Kesehatan Dibaca 2,316 kali

Risiko Kesehatan di Balik Donor ASI

Share info ini yuk ke teman-teman
Ismawati

Terakhir diperbaharui 22 Oktober, 2019 13:10

Risiko Kesehatan di Balik Donor ASI

Selalu ada risiko bila memberi bayi selain dari ASI ibunya sendiri yang sehat langsung dari payudara. Ketika memilih menerima donor ASI, orang tua biasanya mempertimbangkan manfaat nutrisi yang optimal dan kekebalan terhadap risiko penularan penyakit. Beberapa pihak berpendapat, meski pendonor sudah menjalankan pemeriksaan kesehatan, sejumlah patogen masih bisa tetap berada di ASI, karenanya donor ASI tak sepenuhnya aman. Ada kemungkinan penyebaran penyakit infeksi melalui ASI, khususnya HIV. HIV dan penyakit infeksi lainnya bisa ditularkan melalui ASI.

Kurangi Risiko Dengan Penanganan Tepat

Beberapa risiko terkait dengan donor ASI disebabkan oleh metode yang digunakan untuk memberikan ASI ke bayi. Ada kasus di mana bayi baru lahir mengalami infeksi bakteri setelah menerima ASI dari bank ASI dan diberikan melalui pipa makanan atau puting buatan.  Infeksi yang terkait dengan ASI umumnya disebabkan oleh bakteri yang hidup pada kulit manusia. Bayi yang sakit dan lahir prematur lebih berisiko terkena infeksi ini.

Cara Mensterilkan Donor ASI

1. Pasteurisasi ASI di Rumah

Bila pemeriksaan medis tidak bisa dilakukan, status kesehatan pendonor tidak diketahui, atau Bunda ingin menurunkan risiko potensial paparan pada HIV dan atau patogen lain, ASI bisa dipasteurisasi di rumah.

2. Pasteurisasi Holder

Holder pasteurization dianggap sebagai standar untuk pasteurisasi susu sapi dan ASI. Dengan prosedur ini patogen menjadi tidak aktif dengan tetap menjaga properti nutrisi yang mencukupi. Meski begitu, Bun, metode ini bisa merusak antimikroba lebih banyak dibanding metode flash pasteurization.

Metode pasteurisasi bisa dilakukan oleh orang tua di atas kompor atau alat pasteurisasi. Untuk melakukan metode ini di rumah, ikuti instruksi berikut:

  • Tempatkan ASI di botol atau toples kaca. Tuang ASI hingga 4/5 bagian botol karena ASI akan mengembang ketika dipanaskan.

  • Tempatkan botol di dalam wadah yang lebih besar. Isi wadah dengan air hangat hingga tingkat air sedikit di atas tinggi ASI di botol.

  • Mulai pemanasan. Aduk ASI di wadah dengan sendok untuk memperoleh distribusi panas yang seragam. Monitor suhu dengan termometer yang akurat. Ketika suhu mencapai 62,7 derajat Celsius, hentikan mengaduk. Botol susu bisa ditutup dengan aluminium foil. Buat lubang di tengah foil dan masukkan termometer.

  • Teruskan pemanasan hingga suhu 62,7 derajat Celsius atau sedikit di atasnya. Sesuaikan panas untuk menjaga suhu tetap di 62,7 derajat  selama 30 menit. Bila suhu turun di bawah 62,7 derajat Celsius, panaskan kembali dan tahan di suhu 62,7 derajat atau lebih selama 30 menit.

  • Setelah 30 menit, perlahan ganti air panas dengan air dingin untuk mendinginkan ASI. Bila tidak dilakukan perlahan, botol kaca bisa pecah.

  • Terus dinginkan hingga suhu ASI 26,7 derajat Celsius. Pada suhu ini, air es bisa digunakan untuk mendinginkan. Dinginkan hingga suhu 4,4 derajat Celsius atau lebih dingin. Rekatkan tutup dan simpan di lemari pendingin pada suhu 4,4 derajat Celsius atau lebih dingin hingga digunakan.

3. Flash Heating

Flash heating merupakan metode pasteurisasi ASI yang bisa dilakukan untuk ibu HIV positif di negara-negara berkembang yang tidak memiliki alternatif aman untuk memberi makan bayinya. Flash heating terbukti menonaktifkan HIV dan bakteri lainnya. Berikut ini caranya:

  • Selalu cuci semua alat yang akan Anda gunakan untuk memanaskan ASI dengan air bersih dan sabun.

