Kesehatan

Lakukan Ini Saat Gigi Anak Rusak Karena Cedera

Lakukan Ini Saat Gigi Anak Rusak Karena Cedera
Ketika bayi mulai mencoba berdiri dan berpegangan pada perabot di rumah atau belajar berjalan, ia bisa saja terjatuh dan mencederai wajahnya, termasuk giginya. Bunda, pastikan ia tidak terluka pada bagian wajah atau kepala yang membutuhkan penanganan darurat. Bila gusinya berdarah, beri tekanan dengan lap basah selama beberapa menit atau hingga pendarahan berhenti. Jus beku bisa mengurangi bengkak dan membuat anak teralihkan dari rasa sakit. Hubungi dokter bila ada yang terlihat tidak wajar pada gusi atau gigi bayi, atau bila Anda melihat ada tanda infeksi, seperti demam atau bengkak.

 

Bila gigi dan gusi bayi terlihat baik dan anak tidak merasakan sakit, pemeriksaan gigi tidak perlu dilakukan. Jika giginya retak dan bayi terlihat kesakitan, Anda perlu segera membawanya ke dokter gigi. Juga periksakan ke dokter bila giginya goyang tapi belum tanggal. Dokter bisa memutuskan untuk mencabut gigi agar bayi tidak tersedak ketika gigi tanggal dengan sendirinya. Juga periksakan ke dokter gigi bila ada gigi yang tidak berada sesuai di tempatnya. Jika gigi pecah tapi tidak terlihat menggangu bayi, jadwalkan janji dengan dokter untuk mengevaluasi apakah ada retakan di bagian bawah atau kerusakan lain yang tak terlihat.

 

Gigi bayi memiliki peran penting karena membantu anak makan dan belajar berbicara juga karena jadi tempat untuk gigi permanen untuk bisa tumbuh dengan baik. Tapi, bila gigi bayi terlepas, ini biasanya tidak jadi masalah karena gigi permanen akan perlahan tumbuh di tempatnya. Temui dokter gigi untuk berjaga-jaga dan memastikan tidak ada masalah gigi yang rusak dan gigi permanen punya area yang cukup untuk tumbuh dengan baik.

 

Banyak orangtua bertanya-tanya apakah anak perlu mendapat bantuan medis setelah mengalami cedera gigi atau mulut. Anak dengan gejala berikut harus dievaluasi oleh dokter. Bergantung kondisi tertentu, ini bisa dilakukan lewat telepon, di tempat praktek atau bagian darurat di rumah sakit:

 

  • Bila muncul rasa sakit atau sensitif pada panas atau dingin, atau tekanan di gigi.
  •  
  • Bila ada gigi yang pecah, longgar, atau hilang setelah cedera terjadi (gigi kemungkinan tertelan oleh anak).
  •  
  • Bila ada pendarahan yang tidak berhenti setelah pemberian tekanan selama 10 menit.
  •  
  • Bila muncul rasa sakit di rahang ketika membuka atau menutup mulut.
  •  
  • Bila ada kesulitan menelan atau bernafas.
  •  
  • Bila ada benda tersangkut di atap mulut, pipi, lidah, atau tenggorokan (jangan keluarkan benda).
  •  
  • Bila ada goresan lebar di dalam mulut atau pada wajah.
  •  
  • Bila ada goresan di pipi yang melebar hingga kulit sekitarnya.
  •  
  • Bila anak lemah, kebas, atau penglihatannya kabur .
  •  
  • Bila orangtua cemas dengan kondisi anak.
  •  
  • Bila anak mengalami demam dengan suhu lebih dari 38 derajat Celsius atau muncul tanda infeksi setelah cedera mulut atau gigi, misalnya warna kemerahan, nanah, atau peningkatkan rasa sakit. Tanda infeksi yang lebih serius bisa berupa nyeri leher atau kaku, tidak mampu membuka lebar mulut, berliur, atau nyeri pada dada.

 

Orangtua perlu menjelaskan pada dokter bagaimana cedera terjadi. Selama pemeriksaan fisik, dokter akan memeriksa mulut, tenggorokan, leher, kepala, dan tubuh anak. Bergantung cederanya, beberapa anak akan membutuhkan tes dengan sinar X, CT scan, atau MRI. Tes ini bisa membantu menentukan apakah ada retakan di tulang, kerusakan pada akar gigi, kerusakan pada pembuluh darah, atau apakah anak menelan benda asing.

