Kulit Bayi Merah dan Gatal? Bisa Jadi Dermatitis Atopik pada Bayi

Kulit Bayi Merah dan Gatal? Bisa Jadi Dermatitis Atopik pada Bayi
Kulit Bayi Merah dan Gatal? Bisa Jadi Dermatitis Atopik pada Bayi

Apakah si kecil memiliki kulit yang kering dan merah di area tertentu? Atau mungkin pipi yang biasanya lembut mulai terasa kasar, bagian lipatan tangan terlihat kemerahan, lalu malam harinya ia jadi lebih sering terbangun sambil menggosok-gosok wajah atau tubuhnya? Sebagai orang tua, situasi seperti ini pasti bikin khawatir. Banyak dari kita langsung dipenuhi pertanyaan, apakah ini cuma kulit sensitif biasa? Salah sabun? Reaksi alergi? Atau justru tanda kondisi tertentu yang butuh perhatian lebih?

Kalau Ibu pernah mengalami hal ini, tenang, Ibu tidak sendirian. Keluhan kulit merah dan gatal pada bayi termasuk salah satu masalah yang paling sering membuat orang tua bingung, terutama karena gejalanya sering terlihat mirip dengan iritasi kulit biasa. Padahal, dalam beberapa kasus, kondisi ini bisa mengarah pada dermatitis atopik pada bayi, atau yang lebih familiar dikenal sebagai eksim pada bayi.

Menurut data American Academy of Dermatology, sekitar 1 dari 5 anak mengalami dermatitis atopik, angka ini menunjukkan bahwa kondisi ini sebenarnya cukup umum terjadi. Meskipun umum terjadi, kondisi ini tidak berarti boleh dianggap sepele. Sebab dermatitis atopik bukan hanya menyangkut soal kulit yang kering atau merah, tapi juga merupakan kondisi kronis yang bisa memengaruhi kenyamanan anak, kualitas tidurnya, bahkan dinamika seluruh keluarga di rumah.

Apa Itu Dermatitis Atopik pada Bayi?

Sebagian dari kita mungkin mengira eksim hanyalah “kulit sensitif pada bayi”. Padahal, secara medis, dermatitis atopik adalah kondisi peradangan kulit kronis yang terjadi karena gangguan pada lapisan pelindung kulit atau skin barrier. Saat skin barrier ini tidak bekerja optimal, kelembapan alami kulit jadi lebih mudah menguap, sementara iritan, alergen, dan mikroorganisme dari luar lebih gampang masuk. Hasilnya, kulit menjadi sangat kering, meradang, terasa gatal, dan mudah kambuh.

“Banyak orang tua mengira dermatitis atopik hanyalah kulit kering biasa. Padahal pada kondisi ini terjadi gangguan skin barrier dan inflamasi yang membuat kulit terasa sangat tidak nyaman, terutama bagi anak yang belum bisa mengungkapkan apa yang mereka rasakan,” jelas dr. FX Clinton, Sp.DVE dalam peluncuran kampanye “Together for Atopic Skin” oleh Mustela di Jakarta.

Ini yang membuat dermatitis atopik terasa menantang, terutama pada bayi. Mereka belum bisa bilang “Mama, kulitku gatal,” atau menjelaskan bagian kulitnya yang mana yang terasa perih. Yang terlihat justru rewel, susah tidur, lebih clingy dari biasanya, atau terus menggosok tubuhnya ke bantal dan kasur.

Sebenarnya ada beberapa gejala dermatitis atopik pada bayi, meliputi:

- Kulit yang sangat kering

- Ruam merah pada bayi

- Rasa gatal yang membuat si kecil gelisah

- Kulit yang tampak menebal di area tertentu bila sering digaruk

- Anak mengalami gangguan tidur.

Pada bayi, area yang sering terdampak biasanya pipi, dahi, kulit kepala, leher, siku, lutut, dan area lipatan tubuh.

Apa yang Menyebabkan Dermatitis Atopik Pada Bayi?

Penyebab dermatitis atopik pada bayi bukan satu faktor tunggal. Dermatitis atopik biasanya muncul karena kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan. Bayi yang memiliki riwayat keluarga dengan asma, alergi, atau eksim cenderung punya risiko lebih tinggi. Selain itu, pemicu dari lingkungan seperti udara panas, keringat berlebih, deterjen tertentu, produk berpewangi, hingga bahan pakaian yang kasar juga bisa memperburuk kondisi kulit.

Ada juga aspek yang kini makin banyak dibahas dalam dunia dermatologi, yaitu mikrobiom kulit. Kulit kita sebenarnya dihuni oleh komunitas mikroorganisme baik yang membantu menjaga keseimbangan alami. Pada kulit atopik, keseimbangan ini terganggu, sehingga bakteri tertentu seperti Staphylococcus aureus bisa mendominasi dan memicu peradangan lebih lanjut. Ini juga menjadi salah satu poin edukasi yang diangkat dalam kampanye Mustela tentang kulit atopik.

