Kesehatan Dibaca 1,868 kali

Penyakit Kelima (Fifth Disease), Apakah Itu?

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 17 Desember, 2018 08:12

Penyakit Kelima (Fifth Disease), Apakah Itu?
Bunda, jika anak mengalami ruam-ruam (bercak merah) pada seluruh tubuh, biasanya kita menduga anak terkena campak atau demam berdarah. Well, pada umumnya anak dengan ruam memang pada akhirnya didiagnosa dua penyakit itu, namun tahukah Anda bahwa ada sejumlah penyakit lain yang juga memiliki gejala ruam? Penyakit kelima (fifth disease) dan roseola (sixth disease/penyakit keenam) termasuk di antaranya.

Menyoal fifth disease, ini adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditandai dengan bagian pipi tiba-tiba memerah. Penyakit ini disebut juga infeksi parvovirus B19 atau eritema infektiosum atau penyakit tamparan pipi (slapped cheeks).

Terdengar seram, Bunda? Dari namanya memang iya, namun kabar baiknya adalah penyakit ini tergolong penyakit ringan di mana kebanyakan anak dapat sembuh tanpa masalah. Jadi, jangan panik berlebihan, ya, Bunda?

Fifth disease paling sering terjadi pada anak prasekolah dan anak-anak usia sekolah. Bayi dan orang dewasa jarang terkena penyakit ini, namun tidak menutup kemungkinan mereka terserang. Bayi memiliki kekebalan terhadap penyakit ini karena antibodi yang mereka peroleh dari orang tua mereka saat lahir. Di negara-negara Barat, fifth disease banyak terjadi saat musim semi tiba.

Bunda, fifth disease adalah salah satu dari sekian banyak penyakit anak-anak dengan ciri bintik-bintik merah di kulit. Penyakit lainnya adalah skarlatina (scarlet fever), campak, rubella, cacar air, dan roseola. 

Bagaimana gejala fifth disease? Sekitar seminggu sebelum ruam muncul, anak Anda mungkin akan merasa demam atau flu. Ia akan mengalami pilek, sakit tenggorokan, sakit perut, sakit kepala, dan kelelahan. Gejala lain yang jarang terjadi adalah membengkaknya kelenjar, mata merah, dan diare.

Ketika ruam muncul (biasanya beberapa hari kemudian), pipi si kecil menjadi sangat merah seperti habis ditampar. Ruam merah ini juga biasanya muncul pada bagian tubuh lain seperti tangan, lengan, paha, kaki, dan bokong.

Ruam-ruam tersebut kadang-kadang menimbulkan rasa gatal, namun pada umumnya anak-anak merasa baik-baik saja. Pada beberapa kasus –namun jarang-- ruam penyakit fifth disease tampak seperti memar dan melepuh.

Ruam-ruam ini dapat bertahan di kulit si kecil hingga beberapa bulan. Meski begitu, mayoritas anak mengalami ruam-ruam “hanya” seminggu atau 10 hari. Ruam tersebut dapat muncul kembali jika si kecil tubuhnya sangat hangat –karena sisa demam atau ketika cuaca panas-- atau saat dia sedang marah atau aktif. Ketika ruam berkurang, terkadang bentuknya menyerupai renda.

Virus penyebab fifth disease berbeda dari parvovirus yang biasanya terjadi pada anjing atau kucing. Virus penyebab penyakit kelima ini adalah virus yang menjangkiti manusia. Si kecil tidak akan tertular parvovirus B19 dari hewan, begitu pun sebaliknya, manusia yang terjangkit virus ini tidak akan menularkannya pada binatang.

Fakta melegakan lainnya adalah, tidak semua anak yang terinfeksi virus ini akan merasa sakit. Sekitar 20% anak dengan infeksi parvovirus B19 tidak mengalami gejala-gejala penyakit fifth disease sama sekali.

Apakah fifth disease menular? Ya, Bunda, tentu saja. Sama seperti virus-virus lain, virus penyebab penyakit ini ditularkan lewat ludah atau sekresi nasal. Anak Anda dapat terkena atau menularkan fifth disease hanya dengan berbagi mainan atau alat makan atau lewat batuk dan bersin.