  • Letakkan semua ASI di toples atau botol kaca, bukan plastik. Jumlah ASI antara 50 ml hingga 150 ml. Bila lebih, bagi menjadi dua botol.

  • Letakkan botol ASI di panci kecil berisi air. Pastikan air sekitar dua jari di atas tingkat ASI agar semua ASI dipanaskan dengan baik.

  • Panaskan air pada api yang sangat panas hingga air menggelembung mendidih. Ini hanya butuh beberapa menit. Membiarkan air mendidih terlalu lama akan merusak nutrisi ASI.

  • Angkat botol dari wadah segera setelah air mendidih. Tempatkan botol di wadah berisi air dingin atau biarkan dingin dengan sendirinya hingga mencapai suhu ruang.

  • Gunakan tutup botol yang bersih setelah dingin atau selama penyimpanan.

  • Anda bisa memberi bayi dengan ASI yang telah dipanaskan ini dalam 6 jam.

  • Selalu beri ASI pada bayi menggunakan gelas bersih. Meski bayi baru lahir, ia bisa cepat belajar minum dari gelas. Hindari penggunaan botol.

Mendinginkan ASI yang Telah Dipanaskan

Makanan yang dimasak memiliki zona bahaya, yakni suhu antara 60 hingga 4 derajat Celsius, dimana bakteri mulai tumbuh. Karenanya, penting untuk mendinginkan ASI segera setelah dipanaskan. Pendinginan wadah di air es menjadi cara paling cepat untuk mendinginkan ASI. Bergantung jumlah ASI, pendinginan di lemari es biasanya tidak dianjurkan karena ASI akan dingin tidak merata, dan menyebabkan beberapa bagian terlalu hangat dalam jangka waktu yang lama. Ingat juga Bun, tidak semua botol susu sesuai untuk pemanasan dan pendinginan cepat.

Tips Aman Mencari Donor ASI

Mencari ASI di rumah sakit itu lebih aman karena mereka memeriksa penyakit yang mungkin diderita pendonor dan mempasteurisasi ASI agar aman bagi bayi. Anda tidak memiliki garansi ini ketika mencari donor ASI sendiri. Jadi bagaimana cara orang tua menjaga keamanan ASI ketika memilih donor ASI secara pribadi? Berikut beberapa tips aman yang bisa Anda ikuti:

  • Cari infomasi tentang undang-undang donor ASI

  • Minta pendonor melakukan tes darah. Bila seorang ibu ingin menjadi pendonor, ia harus mau diperiksa HIV 1 dan 2, hepatitis B dan C, syphilis, dan HTLV 1 dan 2.

  • Periksa latar belakang pendonor

  • Minta surat keterangan dari dokternya. Ini membantu Anda mengetahui tes darah apa saja yang terlewati.

  • Tanda tangani kontrak donor. Terserah Anda apa yang akan Anda tulis dalam kontrak tapi sertakan aturan gaya hidup, seperti tidak merokok.

  • Lakukan pasteurisasi di rumah. Bila Anda masih khawatir tentang penularan penyakit, lakukan metode penanganan ASI seperti di rumah sakit. Metode flash heat jadi metode  untuk membunuh bakteri yang lebih dipilih kebanyakan ibu ketimbang pasteurisasi. Flash heat bisa membunuh bakteri pada ASI tanpa menghancurkan antibodi di dalamnya.

  • Lakukan langkah keamanan untuk pendonor ASI, termasuk memastikan pendonor mensterilkan alat pompa pada tiap kali sesi memompa, dan memastikan ASI disimpan dan dikirim dengan aman.

Menggunakan Kembali ASI Yang Telah Dipanaskan

Dalam sebuah penelitian, flash heat dapat membunuh bakteri di kebanyakan sampel, dan mencegah pertumbuhannya hingga 8 jam ketika disimpan di suhu ruang. Tapi keamanan pemanasan kembali ASI yang sebelumnya telah dipanaskan belum diteliti. Kebanyakan literatur membahas tentang pemanasan ASI perah untuk diberikan ke bayi, tapi ibu biasanya memanaskan ASI di air hangat mengalir atau menempatkannya di wadah air hangat sebentar untuk menghilangkan dinginnya. Penghangatan ringan tidak dianggap sebagai proses pemanasan. Untuk kandungan ASI yang optimal, pemanasan kembali tidak dilakukan langsung di panci di atas kompor atau wadah di air mendidih di atas kompor. Setelah pemberian pertama, ASI yang dipanaskan sebaiknya tidak disimpan di lemari pendingin dan dipanaskan kembali karena kandungan anti bakteri bisa menurun.

(Ismawati)