut bisa mencapai 30 persen. Artinya, kanker bukan sekadar penyakitnya “orang tua” atau “usia lanjut”, tapi sesuatu yang makin relevan untuk keluarga muda juga.
Namun di balik semua itu, tubuh manusia sebenarnya punya pertahanan alami. “Setiap hari ada sekitar satu juta peristiwa pembelahan sel dalam tubuh. Kita tidak langsung terkena kanker karena tubuh punya sistem penjaga,” ujar Prof. Aru.
Karena itu, fokusnya bukan mencari kesempurnaan, melainkan menjaga keseimbangan tubuh. Olahraga terbukti membantu mencegah kanker. Menjaga berat badan agar tidak berlebihan juga penting. Prof. Aru merangkum semuanya dalam satu prinsip yang sederhana tapi sering dilupakan. “Apapun yang baik, kalau kebanyakan, akan jadi penyakit.”
Ia juga sempat menyinggung bahwa makanan tradisional seperti sop kaki tidak otomatis menjadi pemicu kanker karena bahan yang lebih alami dan penggunaan rempah yang tinggi. Bahkan, ia menyebut konsumsi rempah dan pola makan yang tidak berlebihan sebagai salah satu alasan beberapa wilayah, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki angka kanker yang lebih rendah.
Meski gaya hidup dan lingkungan memegang peran besar, banyak keluarga tetap menyimpan pertanyaan lain yang tak kalah mengganggu. Bagaimana jika kanker pernah ada di dalam keluarga? Apakah itu berarti risikonya pasti menurun ke anak-anak? Pertanyaan ini sering muncul bersamaan dengan rasa takut, apalagi ketika seseorang mulai lebih sadar menjaga pola hidupnya.
Apakah Kanker Bisa Diturunkan ke Anak?

Bagian ini biasanya jadi titik paling sensitif dalam keluarga. Begitu mendengar ada riwayat kanker dari orang tua, banyak yang langsung merasa was-was, bahkan sebelum benar-benar memahami risikonya.
Prof. Aru menjelaskan bahwa ada dua istilah yang perlu dibedakan. Pertama herediter, yaitu seseorang membawa gen kanker sejak dalam kandungan. Risiko ini terjadi hanya sekitar 6 sampai 8 persen.
Kedua adalah familial, yaitu kondisi ketika dalam satu keluarga terdapat kasus kanker lebih banyak, bukan karena gen diturunkan langsung, tetapi karena faktor lingkungan dan kebiasaan yang serupa. Anak dari orang tua dengan riwayat kanker memang bisa memiliki risiko lebih tinggi dibanding orang lain, namun bukan berarti pasti terkena kanker juga.
“Kalau wanita usia 45 tahun sudah harus mulai check up. Kalau ibunya punya kanker, sebaiknya pemeriksaan dilakukan lebih awal, misalnya di usia 35 tahun,” jelas Prof. Aru. Artinya, mengetahui riwayat kanker pada keluarga bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memberi pegangan. Agar keluarga bisa bergerak lebih cepat, sebelum terlambat.
Kesadaran akan risiko dan pentingnya pemeriksaan dini sering kali menjadi titik awal perjalanan yang lebih panjang. Saat seseorang mulai memeriksa diri, mencari informasi, atau menjalani pengobatan, hampir selalu ada orang lain yang ikut berjalan bersamanya. Di sinilah peran keluarga mulai terasa nyata, bukan hanya sebagai pendukung, tapi sebagai bagian dari proses yang sama beratnya
Peran Caregiver Kanker Sering Luput, Padahal Mereka Juga Berjuang

