Batuk Kering dan Berdahak Beda Penanganan, Jangan Asal Pilih Obat
Pagi hari baru bangun tidur, batuk terasa penuh dahak. Beberapa jam kemudian, dahaknya hampir nggak terasa dan batuk malah jadi kering. Jadi sebenarnya, ini batuk berdahak atau batuk kering?
Kondisi seperti ini bisa bikin kita bingung saat harus memilih obat. Apalagi di apotek, obat batuk tersedia dalam berbagai jenis dan masing-masing punya fungsi yang berbeda.
Menurut dr. Ikhsanuddin Qoth’i, General Practitioner, karakter batuk memang tidak selalu terasa sama sepanjang hari. Ia menjelaskan hal tersebut dalam acara Pencegahan Flu & Batuk di Musim Pancaroba yang digelar Haleon Indonesia dan Actifed.
Kenapa Pagi Hari Batuk Bisa Terasa Berdahak, Lalu Kering Siangnya?
Batuk kering dan batuk berdahak bisa menjadi bagian dari respons tubuh terhadap infeksi. Bahkan, sensasi batuk yang dirasakan seseorang dapat berubah tergantung kondisi tubuh dan waktu.

Dr. Ikhsan menjelaskan, saat tidur malam, proses menelan tidak seaktif ketika kita sedang terjaga. Kondisi ini dapat membuat lendir terkumpul sehingga saat bangun tidur batuk terasa lebih berdahak.
“Ketika kita tidur pada saat malam hari itu kan proses menelan tidak seoptimal pada saat kita bangun. Kemudian terjadi penumpukan lendir atau riak pada bagian pernapasan kita. Sehingga pada akhirnya bisa terjadi batuk berdahak pada saat pagi hari,” jelasnya.
Saat siang hari, kita lebih banyak beraktivitas, berbicara, dan menelan ludah. Batuk pun bisa terasa lebih kering dibandingkan saat pertama bangun tidur. Jadi, kalau pagi terasa berdahak kemudian siangnya lebih kering, tidak selalu berarti seseorang tiba-tiba mengalami dua penyakit yang berbeda.
Yang lebih penting adalah mengenali karakter batuk yang dominan dan keluhan yang menyertainya, karena ini akan berpengaruh pada pilihan penanganan.
Kenapa Obat Batuk Kering dan Berdahak Berbeda?
Perbedaan jenis batuk bukan sekadar soal ada atau tidaknya dahak. Tujuan penanganannya juga berbeda.

Dr. apt. Lucy Novianti, MM, Pharmacist, menjelaskan bahwa pada batuk berdahak, salah satu tujuan terapi adalah membantu sekret atau dahak keluar dari saluran pernapasan. “Kalau kita bicara soal obat batuk, mengapa ada varian untuk batuk berdahak dan ada juga untuk batuk kering? Karena mekanisme kerjanya memang berbeda,” paparnya.
Pada batuk berdahak, refleks batuk sebenarnya membantu tubuh mengeluarkan lendir. Masalah muncul ketika dahak terlalu kental atau sulit dikeluarkan. Karena itulah, obat yang digunakan pada batuk berdahak umumnya diarahkan untuk membantu proses pengeluaran dahak, bukan sekadar menghentikan batuknya.
Dahak Susah Keluar? Ekspektoran dan Mukolitik Punya Cara Kerja Berbeda
Obat batuk berdahak pun tidak hanya terdiri dari satu jenis. Menurut Dr. Lucy, ada obat yang bekerja sebagai ekspektoran untuk membantu mengeluarkan dahak. Ada pula mukolitik, yang digunakan untuk membantu memecah mukus atau dahak yang kental sehingga lebih mudah dikeluarkan.

Ketika dahak sangat kental dan terasa sulit keluar, kebutuhan penanganannya tentu berbeda dengan batuk berdahak yang lendirnya lebih mudah dikeluarkan.
Itulah sebabnya, saat berkonsultasi ke apotek, informasi “saya batuk berdahak” saja belum tentu cukup. “Bapak Ibu kalau datang ke apotek, ceritanya jangan cuma, ‘Saya batuk berdahak,’ tapi cerita, ‘Saya batuk berdahak dan dahaknya susah dikeluarkan.’ Nah itu nanti supaya kita bisa pilihkan terapi yang tepat,” jelas Dr. Lucy.
Detail kecil seperti dahak terasa encer atau kental dan mudah atau sulit dikeluarkan bisa membantu tenaga kesehatan memahami keluhan dengan lebih spesifik.
Bolehkah Obat Batuk Kering dan Berdahak Diminum Bersamaan?
Karena batuk kadang terasa berdahak dan di waktu lain terasa kering, muncul pertanyaan lain: boleh nggak langsung minum dua jenis obat sekaligus?