Begitu si kecil terpapar parvovirus B19, virus ini membutuhkan waktu 4-20 hari (rata-rata 14 hari) sebelum ia merasakan sakit. Berhati-hatilah, Bunda, karena pada saat inilah buah hati Anda sedang rawan-rawannya menularkan virus tersebut.

Puncak penularan virus terjadi pada saat masa inkubasi (sebelum si kecil menunjukkan gejala-gejala fifth disease) atau seminggu sebelum ruam muncul, di mana ia menampakkan gejala seperti flu.

Berbeda dari campak atau cacar air, anak justru tidak lagi menularkan virus pada saat ruam muncul. Jadi, jika si kecil sudah playgroup atau TK, tidak masalah, kok, jika ia kembali bersekolah.

Pertanyaan selanjutnya, perlukah membawa si kecil ke dokter jika terserang parvovirus B19? Tentu saja, Bunda, karena tidak mudah mengetahui penyakit dengan ciri ruam merah seperti ini. Dengan membawanya ke dokter, kita bisa mendapatkan kejelasan apakah ruam-ruam tersebut adalah gejala fifth disease atau bukan.

Nah, setelah mengetahui dengan jelas penyakitnya, dokter kemungkinan tidak dapat berbuat banyak karena fifth disease adalah penyakit virus. Dengan begitu, seperti penyakit-penyakit virus lainnya, antibiotik tidak diperlukan.

Pada mayoritas anak, fifth disease adalah penyakit yang cukup ringan. Namun jika anak Anda memiliki riwayat anemia kronis atau sistem kekebalan tubuhnya sedang melemah, penyakit ini dapat mengakibatkan komplikasi serius. Kemudian jika si kecil mengalami demam tinggi, apalagi jika terjadi selama beberapa hari, kemungkinan infeksi lain menjadi pemicunya.

Bagaimana perawatan untuk penderita fifth disease? Tidak terlalu sulit, kok, Bunda. Anda bisa melakukan perawatan yang hampir sama seperti perawatan pada penderita flu biasa, yakni memberi cukup cairan dan memintanya beristirahat. Seperti virus lainnya, virus penyakit ini juga akan hilang dengan sendirinya.

Pada saat ruam muncul, beberapa anak akan merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Jika ia masih demam atau nyeri pada saat itu, Anda bisa menanyakan kepada dokter apakah si kecil boleh diberikan acetaminophen (paracetamol) atau ibuprofen untuk menurunkan demam dan rasa tidak nyamannya. Selalu ingat, jangan pernah memberikan aspirin pada buah hati Anda, karena hal ini akan memicu terjadinya penyakit mematikan Reye's syndrome.

Sebagai salah satu cara pencegahan terhadap fifth disease, Anda dapat  melatih kebiasaan si kecil mencuci tangannya sesering mungkin. Dapatkah si kecil mendapatkan vaksin untuk melawan penyakit ini? Tidak, Bunda. Tak ada vaksin untuk fifth disease.

Dan karena anak yang terkena parvovirus B19 sangat menular sebelum ruam muncul, sulit bagi kita memproteksi anak secara penuh dari fifth disease, apalagi jika si kecil sudah bersekolah. Kemungkinan ia tertular dari teman-teman sekolahnya cukup besar, karena sulit mendeteksi apakah flu yang dialami teman di sekolah buah hati kita adalah gejala fifth disease atau flu biasa.

Selain banyak menyerang anak-anak, parvovirus B19 juga dapat menyerang ibu hamil. Meski begitu, biasanya bayi yang bundanya terpapar fifth disease selama hamil baik-baik saja. Namun dalam beberapa kasus, terutama jika sang bunda terpapar virus ini pada trimester pertama kehamilan, si bayi dapat mengalami komplikasi serius, seperti anemia, gagal jantung, atau bahkan memicu kematian.

Karena itu, jika Anda hamil dan Anda tahu bahwa Anda memiliki kekebalan terhadap fifth disease –karena Anda pernah mengalami sebelumnya-- Anda tidak perlu khawatir. Namun jika Anda tidak yakin betul Anda pernah terpapar virus penyebab fifth disease, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter.

Nantinya, Anda akan dites apakah Anda memiliki kekebalan terhadap penyakit ini atau tidak. Dan jika Anda terjangkit, dokter akan memantau kehamilan Anda dengan sangat cermat, serta memantau bayi Anda dari kemungkinan komplikasi di kemudian hari.

(Dini)