Di belakang pasien kanker, hampir selalu ada caregiver, orang yang mengantar kontrol, menemani di ruang tunggu, menenangkan saat cemas, dan tetap harus kuat di depan keluarga. Namun, sering kali, mereka jarang punya ruang untuk mengolah emosinya sendiri.
Alika Islamadina, figur publik yang juga caregiver, bercerita tentang pengalamannya mendampingi mama dan neneknya yang adalah penderita kanker. Ia menjelaskan bahwa di keluarganya, riwayat kanker muncul dari dua sisi. “Di keluargaku, kanker itu ada di kedua sisi. Dari mama dan papa juga ada beberapa cancer survivor,” ceritanya.
Alika menyebut bahwa yang lebih dulu mengalami kanker adalah neneknya, sudah sejak 1999, lalu kembali lagi pada 2019. Sementara mamanya didiagnosis saat ia masih kuliah, sekitar 2013 atau 2014. Jadi pengalaman sebagai caregiver pertama kali ia jalani bersama mamanya, baru kemudian mendampingi neneknya.
Yang menarik, ketika mendengar kabar itu, Alika mengatakan hal pertama yang harus ia lakukan bukan memikirkan teknis pengobatan, melainkan menata dirinya sendiri. “Pertama kali, yang aku pikirin itu gimana cara aku regulasi emosiku sendiri menerima berita ini,” katanya. “Pikiran pertama langsung kayak, apakah aku akan kehilangan mamaku.”
Setelah fase shock itu, barulah ia mulai memikirkan bagaimana caranya bisa hadir untuk orang yang ia sayang. Apakah mamanya butuh ruang, butuh ditemani, atau butuh dukungan dengan cara tertentu.
Alika juga mengaku bahwa rasa khawatir soal keturunan tetap ada, apalagi setelah ia memiliki anak. Ia menyebut papanya sering mengingatkan soal risiko keluarga, dan itu membuatnya lebih serius membangun gaya hidup sehat. “Aku benar-benar memulai healthy lifestyle. Mengurangi ultra processed food, terutama untuk anakku dan untuk aku juga. Memperbaiki tidur dan olahraga,” ungkapnya.
Ia juga bercerita bahwa salah satu caranya menjaga ketenangan adalah dengan mencari informasi yang benar. “Aku lakukan riset untuk ketenangan diri sendiri. Karena kadang mendengar penyakit yang menyeramkan itu bikin kita tenggelam dalam ketakutan,” ujarnya.
Cerita ini terasa dekat, karena banyak keluarga juga begitu. Ketika kanker masuk ke rumah, yang diuji bukan cuma fisik pasien, tapi juga ketahanan mental orang-orang yang mendampingi.
Saat Edukasi dan Empati Bertemu Dalam Satu Ruang

Untuk membantu masyarakat memahami kanker dari sisi yang lebih manusiawi, MSD Indonesia bersama Yayasan Kanker Indonesia menghadirkan pameran seni bertajuk Understanding Cancer Through Art pada 4 sampai 8 Februari 2026 di MGP Space, SCBD Park. Acara ini digelar dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia.
Pameran ini merupakan bagian dari kampanye #NgobrolinKanker dengan tema United by Unique, No One Should Face Cancer Alone. Karya yang ditampilkan berjumlah lebih dari 64, dan dalam sesi talkshow disebut juga mencapai lebih dari 70 karya. Medium-nya beragam, mulai dari lukisan, tulisan, sampai fotografi, dibuat oleh penyintas kanker, caregiver, keluarga, komunitas, dan orang-orang yang punya atensi pada isu kanker
External Affairs Director MSD Indonesia, Dudit Triyanto, menekankan besarnya tantangan kanker di Indonesia, termasuk angka sekitar 650 orang yang meninggal karena kanker setiap harinya. “Perjalanan setiap pasien kanker itu unik. Melalui karya seni, harapan dan perjuangan mereka bisa tersampaikan, dan kita semua diajak untuk peduli,” ujarnya.
Pameran ini dibagi ke dalam empat zona yang menggambarkan perjalanan batin penyintas dan caregiver. Zona pertama menggambarkan titik awal perjuangan saat seseorang menerima diagnosis dan berusaha menemukan harapan. Zona kedua menyoroti proses berbicara dan saling mendengar, ketika cerita mulai dibagikan dan beban tidak lagi dipikul sendirian. Zona ketiga menggambarkan perubahan perspektif, saat penerimaan tumbuh dan kekuatan batin terbentuk perlahan. Zona terakhir menegaskan perjuangan kolektif, bahwa dukungan dan solidaritas menjadi bagian penting dalam perjalanan melawan kanker.
Selain pameran, rangkaian kegiatan ini juga diisi talk show edukatif dan seminar kesehatan “Ngobrolin Kanker” yang membahas kanker paru, kanker payudara, kanker pencernaan, kanker serviks, serta mitos dan fakta seputar kanker.
Lewat pameran ini, kita diajak melihat kanker dari sisi yang jarang terlihat. Bukan sebagai penyakit semata, tapi sebagai perjalanan yang dijalani setiap orang dengan caranya masing-masing. Setiap karya membawa cerita yang berbeda, tentang takut, bertahan, dan harapan. Dari sana, empati tumbuh, sekaligus menjadi pengingat bahwa kanker bukan sekadar diagnosis, tapi pengalaman manusia yang kompleks.