Yang sering terlupakan, dampak dermatitis atopik bukan hanya dirasakan anak. “Ketika dermatitis atopik tidak dikenali dan ditangani dengan tepat, dampaknya bisa meluas pada kualitas tidur anak, mood, bonding dengan orang tua, hingga aktivitas sehari-hari keluarga,” jelas dr. Kartika Eda, Sp.A. di acara yang sama.

Pasti banyak dari kita bisa relate dengan ini karena ketika anak tidak nyaman sepanjang malam, orang tua pun ikut lelah, emosinya terkuras, dan rutinitas rumah jadi ikut berubah.

Eksim Bayi Apakah Bisa Sembuh?

Ini mungkin salah satu pertanyaan yang paling sering dicari Ibu di Google. Eksim bayi apakah bisa sembuh Jawaban singkatnya, dermatitis atopik adalah kondisi kronis yang cenderung kambuh-kambuhan. Tapi kabar baiknya, gejalanya sangat bisa dikelola dengan perawatan yang tepat dan konsisten.

Artinya, kita tidak bisa fokus untuk mencari “obat instan” yang membuat kondisi langsung hilang total dalam satu malam, tapi kita bisa membangun rutinitas perawatan yang membantu memperkuat skin barrier, menjaga kelembapan kulit, dan meminimalkan flare-up.

Cara Mengatasi Eksim Pada Bayi yang Direkomendasikan Ahli

Jika Ibu sedang mencari cara mengatasi eksim pada bayi, pendekatannya biasanya tidak cukup hanya dari satu sisi. Perawatan kulit atopik perlu dilakukan secara konsisten dan menyeluruh.

1. Mandi dengan cara yang tepat

Salah satu langkah paling dasar, tapi penting adalah cara mandi. Menurut American Academy of Pediatrics, bayi dengan dermatitis atopik sebaiknya mandi menggunakan air suam-suam kuku, bukan air panas, dengan durasi singkat sekitar 5 sampai 10 menit.

Mandi terlalu lama justru bisa membuat kelembapan alami kulit semakin hilang. Selain itu, penting juga untuk memilih sabun untuk bayi kulit atopik yang formulanya lembut, tidak mengandung bahan yang terlalu keras, dan tidak membuat kulit terasa makin ketarik.

2. Langsung pakai pelembap setelah mandi

Langkah berikutnya yang tidak kalah penting adalah pelembap. Bahkan, dalam panduan American Academy of Dermatology, moisturizer disebut sebagai salah satu fondasi utama untuk mengatasi dermatitis atopik.

Jadi kalau Ibu sedang mencari pelembap untuk kulit atopik bayi atau lotion untuk eksim bayi, fokus utamanya adalah produk yang mampu membantu menjaga kelembapan kulit sekaligus mendukung perbaikan skin barrier.

Yang sering terjadi, banyak orang tua baru mulai rajin memakai pelembap saat kondisi dermatitis atopik pada bayi sedang kambuh. Padahal justru konsistensi pemakaian pelembab di masa “tenang” itulah yang penting.

“Perawatan dermatitis atopik perlu dilakukan secara konsisten, bukan hanya saat kondisi sedang kambuh. Skin barrier pada kulit atopik lebih rentan. Karena itu, penting memilih produk yang memang dirancang khusus untuk kulit atopik,” jelas dr. Fihzan Ginting, M.Ked(Ped), Sp.A.

3. Hindari pemicu eksim

Selain skincare, Ibu juga perlu mengenali pemicu eksim dalam kehidupan sehari-hari yang mungkin terlihat sepele. Misalnya pakaian yang terlalu tebal hingga membuat anak berkeringat, deterjen dengan parfum menyengat, produk skincare dewasa yang dipakai bergantian, atau suhu ruangan yang terlalu panas. Sering kali, dermatitis atopik pada bayi bukan dipicu oleh satu hal saja, melainkan akumulasi kebiasaan-kebiasaan yang tidak disadari terus memperburuk kondisi kulit.

Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Saat Memilih Skincare Untuk Kulit Atopik Bayi

Karena kulit atopik punya kebutuhan yang berbeda, memilih produk skincare sebaiknya juga tidak asal. Produk yang digunakan idealnya memang diformulasikan khusus untuk kondisi kulit seperti ini, dengan bahan yang lembut dan fokus pada pemulihan skin barrier.

Di sinilah rangkaian seperti Mustela Stelatopia bisa Ibu coba. Mustela sendiri sudah cukup dikenal di kalangan orang tua sebagai produk perawatan kulit bayi dan anak. Melalui lini Stelatopia, mereka menghadirkan rangkaian yang memang dirancang untuk kulit atopik.

Alih-alih hanya fokus pada satu produk, lini perawatannya dibuat lebih menyeluruh. Untuk tahap membersihkan, tersedia pilihan seperti Cleansing Oil, Cleansing Gel, hingga Foam Shampoo yang dirancang untuk membersihkan tanpa membuat kulit terasa makin kering. Lalu untuk tahap hidrasi, ada Stelatopia+ Emollient Cream dalam beberapa ukuran, serta Emollient Face Cream & Eyelids untuk area wajah yang lebih sensitif.