Menurut Dr. Lucy, hal ini tidak sebaiknya dilakukan sembarangan karena cara kerja obatnya berbeda.
Pada batuk berdahak, lendir perlu dibantu untuk keluar. Sementara obat untuk batuk kering pada umumnya bekerja dengan menekan refleks batuk. “Kalau batuk berdahak, dahaknya harus dikeluarkan. Kemudian menggunakan [obat] batuk kering, ditekan. Dahaknya bisa keluar nggak? Nah itu yang menjadi potensi,” jelasnya dalam sesi diskusi.
Artinya, pilihan obat sebaiknya tidak hanya didasarkan pada asumsi “yang penting obat batuk”. Perlu dilihat dulu jenis keluhan yang dominan dan bagaimana kondisi dahaknya.
Jika masih bingung apakah batuk termasuk kering, berdahak, atau membutuhkan penanganan tertentu, konsultasi dengan apoteker atau dokter bisa membantu menentukan pilihan yang lebih sesuai.
Ingus dan Dahak, Sebenarnya Sama atau Beda?
Saat pilek dan batuk datang bersamaan, lendir bisa muncul dari hidung maupun tenggorokan. Lalu, apakah ingus dan dahak sebenarnya sama?

Dr. Ikhsan menjelaskan bahwa sumbernya berbeda, tetapi keduanya sama-sama berkaitan dengan produksi lendir sebagai salah satu respons tubuh ketika mukosa mengalami inflamasi atau peradangan.
“Ketika dia mengalami infeksi, dia berusaha memproteksi dengan mengeluarkan lendir. Lendir ini kalau pada bagian hidung kita sebut sebagai ingus, pada bagian mulut kita sebut sebagai dahak,” jelasnya.
Konsistensi lendir juga bisa berbeda. Ada yang encer, ada pula yang lebih kental, tergantung kondisi yang sedang dialami. Lalu bagaimana kalau dahak tidak sengaja tertelan?
Dalam penjelasannya, dr. Ikhsan membedakan lendir yang masuk ke saluran pencernaan dengan material yang masuk ke saluran pernapasan hingga paru-paru. Menurutnya, yang perlu lebih diperhatikan adalah ketika lendir masuk ke saluran napas pada orang yang kemampuan mengeluarkan dahaknya tidak optimal, misalnya pada sebagian lansia atau pasien setelah menjalani operasi.
Itu pula sebabnya pada kondisi tertentu fisioterapi dapat dilakukan untuk membantu mobilisasi dahak agar lebih mudah dikeluarkan.
Infeksi Saluran Pernapasan Juga Bisa Memicu Asma Kambuh
Pembahasan batuk juga sering bersinggungan dengan asma. Namun, dr. Ikhsan menekankan bahwa asma dan infeksi saluran pernapasan bukanlah hal yang sama.

Asma merupakan penyakit kronis yang sudah dimiliki pasien. Sementara infeksi virus atau bakteri pada saluran pernapasan dapat menjadi salah satu pemicu terjadinya eksaserbasi, yaitu ketika gejala asma kambuh atau memburuk.
“Kalau asma itu sendiri, dia bisa mengalami eksaserbasi karena adanya infeksi dari virus ataupun bakteri pemicu flu tadi. Nah, ketika dia mengalami eksaserbasi yang disebabkan karena infeksi tadi, otomatis asmanya bisa muncul,” terang dr. Ikhsan.
Jadi, batuk pada seseorang yang memiliki riwayat asma perlu dilihat bersama dengan kondisi dasarnya. Terlebih jika keluhan disertai gejala lain yang mengarah pada kekambuhan asma.
Jangan Hanya Bilang “Saya Batuk” Saat Memilih Obat
Batuk memang terdengar seperti keluhan sederhana. Tapi dari pembahasan para ahli, satu kata “batuk” ternyata bisa menggambarkan kondisi yang cukup berbeda.

Ada batuk yang dominan kering. Ada yang berdahak. Ada dahak yang mudah keluar, ada pula yang sangat kental. Batuk bahkan bisa terasa berbeda antara pagi dan siang hari.
Karena itu, sebelum memilih obat, coba perhatikan karakter keluhannya lebih spesifik. Apakah ada dahak? Seberapa sulit dahaknya keluar? Kapan batuk paling terasa? Adakah kondisi kesehatan lain seperti asma?
Informasi tersebut bisa membantu apoteker atau dokter menentukan penanganan yang lebih sesuai. Kalau masih ragu dengan jenis batuk yang dialami, sebaiknya jangan asal mengombinasikan beberapa obat sendiri hanya karena gejalanya terasa berubah-ubah.