Kesehatan Dibaca 56 kali

Pentingnya Menjelaskan Tayangan Kekerasan pada Anak

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 18 Desember, 2018 00:12

Pentingnya Menjelaskan Tayangan Kekerasan pada Anak
Tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak sulit dijauhkan dari media elektronik terutama televisi. Setiap hari, si kecil dibombardir oleh berbagai macam acara yang sebetulnya belum saatnya mereka tonton. Mulai dari acara musik yang mengumbar lagu-lagu cinta orang dewasa, sinetron laga, film-film yang mempertontonkan darah, hingga tayangan berita yang sifatnya informatif pun harus Bunda waspadai pengaruhnya terhadap anak. Banyak orang tua yang belum siap hendak menjawab apa saat ditanya "Bun, kenapa sih kok orang lempar bom?" atau "Ayah, kenapa orang itu pukul-pukulan, kan sakit?". Jika selama ini Bunda cuma sekedar menjawab bahwa mereka orang-orang jahat lantas mengganti saluran televisi, maka sudah saatnya Anda belajar untuk menjelaskan dengan lebih detail. Hal ini penting karena anak adalah imitator handal yang penuh dengan rasa penasaran. Jangan sampai si kecil meniru perilaku buruk dari tokoh-tokoh yang Ia lihat di televisi.

Nah, daripada selalu menghindar dari pertanyaan sang buah hati, lebih baik Bunda mempersiapkan diri dengan cara berikut ini;

Keep it simple

Lalu bagaimana donk jika si kecil memborbardir Anda dengan pertanyaan tentang berita kekerasan tersebut? Bunda boleh menggunakan kosa kata seperti "orang jahat" atau "itu tidak baik" untuk mendeskripsikan suatu kejadian. Namun, Bunda tidak perlu menambahkan kosa kata baru seperti tragedi, penjahat, perampok, pemerkosa, penembak dan lain-lain. Cukup berikan informasi yang ia perlukan tanpa membuatnya jauh lebih penasaran lagi.

Tetap Berlaku Seperti Biasa

Ibupedia mengerti bahwa Bunda pasti akan lebih protektif dalam menjaga keselamatan si kecil dan berupaya sebisa mungkin agar selalu berada di dekatnya. Padahal, justru hal-hal rutin dan normal yang akan membuatnya merasa aman. Jangan sampai Bunda terlalu cemas hingga membuatnya bolos sekolah. Tetap berlakulah seperti biasa sebagaimana sebelum perampokan terjadi. Lakukan upaya seperlunya saja seperti jangan biarkan si kecil memakai perhiasan atau membawa ponsel.

Bersiaplah untuk Tak Membicarakan Apapun

Yup, sekalipun anak Anda mengetahui suatu kejadian buruk, dia mungkin akan melupakan hal tersebut begitu saja. Terlebih jika Bunda bersikap tenang di depannya. Oleh karena itu, jika suatu saat Anda dan si kecil menonton tayangan yang berbau kekerasan, jangan langsung tergerak untuk menasehatinya atau menekankan bahwa hal tersebut salah. Jika anak tak bertanya, maka sebaiknya Anda diam saja. Bisa jadi, pikirannya tidak sedang tertuju ke layar Televisi.

Jauhkan Anak dari Berita

Jika anak Anda bersikap biasa saja saat pertama kali mendengar pemberitaan tentang pengeboman di Televisi, maka bisa jadi ia akan ketakutan saat mendengarnya untuk kali kedua. Pemberitaan yang terus menerus akan membuat anak berpikir bahwa suatu tragedi terjadi berulang kali. Sebaiknya Bunda matikan televisi dan jauhkan ia dari koran.

Cari tahu seberapa jauh anak memahami suatu berita

Apabila si kecil mendengar kabar soal perampokan yang terjadi di dekat rumah, maka Bunda jangan buru-buru berasumsi bahwa reaksi si kecil sama dengan Anda yakni ketakutan dan cemas menjadi korban selanjutnya. No Moms, anak Anda belum mampu berpikir abstrak. Lebih baik suruh si kecil duduk dan tanyakan padanya apa saja kabar yang Ia tahu. Dengarkan dengan seksama sebelum akhirnya menanyakan bagaimana pendapatnya tentang kasus tersebut. Cara ini tentu lebih efektif daripada sibuk menasehati anak agar jangan memakai kalung emas atau menenteng ponsel saat bepergian keluar rumah. Justru jika Anda semakin menekankan kata 'berbahaya', si kecil akan semakin cemas.