Formulasinya juga dibuat dengan mempertimbangkan kebutuhan kulit atopik yang memang berbeda dari kulit biasa. Mustela mengombinasikan Avocado Perseose dari alpukat organik dan Sunflower Oil Distillate bersertifikat organik, lalu pada inovasi terbarunya menambahkan Prebiotic Bioecolia untuk membantu menjaga keseimbangan mikrobiom kulit, serta Triple Lipid Complex untuk mendukung kebutuhan lipid esensial pada skin barrier.

Di balik formulasi ini, Mustela juga melakukan riset jangka panjang selama 10 tahun melalui studi bernama E.V.E.I.L.S (Evaluation of Early Infant Life: The Skin), yang mempelajari berbagai karakteristik kulit bayi dan kebutuhan spesifik tiap jenis kulitnya. Dari studi ini, Mustela mengembangkan kombinasi bahan yang ditujukan untuk membantu menguatkan, menenangkan, melindungi, sekaligus menjaga kelembapan kulit atopik.

Yang cukup melegakan bagi banyak keluarga, rangkaian ini tidak hanya untuk bayi. Karena dermatitis atopik sering punya faktor genetik, bukan tidak mungkin orang tuanya juga punya kondisi kulit serupa. “Banyak yang mengira produk Mustela hanya untuk bayi. Padahal, rangkaian Stelatopia dapat digunakan oleh orang dewasa yang memiliki masalah kulit eksim,” ujar Reisa Broto Asmoro.

Mustela Hadir Lewat Kampanye Together For Atopic Skin

Saat menghadapi kondisi seperti dermatitis atopik, tantangan orang tua sering kali bukan hanya soal merawat kulit anak, tapi juga memilah informasi. Seperti yang kita tahu, kita bisa dengan sangat mudah menemukan banyak saran di internet, mulai dari yang masuk akal sampai yang bikin makin bingung.

Melihat kebutuhan ini, Mustela meluncurkan kampanye Together for Atopic Skin, sebuah inisiatif edukasi yang bertujuan membantu keluarga Indonesia mengenali tanda dermatitis atopik lebih dini, memahami pentingnya menjaga skin barrier, dan mendapatkan informasi yang lebih terpercaya.

“Selama lebih dari 75 tahun, Mustela memahami bahwa kulit bayi dan anak memiliki kebutuhan yang unik. Kami percaya bahwa merawat kulit atopik bukan hanya tentang meredakan gejala, tetapi juga tentang mendampingi keluarga melewati perjalanan ini dengan lebih nyaman,” ujar Indira Natalia, Brand Manager Mustela.

Sebagai bagian dari kampanye ini, Mustela juga menghadirkan Mustela Medical Advisory Board, yang terdiri dari para ahli di bidang kesehatan anak dan kulit, yaitu dr. Dia Febrina, Sp.DVE, FINSDV, dr. FX Clinton, Sp.DVE, dr. Kartika Eda, Sp.A, serta dr. Fihzan Ginting, M.Ked(Ped), Sp.A. Kehadiran panel ini menjadi bagian dari upaya Mustela untuk menghadirkan edukasi yang tetap berbasis medis, tapi mudah dipahami dan terasa relevan untuk keluarga Indonesia.

Lewat kampanye ini, Mustela juga ingin membuka ruang komunikasi dua arah bagi para orang tua melalui kanal digital mereka, agar keluarga bisa mencari informasi, bertanya, dan tidak merasa sendirian dalam perjalanan merawat kulit atopik anak.

Buat banyak orang tua, masalah kulit atopik ini bukan sekadar teori medis, tapi sesuatu yang dampaknya benar-benar dialami di rumah. Mulai dari anak yang rewel semalaman sampai rasa bingung harus mulai mengatasinya dari mana. “Sebagai orang tua, kita sering merasa sedih melihat anak terus merasa tidak nyaman. Yang paling menenangkan adalah ketika kita akhirnya memahami kondisi anak dan tahu bagaimana merawatnya dengan tepat,” kata Reisa Broto Asmoro.

Saat anak mengalami dermatitis atopik, yang sering bikin kita paling capek justru rasa bingungnya. Kebingungan apakah kondisi si kecil normal atau tidak, bingung harus ganti produk apa, bingung perlu ke dokter atau tidak, dan kekhawatiran lainnya. Begitu sudah paham apa yang sedang terjadi pada si kecil, biasanya langkah yang diambil orang tua juga lebih tepat.

Jadi, kalau si kecil menunjukkan tanda-tanda seperti kulit kering dan merah, sering gelisah karena gatal, atau tampak tidak nyaman terus-menerus, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Mulailah dengan observasi, bangun rutinitas perawatan kulit bayi yang konsisten, dan jangan ragu mencari bantuan profesional bila diperlukan. Karena buat banyak orang tua, melihat si kecil akhirnya bisa tidur lebih nyenyak tanpa terus merasa gatal itu rasanya sudah melegakan banget.

Follow Ibupedia Instagram