 

Penanganan cedera gigi pada anak

Penanganan untuk cedera gigi bergantung pada jenis cedera dan apakah gigi yang cedera adalah gigi susu (gigi primer) atau gigi permanen. Orangtua sering merasa cemas ketika gigi permanen mengalami cedera. Gigi permanen biasanya belum tumbuh sebelum usia anak 6 hingga 7 tahun. Gigi susu terlihat berbeda dari gigi permanen.

 

Gigi primer yang mulai goyang

Cedera paling umum pada gigi primer adalah dislokasi gigi depan. Penanganan cedera ini fokus pada pencegahan kerusakan mendatang pada gigi permanen. Gigi primer yang goyang karena suatu kecelakaan bisa dibiarkan di tempatnya. Pada kebanyakan kasus, gigi yang goyang ini akan sembuh tanpa penanganan. Gigi cedera yang sangat goyang perlu dicabut bila ada kemungkinan dengan mudah terlepas atau karena anak bisa tersedak.

 

Bila gigi primer sepenuhnya terlepas, tidak boleh ditempatkan kembali ke gusi karena resiko kerusakan pada gigi permanen akan terjadi. Gigi primer yang tanggal dini biasanya tidak mempengaruhi bicara anak atau posisi gigi permanen.

 

Gigi primer yang pecah

Anak dengan gigi yang pecah harus dibawa ke dokter. Dokter akan memeriksa apakah saraf gigi atau pembuluh darah rusak. Penanganan bisa berupa menghaluskan pinggir gigi yang kasar, memperbaiki material resin gigi, atau mencabutnya.

 

Dislokasi gigi permanen

Gigi permanen yang tercabut adalah kondisi darurat yang membutuhkan penanganan semestinya. Gigi harus ditempatkan kembali ke kantong gigi sesegera mungkin, idealnya dalam 15 menit hingga satu jam, atau lebih lama bila gigi disimpan di susu yang dingin. Setidaknya 85 persen gigi yang diletakkan kembali di kantong gigi dalam 5 menit bisa bertahan dibanding gigi yang disimpan pada kondisi kering dan ditanam kembali setelah satu jam.

 

Karena pentingnya menangani gigi dengan cepat, anak, orangtua, atau orang dewasa lain bisa mencoba menanamkan kembali gigi. Langkah yang direkomendasikan:
  • Pegang gigi dengan hati-hati pada bagian atas.
  •  
  • Bersihkan serpihan dengan membilas gigi dengan air keran, gigi tidak boleh digosok atau disterilkan.
  •  
  • Tempatkan gigi dengan tangan kembali ke kantung gigi.
  •  
  • Biarkan gigi tetap berada di tempatnya dengan meminta anak menggigit handuk yang bersih.
  •  
  • Anak harus ke dokter gigi untuk penanganan sesegera mungkin.

 

Bila tidak memungkinkan untuk menempatkan kembali gigi pada gusi, gigi harus disimpan di wadah berisi susu dingin. Bila susu dingin tidak ada, maka tempatkan gigi di wadah berisi air liur anak. Jangan simpan gigi di air karena ini akan mengurangi kemungkinan berhasilnya penanaman kembali gigi. Anak harus segera ke dokter untuk memasang gigi kembali. Kemungkinan gigi bisa dipasang lagi akan berkurang bila semakin lama gigi berada di luar mulut.

 

Gigi permanen yang patah

Gigi permanen yang patah biasanya bisa diperbaiki. Untuk hasil terbaik, anak harus ke dokter gigi untuk penangann dalam dua hari sejak terjadi cedera. Gigi yang patah dan sensitif pada dingin atau panas perlu segera ditangani. Fragmen gigi harus disimpan dalam air keran karena kadang bisa ditempel kembali. Bila fragmen gigi tidak bisa ditemukan atau tidak bisa ditempel lagi, gigi bisa diperbaiki dengan meterial yang disebut resin komposit yang bisa sama warnanya dengan gigi alami.

 

Bunda, Anda memang tidak bisa sepenuhnya mencegah cedera, tapi Anda bisa mengamankan rumah agar jumlah dan tingkat keparahan jatuhnya anak bisa dikurangi, misalnya dengan menempatkan bayi dengan tepat di car seat-nya. Juga coba ajarkan anak tidak berjalan atau berlari saat ada benda keras seperti permen atau sikat gigi di mulutnya.

(Ismawati)