Hargai Perasaan Anak

Sebisa mungkin, Bunda menghindari perkataan, "Jangan sedih ya, jangan takut!" pada anak. Kata 'jangan' justru membatasi anak untuk mengekspresikan perasaan mereka yang sebenarnya. Lebih baik Bunda menenangkannya dengan berkata, "Bunda tahu kamu pasti cemas gara-gara perampokan kemarin. Tapi kita akan melakukan segala cara supaya kita aman. Begitu juga dengan teman-temanmu di sekolah, kita semua pasti aman, kok".

Beri Anak Rasa Aman

Di setiap akhir percakapan, jangan lupa menambahkan kalimat, "Tapi adek tidak perlu khawatir ya, kita sekeluarga aman kok," agar membuatnya merasa jauh dari hal-hal buruk yang ia lihat di televisi. Begitu pula saat ia berada di sekolah, beri si kecil rasa aman bahwa sekolahnya jauh dari orang-orang jahat.

Contoh Jawaban atas Pertanyaan-pertanyaan si kecil

"Bun, kenapa kok orang itu meninggal?"

Pertanyaan ini kerap muncul saat Anda dan si kecil sedang melihat pemberitaan tentang pengeboman atau psikopat yang membunuh teman-teman sekolahnya tanpa alasan yang jelas. Tentu susah menjelaskan konsep teroris atau psikopat pada anak, maka dari itu Bunda cukup menjawab, "Orang jahat itu sedang marah dan melukai orang". Lalu, tegaskanlah sekali lagi bahwa tragedi seperti itu sangat jarang terjadi dan keluarga Bunda pasti aman.

Dengan menjauhkan anak dari kosa kata berbau negatif seperti pemerkosa, teroris, pelacur, atau psikopat, maka Bunda akan melindungi si kecil dari hal-hal yang lebih buruk di luar sana. Menggunakan hanya kata-kata jahat, marah, dan luka akan mempertegas bahwa semua hal yang melukai orang lain itu jahat dan kejahatan hanya muncul jika seseorang itu marah. Nah, pelajaran ini harus ditanamkan sejak dini pada si kecil sehingga ia memiliki suatu konsep pemikiran bahwa menjadi pemarah itu tidak baik.

Namun apabila si kecil sudah terlanjur mengenal kosa kata buruk tersebut, maka yang perlu Bunda lakukan adalah memberinya rasa aman. Buatlah sang buah hati merasa dicintai dan dilindungi dengan mengatakan bahwa keluarga Anda akan melakukan segala cara untuk menjaga satu sama lain. Misalnya, katakan pada si kecil bahwa orang asing dilarang masuk sekolahnya, jadi ia pasti aman. Atau, jelaskan bahwa Ayah selalu mengunci pintu rumah dan pagar sehingga pencuri tidak akan bisa masuk.

"Kenapa kok Bunda nangis?"

Seringkali Anda tidak dapat menahan rasa haru saat melihat korban musibah bencana alam atau kisah wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Tanpa sadar, air mata Bunda pecah dan membuat sang buah hati ketakutan. Jawaban terbaik yang dapat Bunda berikan adalah, "Mama sedih karena orang itu disakiti".

Melingkupi anak dengan rasa aman bukan berarti membuatnya tidak sadar bahwa kejahatan dapat terjadi di mana saja. Oleh karena itu, beri dia pemahaman bahwa keluarga Anda sudah menyiapkan rencana terbaik jika suatu hal buruk terjadi. Misalnya, dengan memberinya arahan untuk berkumpul di lapangan dekat sekolahnya jika hal buruk seperti gempa bumi atau tsunami terjadi saat jam sekolah. Juga, berikan anak buku agenda yang berisi nomor telepon keluarga dan orang-orang terdekatnya sehingga Ia tahu harus menelepon kemana saat Ia ketakutan atau hilang arah. Dengan begitu, Bunda tak hanya menawarkannya jawaban yang bersifat menenangkan, namun juga jawaban solutif yang membuatnya tidak mudah khawatir lagi di kemudian hari.

(Yusrina)